Banyak orang sering bertanya-tanya tentang apa itu tasawuf sebenarnya. Apakah ini sebuah ajaran baru yang muncul belakangan? Atau jangan-jangan ini adalah serapan dari budaya asing di luar Islam? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini wajar muncul, mengingat banyaknya kesalahpahaman yang beredar di masyarakat mengenai dunia sufi1.
Padahal, jika kita mau menengok kembali ke akar sejarah dan pendapat para ulama ahli hadis, kita akan menemukan fakta yang mengejutkan. Tasawuf bukanlah “barang impor”. Ia adalah jantung dari ajaran Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Dalam artikel ini, kita akan mengurai sejarah tasawuf, hubungannya dengan maqam Ihsan, dan membantah mitos bahwa ajaran ini berasal dari luar Islam.
Table of Contents
Apakah Tasawuf Itu Baru? Sebuah Penjelasan Mendasar
Untuk menjawab keraguan mengenai asal usul ilmu penyucian hati ini, mari kita simak pandangan seorang ulama besar, Al-Imam Al-Hafizh Sayyid Muhammad Shiddiq Al-Ghumari. Beliau pernah mendapatkan pertanyaan kritis: Siapa pendiri tasawuf? Apakah ia berasal dari wahyu langit?
Baca juga: Mengenal Ajaran Tasawuf: Ilmu Penyucian Hati untuk Kebahagiaan Abadi
Jawaban beliau sangat tegas dan membuka mata kita. Beliau menjelaskan bahwa thariqah atau jalan tasawuf ini dasarnya adalah wahyu. Perhatikan jawaban beliau berikut ini:
(أما أول من أسس الطريقة، فلتعلم أن الطريقة أسسها الوحي السماوي في جملة ما أسس من الدين المحمدي، إذ هي بلا شك مقام الإحسان الذي هو أحد أركان الدين الثلاثة التي جعلها النبي صلّى الله عليه وسلّم بعد ما بيّنها واحدا واحدا دينا بقوله: (( هذا جبريل عليه السلام أتاكم يعلمكم دينكم )) وهو الإسلام والإيمان والإحسان.
فالإسلام طاعة وعبادة، والإيمان نور وعقيدة، والإحسان مقام “مراقبة ومشاهدة: (( أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك )) …
Artinya: “Mengenai orang pertama yang mendirikan Thariqah, ketahuilah bahwa Thariqah itu didirikan oleh Wahyu Samawi dalam rangkaian apa yang ditegakkan dari Agama Muhammad SAW. Karena Thariqah itu—tanpa keraguan—adalah Maqam Ihsan, yang merupakan salah satu dari tiga rukun agama… Nabi bersabda: ‘Inilah Jibril AS datang kepada kalian mengajarkan agama kalian’, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Islam adalah ketaatan, Iman adalah akidah, sedangkan Ihsan adalah maqam muraqabah: ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya…’
Dari penjelasan di atas, kita paham bahwa agama Islam itu ibarat bangunan dengan tiga pilar utama:
- Islam (Aspek fisik/Syariat)
- Iman (Aspek keyakinan/Akidah)
- Ihsan (Aspek spiritual/Tasawuf)
Jadi, jika ada yang bertanya sejarah tasawuf bermula dari mana, jawabannya sederhana: ia bermula sejak Jibril mengajarkan rukun agama kepada Nabi Muhammad SAW. Tasawuf adalah nama lain dari Ihsan, yaitu cara kita menjaga hati agar selalu merasa diawasi oleh Allah SWT.
Mengapa Namanya Berubah Menjadi “Tasawuf”?
Mungkin Anda bertanya, “Kalau memang dari zaman Nabi, kenapa dulu tidak disebut Tasawuf?”
Ini adalah pertanyaan cerdas. Perubahan nama atau istilah adalah hal yang lumrah dalam sejarah perkembangan ilmu. Dulu, di zaman Rasulullah, gelar “Sahabat” sudah menjadi gelar tertinggi. Tidak perlu ada sebutan lain karena kedekatan mereka dengan sumber cahaya (Nabi) sudah cukup menjelaskan kualitas mereka.
Ibnu Khaldun, sosiolog dan sejarawan Islam terkemuka, memberikan analisis tajam mengenai hal ini dalam kitab Muqaddimah-nya:
(وهذا العلم – يعني التصوف – من العلوم الشرعية الحادثة في الملّة؛ وأصله أن طريقة هؤلاء القوم لم تزل عند سلف الأمة وكبارها من الصحابة والتابعين ومن بعدهم طريقة الحق والهداية… فلما فشا الإقبال على الدنيا في القرن الثاني وما بعده، وجنح الناس إلى مخالطة الدنيا، اختص المقبلون على العبادة باسم الصوفية).
Intinya, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa praktik zuhud (tidak gila dunia) dan fokus ibadah adalah kebiasaan umum para Sahabat. Namun, ketika masuk abad kedua Hijriah, orang-orang mulai berlomba-lomba mengejar dunia. Kemewahan merajalela. Di sinilah mereka yang tetap teguh menjaga hati dan fokus beribadah membutuhkan identitas pembeda. Muncullah istilah Sufiyah atau Tasawuf untuk membedakan diri dari golongan yang lalai oleh gemerlap dunia.
