Ilustrasi seorang pria memegang hati bercahaya di atas dua kitab suci Al-Quran dan Hadits, dengan teks "Mengenal Hakikat Tasawuf: Ilmu Penyucian Hati untuk Kebahagiaan Abadi".
Seperti cahaya yang dipegang erat di antara dua sumber kebenaran, tasawuf adalah kunci untuk membuka potensi hati kita. Sebuah jalan menuju kedamaian sejati yang melampaui kebahagiaan duniawi. Gambar by Gemini

Mengenal Hakikat Tasawuf: Ilmu Penyucian Hati untuk Kebahagiaan Abadi

Banyak orang merasa bingung saat mendengar kata tasawuf. Ada yang menganggapnya sebagai ajaran asing, padahal tasawuf adalah jantung dari agama Islam itu sendiri. Secara sederhana, tasawuf merupakan jalan untuk memperbaiki diri agar hati kita bersih dan hubungan kita dengan Allah menjadi lebih dekat.

Kita semua tahu bahwa shalat dan puasa adalah kewajiban, namun bagaimana dengan keikhlasan di dalam hati saat menjalankan ibadah tersebut? Di sinilah peran ilmu tasawuf.

Apa Itu Tasawuf? Definisi Menurut Para Ulama

Untuk memahami bidang ini, kita perlu melihat bagaimana para ulama besar merumuskannya. Tasawuf bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Syaikhul Islam Zakaria al-Ansari memberikan rumusan yang sangat bagus:

(التصوف علم تعرف به أحوال تزكية النفوس، وتصفية الأخلاق وتعمير الظاهر والباطن لنيل السعادة الأبدية)

“Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui keadaan penyucian jiwa, penjernihan akhlak, serta membangun lahir dan batin demi meraih kebahagiaan yang abadi.”

Selain itu, Syaikh Ahmad Zarruq menjelaskan bahwa tasawuf memiliki tempat khusus di samping ilmu-ilmu Islam lainnya. Jika Fiqh memperbaiki cara kita bekerja dan Tauhid memantapkan keyakinan kita, maka tasawuf berfokus pada perbaikan hati. Beliau berpendapat:

(التصوف علم قصد لإصلاح القلوب، وإفرادها لله تعالى عما سواه)

“Tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan mengkhususkannya hanya bagi Allah Ta’ala dari selain-Nya.”

Imam al-Junayd al-Baghdadi, tokoh yang sangat dihormati, menyebutkan bahwa tasawuf adalah tentang karakter. Beliau berkata:

(التصوف استعمال كل خلق سني، وترك كل خلق دني)

“Tasawuf adalah mempraktikkan setiap akhlak yang mulia dan meninggalkan setiap akhlak yang rendah.”

Dari Mana Nama “Tasawuf” Berasal?

Asal-usul kata tasawuf memang memiliki banyak versi. Namun, semua versi tersebut merujuk pada satu makna besar: kedekatan dengan Tuhan. Ada yang menyebutnya berasal dari kata Ash-Shafa yang berarti kesucian. Ada juga yang menghubungkannya dengan Ahlush Shuffah, yaitu para sahabat Nabi yang hidup sangat sederhana di emperan Masjid Nabawi dan menghabiskan waktu mereka hanya untuk beribadah di Masjid Nabawi.

Salah satu pendapat yang cukup populer adalah hubungannya dengan pakaian bulu domba (ash-shuf). Pada masa awal, orang-orang yang fokus pada ibadah sering memakai kain wol kasar sebagai simbol bahwa mereka tidak mengejar kemewahan dunia.

Namun, kita tidak perlu terjebak pada istilah. Yang paling utama adalah hakikatnya. Tasawuf adalah tentang bagaimana seseorang bisa hidup untuk Tuhannya, bukan untuk ego atau hawa nafsunya sendiri.

