Setiap tahun, pertanyaan “puasa Ramadhan berapa hari lagi?” selalu ramai dibicarakan. Bagi umat Islam, bulan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momen sakral yang dinanti-nanti. Namun, di balik antusiasme tersebut, sudahkah kita memahami betul bagaimana fiqih puasa Ramadhan mengatur ibadah kita? Mulai dari cara melihat hilal hingga sejarah panjang mengapa kita diwajibkan berpuasa.
Berdasarkan referensi kitab klasik Fathul Mu’in dan I’anah ath-Thalibin, mari kita bahas tuntas segala hal tentang bulan suci ini, mulai dari dalil puasa Ramadhan, sejarahnya, hingga aturan mainnya.
Namun sebelum membaca lebih lanjut ada baiknya jika Anda terlebih dulu membaca artikel arti puasa menurut ajaran Islam.
Dasar Hukum dan Dalil Puasa Ramadhan
Hukum puasa Ramadhan adalah fardu ain bagi setiap muslim yang memenuhi syarat. Ini adalah kewajiban puasa Ramadhan yang tidak bisa ditawar lagi karena puasa Ramadhan merupakan rukun Islam yang ke empat (atau ketiga dalam beberapa urutan riwayat, namun intinya adalah rukun utama).
Landasan utamanya tentu saja dalil puasa Ramadhan Al Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Dalam kitab Fathul Mu’in dijelaskan:
يجب صوم شهر (رمضان) إجماعا
(Wajib puasa) bulan (Ramadhan) secara ijma’ (kesepakatan ulama).
Jelas bahwa puasa Ramadhan wajib atau sunnah jawabannya adalah mutlak wajib. Bahkan, hukum tidak puasa Ramadhan bagi orang yang mengingkari kewajibannya bisa jatuh pada kekufuran, sedangkan bagi yang tidak puasa karena malas (tanpa uzur) tetap berdosa.
Sejarah dan Asal Usul Puasa Ramadhan
Tahukah Anda bahwa sejarah puasa Ramadhan memiliki cerita unik terkait umat-umat terdahulu? Dalam tafsir yang dikutip I’anah ath-Thalibin, disebutkan bahwa puasa sebenarnya juga diperintahkan kepada umat sebelum Nabi Muhammad SAW.
Namun, terjadi pergeseran dalam pelaksanaannya oleh umat terdahulu. Asal usul puasa Ramadhan yang murni sempat mengalami perubahan. Diceritakan bahwa kaum Nasrani terdahulu merasa berat berpuasa saat musim panas yang terik. Akhirnya, para pemuka agama mereka memindahkan waktu puasa ke musim semi agar cuacanya lebih nyaman. Sebagai ganti pemindahan waktu itu, mereka menambah durasi puasa sepuluh hari sebagai denda (kafarat), dan ditambah lagi oleh nazar raja-raja mereka hingga jumlahnya mencapai 50 hari.
Berbeda dengan umat terdahulu, ketentuan puasa Ramadhan untuk umat Nabi Muhammad SAW dikembalikan pada syariat aslinya, yaitu mengikuti perputaran bulan (Qamariyah), bukan musim (Syamsiyah), dan jumlah harinya tidak ditambah-tambah.
Kapan Awal Puasa Ramadhan Dimulai?

Seringkali kita bingung puasa Ramadhan hari apa akan dimulai. Apakah ikut pemerintah, ormas, atau hitungan kalender? Dalam fiqih Syafi’iyah, ada dua cara utama menentukan kapan awal puasa Ramadhan:
- Menyempurnakan Sya’ban (Ikmal): Jika hilal tidak terlihat, bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.
بكمال شعبان ثلاثين يوما - Melihat Hilal (Rukyah): Melihat bulan sabit setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Sya’ban.
Uniknya, untuk menentukan awal Ramadhan, syaratnya sedikit lebih ringan dibanding menentukan akhir Ramadhan (Syawal). Kitab Fathul Mu’in menyebutkan:
أو رؤية عدل واحد، ولو مستورا هلاله بعد الغروب
Atau dengan rukyah (penglihatan) satu orang yang adil, meskipun ia mastur (orang yang keadilannya secara batin belum teruji), yang melihat hilal setelah terbenam matahari.
Jadi, jika ada satu orang yang jujur bersaksi melihat hilal di depan hakim, maka wajib puasa Ramadhan bagi seluruh penduduk negeri tersebut.
Bagaimana Jika Tinggal di Wilayah Berbeda?
Ini sering jadi pertanyaan: “Jika di Arab Saudi sudah puasa, apakah di Indonesia wajib ikut?”
Di sinilah berlaku konsep Ikhtilaf al-Mathali’ (perbedaan tempat terbit). Jarak “dekat” dan “jauh” menjadi penentu. Batas jarak jauh menurut sebagian ulama adalah sekitar 24 Farsakh (±133 km).
