Penetapan hukum dalam syariat Islam senantiasa berlandaskan pada fondasi argumen yang kokoh (hujjah). Tidak ada satu pun ibadah yang diwajibkan kepada umat muslim melainkan memiliki akar teks yang terang benderang dari sumber-sumber primer agama. Bagi Anda yang sedang mempelajari konstruksi rukun Islam, menelusuri dalil kewajiban zakat merupakan satu tahapan akademis yang amat esensial.
Tulisan ini akan menguraikan argumentasi tekstual dari sumber-sumber utama syariat, membedah ayat al quran tentang zakat, serta kedudukannya dalam sabda Rasulullah ﷺ. Penjelasan di bawah ini disusun dengan merujuk murni pada literatur klasik Asna al-Matalib Juz 1 karya pakar fikih terkemuka, Syekh Zakariya al-Ansari. Pemahaman atas dalil ini akan memperkuat pemahaman Anda saat membaca hukum dasar zakat, syarat wajib dan sanksi maupun menelusuri panduan zakat lengkap.
Kewajiban Zakat Sebelum Ijma’ Ulama
Dalam disiplin Ushul Fiqh (metodologi hukum Islam), sumber hukum terbagi menjadi beberapa tingkatan. Konsensus atau kesepakatan seluruh ulama mujtahid pada suatu masa (ijma’) menempati urutan ketiga setelah Al-Qur’an dan Sunnah. Seluruh ulama di berbagai mazhab telah mencapai ijma’ atas kewajiban ibadah finansial ini.
Namun, Syekh Zakariya al-Ansari memberikan penegasan teologis yang amat teliti. Beliau mengedepankan bahwa fondasi asli dari kewajiban ini sudah berstatus absolut (qath’i) jauh sebelum terbentuknya konsensus para ulama. Beliau menuliskan redaksi:
والأصل في وجوبها قبل الإجماع آيات كقوله تعالى… وأخبار
Artinya: “Dan landasan asli (al-ashl) mengenai kewajibannya, sebelum adanya ijma’, adalah ayat-ayat seperti firman Allah Ta’ala… dan juga berbagai riwayat hadis (akhbar).”
Pernyataan ini mendudukkan ibadah tersebut pada posisi paling asasi. Syariat tidak bergantung semata-mata pada kesepakatan rasional atau yuridis ulama, melainkan bersandar mutlak pada wahyu Tuhan. Keberadaan ijma’ di sini berfungsi sebagai penguat atas teks-teks wahyu yang sudah turun dan dipraktikkan sejak era kenabian.
Dalil Al-Qur’an (Surah Al-Baqarah: 43 & At-Taubah: 103)

Al-Qur’an sebagai pedoman tertinggi umat Islam memuat banyak sekali perintah mengenai distribusi harta. Para ulama mazhab Syafi’i merangkum ayat al quran tentang zakat yang secara eksplisit menunjukkan struktur perintah wajib (fi’il amr).
Syekh Zakariya al-Ansari mengutip dua ayat utama sebagai poros argumentasi:
آيات كقوله تعالى {وآتوا الزكاة} [البقرة: ٤٣] وقوله {خذ من أموالهم صدقة} [التوبة: ١٠٣]
Pertama, Surah Al-Baqarah ayat 43:
Firman Allah ﷻ, “{Wa aatuu az-zakaata}” yang bermakna “Dan tunaikanlah zakat.” Penggunaan kata kerja perintah (amr) dalam tata bahasa Arab dan ilmu Ushul Fiqh membawa konsekuensi hukum wajib (al-amru yufidu al-wujub), kecuali ada dalil lain yang memalingkannya. Pada ayat ini, perintah penunaian ditujukan langsung kepada seluruh individu muslim yang hartanya telah memenuhi kriteria kelayakan syariat.
Kedua, Surah At-Taubah ayat 103:
Firman Allah ﷻ, “{Khudz min amwaalihim shadaqah}” yang bermakna “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” Kata shadaqah pada ayat ini dimaknai secara mufakat oleh para ahli tafsir dan ahli fikih sebagai zakat wajib, bukan sedekah sunah (tatawwu’). Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ selaku pemimpin otoritas Islam, yang memberikan legalitas bagi negara atau institusi amil untuk memungut hak fakir miskin secara proaktif dari harta para muzakki (wajib zakat).
Dalil Hadis (Rukun Islam yang Lima)
Sebagai penjabar atas teks-teks Al-Qur’an, Sunnah (hadis) memberikan kerangka operasional dan status kedudukan suatu amalan. Rasulullah ﷺ menetapkan ibadah ini sebagai instrumen vital yang menjaga tegaknya agama seseorang.
Dalam Asna al-Matalib, hal ini dijelaskan dengan kutipan:
وأخبار كخبر «بني الإسلام على خمس» (هي أحد أركان الإسلام)
Artinya: “Dan (landasannya adalah) riwayat-riwayat hadis seperti hadis, ‘Islam dibangun di atas lima (perkara).’ Maka ibadah ini adalah salah satu rukun Islam.”
Hadis masyhur dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ini menganalogikan agama Islam bagaikan sebuah bangunan kokoh yang ditopang oleh lima pilar utama: syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadan, dan haji. Jika salah satu pilar tersebut sengaja dihancurkan atau diabaikan, maka runtuhlah kesempurnaan bangunan agama orang tersebut.
