Bagi umat Islam, shalat adalah tiang agama. Agar ibadah ini sah dan diterima, kita harus memahami aturan mainnya, terutama yang berkaitan dengan rukun. Seringkali muncul pertanyaan di kalangan masyarakat awam maupun santri pemula: rukun sholat ada berapa sebenarnya?
Apakah rukun sholat ada 13, atau justru rukun sholat ada 17? Kebingungan ini wajar karena memang ada perbedaan cara menghitung di antara para ulama Mazhab Syafi’i.
Baca juga: Memahami Pengertian Sholat: Makna Bahasa dan Istilah dalam Islam
Pada dasarnya, rukun shalat adalah bagian inti dari shalat itu sendiri. Jika salah satu ditinggalkan, baik sengaja maupun lupa, maka shalatnya tidak sah. Berbeda dengan sunnah yang jika tertinggal shalat tetap sah. Nah, agar ibadah kita makin mantap, mari kita bedah tuntas rukun sholat apa saja yang wajib kita lakukan, mulai dari rukun sholat subuh hingga Isya.
Table of Contents
Mengapa Ada Perbedaan Jumlah Rukun Shalat?
Sebelum masuk ke urutan, kita perlu luruskan dulu soal jumlah. Dalam kitab-kitab Fiqih Syafi’iyah, Anda mungkin menemukan angka yang berbeda-beda. Ada yang bilang 13, 17, bahkan 18.
1. Pendapat Rukun Sholat Ada 13
Ini adalah pendapat yang mu’tamad (kuat) dan dipakai dalam kitab Al-Minhaj karya Imam Nawawi. Ulama yang memegang pendapat ini menjadikan tuma’ninah (tenang sejenak) sebagai satu paket dengan gerakan shalat. Jadi, rukuk dan tuma’ninah dihitung satu poin. Sujud dan tuma’ninah dihitung satu poin. Karena penggabungan ini, jumlah totalnya jadi lebih sedikit.
2. Pendapat Rukun Sholat Ada 17
Pendapat ini cukup populer di Indonesia karena diajarkan dalam kitab Safinatun Naja. Di sini, rukun sholat 17 semuanya dirinci dengan memisahkan tuma’ninah dari gerakan. Jadi, rukuk itu rukun sendiri, dan tuma’ninah dalam rukuk itu rukun sendiri1.
3. Rukun Sholat Menurut Kitab Fathul Qorib
Nah, ada juga pendapat yang menyebutkan jumlahnya 18. Ini adalah rukun sholat menurut kitab Fathul Qorib (karya Syeikh Ibnu Qasim Al-Ghazi). Beliau menambahkan “Niat Keluar dari Shalat” sebagai rukun tersendiri, meskipun pendapat ini dianggap lemah oleh sebagian ulama lain.
Meski angkanya beda, praktiknya sama saja. Semua sepakat bahwa tuma’ninah itu wajib. Perbedaan ini hanya soal cara menghitung (khilaf lafzhi).
Penjelasan Lengkap dan Urutan Rukun Shalat

Berikut adalah penjelasan rinci mengacu pada teks Fathul Qarib2, dengan urutan yang umumnya diajarkan (versi 17/18 rukun agar lebih detail).
1. Niat (An-Niyyah)
Rukun sholat yang pertama adalah niat. Tempat niat ada di dalam hati. Melafalkan dengan lisan hukumnya sunnah untuk membantu hati. Untuk rukun sholat fardhu, niat harus mencakup tiga hal:
- Qashdul fi’li: Menyengaja shalat (Ushalli).
- Ta’yin: Menentukan jenis shalatnya (misal: Subuh, Zhuhur).
- Fardhiyah: Menyatakan kefardhuannya.
2. Berdiri Bagi yang Mampu
Rukun shalat yang kedua adalah berdiri bagi yang mampu (untuk shalat fardhu). Jika sakit atau tidak kuat berdiri, Islam memberi kemudahan boleh shalat sambil duduk. Posisi duduk iftirasy (seperti tasyahud awal) dianggap lebih utama dibanding cara duduk lain.
3. Takbiratul Ihram
Selanjutnya, rukun sholat yang kedua adalah (dalam urutan gerakan fisik setelah berdiri) Takbiratul Ihram. Wajib mengucapkan “Allahu Akbar”. Tidak sah jika diganti “Ar-Rahmanu Akbar”. Saat lisan mengucap takbir, hati harus bareng menghadirkan niat shalat tadi.
