Rukun, Syarat, dan Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Fikih Syafi’i (Kaifiyah al-Ghusl)

Kesucian adalah fondasi asasi dalam penegakan ibadah di dalam syariat Islam. Memahami pengertian thaharah bukan semata rutinitas fisik, melainkan sebuah gerbang teologis bagi seorang hamba untuk bermunajat kepada Sang Khaliq. Ketika seseorang berhadats besar, kewajiban yang mengikatnya adalah menunaikan Ghusl (mandi wajib atau mandi junub). Bagi Anda yang ingin mendalami landasan asasi dari thaharah ini, rujukan utama dapat ditelaah melalui panduan lengkap mandi wajib junub Syafi’i yang mengupas tuntas dari segi niat hingga implementasi praktisnya.

Di ranah praktik, tidak sedikit umat Islam yang terjangkit penyakit was-was (keraguan dan perasaan tidak sah yang berulang-ulang) saat mandi wajib. Syetan sering membisikkan keraguan terkait niat yang luput, air yang dirasa tidak merata, hingga urutan yang dianggap keliru. Artikel ini menyajikan rincian syarat, rukun, dan tata cara mandi wajib (Kaifiyah al-Ghusl) berdasarkan teks otoritatif kitab Asna al-Matalib Syarh Rawdh ath-Thalib (Juz 1, Halaman 68-71) karya Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari, guna memberikan kepastian hukum dan ketenangan batin.

Sebelum melangkah pada tata cara teknis ini, pastikan Anda telah mengenali dengan presisi apa saja penyebab mandi wajib menurut fikih Syafi’i agar ibadah penyucian diri yang dilakukan benar-benar didasarkan pada keadaan yang menuntut Ghusl.

Dua Rukun Utama Mandi Wajib (Fardhu al-Ghusl)

Madzhab Syafi’i memberikan batas yang sangat tegas antara rukun (kewajiban yang menentukan sah atau tidaknya ibadah) dan sunnah (anjuran kesempurnaan). Kesalahan memahami batasan ini sering menjadi akar dari sifat was-was. Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari menegaskan bahwa kewajiban dalam mandi junub hanya bersandar pada dua perkara mutlak.

قوله: (وأقل الغسل) شيئان أحدهما (نية رفع الجنابة)… (أو) نية رفع (الحدث مطلقا)

“Dan paling sedikitnya (rukun) mandi itu ada dua perkara. Pertama adalah niat mengangkat janabah… atau niat mengangkat hadats secara mutlak.”

1. Niat Mengangkat Hadats Besar

Mangkuk kaca berisi air yang sangat jernih diletakkan di atas handuk putih bersih, disinari cahaya matahari yang terang.
Niat yang lurus dan pemahaman fikih yang benar akan membawa kejernihan hati dan menghilangkan penyakit was-was dalam bersuci.

Niat merupakan rukun pembuka. Seorang Muslim wajib menyengaja di dalam hatinya untuk mengangkat status janabah, haid, atau nifas. Boleh juga berniat secara umum untuk sekadar mengangkat hadats (raf’ul hadats), karena niat mengangkat hadats secara mutlak otomatis tertuju pada hadats besar yang sedang ditanggungnya.

Permasalahan was-was yang kerap muncul adalah perihal waktu pembacaan niat. Kapan niat itu harus terucap di dalam hati agar mandinya sah? Teks fikih menjawabnya dengan sangat presisi:

قوله: (ويجب قرنها) أي النية (بأول فرض) وهو أول ما يغسل من البدن (وفي تقديمها على السنن وعزوبها)…

“Diwajibkan membarengkan niat tersebut pada awal fardhu, yakni awal bagian tubuh yang dibasuh. Dan adapun mendahulukannya pada saat melakukan sunnah-sunnah, lalu niat itu hilang (luput)…”

Niat wajib dibarengi (dihadirkan di dalam hati) bertepatan pada detik pertama air menyentuh bagian tubuh manapun (baik kepala, tangan, punggung, maupun kaki).

