Setiap muslimah pasti mendambakan ibadah yang sah dan diterima. Salah satu syarat utama untuk kembali beribadah setelah periode menstruasi adalah bersuci. Namun, seringkali muncul keraguan, apakah mandi wajib haid yang kita lakukan sudah sah? Apakah air sudah merata ke seluruh tubuh?
Melakukan mandi wajib haid yang benar bukan sekadar membasahi badan. Ada aturan main atau rukun yang harus dipenuhi agar status “suci” benar-benar didapatkan. Berdasarkan kitab fiqih klasik seperti Fathul Qarib Al-Mujib dan Al-Aziz Syarah Al-Wajiz, kita akan mengurai tata caranya secara mendetail namun tetap ringan untuk dibaca.
Table of Contents
Apa Itu Mandi Wajib Haid Menurut Islam?
Dalam Islam, haid adalah hadas besar. Untuk menghilangkan hadas ini, seorang wanita harus melakukan ghusl atau mandi besar. Mandi wajib haid menurut Islam memiliki definisi mengalirkan air ke seluruh tubuh dengan niat tertentu.
Baca juga: Pengertian Thaharah: Makna, Hukum, dan Pentingnya dalam Islam
Banyak orang mengira mandi ini harus dilakukan dengan ritual yang rumit. Padahal, intinya ada pada niat dan meratanya air. Jika dua hal ini terpenuhi, maka mandinya sah. Mari kita bedah satu per satu aturannya.
Rukun Mandi Wajib: Kunci Sahnya Ibadah
Berdasarkan kitab Fathul Qarib1, ada tiga hal fardhu (rukun) yang harus ada dalam mandi wajib. Jika salah satu terlewat, maka mandi dianggap tidak sah dan Anda belum bisa sholat.
1. Niat (Niat dan Waktunya)
Rukun pertama adalah niat. Untuk mandi wajib haid niat harus dilafalkan dalam hati. Niat ini berfungsi membedakan antara mandi biasa (untuk menyegarkan badan) dengan mandi ibadah.
Bacaan mandi wajib haid:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu ghusla liraf’i hadatsil haidi lillahi Ta’ala.
Artinya: “Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas haid karena Allah Ta’ala.
Perlu Anda perhatikan, kitab Fathul Qarib menjelaskan konsep muqaranah (kebersamaan). Niat harus muncul dalam hati berbarengan dengan saat pertama kali air menyentuh bagian tubuh manapun.
Misalnya, jika Anda menyiram kaki duluan, maka niat harus ada saat air kena kaki. Jika Anda baru berniat saat menyiram badan, maka basuhan kaki tadi belum dianggap sah dan harus diulang. Ini poin krusial dalam mandi wajib haid niat dan tata cara yang sering terlewat.
2. Membersihkan Najis di Tubuh
Sebelum mulai menyiramkan air ke seluruh tubuh, pastikan tidak ada najis yang menempel. Dalam kitab dijelaskan ada perbedaan pendapat ulama. Imam Ar-Rafi’i berpendapat najis harus dibersihkan terpisah sebelum mandi.
Baca juga: Pengertian Najis Secara Bahasa dan Istilah
Sedangkan Imam An-Nawawi berpendapat lebih ringan: jika najisnya sudah tidak berbentuk (hukmiyah), cukup sekali siram dengan niat mandi, maka status najis dan hadas hilang sekaligus. Namun, untuk kehati-hatian agar mandi wajib haid yang benar menurut Islam ini sempurna, sebaiknya bersihkan dulu sisa darah haid atau kotoran lain sebelum mulai mandi.
3. Mengalirkan Air ke Seluruh Rambut dan Kulit
Poin ketiga adalah meratakan air. Tidak boleh ada satu bagian pun yang kering, sekecil apapun itu.
Pertanyaan yang sering muncul adalah: mandi wajib haid apakah harus keramas? Jawabannya adalah ya, dalam artian air harus sampai ke kulit kepala (pangkal rambut).
