Halaman terbuka dari kitab kuning tua I'anah at-Talibin yang menampilkan teks Arab asli yang membahas makna Hamdalah dan syukur, termasuk kutipan "(قوله: الحمد لله) آثره على الشكر...". Kitab ini diletakkan di atas meja kayu di samping buku catatan, pena, dan secangkir teh, dengan spanduk judul artikel "Mengupas Makna Hamdalah dan Syukur dalam Kitab I'anah at-Talibin" di bagian atas.
Gambar ini menampilkan halaman dari kitab I'anah at-Talibin yang menjadi rujukan utama pembahasan kita. Teks Arab yang terlihat adalah kutipan langsung yang menguraikan mengapa "Alhamdulillah" dipilih dan apa hakikat perbedaan antara pujian (Hamd) dan syukur. Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini untuk memahami kedalaman maknanya. Image by Gemini

Mengkaji Makna Hamdalah dan Syukur dalam Kitab I’anah at-Talibin

Kita semua pasti sering mengucapkan “Alhamdulillah”. Entah itu setelah makan, saat mendapat kabar gembira, atau ketika terhindar dari musibah. Kalimat ini sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya makna terdalam dari pujian ini? Apakah sekadar ucapan di lisan sudah cukup membuat kita disebut sebagai hamba yang bersyukur?

Dalam khazanah kitab kuning, pembahasan ini dikupas tuntas dengan sangat indah. Salah satu referensi yang paling sering dirujuk oleh santri dan pengkaji ilmu fikih adalah kitab I’anah at-Talibin. Kitab syarah karangan Syekh Abu Bakar Syatha ini memberikan wawasan yang mungkin akan mengubah cara pandang kita terhadap konsep terima kasih kepada Tuhan.

Mari kita buka lembaran kitab ini pada jilid pertama, halaman 11-12, dan membedah isinya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Teks Asli dari Kitab I’anah at-Talibin

Sebelum masuk ke penjelasan detail, ada baiknya kita melihat langsung redaksi asli dari kitab tersebut sebagai bentuk keberkahan ilmu (tabarrukan):

قوله: (الحمد لله) آثره على الشكر اقتداء بالكتاب العزيز، ولقوله – صلى الله عليه وسلم -: لا يشكر الله من لم يحمده. والحمد معناه اللغوي الثنا بالجميل لأجل جميل اختياري، سواء كان في مقابلة نعمة أم لا. ومعناه العرفي فعل ينبئ عن تعظيم المنعم من حيث أنه منعم على الحامد أو غيره. والشكر لغة: هو الحمد العرفي، وعرفا: صرف العبد جيمع ما أنعم الله به عليه فيما خلق لأجله، أي أن يصرف جميع الأعضاء والمعاني التي أنعم الله عليه بها في الطاعات التي طلب استعمالها فيها، فإن استعملها في أوقات مختلفة سمى شاكرا، أو في وقت واحد سمي شكورا، وهو قليل، لقوله تعالى: * (وقليل من عبادي الشكور) *.

Teks di atas memuat diskusi padat tentang definisi Hamd (pujian) dan Syukur. Penjelasannya tidak hanya berhenti pada definisi kamus, tapi masuk ke ranah praktik ibadah sehari-hari.

Mengapa Ulama Memilih Kata “Al-Hamd”?

Penulis kitab menjelaskan alasan mengapa para ulama lebih suka membuka tulisannya dengan kata Alhamdulillah, bukan Asy-Syukru Lillah. Alasannya sederhana namun kuat:

  1. Mengikuti Al-Qur’an: Kitab suci kita diawali dengan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
  2. Mengikuti Hadis: Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa orang yang tidak memuji Allah, berarti belum dianggap bersyukur kepada-Nya.

Ini mengajarkan kita bahwa memuji Allah adalah langkah awal dari rasa syukur. Tidak mungkin ada rasa terima kasih tanpa adanya pengakuan akan kebesaran Sang Pemberi.

Perbedaan Mendasar: Hamd vs. Syukur

Seringkali kita menganggap pujian dan syukur itu sama. Padahal, dalam kajian ilmu balaghah dan fikih, keduanya punya perbedaan spesifik. I’anah at-Talibin membaginya menjadi makna secara bahasa (Lughawi) dan makna secara istilah (‘Urfi).

1. Hakikat Hamd (Pujian)

Secara bahasa, Hamd adalah menyanjung dengan kata-kata indah karena adanya kebaikan yang dilakukan secara sadar (ikhtiar), baik kebaikan tersebut diberikan kepada yang memuji atau orang lain. Seperti halnya kita memuji Allah karena telah memberikan kita berbagai macam nikmat, padahal itu hak-Nya untuk memberikan nikmat atau tidak. Ini adalah arti dari al-jamil al-ikhtiyary (kebaikan yang dilakukan berdasarkan ikhtiar).

Lain halnya ketika kita menyanjung seseorang dengan ketampanan atau kecantikannya karena keindahan atau kebaikan tersebut tidak ikhtiary. Dalam bahasa Arab pujian semacam ini tidak dikatakan al-hamd.

Namun, secara istilah (‘Urfi), Hamd adalah perbuatan yang menunjukkan pengagungan kepada Sang Pemberi Nikmat.

2. Hakikat Syukur yang Sebenarnya

Inilah bagian yang sering menampar kesadaran kita. Definisi syukur secara istilah (Syukur ‘Urfi) jauh lebih berat daripada sekadar bilang “Terima kasih, Ya Allah.”

Kitab ini mendefinisikan syukur sebagai:

“Seorang hamba menggunakan seluruh nikmat yang Allah berikan untuk tujuan penciptaan nikmat tersebut (ketaatan).”

