Setiap manusia pasti pernah tergelincir dalam kesalahan. Tidak ada satu pun dari kita yang luput dari dosa, entah itu disengaja atau tidak. Namun, sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang segera kembali kepada Allah. Kabar baiknya, pintu ampunan Allah SWT selalu terbuka lebar. Salah satu jalan terbaik untuk mengetuk pintu tersebut adalah melalui sholat taubat.
Mungkin Anda bertanya: Apa landasan hukum (dalil) sholat ini? Bagaimana tata cara pelaksanaannya yang benar? Apakah dilakukan sebelum atau sesudah istighfar?
Dalam artikel ini, kita akan membedah pembahasan tentang sholat taubat berdasarkan referensi kitab Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Khatib serta dalil hadits Rasulullah SAW. Mari kita pelajari agar ibadah kita semakin mantap dan diterima.
Table of Contents
Dalil Hadits Tentang Sholat Taubat
Sebelum masuk ke pembahasan teknis dari kitab Al-Bujairimi, penting untuk mengetahui sandaran hadits yang menjadi dasar disyariatkannya sholat ini. Para ulama fiqih, termasuk dalam mazhab Syafi’i, berpegang pada hadits masyhur yang diriwayatkan oleh sahabat mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.
Beliau berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
نص الحديث: مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
Latin: Maa min ‘abdin yudznibu dzanban fayuhsinuth thuhuura, tsumma yaquumu fayushalli rak’ataini, tsumma yastaghfirullaaha illaa ghafarallaahu lahu.
Terjemahan: “Tidaklah seorang hamba melakukan suatu dosa, kemudian ia bersuci dengan baik (berwudhu), lalu berdiri melakukan sholat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah pasti mengampuninya.” (HR. Abu Daud no. 1521, Tirmidhi no. 406, dan Ibnu Majah no. 1395)
Hadits inilah yang menjadi pondasi pembahasan dalam kitab-kitab fiqih, termasuk yang dijelaskan oleh Syekh Al-Bujairimi, bahwa sholat dua rakaat ini adalah sunnah bagi siapa saja yang ingin bertaubat.
Waktu Pelaksanaan: Sebelum atau Sesudah Istighfar?
Dalam kitab Hasyiyah Al-Bujairimi, terdapat pembahasan menarik mengenai urutan pelaksanaan sholat taubat. Apakah kita sholat dulu baru minta ampun, atau minta ampun dulu baru sholat?
Mengutip pendapat Al-‘Anani, kitab ini menjelaskan bahwa urutan yang paling utama adalah sholat terlebih dahulu, baru kemudian bertaubat (beristighfar).
Baca juga: Apa Arti Shalat Menurut Istilah
Alasannya sangat logis. Sholat berfungsi sebagai wasilah (perantara). Sama seperti kita ingin bertemu dengan seorang raja, kita melakukan tata krama pendahuluan agar kedatangan kita diterima.
Berikut adalah teks asli dari kitab Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Khatib (Juz 1, hal. 428-429):
وعبارة العناني: الصلاة قبل التوبة بدليل قوله: ثم يستغفر الله وأيضا فإن الصلاة وسيلة لقبول التوبة والوسيلة مقدمة على المقصد.
Artinya: “Ungkapan Al-‘Anani: Shalat itu dilakukan sebelum taubat (istighfar) dengan dalil sabda Nabi: ‘kemudian dia beristighfar’. Juga karena shalat adalah wasilah (sarana) untuk diterimanya taubat, dan sarana itu didahulukan daripada tujuan.”
Jadi, urutan praktisnya adalah: Ambil Wudhu → Sholat 2 Rakaat → Duduk Berdoa & Istighfar.
Tata Cara Shalat Taubat Nasuha
Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaan sholat taubat secara detail yang bisa Anda praktikkan kapan saja (kecuali waktu-waktu yang diharamkan sholat, seperti pasca Subuh hingga terbit matahari, dan pasca Ashar hingga terbenam matahari, kecuali sholat-sholat yang memiliki sebab khusus):
1. Niat Shalat Taubat
Niat diucapkan di dalam hati bersamaan dengan Takbiratul Ihram. Melafalkannya dengan lisan hukumnya sunnah untuk membantu kekhusyukan hati.