Jika seseorang melafalkan niat sebelum masuk kamar mandi, namun saat air pertama kali disiramkan ke tubuh, hatinya kosong dari niat tersebut (‘uzub an-niyyah), maka basuhan itu tidak sah sebagai fardhu mandi. Ia harus mengulang niat pada basuhan berikutnya. Sebaliknya, ia tidak diwajibkan untuk menahan niat di dalam hati terus-menerus sepanjang durasi mandi. Mempertahankan niat dari awal hingga akhir (istishab an-niyyah) adalah anjuran kesempurnaan, bukan syarat sah.

2. Meratakan Air ke Seluruh Bagian Tubuh (Ta’mim al-Badan)

Rukun kedua adalah ta’mim, yakni memastikan air suci mengalir membasahi seluruh permukaan kulit dan rambut luar. Syaikhul Islam merinci batas-batas anggota tubuh yang wajib terkena air:

قوله: (و) الشيء الثاني (تعميم البدن بالماء شعرا) وإن كثف (وبشرا) وما ظهر من صماخ وأنف مجدوع… وما تحت قلفة

“Perkara kedua adalah meratakan badan dengan air, baik pada rambut meskipun lebat, dan pada kulit. Serta bagian yang tampak dari lubang telinga luar, hidung yang terpotong… dan bagian di bawah kulup (bagi laki-laki yang belum dikhitan).”

Untuk menggugurkan keraguan, perhatikan poin-poin fikih berikut terkait anggota badan:

  • Rambut Lebat: Berbeda dengan hukum berwudhu di mana jenggot lebat cukup dibasuh luarnya saja, pada mandi junub, seluruh rambut selebat apa pun wajib terbasahi hingga ke akar dan kulit kepalanya.
  • Lipatan Tubuh: Wajib mengalirkan air pada bagian yang tersembunyi seperti pusar, ketiak, sela-sela bokong, dan area kewanitaan yang tampak saat duduk untuk membuang hajat. Memastikan sampainya air ke lipatan tubuh ini juga merupakan poin penting dalam tata cara mandi wajib haid yang benar menurut Islam.
  • Kulup Kelamin: Bagi laki-laki yang belum bersunat (aqlaf), bagian kulit di bawah kulupnya (qulfah) berstatus sebagai kulit luar yang wajib dibersihkan, selama air bisa menjangkaunya.

Solusi Fikih Menghilangkan Was-was dalam Mandi Junub

Syariat Islam diturunkan dengan asas kemudahan. Para ulama Madzhab Syafi’i telah menetapkan batasan toleransi (ma’fu) untuk mencegah praktik berlebihan yang bersumber dari tipu daya setan (was-was).

Tidak Wajib Membasuh Bagian Dalam Mata

(ولا يجب غسل شعر باطن العين بل لا يسن)

Anda tidak diwajibkan, bahkan tidak disunnahkan, untuk membasuh rambut/bulu pada bagian dalam kelopak mata. Hal ini justru dapat membahayakan indra penglihatan.

Tidak Wajib Mengurai Kepangan Rambut

قوله: (ولا باطن عقد شعر)… (ولا نقض ضفر يصله الماء)

Bagi wanita atau pria yang menata rambutnya dengan cara dikepang tebal, jika diyakini air dapat menembus rongga-rongga kepangan hingga membasahi batang rambut bagian dalam, maka ikatan rambut itu tidak wajib diurai (naqdh).

Mandi di Air Diam (Kolam/Bak)

قوله: (و) أن (لا يغتسل في) ماء (راكد) ولو كثيرا أو بئر معينة كما في المجموع بل يكره ذلك

Jika Anda berada di dalam bak atau kolam berisi air diam (rakid), jangan menyelam lalu berniat mandi di dalamnya, karena tindakan ini dihukumi makruh berdasarkan hadits Nabi ﷺ. Ambilah air tersebut dengan gayung, atau gunakan pancuran (shower) yang sifatnya mengalir. Sangat penting juga untuk memahami hakikat air mutlak agar air yang digunakan bersuci tidak berubah statusnya menjadi musta’mal saat Anda menciduknya.

Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Sunnah Nabi (Kaifiyah)

Apabila dua rukun di atas telah ditunaikan, mandi junub tersebut dihukumi sah mutlak. Kendati demikian, seorang Muslim yang mengejar maqam ihsan selayaknya menata ibadahnya agar sejalan dengan sunnah Rasulullah ﷺ. Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari menyusun urutan (tertib) kesempurnaan mandi sebagai berikut:

Langkah 1: Menghilangkan Kotoran Fisik dan Najis

قوله: (وأكمله إزالة قذر) ظاهر كبصاق ومني (ونجس أولا)

Langkah paling sempurna diawali dengan membersihkan kotoran yang menempel pada tubuh, seperti sisa air mani, air liur yang mengering, atau debu. Jika ada najis pada tubuh, ia wajib dihilangkan terlebih dahulu sebelum proses ta’mim (perataan air) dilakukan.

Langkah 2: Melaksanakan Wudhu Secara Sempurna

Tangan seseorang menadah air bersih yang mengalir dari pancuran kuningan tradisional dengan latar belakang ubin mozaik biru.
Salah satu kesempurnaan tata cara mandi junub adalah memulainya dengan berwudhu secara sempurna seperti wudhu untuk shalat.

قوله: (ثم الوضوء كاملا) للاتباع رواه الشيخان فهو أفضل من تأخير قدميه عن الغسل

Setelah kelamin dan tangan bersih, laksanakan wudhu secara utuh persis seperti wudhu untuk shalat, mulai dari niat wudhu sunnah mandi hingga membasuh kedua kaki. Ini adalah pendapat yang paling utama (afdal), kendati menunda basuhan kaki di akhir mandi juga sah.

Langkah 3: Menyela-nyela Akar Rambut dan Lipatan

قوله: (ثم تعهد معاطفه) كالأذن وغضون البطن (و) تعهد (أصول شعر) له بالماء استظهارا

Gunakan jari-jemari yang basah untuk menggosok dan menyela-nyela lipatan telinga, lipatan perut, serta memijat pangkal rambut di kepala. Hal ini berfungsi sebagai persiapan agar pori-pori dan kulit kepala mudah menerima siraman air.

Langkah 4: Mengguyur Kepala Diikuti Tubuh Bagian Kanan dan Kiri

قوله: (ثم يفيض) الماء (على رأسه ثم شقه الأيمن ثم الأيسر بتثليث)

Siramkan air ke atas kepala, lalu turun menuju tubuh sisi kanan bagian depan dan belakang. Setelah itu, siramkan pada tubuh sisi kiri bagian depan dan belakang. Sangat disunnahkan untuk mengulang basuhan ini sebanyak tiga kali (tatslits) sembari tangan ikut menggosok badan (dalk).

Langkah 5 (Khusus Wanita Haid): Menggunakan Wewangian

Botol kaca kecil berisi minyak wangi misk diletakkan di samping kapas putih lembut di atas permukaan marmer.
Disunnahkan bagi wanita yang mandi wajib pasca haid untuk menggunakan kapas yang diberi wewangian (misk) pada area kewanitaan.

قوله: (وأتبعت… أثر الدم مسكا) بأن تجعله على قطنة… (وإلا فطيبا وإلا فطينا والماء كاف)

Bagi wanita yang bersuci selepas haid atau nifas, disunnahkan mengambil sepotong kapas, menetetesinya dengan misk (minyak wangi), lalu mengusapkannya perlahan ke area kewanitaan untuk menghilangkan sisa aroma darah. Jika misk tidak tersedia, parfum non-alkohol jenis lain dapat digunakan. Jika tetap tidak ada, maka basuhan air suci sudah dinilai cukup (wal ma’u kafin).

Tabel Ringkasan Tata Cara Mandi Junub (Rukun vs Sunnah)

Untuk membedah kompleksitas fikih ini menjadi susunan logis, perhatikan tabel pemisah rukun dan sunnah di bawah ini. Kesalahan dalam rukun membatalkan mandi, sedangkan kelupaan pada sunnah hanya mengurangi pahala tanpa merusak sahnya ibadah.

