Seorang pria Muslim mengenakan baju koko putih dan peci sedang berdiri bersedekap dalam shalat di masjid, posisi saat membaca doa iftitah. Di latar belakang terdapat spanduk bertuliskan 'PANDUAN LENGKAP DOA IFTITAH'.
Ilustrasi pria shalat dalam posisi berdiri bersedekap di masjid dengan latar belakang spanduk panduan doa iftitah. Gambar by Gemini

Panduan Lengkap Doa Iftitah: Pengertian, Hukum, dan Variasi Bacaannya

Bagi seorang Muslim, shalat adalah momen paling intim untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Salah satu sunnah yang sering kita lakukan di awal shalat adalah membaca iftitah. Namun, tahukah Anda bahwa ada banyak variasi bacaan iftitah yang diajarkan Nabi? Bahkan, dalam kondisi tertentu, kita diperbolehkan menggabungkan beberapa doa sekaligus.

Baca juga:  Memahami Pengertian Sholat: Makna Bahasa dan Istilah dalam Islam

Artikel ini akan mengulas tuntas tentang doa iftitah sholat, mulai dari pengertian, hukum fiqih, teks doa iftitah arab, hingga panduan bagi Anda yang ingin membaca versi panjang saat shalat sendirian.

Pengertian Doa Iftitah: Doa atau Ikrar Hamba?

Secara istilah, pengertian doa iftitah adalah bacaan sunnah yang dilafalkan sebagai pembuka shalat. Posisinya sangat khas, karena doa iftitah dibaca setelah Takbiratul Ihram dan sebelum melafalkan surat Al-Fatihah.

Ada pembahasan menarik dalam kitab I’anah ath-Thalibin mengenai istilah ini. Secara bahasa, “doa” berarti permintaan (thalab). Padahal, lafaz iftitah yang populer seperti Wajjahtu wajhiya isinya lebih banyak berupa ikrar dan pujian, bukan permintaan.

Imam Al-Ajhuri menjelaskan bahwa penyebutan “doa” di sini adalah kiasan (majaz). Meskipun isinya ikrar, Allah tetap memberikan pahala sebagaimana Allah memberi pahala pada orang yang berdoa. Sementara itu, Imam Al-Hafnawi berpendapat disebut “doa” karena melihat pada riwayat lain yang mengandung permohonan ampunan, seperti Allahumma ba’id baini….

Hukum Membaca Doa Iftitah

Merujuk pada kitab Asna al-Matalib karya Syekh Zakariyya al-Ansari1, hukum membaca doa iftitah adalah sunnah (dianjurkan). Baik dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah (nafilah), membacanya akan menyempurnakan pahala shalat kita.

Namun, hukum sunnah ini bisa gugur atau tidak dianjurkan dalam kondisi berikut:

  1. Waktu Sempit: Jika waktu shalat tersisa sedikit, wajib mendahulukan Al-Fatihah (rukun) daripada iftitah (sunnah).
  2. Masbuq (Terlambat): Jika Anda takut ketinggalan Al-Fatihah karena imam sudah mau rukuk, maka syarat doa iftitah tidak terpenuhi. Langsunglah membaca Al-Fatihah.
  3. Imam Duduk: Jika saat datang imam sedang duduk, langsung takbir dan ikut duduk.
  4. Shalat Jenazah: Tidak ada anjuran iftitah karena shalat ini menuntut ringkas (takhfif).

Ragam Variasi Bacaan Doa Iftitah

Infografis perbandingan tiga variasi bacaan doa iftitah: Versi NU (Wajjahtu wajhiya), Versi Muhammadiyah (Allahumma ba'id baini), dan Versi Kabiro (Allahu akbar kabira) dalam teks Arab.
Tiga variasi doa iftitah yang populer dan shahih: Versi NU yang diawali ‘Wajjahtu wajhiya’, versi Muhammadiyah dengan ‘Allahumma ba’id’, dan versi Kabiro yang lebih ringkas. Gambar by Gemini

Rasulullah ﷺ mengajarkan berbagai macam bacaan. Anda bebas memilih salah satu, namun mengetahui perbedaannya akan menambah wawasan kita. Berikut adalah opsi doa iftitah beserta artinya:

1. Doa Iftitah NU (Versi Wajjahtu)

Versi ini umum digunakan oleh warga Nahdlatul Ulama (NU) dan mayoritas pengikut mazhab Syafi’i. Doa iftitah NU ini berisi kepasrahan total seorang hamba.

Doa Iftitah Arab:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Doa Iftitah Latin dan Artinya:

Wajjahtu wajhiya lilladzī fatharas samāwāti wal ardha hanīfan musliman wa mā ana minal musyrikīn. Inna shalātī wa nusukī wa mahyāya wa mamātī lillāhi rabbil ‘ālamīn. Lā syarīka lahū wa bidzālika umirtu wa ana minal muslimīn.