Kitab Fathul Qarib menegaskan: “Wajib mengalirkan air ke seluruh rambut dan kulit… tidak ada bedanya antara rambut tipis atau tebal.”
Bahkan, jika rambut Anda dikepang atau digelung dan air tidak bisa masuk ke dalamnya, maka wajib hukumnya melepas ikatan rambut tersebut. Jadi, pastikan air membasahi kulit kepala, bukan hanya ujung rambut.
Selain rambut, perhatikan bagian-bagian tersembunyi (lipatan) yang sering luput:
- Bagian luar lubang telinga (bukan bagian dalam gendang telinga).
- Bagian bawah kuku.
- Pusar.
- Area kemaluan wanita yang tampak saat posisi jongkok.
- Masrabah (lingkaran anus). Saat berdiri bagian ini tertutup, tapi saat jongkok ia terbuka sedikit. Bagian ini wajib kena air.
Tata Cara Mandi Wajib Haid dan Junub Langkah demi Langkah
Sebenarnya, tata cara mandi wajib haid dan junub memiliki pola yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada niatnya saja. Berikut adalah urutan langkah demi langkah yang menggabungkan rukun (wajib) dan sunnah agar mandi Anda sempurna:
- Membasuh Kedua Tangan: Mulailah dengan membasuh tangan tiga kali sebelum memasukkannya ke dalam bak air2.
- Membersihkan Kemaluan: Gunakan tangan kiri untuk membersihkan area kemaluan dari kotoran. Ini penting agar najis hilang sebelum proses mandi utama.
- Berwudhu: Lakukan wudhu seperti hendak sholat. Ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
- Berniat dan Menyiram Kepala: Mulailah menyiram kepala sambil berniat dalam hati. Pastikan air menembus sela-sela rambut hingga kulit kepala. Gosok-gosok dengan jari agar yakin air meresap.
- Membasuh Tubuh Bagian Kanan: Siram tubuh bagian kanan dari atas ke bawah.
- Membasuh Tubuh Bagian Kiri: Lakukan hal yang sama untuk bagian kiri.
- Menggosok Tubuh (Dalk): Jangan hanya diguyur. Gosok tubuh untuk memastikan tidak ada daki atau kotoran yang menghalangi air sampai ke kulit.
- Bilas Kaki: Akhiri dengan membasuh kedua kaki.
Bolehkah mandi wajib haid pakai air hangat? Tentu saja boleh. Tidak ada larangan dalam syariat mengenai suhu air, selama air tersebut suci dan mensucikan. Menggunakan air hangat justru bisa membantu melancarkan peredaran darah dan membuka pori-pori agar pembersihan lebih maksimal.
Rahasia Cantik Pasca Haid: Sunnah Menggunakan Wewangian
Ada satu sunnah khusus bagi wanita haid yang jarang diketahui, padahal ini tertulis jelas dalam kitab Al-Aziz Syarah Al-Wajiz karya Imam Ar-Rafi’i3.
Setelah mandi, wanita disunnahkan melakukan tatabbu’ atsar ad-dam (menelusuri sisa bau darah).
Caranya: Ambil kapas atau kain bersih, beri wewangian (disebut firshah), lalu usapkan pada area kewanitaan bekas keluarnya darah.
Dalam kitab tersebut dijelaskan urutan prioritas wewangiannya:
- Misk (Kesturi): Ini yang paling utama.
- Parfum lain: Jika tidak ada misk, parfum apa saja boleh (pastikan aman untuk kulit sensitif).
- Penghilang bau: Jika tidak ada parfum, bisa pakai sabun atau bahan pembersih lain.
Tujuannya adalah untuk menghilangkan aroma tidak sedap sisa darah haid. Ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kebersihan dan kenyamanan wanita.