Ada aturan menarik soal arah mata angin yang disebut dalam kitab:
- Jika hilal terlihat di Timur, maka penduduk di Barat wajib mengikuti (karena jika di Timur sudah terbit, di Barat yang waktunya lebih lambat pasti posisi bulan lebih tinggi).
- Jika hilal terlihat di Barat, penduduk Timur tidak wajib mengikuti (karena bisa jadi saat matahari terbenam di Timur, bulan belum wujud).
يلزم من الرؤية في البلد الغربي من غير عكس
Lazim (wajib) mengikuti rukyah di negeri Barat (bagi yang di Barat dari lokasi rukyah), tidak sebaliknya.
Durasi Puasa: 29 atau 30 Hari?
Banyak yang bertanya berapa hari puasa Ramadhan sebenarnya? Puasa Ramadhan dilaksanakan oleh umat Islam selama satu bulan penuh hitungan kalender Hijriyah.
Kalender Hijriyah hanya berumur 29 atau 30 hari. Tidak pernah 31 hari.
قوله: (في السنة الثانية من الهجرة) أي فيكون – صلى الله عليه وسلم – صام تسع رمضانات… والتسع كلها نواقص إلا سنة فكاملة
Nabi SAW berpuasa sembilan kali Ramadhan… dan sembilan kali itu (jumlah harinya) kurang (29 hari), kecuali satu tahun yang sempurna (30 hari).
Jadi, jika Anda bertanya berapa hari lagi puasa Ramadhan akan berakhir saat sudah menjalankannya, jawabannya tergantung rukyah hilal Syawal di akhir bulan.
Syarat Wajib dan Ketentuan Puasa
Selain masuknya bulan Ramadhan (lewat pengumuman resmi itsbat atau melihat sendiri). Agar ibadah sah, kita harus paham syarat wajib puasa Ramadhan. Berdasarkan teks fiqih, kewajiban ini jatuh kepada:
- Muslim.
- Baligh.
- Berakal
- Mampu berpuasa (tidak sakit parah atau tua renta).
Ada poin menarik tentang orang yang melihat hilal sendiri namun kesaksiannya ditolak hakim (misalnya karena dia dianggap fasik atau seorang wanita dalam konteks persaksian hilal awal). Orang tersebut tetap wajib berpuasa berdasarkan penglihatannya sendiri (“Amal bi ru’yati nafsihi“).
Tabel: Perbandingan Penetapan Awal & Akhir Ramadhan
Agar lebih mudah memahami fiqih puasa Ramadhan terkait saksi hilal, perhatikan tabel berikut:
| Kategori | Awal Ramadhan (Wajib Puasa) | Awal Syawal (Lebaran) |
| Jumlah Saksi | Cukup 1 orang laki-laki | Minimal 2 orang laki-laki |
| Kualitas Saksi | Boleh Mastur (Orang biasa yang baik lahiriahnya) | Harus Adil (Teruji kesalehannya) |
| Tujuan | Kehati-hatian masuk ibadah | Kehati-hatian keluar ibadah |
FAQ: Pertanyaan Seputar Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan wajib atau sunnah?
Hukumnya Wajib (Fardu Ain) bagi setiap muslim yang memenuhi syarat. Ini adalah bagian dari rukun Islam.
Berapa hari puasa Ramadhan dilakukan?
Puasa dilakukan selama satu bulan penuh kalender Hijriyah, bisa 29 hari atau 30 hari, tergantung kemunculan hilal bulan Syawal.
Apa hukum tidak puasa Ramadhan?
Jika ditinggalkan tanpa alasan syar’i (udzur), hukumnya haram dan berdosa. Jika ditinggalkan karena mengingkari kewajibannya (menganggap tidak wajib), bisa menyebabkan kekufuran.
Kapan awal puasa Ramadhan tahun ini?
Penetapan tanggal pastinya menunggu sidang itsbat yang menggabungkan metode rukyah (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan). Biasanya penentuan tanggal 1 Ramadhan kalender Hijriyah disiarkan secara langsung dan dipimpin oleh Menteri Agama saat tanggal 29 Sya’ban.
Apa dalil perintah puasa Ramadhan?
Dalil utamanya adalah Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 dan Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan secara mutawatir.
Dengan memahami perintah puasa Ramadhan secara mendalam melalui kacamata fiqih klasik, semoga ibadah kita tahun ini tidak hanya sekadar menahan lapar, tetapi juga sesuai dengan tuntunan syariat yang benar. Persiapkan diri Anda, karena hitungan berapa hari lagi puasa Ramadhan tiba akan terus berjalan mendekat.
Referensi
Shaṭṭā, ʿUthmān ibn Muḥammad, Abū Bakr (al-Mashhūr bi-al-Bakrī) ad-Dimyāṭī. Iʿānat aṭ-Ṭālibīn ʿalā Ḥall Alfāẓ Fatḥ al-Muʿīn (Ḥāshiyah ʿalā Fatḥ al-Muʿīn bi-Sharḥ Qurrat al-ʿAyn bi-Muhimmat ad-Dīn). 1st ed. Beirut: Dār al-Fikr, 1997.