Penyebutan ibadah finansial ini secara beriringan dengan rukun-rukun badaniyah (fisik) menunjukkan bahwa kesalehan seorang hamba tidak dinilai sebatas dari ritual fisiknya, melainkan juga dari ketundukannya dalam mengelola harta titipan ilahi sesuai dengan jalan syariat.
Kedudukan Zakat Setara dengan Kewajiban Shalat

Penetapan sebagai rukun Islam membawa konsekuensi teologis dan yurisprudensi yang teramat berat bagi pihak yang mengingkarinya. Dalam disiplin ilmu akidah dan fikih Islam, perkara yang sudah diketahui urgensinya secara mutlak dalam agama (ma’lum min ad-din bi adh-dharurah) tidak memberikan toleransi bagi pengingkaran.
Syekh Zakariya al-Ansari mensejajarkan kedudukan penolakan ini dengan pengingkaran terhadap ibadah shalat:
لهذا الخبر (يكفر جاحدها) وإن أتى بها وزاد قوله (كالصلاة) ليستغني عن استثناء الجاهل المتقدم نظيره في الباب قبله وأنت تعلم مما مر أن هذا خارج بالجحود فلا حاجة لما زاده (ويقاتل الممتنعون) من أدائها
Uraian teks di atas merinci tiga status hukum yang amat krusial:
- Kufur bagi Pengingkar (Jahid): Seseorang yang menyangkal (jahid) kewajiban ini dihukumi keluar dari Islam (yakfuru jahiduha). Bahkan, status kekafirannya tetap ada meskipun ia mengeluarkan sebagian hartanya seolah-olah berzakat. Pengingkaran terhadap nas Al-Qur’an dan hadis mutawatir membatalkan iman seseorang.
- Kesejajaran Mutlak (Kash-Shalah): Pengingkaran terhadap kewajiban harta ini disejajarkan dengan pengingkaran terhadap ibadah shalat. Penyebutan ini menafikan alasan ketidaktahuan (jahl), karena perintah ibadah ini telah menyebar sedemikian masif di kalangan umat Islam.
- Sanksi bagi Penahan Harta (Mumtani’): Bagi orang yang percaya bahwa ibadah ini wajib, tetapi ia menahan hartanya (mumtani’un) akibat sifat kikir, maka penguasa yang sah memiliki wewenang untuk memerangi dan memungutnya secara paksa.
Kedudukan yang setara dengan shalat ini menuntut setiap pemeluk Islam untuk memperlakukan harta bendanya dengan penuh kehati-hatian, menghitung batas nisabnya secara akurat, dan menunaikannya tepat waktu sesuai bimbingan para ulama.
Tabel Ringkasan Dalil Kewajiban Zakat
| Sumber Hukum | Teks Dalil (Arab) | Makna & Implikasi Hukum Fikih |
| Al-Qur’an | {وآتوا الزكاة} (Al-Baqarah: 43) | Perintah mutlak (amr) menunaikan kewajiban finansial bagi individu muslim. |
| Al-Qur’an | {خذ من أموالهم صدقة} (At-Taubah: 103) | Legalitas bagi pemerintah/amil memungut hak fakir miskin dari para muzakki. |
| Hadis Nabi ﷺ | «بني الإسلام على خمس» | Penegasan status ibadah ini sebagai satu dari lima pilar (rukun) yang menopang keislaman seseorang. |
| Ijma’ Ulama | (Kesepakatan Seluruh Mujtahid) | Penguat absolut bahwa syariat ini berlaku mutlak tanpa ada perselisihan di antara ulama mazhab. |
FAQ Seputar Dalil Kewajiban Zakat
1. Mengapa ayat Al-Qur’an menggunakan kata “shadaqah” untuk makna zakat?
Dalam terminologi bahasa Arab pada masa turunnya wahyu, kata shadaqah bermakna pemberian yang membuktikan kejujuran (shidq) iman seseorang. Ahli tafsir dan ahli fikih bersepakat bahwa shadaqah dalam Surah At-Taubah ayat 103 adalah perintah wajib yang spesifik (zakat), bukan sekadar sedekah yang bersifat anjuran (sunah).
2. Apakah dalil kewajiban zakat berlaku sama untuk semua jenis harta?
Dalil Al-Qur’an dan rukun Islam menetapkan asas kewajiban secara universal. Adapun rincian harta mana saja yang wajib dizakati (emas, perak, hasil tani, hewan ternak, perdagangan), batasan nisab, serta tata cara perhitungannya diturunkan secara lebih spesifik dari rincian hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang dikodifikasikan dalam ilmu fikih.
Kesimpulan
Penelusuran atas dalil kewajiban zakat membuktikan bahwa syariat Islam disusun di atas nas yang qath’i (pasti). Rangkaian argumen tekstual dari Al-Qur’an, seperti perintah wa aatuu az-zakaata, serta penegasan hadis rukun Islam, mendudukkan ibadah maliyah ini pada posisi sentral yang sejajar dengan ibadah shalat. Mematuhi perintah ini bukan semata-mata mengugurkan kewajiban sosiologis terhadap fakir miskin, melainkan bentuk manifestasi ketundukan tauhid kepada Allah ﷻ yang telah termaktub secara jelas, jauh sebelum adanya konsensus dari kalangan pakar hukum Islam.
Referensi
Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 338.
