Panggilan adzan adalah suara yang sangat akrab di telinga kita, bergaung lima kali sehari dari masjid-masjid sekitar. Namun, seringkali kita hanya mendengarkannya sambil lalu tanpa benar-benar memperhatikan adabnya. Padahal, menjawab adzan yang dikumandangkan hukumnya dalam Islam sangat dianjurkan dan ada keberkahan besar yang tersimpan di baliknya.
Selain itu, banyak pertanyaan muncul: Apakah wanita haid boleh menjawabnya? Bagaimana cara menjawab adzan subuh asholatu khairum minan naum? Dan yang paling penting, bagaimana bacaan lengkap menjawab adzan dan doa setelah adzan agar kita mendapatkan syafaat Nabi?
Artikel ini akan mengupas tuntas pedoman menjawab adzan sesuai sunnah dengan merujuk langsung pada kitab fiqh klasik Syafi’iyah, Asna al-Matalib Syarh Raudh at-Thalib karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari.
Table of Contents
Hukum Menjawab Adzan dalam Pandangan Fiqih
Hal pertama yang perlu kita pahami adalah status hukumnya. Sebagian orang mungkin ragu, menjawab adzan hukumnya adalah wajib atau sunnah?
Pelajari juga: Hukum Adzan dan Iqomah.
Dalam kitab Asna al-Matalib, dijelaskan secara gamblang:
(ويستحب أن يجيب)
السامع (المؤذن) والمقيم (وإن كان جنبا) أو حائضا (بمثل قوله عقيبه)
Artinya: “Dan disunnahkan bagi pendengar (suara muadzin) dan orang yang iqamah untuk menjawabnya, meskipun ia sedang junub atau haid, dengan ucapan yang semisal dengan ucapannya segera setelahnya.
Jadi, menjawab adzan hukumnya apa? Jawabannya adalah Sunnah (dianjurkan). Menariknya, amalan ini tetap disunnahkan bagi mereka yang sedang dalam keadaan tidak suci (junub atau haid). Ini karena menjawab adzan termasuk kategori dzikir, bukan membaca Al-Quran.
Prinsip dasarnya sederhana: kita meniru apa yang diucapkan muadzin. Jika muadzin bertakbir, kita bertakbir. Namun, ada pengecualian pada kalimat tertentu.
Tata Cara Menjawab Adzan yang Benar
Untuk mempraktikkan menjawab adzan yang benar, perhatikan detail bacaan berikut. Secara umum, kita mengulang ucapan muadzin. Misalnya saat menjawab adzan asyhadu anna muhammadarrasulullah, kita juga mengucapkan kalimat syahadat yang sama.
Namun, perhatikan perbedaan pada bagian ini:
1. Mengganti dengan Hauqalah
Saat muadzin menyerukan ajakan shalat (Hayya ‘ala Sholah) dan kemenangan (Hayya ‘ala Falah), kita tidak menirunya, melainkan mengucapkan Hauqalah.
Referensi kitab menyebutkan:
(إلا في الحيعلتين فإنه يحولق)
بأن يقول عقبهما في الأذان لا حول ولا قوة إلا بالله أربعا
Artinya: “Kecuali pada dua hay’alah, maka ia mengucapkan hauqalah… yaitu: La haula wa la quwwata illa billah.”
Alasannya, ucapan muadzin adalah panggilan. Kita menjawab panggilan tersebut dengan memohon kekuatan kepada Allah (La haula wa la quwwata illa billah) agar mampu melangkahkan kaki menuju masjid.
2. Khusus Menjawab Adzan Sholat Subuh
Ini bagian yang sering ditanyakan: bagaimana menjawab adzan subuh pada kalimat Tatswib?
Ketika muadzin mengumandangkan “Ash-shalatu khairun minan naum” (Shalat itu lebih baik daripada tidur), kita tidak mengulangi kalimat tersebut.
Dalam Asna al-Matalib tertulis:
(وفي التثويب يقول صدقت وبررت)
مرتين بكسر الراء الأولى
Artinya: “Dan pada at-Tatswib ia menjawab: Shadaqta wa barirta (Engkau benar dan engkau telah berbuat kebajikan) dua kali.”