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Tasawuf

Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa di zaman Sahabat tidak ada istilah tasawuf?” Jawabannya sederhana. Di zaman Nabi Muhammad SAW, para sahabat tidak butuh teori penyucian hati karena mereka sudah mempraktikkannya secara langsung. Mereka melihat langsung akhlak Rasulullah SAW dan menirunya.

Ibarat orang Arab asli yang tidak butuh belajar rumus tata bahasa (Nahwu) untuk bicara bahasa Arab dengan benar, para sahabat sudah menjadi “sufi” secara hakikat meski tanpa nama tersebut.

Seiring berjalannya waktu, ketika umat Islam mulai berbaur dengan berbagai bangsa dan kekayaan dunia mulai melimpah, banyak orang mulai lalai. Penyakit hati mulai bermunculan. Pada saat itulah para ulama merasa perlu membukukan aturan-aturan tentang penyucian hati ini menjadi sebuah disiplin ilmu, sama halnya dengan munculnya ilmu Fiqh, ilmu Tafsir, dan ilmu Hadis.

Landasan Tasawuf dalam Al-Qur’an

Tasawuf memiliki fondasi yang kuat dalam kitab suci. Allah SWT berulang kali mengingatkan kita untuk menjauhi kekejian yang tersembunyi.

{قُلْ إِنَّما حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَواحِشَ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ}

“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.” (QS. Al-A’raf: 33)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa “kekejian yang tersembunyi” adalah penyakit hati seperti rasa benci, pamer untuk sebuah validasi (riya), iri hati, dan kemunafikan.

Landasan Tasawuf dalam Hadits Nabi

Tasawuf memiliki akar yang sangat kuat dalam tradisi kenabian. Ia bukanlah ilmu baru, melainkan penjabaran dari konsep Ihsan. Berikut adalah beberapa hadits yang menjadi fondasi utama ilmu ini:

1. Hadits Tentang Pentingnya Hati

Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa pusat kebaikan manusia ada pada segumpal daging bernama hati.

(ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب)

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)

2. Hadits Tentang Makna Ihsan

Dalam hadits Jibril yang sangat terkenal, Nabi menjelaskan bahwa rukun agama tidak hanya Islam dan Iman, tetapi juga Ihsan.

(أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك)

Artinya: “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

3. Bahaya Penyakit Batin (Sombong)

Tasawuf bertugas membersihkan penyakit hati yang seringkali tidak disadari namun sangat fatal akibatnya.

(لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر)

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan (merasa lebih baik dari orang lain).” (HR. Muslim)

Hukum Mempelajari Ilmu Tasawuf: Apakah Wajib?

Banyak yang mengira tasawuf hanyalah pilihan bagi orang yang ingin menjadi wali. Padahal, ulama seperti Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa belajar cara mengobati penyakit hati adalah Fardhu ‘Ain (wajib bagi setiap orang). Mengapa demikian? Karena hampir tidak ada manusia yang benar-benar bersih dari rasa sombong, iri, atau ingin dipuji.

Ulama besar mazhab Hanafi, Ibnu Abidin, dalam Hasyiyahnya yang terkenal menyebutkan:

(إن علم الإخلاص والعجب والحسد والرياء فرض عين، ومثلها غيرها من آفات النفوس… وإزالتها فرض عين، ولا يمكن إلا بمعرفة حدودها وأسبابها وعلاماتها وعلاجها)

“Sesungguhnya ilmu tentang ikhlas, bangga diri (ujub), hasad, dan riya adalah fardhu ‘ain, begitu pula penyakit jiwa lainnya… menghilangkannya adalah fardhu ‘ain, dan itu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan mengetahui batasan, sebab, tanda, serta cara mengobatinya.”

Tanpa mengetahui cara mengobati rasa sombong, seseorang bisa saja merasa sudah suci padahal hatinya sedang sakit parah. Itulah sebabnya tasawuf menjadi ilmu yang sangat mendasar.