Bukti Sejarah dari Abad Kedua Hijriah
Perubahan sosial ini nyata. Sayyid Muhammad Shiddiq Al-Ghumari menguatkan pendapat Ibnu Khaldun dengan bukti sejarah lain dari Al-Kindi dan Al-Mas’udi.
Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa pada tahun 200-an Hijriah di Iskandariah, sudah muncul kelompok yang disebut Sufiyah yang aktif melakukan amar ma’ruf. Ada juga kisah menarik dari Al-Mas’udi tentang seseorang yang datang menemui Khalifah Al-Ma’mun dengan pakaian wol putih kasar (khas kaum sufi) untuk berdiskusi.
Bahkan, penulis kitab Kasyf Az-Zunun mencatat:
(أن أول من سمي بالصوفي أبو هاشم الصوفي المتوفى سنة خمسين ومئة).
“Orang pertama yang dijuluki As-Sufi adalah Abu Hasyim As-Sufi yang wafat tahun 150 H.”
Fakta ini meruntuhkan anggapan bahwa ajaran tasawuf muncul jauh setelah masa salaf. Justru, istilah ini lahir di masa-masa awal sebagai respons untuk menjaga kemurnian ajaran Maqam Ihsan di tengah masyarakat yang mulai materialistis.
Tasawuf Adalah Praktik, Bukan Sekadar Teori
Imam Al-Qusyairi menambahkan perspektif yang sangat berharga. Beliau menyebutkan bahwa setelah masa Sahabat, orang-orang mulia disebut Zuhhad (ahli zuhud) dan Ubbad (ahli ibadah). Namun, ketika bid’ah mulai bermunculan dan setiap kelompok mengklaim paling benar, kaum Ahlussunnah yang fokus menjaga hati memilih nama Tasawuf.
(فانفرد خواص أهل السنة المراعون أنفسهم مع الله سبحانه وتعالى، الحافظون قلوبهم عن طوارق الغفلة باسم التصوف).
Tujuan utama mereka hanya satu: Menjaga hati dari kelalaian. Mereka ingin mempraktikkan Ihsan dengan sempurna. Sayyid Muhammad Shiddiq Al-Ghumari menegaskan dalam risalahnya:
(فمن أخل بهذا المقام (الإحسان) الذي هو الطريقة، فدينه ناقص بلا شك لتركه ركنا من أركانه).
Artinya, siapa yang meremehkan maqam Ihsan (yang kini kita kenal sebagai Tasawuf), maka agamanya bisa dianggap kurang lengkap karena ia meninggalkan salah satu dari tiga rukun agama (Islam, Iman, Ihsan). Ilmu tasawuf hadir untuk menyempurnakan sisi batiniah kita setelah kita membenarkan Islam dan Iman.
Membongkar Narasi Orientalis

Di era modern, kita sering mendengar suara-suara sumbang dari para Orientalis (peneliti Barat) yang mencoba mengaburkan pengertian tasawuf ataupun fakta sejarah tasawuf. Mereka sering membuat klaim tak berdasar bahwa tasawuf adalah hasil adopsi dari ajaran lain.
Mereka melabeli tasawuf dengan sebutan:
- Tasawuf Buddha (diambil dari konsep nirwana/pertapaan)
- Tasawuf Nasrani (diambil dari kerahiban)
- Tasawuf Hindu atau Persia
Tujuannya jelas: mereka ingin orang Islam ragu dengan agamanya sendiri. Mereka ingin membangun opini bahwa sisi spiritual Islam itu “curian” dari agama lain. Padahal, kemiripan dalam praktik menahan diri (zuhud) atau menyepi (uzlah) adalah hal manusiawi yang universal, namun landasannya sangat berbeda.
Tasawuf Islam murni berdiri di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Ia adalah aplikasi nyata dari bagaimana Rasulullah SAW beribadah, bagaimana beliau tidur, makan, dan berinteraksi dengan Tuhannya. Seorang Muslim yang cerdas tidak akan mudah termakan oleh label-label buatan ini. Kita harus jeli melihat bahwa tasawuf adalah metode praktis (amaliyah) untuk menjadi Muslim yang lebih baik, bukan ajaran filsafat yang membingungkan.
Kesimpulan: Kembali ke Akar
Dari paparan panjang di atas, kita bisa menarik benang merah yang kuat. Tasawuf bukanlah hal baru yang mengada-ada. Ia adalah Maqam Ihsan yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Perubahan nama menjadi “Tasawuf” hanyalah sebuah fenomena sejarah sosiologis untuk menjaga identitas kesucian hati di tengah badai materialisme. Jadi, tidak ada istilah Tasawuf Buddha atau Tasawuf Hindu. Yang ada hanyalah Tasawuf Islam, sebuah jalan untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Sudah saatnya kita berhenti curiga pada istilahnya dan mulai mengambil intisari ajarannya: membersihkan hati dan beribadah seolah-olah kita melihat Allah SWT.
Referensi
‘Abd al-Qādir bin ‘Abd Allāh bin Qāsim bin Muḥammad bin ‘Īsā ‘Azīzī al-Ḥalabī al-Syādhilī, Ḥaqā’iq ‘an al-Taṣawwuf (Aleppo, Suriah: Dār al-‘Irfān, cet. XVI, 1428 H/2007 M).
- Orang yang mengamalkan ilmu tasawuf disebut Sufi. ↩︎