“Aku hadapkan wajahku kepada (Dzat) yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri (Muslim), dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Tidak ada sekutu bagi-Nya, demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk golongan orang-orang Muslim.”

Catatan: Dalam Asna al-Matalib disarankan membaca Wa ana minal muslimin (bukan awwalul muslimin), karena lafaz “yang pertama pasrah/muslim” adalah khusus bagi Nabi Muhammad ﷺ.

2. Doa Iftitah Muhammadiyah (Versi Allahumma Ba’id)

Warga Muhammadiyah umumnya memakai doa iftitah sesuai sunnah riwayat Bukhari-Muslim yang berisi permohonan ampunan.

Doa Iftitah Arab:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Doa Iftitah Muhammadiyah Beserta Artinya:

Allāhumma bā‘id bainī wa baina khathāyāya kamā bā‘adta bainal masyriqi wal maghribi. Allāhumma naqqinī min khathāyāya kamā yunaqqats tsaubul abyadhu minad danasi. Allāhummaghsilnī min khathāyāya bil mā’i wats tsalji wal baradi.

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat.

Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran.

Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.

3. Doa Iftitah Kabiro (Singkat dan Padat)

Ini adalah pilihan tepat bagi anak-anak atau saat imam membaca surat dengan cepat. Doa iftitah kabiro memiliki lafaz yang agung namun ringkas.

Doa Iftitah Arab:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Doa Iftitah Latin dan Artinya:

Allāhu akbar kabīrā, wal hamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā.

“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang.”

Bolehkah Menggabungkan Beberapa Versi Doa Iftitah?

Mungkin Anda bertanya, bolehkah kita membaca Allahu Akbar Kabiro, lalu dilanjut Wajjahtu, dan ditutup dengan Allahumma Ba’id dalam satu kali shalat?

Jawabannya: Boleh dan Sangat Dianjurkan (dalam kondisi tertentu).

Berdasarkan penjelasan dalam kitab Asna al-Matalib, bagi seorang Munfarid (shalat sendirian) atau seorang Imam yang makmumnya ridha (ikhlas shalatnya agak lama), dianjurkan untuk memperpanjang doa iftitah.

Syekh Zakariyya al-Ansari menjelaskan:

“Dan bagi orang yang shalat sendirian, atau Imam yang mengetahui keridhaan makmumnya, boleh menambahkan (bacaan lain)…”

Cara Menggabungkannya:

Jika Anda shalat sendiri (misalnya shalat tahajud atau shalat sunnah lainnya), Anda bisa memulai dengan membaca:

  1. Doa Iftitah Kabiro (Allahu akbar kabira…).
  2. Dilanjutkan dengan Doa Iftitah Wajjahtu.
  3. Ditambah dengan doa iftitah riwayat lain atau doa tambahan seperti Allahumma Antal Malik la ilaha illa Anta…

Menggabungkan bacaan-bacaan ini adalah bentuk dzikir yang luar biasa dan kesempatan untuk berlama-lama bermunajat kepada Allah, selama tidak melanggar hak orang lain (seperti membuat makmum bosan saat berjamaah).

Referensi Kitab Kuning

Sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah, berikut kutipan asli dari kitab rujukan:

Teks dari Kitab Asna al-Matalib (Tentang Menambah Bacaan bagi Munfarid):

ويزيد المنفرد ومن أي وإمام (علم رضا مقتديه به اللهم أنت الملك إلى آخره كما في الأصل)2

Teks dari Kitab I’anah ath-Thalibin (Tentang Penamaan Doa):

قوله: أي دعاؤهأفاد به أن في الكلام حذف مضاف تقديره ما ذكر… وقال الأجهوري في تسميته: دعاء تجوز، لأن الدعاء طلب وهذا لا طلب فيه، وإنما هو إخبار3.

Penutup

Memahami ragam doa iftitah arab dan artinya memberikan kita kekayaan pilihan dalam beribadah. Anda bisa menggunakan doa iftitah nu, Muhammadiyah, atau doa iftitah kabiro sesuai kondisi. Bahkan jika shalat sendirian, jangan ragu untuk menggabungkan semuanya demi meraih kekhusyukan dan pahala yang lebih besar.

Semoga artikel ini membantu kita semua untuk mendirikan shalat dengan lebih sempurna. Selamat mengamalkan!

  1. Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 148. ↩︎
  2. Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 149. ↩︎
  3. ʿUthmān bin Muḥammad Shattā ad-Dimyāṭī (al-Bakrī), Iʿānat aṭ-Ṭālibīn ʿalā Ḥall Alfāẓ Fatḥ al-Muʿīn (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), juz 1, hlm. 170 ↩︎