Jadi, bagi Anda yang mencari cara menjawab adzan subuh asholatu khairum minan naum atau penulisan lainnya seperti menjawab adzan assolatukhoirumminannaum, jawaban yang tepat adalah “Shadaqta wa barirta”. Maknanya, kita membenarkan bahwa shalat memang lebih baik dari tidur.
3. Menjawab Adzan Maghrib dan Isya
Tidak ada perbedaan khusus dalam menjawab adzan maghrib maupun menjawab adzan isya dibandingkan adzan siang hari. Prinsipnya sama: ikuti bacaan, ganti ajakan shalat dengan Hauqalah, dan tutup dengan doa.
Panduan Lengkap Doa Setelah Adzan (Doa Wasilah)
Rangkaian sunnah ini belum sempurna tanpa membaca doa. Paket amalan ini biasa disebut menjawab adzan dan doa setelah adzan.
Menurut Asna al-Matalib, urutannya adalah:
- Membaca Shalawat Nabi. Disunnahkan bershalawat kepada Nabi ﷺ segera setelah adzan selesai.
- Membaca Doa Wasilah. Setelah bershalawat, lanjutkan dengan doa memohon Wasilah (kedudukan tinggi di surga) untuk Nabi.
Berikut adalah teks doa lengkap (Doa Wasilah) yang masyhur, disertai Arab, Latin, dan terjemahannya:
Teks Arab:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
Tulisan Latin: Allahumma Rabba hadzihi ad-da’wati at-tammah, wash-shalatil qa’imah, ati Muhammadan al-wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqaman mahmudan alladzi wa’adtah.
Terjemahan: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan. Berilah Nabi Muhammad al-Wasilah (derajat di surga) dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau dalam kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan.”
Dalam kitab disebutkan hadits: “Barangsiapa memohonkan Wasilah untukku, maka halal (pasti) baginya syafaatku.”
Situasi Khusus Saat Mendengar Adzan
Seringkali kita mendengar adzan saat sedang sibuk. Bagaimana hukumnya?
1. Sedang Membaca Al-Quran
Jika Anda sedang tadarus atau berdzikir, sunnahnya adalah berhenti sejenak.
ويقطع القراءة والذكر ندبا (للجواب)
“Dan ia memutus bacaan Quran dan dzikir—secara sunnah—untuk menjawab azan.”
2. Jika Ketinggalan Menjawab
Jika adzan sudah selesai dan kita lupa menjawab, kita boleh menyusul (meng-qadha) jawaban tersebut asalkan jeda waktunya masih dekat (belum lama).
3. Menjawab Adzan Saat Sedang Shalat
Hati-hati dalam poin ini. Hukum asalnya adalah makruh menjawab adzan saat sedang shalat, namun shalat tetap sah jika jawabannya berupa dzikir murni (seperti “Allahu Akbar”).
Namun, shalat bisa BATAL jika:
- Anda menjawab adzan subuh dengan “Shadaqta wa barirta”. Kalimat ini dianggap percakapan manusia (kalam adami).
- Anda menjawab “Hayya ‘ala Sholah”. Mengulang kalimat ini membatalkan shalat karena bermakna perintah, bukan dzikir.
إلا إن أجاب (بصدقت وبررت) فتبطل لأنه كلام آدمي
“Kecuali jika ia menjawab dengan ‘Shadaqta wa bararta’ maka batal shalatnya, karena itu dianggap kalam adami.”
Kesimpulan
Menghidupkan sunnah dengan cara menjawab adzan sesuai sunnah adalah cara sederhana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dari penjelasan kitab Asna al-Matalib, kita belajar bahwa ibadah ini sangat fleksibel—bisa dilakukan wanita haid, bisa di-qadha jika tertinggal sebentar, namun perlu kehati-hatian jika dilakukan dalam shalat.
Mari kita rutinkan hal ini. Mulai dari menjawab adzan maghrib nanti, atau saat menjawab adzan sholat subuh esok hari, tutup dengan doa Wasilah yang telah kita pelajari di atas. Semoga dengan rutin mengamalkannya, kita termasuk golongan yang mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW.
Referensi
Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 130-131.