Akhir Kata
Melakukan mandi wajib haid yang benar adalah bentuk ketaatan kita kepada Allah. Dengan memahami ilmunya dari sumber terpercaya, kita tidak hanya menggugurkan kewajiban, tapi juga mendapatkan pahala sunnah. Pastikan niat Anda lurus, air merata ke seluruh tubuh, dan jangan lupa sunnah wewangiannya agar tubuh kembali segar dan suci. Selamat mengamalkan!
Catatan Kaki & Referensi
- فصل (وفرائض الغسل ثلاثة أشياء): أحدها (النية)، فينوي الجنب رفع الجنابة أو الحدث الأكبر ونحو ذلك، وتنوي الحائض والنفساء رفع حدث
الحيض أو النفاس. وتكون النية مقرونة بأول الفرض، وهو أول ما يغسل من أعلى البدن أو أسفله؛ فلو نوى بعد غسل جزء وجبت إعادته.
(وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه) أي المغتسل.
وهذا ما رجحه الرافعي؛ وعليه فلا يكفي غسلة واحدة عن الحدث والنجاسة
ورجح النووي الاكتفاء بغسلة واحدة عنهما. ومحله ما إذا كانت النجاسة حكمية؛ أما إذا كانت النجاسة عينية وجب غسلتان عنهما.
(وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة). وفي بعض النسخ بدل جميع «أصول»؛ ولا فرق بين شعر الرأس وغيره، ولا بين الخفيف منه والكثيف. والشعر المضفور إن لم يصل الماء إلى باطنه إلا بالنقض وجب نقضه. والمراد بالبشرة ظاهر الجلد؛ ويجب غسل ما ظهر من صماخي أذنيه، ومن أنف مجدع، ومن شقوق بدن؛ ويجب إيصال الماء إلى ما تحت القلفة من الأقلف، وإلى ما يبدو من فرج المرأة عند قعودها لقضاء حاجتها. ومما يجب غسله المسربة، لأنها تظهر في وقت قضاء الحاجة؛ فتصير من ظاهر البدن.
Muḥammad bin Qāsim al-Ghazzī (Ibnu Qāsim), Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb fī Syarḥ Alfāẓ al-Taqrīb (al-Qaul al-Mukhtār fī Syarḥ Ghāyat al-Ikhtiṣār), ed. Basmān ‘Abd al-Wahhāb al-Jābī (Beirut: al-Jaffān wa al-Jābī li al-Ṭibā‘ah wa al-Nasyr; Dār Ibn Ḥazm li al-Ṭibā‘ah wa al-Nasyr wa al-Tawzī‘, cet. I, 1425 H/2005 M), hlm. 42-43. ↩︎ - Lakukan ini sebelum mandi atau wudhu jika volume air lebih dari 2 qulah, agar air dalam bak tidak menjadi musta’mal. Jika volume air sedikit maka niatkan mengambil air ↩︎
- السابع: إذا اغتسلت الحائض تتعهد أثر الدم بمسك أو طيب آخر، بأن تجعله على قطنة وتدخلها في فرجها، روى عن عائشة أن امرأة جاءت إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- تسأله عن الغسل من الحيض، فقال: “خذي فرصة من مسك فتطهري بها”، فلم تعرف ما أراد فاجتذبتها، وقال: تتبعي بها آثار الدم (٣)، والفرصة: القطعة من كل شيء، ذكره ثعلب، ويروى: “خذي فرصة ممسكة”.
قال العراقيين (١): الفرصة القطعة من الصوف أو القطن، فالأولى المسك، فإن لم تجده استعملت طيبا آخر، فإن لم تجد فطينا لقطع الرائحة الكريهة، فإن لم تجد كفى الماء، والنفساء كالحائض في ذلك.
‘Abd al-Karīm bin Muḥammad al-Rāfi‘ī al-Qazwīnī, al-‘Azīz Syarḥ al-Wajīz (al-Ma‘rūf bi al-Syarḥ al-Kabīr), tahkik ‘Alī Muḥammad ‘Awaḍ dan ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Maujūd (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1417 H/1997 M), jil. 1, hlm. 193-194. ↩︎