Arab:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatat taubati rak’ataini lillaahi ta’aala.
Terjemahan: “Saya niat shalat sunnah taubat dua rakaat karena Allah Ta’ala.
2. Rakaat Pertama
- Membaca doa Iftitah (sunnah).
- Membaca surat Al-Fatihah (wajib).
- Membaca surat pendek. Anda bebas memilih surat apa saja, namun seringkali disarankan membaca QS. Al-Kafirun atau surat lain yang Anda hafal dengan baik agar lebih khusyuk.
3. Rakaat Kedua
- Membaca surat Al-Fatihah (wajib).
- Membaca surat pendek. Disarankan membaca QS. Al-Ikhlas.
4. Sujud Terakhir (Penting)
Saat sujud terakhir, sebelum bangun untuk tahiyat akhir, perbanyaklah berdoa dalam hati memohon ampunan. Posisi sujud adalah posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya.
5. Salam
Setelah salam, jangan langsung beranjak. Inilah waktu inti dari proses taubat Anda sebagaimana dijelaskan dalam artikel kesunnahan dan pentingnya doa sebelum salam dari shalat di sini.
Bacaan Doa dan Wirid Setelah Shalat Taubat

Setelah selesai sholat, duduklah dengan tenang. Hadirkan rasa penyesalan yang mendalam. Berikut adalah urutan wirid dan doa yang dianjurkan:
1. Membaca Istighfar (Minimal 33x atau 100x)
Mulailah dengan istighfar sederhana namun penuh penghayatan, sebagaimana perintah hadits di atas (“Kemudian dia beristighfar”).
Arab:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أَتُوبُ إِلَيْهِ
Latin: Astaghfirullaahal ‘adziim, alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih.
Terjemahan: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”
2. Membaca Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar)
Ini adalah bacaan istighfar yang paling utama dan sangat dianjurkan dibaca setelah sholat taubat.
Arab:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Latin: Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu. A’uudzu bika min syarri maa shana’tu. Abuu-u laka bini’matika ‘alayya wa abuu-u laka bidzanbii faghfirlii fa innahu laa yaghfirud dzunuuba illaa anta.
Terjemahan: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menepati perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
3. Doa Taubat Nabi Adam (QS. Al-A’raf: 23)
Arab:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Latin: Rabbana zholamna anfusana wa illam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin.
Baca juga: Doa Nabi Adam yang Dibaca di Multazam.
Bahaya Menunda Taubat (Taswif)
Satu hal penting yang ditekankan dalam kitab Al-Bujairimi adalah peringatan keras terhadap penundaan taubat (taswif). Jika Anda sadar berbuat dosa, segeralah bersuci dan sholat.
Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa penundaan taubat adalah dosa tersendiri. Jika seseorang menunda taubat, ia memikul dua dosa: dosa maksiat itu sendiri dan dosa kelalaian karena menunda taubat.
Kitab Al-Bujairimi menutup pembahasannya dengan syair nasihat yang sangat menyentuh:
بادر إلى التوبة في وقتها … فالمرء مرهون بما قد جناه
وانتهز الفرصة إن أمكنت … ما فاز بالكرم سوى من جناه
Artinya: “Bergegaslah bertaubat pada waktunya… Karena seseorang itu tergadai oleh apa yang telah ia perbuat. Dan manfaatkanlah kesempatan jika memungkinkan… Tidaklah beruntung mendapatkan kemuliaan kecuali orang yang memetiknya.”
Penutup
Sholat dan doa hanyalah sarana. Inti dari taubat nasuha terletak pada An-Nadam (penyesalan hati), At-Tarku (berhenti total), dan Al-‘Azm (tekad tidak mengulangi).
Semoga panduan sholat taubat berdasarkan hadits Nabi dan penjelasan Kitab Al-Bujairimi ini bermanfaat bagi Anda. Jangan menunggu nanti, karena nafas bisa berhenti kapan saja. Ambillah air wudhu sekarang, dan kembalilah kepada Allah.