Cara Praktis Mensucikan Hati

Dalam tasawuf, ada dua langkah besar yang dilakukan:

  1. Takhalli (Pembersihan): Ini adalah tahap di mana kita berusaha membuang sifat-sifat buruk. Bayangkan hati kita seperti cangkir yang kotor. Sebelum diisi madu yang manis, kotoran dalam cangkir itu harus dibuang terlebih dahulu. Kita membuang rasa pelit, pemarah, dendam, dan haus akan pujian manusia.
  2. Tahalli (Penghiasan): Setelah kotoran hilang, kita mengisinya dengan sifat-sifat mulia seperti taubat, sabar, syukur, tawakal, dan rasa cinta kepada Allah.

Proses ini membuat seseorang tidak hanya saleh secara tampilan luar, tetapi juga damai dan jernih di dalam.

Mengapa Kita Butuh Tasawuf Saat Ini?

Di zaman yang penuh dengan tekanan materi, kita seringkali merasa hampa meskipun semua kebutuhan fisik terpenuhi. Hal ini terjadi karena jiwa kita haus akan kedekatan dengan Tuhan. Tasawuf hadir sebagai penyeimbang. Ia menjaga agar shalat kita tidak sekadar gerakan badan, agar sedekah kita tidak sekadar transfer uang, dan agar lisan kita tidak sekadar berdzikir tanpa rasa.

Seorang ulama besar, Abul Hasan as-Syadzili, pernah berpesan bahwa orang yang tidak mendalami ilmu ini berisiko mati dalam keadaan masih membawa dosa-dosa besar di hatinya tanpa ia sadari. Contohnya, seseorang yang rajin ibadah tapi merasa lebih hebat dari orang lain. Rasa “lebih hebat” itulah penyakit yang bisa menghapus pahalanya sebagaimana dalam hadits di atas.

Mengapa Penyakit Hati Harus Diobati?

Kita mungkin sangat rajin mencuci pakaian yang kotor agar terlihat bersih di mata manusia. Namun, seringkali kita lupa mencuci hati yang penuh dengan rasa dendam, iri, dan haus pujian. Padahal, hati adalah tempat yang Allah pandang.

Rasulullah SAW bersabda:

(إن الله لا ينظر إلى أجسادكم ولا إلى صوركم، ولكن ينظر إلى قلوبكم)

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim)

Ulama mengibaratkan orang yang sibuk dengan ibadah lahiriah tapi batinnya kotor seperti orang yang memakai pakaian indah di atas tubuh yang penuh kotoran. Secara tampilan luar ia tampak bagus, namun di dalamnya tersimpan bau yang tidak sedap. Tasawuf hadir untuk membersihkan kotoran batin tersebut agar ibadah lahiriah kita menjadi wangi dan diterima oleh Allah.

Penutup: Tasawuf Adalah Ruh Islam

Bisa kita lihat bahwa tasawuf bukanlah sesuatu yang aneh. Ia adalah praktik ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya. Jika kita belum bisa melihat-Nya, kita harus yakin bahwa Allah selalu melihat kita.

Dengan mempelajari tasawuf, kita diajak untuk menjadi manusia yang utuh. Islam bukan hanya soal hukum (halal-haram), tapi juga soal rasa dan ketulusan. Ketika hati sudah bersih, maka setiap langkah kaki dan ucapan lidah kita akan membawa kebaikan bagi dunia di sekitar kita.

Apakah Anda tertarik untuk mengawali perjalanan membersihkan hati ini? Kita bisa memulainya dengan hal sederhana: memeriksa niat di setiap pekerjaan yang kita lakukan hari ini.

‘Abd al-Qādir bin ‘Abd Allāh bin Qāsim bin Muḥammad bin ‘Īsā ‘Azīzī al-Ḥalabī al-Syādhilī, Ḥaqā’iq ‘an al-Taṣawwuf (Aleppo, Suriah: Dār al-‘Irfān, cet. XVI, 1428 H/2007 M).