Tindakan FikihStatus HukumKonsekuensi Jika Terlewat / Dilanggar
Niat Mengangkat HadatsRukun MutlakMandi TIDAK SAH, wajib mengulang dari awal.
Meratakan Air ke Kulit/RambutRukun MutlakMandi TIDAK SAH, wajib membasuh bagian yang kering.
Membersihkan najis pada tubuhSunnah / SyaratJika najis tidak hilang, tempat tersebut tidak suci.
Mengambil Wudhu di awal mandiSunnah (Asyt)Mandi tetap sah, namun kehilangan pahala meniru Nabi.
Berkumur (Madhmadah) & IstinsyaqSunnahMandi sah tanpa berkumur.
Mengguyur sisi kanan (Tayammun)SunnahMandi sah walaupun mendahulukan bagian kiri/acak.
Menggosok tubuh (Dalk)SunnahMandi sah asalkan air mengalir murni mengenai kulit.

Kesimpulan

Menunaikan mandi wajib (Ghusl) dengan benar adalah kunci bagi sahnya ibadah-ibadah inti dalam Islam. Melalui pemaparan kitab Asna al-Matalib, Madzhab Syafi’i memberikan panduan yang sangat sistematis dan memudahkan umat. Inti dari ibadah ini bertumpu pada dua rukun mandi wajib: niat ikhlas di dalam hati yang berbarengan dengan basuhan air pertama, dan meratakan air suci ke seluruh permukaan tubuh tanpa terkecuali. Dengan memahami batasan tegas antara rukun yang wajib dan tata cara sunnah yang menyempurnakan, seorang Muslim dapat terbebas dari penyakit was-was, meraih ketenangan batin, dan menjalankan thaharah dengan penuh keyakinan.

Tanya Jawab Fikih (FAQ) Seputar Tata Cara Mandi Wajib

Jika saya memotong kuku atau mencabut bulu ketiak sebelum mandi wajib, apakah rambut/kuku tersebut harus ikut dimandikan?

Tidak. Anggapan bahwa kuku atau rambut yang terpotong saat junub kelak akan menuntut di akhirat adalah tidak berdasar secara fikih. Namun, Syaikhul Islam mengingatkan satu hukum teknis:
قوله: (ولو بقيت شعرة) لم تغسل (فنتفها)… (وجب غسل ما تحتها)
Jika ada sehelai rambut di kepala yang belum terkena air mandi wajib, lalu rambut itu tercabut atau rontok, maka Anda wajib menyiramkan air pada pori-pori/kulit bekas cabutan rambut tersebut, karena area tersebut wajib terkena basuhan.

Apakah sah menyatukan niat mandi junub dengan niat mandi hari Jumat?

Sah. Dalam kaidah thaharah, terdapat konsep saling melengkapi (tadaakhul). Kitab menyebutkan:
(وإن وجب عليه فرضان كفاه الغسل لأحدهما كنفلين)
Jika Anda menanggung kewajiban mandi junub, bertepatan dengan sunnah mandi shalat Jumat, niatkanlah mandi junub. Dengan niat fardhu tersebut, kesunnahan mandi Jumat sudah otomatis Anda peroleh, meskipun tidak diniatkan secara spesifik.

Berapa liter air yang disunnahkan untuk digunakan saat mandi wajib agar tidak boros?

Ulama menetapkan standar volume air berdasarkan kebiasaan Rasulullah ﷺ.
(وأن لا ينقص فيه عن صاع أي أربعة أمداد وفي الوضوء عن مد)
Standar kesunnahan adalah tidak kurang dari 1 Sha’ (setara 4 Mudd, kurang lebih sekitar 2,5 hingga 3 Liter air) untuk mandi junub, dan 1 Mudd (sekitar 600-750 ml) untuk berwudhu. Penggunaan air secara terukur sangat dianjurkan agar terhindar dari perbuatan mubazir, selama asas meratakan air (ta’mim) telah terpenuhi sempurna.

Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 68-71.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.