Artinya, mata kita diciptakan untuk melihat kebesaran Allah, maka syukur mata adalah menggunakannya untuk membaca Al-Qur’an atau melihat alam, bukan melihat hal haram. Tangan diciptakan untuk bekerja dan membantu, maka syukur tangan bukan dipakai untuk mencuri atau memukul.

Jadi, kalau mulut kita rajin berdzikir tapi tangan kita masih suka mengambil hak orang lain, pada hakikatnya kita belum bersyukur secara utuh.

Syakir vs. Syakur: Di Mana Posisi Kita?

Salah satu wawasan paling menarik dari teks ini adalah perbedaan antara orang yang Syakir dan orang yang Syakur.

  • Syakir: Adalah orang yang menggunakan anggota tubuhnya untuk taat, tapi di waktu yang terpisah-pisah. Pagi hari matanya baca Qur’an, siang hari kakinya melangkah ke masjid. Ketaatannya bergantian.
  • Syakur: Adalah level “dewa”. Ini adalah orang yang dalam satu waktu bersamaan, seluruh anggota tubuh dan hatinya sibuk dalam ketaatan kepada Allah.

Al-Qur’an sendiri menyebutkan, “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang ‘Syakur’.”

Ilustrasi Orang yang “Syakur”

Untuk memudahkan kita paham, Imam Asy-Syibramalisi memberikan contoh visual yang sangat jelas. Bayangkan seseorang yang sedang menggotong keranda jenazah. Orang ini bisa disebut Syakur jika dalam satu detik yang sama dia melakukan hal-hal ini:

  1. Kaki: Berjalan mengantar jenazah ke kubur (ibadah).
  2. Tangan: Mengangkat keranda (ibadah).
  3. Mata: Menunduk melihat jalan agar tidak tersandung, demi keselamatan jenazah (ibadah).
  4. Lisan: Sibuk berdzikir atau membaca tahlil (ibadah).
  5. Telinga: Mendengarkan nasihat kematian atau tahlil yang dilantunkan para pengiring jenazah (ibadah).
  6. Hati: Bertafakur merenungi ciptaan Allah dan mengingat kematian (ibadah).

Semua organnya “sibuk” untuk Allah di waktu yang sama. Tidak ada satu detik pun yang terbuang sia-sia atau melenceng ke hal makruh, apalagi haram. Ini adalah standar tinggi yang sulit dicapai, tapi bukan mustahil untuk kita latih pelan-pelan.

Empat Jenis Pujian dan Hukumnya

Selain membahas definisi, I’anah at-Talibin juga membedah pembagian pujian. Ada empat kategori Hamd:

  1. Hamd Qadim li Qadim: Allah memuji diri-Nya sendiri (Contoh: Ayat-ayat Al-Qur’an yang memuji Allah).
  2. Hamd Qadim li Hadits: Allah memuji hamba-Nya (Contoh: Pujian Allah kepada Nabi Ayyub sebagai hamba yang taat).
  3. Hamd Hadits li Qadim: Kita (makhluk baru) memuji Allah.
  4. Hamd Hadits li Hadits: Kita memuji sesama manusia.

Perlu diingat bahwa semua kategori Hamd tersebut kembalinya juga kepada Allah. Karena pada hakikatnya saat kita memuji sesama makhluk pada dasarnya pujian tersebut kembali ke Sang Pencipta.

Baca juga: Apa itu Ilmu Tasawuf?

Hukum Mengucapkan “Alhamdulillah”

Jangan salah sangka, mengucapkan hamdalah tidak selamanya bernilai pahala. Hukumnya bisa berubah tergantung situasi (konteks):

  • Wajib: Seperti saat membaca Al-Fatihah dalam shalat atau saat khutbah Jumat. Tanpa ini, shalat atau khutbahnya tidak sah.
  • Sunnah (Mandub): Situasi umum seperti awal berdoa, setelah makan minum, atau saat memulai pelajaran.
  • Makruh: Mengucap asma Allah di tempat kotor seperti toilet atau tempat pembuangan sampah. Kita diminta menjaga kesucian nama-Nya.
  • Haram: Nah, ini yang bahaya. Haram hukumnya mengucapkan “Alhamdulillah” sebagai tanda senang setelah melakukan maksiat. Contoh: Berhasil menipu orang lalu bilang “Alhamdulillah, untung banyak.” Ini mempermainkan agama.

Apa Langkah Selanjutnya?

Memahami isi kitab I’anah at-Talibin ini membuka mata kita bahwa Islam menuntut totalitas. Syukur bukan cuma lip service atau pemanis bibir. Ia adalah aksi nyata menggunakan seluruh potensi diri untuk kebaikan.

Mulai hari ini, cobalah kita cek ulang. Saat kita mendapat rezeki, apakah rezeki itu kita pakai untuk hal yang Allah ridhoi? Atau saat kita diberi kesehatan, apakah tenaga kita habis untuk hal sia-sia?

Menjadi Syakur mungkin berat, tapi kita bisa mulai dengan menjadi Syakir—mencoba taat semampu kita, satu per satu, hari demi hari.

Semoga ulasan singkat dari kitab kuning ini bisa menambah semangat kita dalam beribadah. Jangan lupa bagikan tulisan ini jika dirasa bermanfaat bagi teman-temanmu yang sedang belajar memperbaiki diri.

Abū Bakr (al-Mashhūr bi-al-Bakrī) ʿUthmān ibn Muḥammad Shaṭṭā ad-Dimyāṭī ash-Shāfiʿī, Iʿānat aṭ-Ṭālibīn ʿalā Ḥall Alfāẓ Fatḥ al-Muʿīn (Ḥāshiyah ʿalā Fatḥ al-Muʿīn bi-Sharḥ Qurrat al-ʿAyn bi-Muhimmat ad-Dīn), 1st ed. (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 1:11-12.