4. Membaca Al-Fatihah
Ini rukun bacaan yang sangat vital. “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Fatihah”. Perlu diingat:
- Bismillahirrahmanirrahim adalah ayat pertama Al-Fatihah.
- Harus tertib urutannya.
- Harus muwalat (nyambung), tidak boleh terputus lama kecuali sekadar ambil napas.
- Tasydid dan hurufnya harus benar. Bagi yang tidak hafal Fatihah sama sekali, wajib membaca 7 ayat Al-Quran lain atau dzikir yang hurufnya sebanding.
5. Rukuk
Gerakan membungkuk dengan batasan minimal telapak tangan bisa menyentuh lutut. Posisi sempurnanya adalah punggung dan leher lurus rata seperti papan.
6. Tuma’ninah dalam Rukuk
Diam sejenak setelah bergerak. Tenang sekira durasi membaca “Subhanallah”.
7. I’tidal (Bangun dari Rukuk)
Kembali ke posisi berdiri tegak seperti sebelum rukuk.
8. Tuma’ninah dalam I’tidal
Diam sejenak dalam posisi berdiri tersebut.
9. Sujud
Sujud dilakukan dua kali. Dahi wajib menempel ke tempat sujud dengan sedikit penekanan. Anggota sujud meliputi: dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung jari dua kaki.
10. Tuma’ninah dalam Sujud
Tenang sejenak dalam posisi sujud sampai anggota tubuh mapan di tempatnya.
11. Duduk di Antara Dua Sujud
Bangun dari sujud pertama untuk duduk. Tidak boleh duduk terlalu lama di sini karena ini adalah rukun pemisah yang pendek.
12. Tuma’ninah dalam Duduk
Diam sejenak dalam posisi duduk.
13. Duduk Terakhir (Tasyahud Akhir)
Duduk untuk membaca tasyahud akhir dan shalawat serta salam.
14. Tasyahud Akhir
Membaca bacaan tahiyat. Minimalnya: “At-Tahiyyatu lillah, Salamun ‘alaika ayyuhan-nabiyyu… dst”.
15. Shalawat kepada Nabi
Membaca shalawat setelah tasyahud akhir. Minimalnya: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”.
16. Salam yang Pertama
Mengucapkan salam pertama “Assalamu’alaikum” sambil menoleh ke kanan. Salam kedua hukumnya sunnah. Salam harus dilakukan dalam posisi duduk.
17. Tertib
Melakukan semua urutan di atas secara berurutan, tidak boleh lompat-lompat. Misalnya, tidak boleh sujud sebelum rukuk.
Tambahan: Niat Keluar Shalat (Versi Fathul Qarib)
Jika kita mengikuti hitungan rukun sholat ada 18, maka tambahannya adalah Niat Keluar dari Shalat (Niyatul Khuruj). Namun, seperti dijelaskan dalam kitab syarahnya, pendapat yang lebih kuat mengatakan ini tidak wajib.
Penutup
Memahami rukun sholat ada berapa memang bisa membingungkan jika kita hanya melihat angkanya saja. Namun, intinya tetap sama: Shalat harus dilakukan dengan tertib, tenang (tuma’ninah), dan memenuhi syarat bacaan serta gerakannya.
Baik Anda ikut pendapat yang 13, 17, ataupun 18, pastikan shalat Anda tidak terburu-buru seperti ayam mematuk makanan. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan membuat shalat kita semakin berkualitas.
Catatan Kaki & Referensi
- فَصْلٌ : أَرْكَانُ الصَّلَاةِ سَبْعَةَ عَشَرَ : المعنى : أَنَّ الأجزاء التي تتركب منها ما هيَّةُ الصَّلاةِ سبعةَ عَشَرَ بعد الطَّمَأْنِينات الأربع أركاناً… والمعتمد ما في « المنهاج » و « المحرر » وأكثر الكتب : مِنْ أَنَّهَا ثلاثةَ عَشَرَ بجعل الطمأنينات هيئة تابعة للركن ، وعلى كل : فلا بد منها ؛ فالخلاف لفظي.
Aḥmad bin ‘Umar al-Syāṭirī, Nayl al-Rajā fī Syarḥ Safīnat al-Najā, (Jeddah: Dār al-Minhāj, t.t.), hlm. 153.
↩︎ - فصل في أركان الصلاة… (وأركان الصلاة ثمانية عشر ركنا): أحدها (النية)… (و) الثاني (القيام مع القدرة)… (و) الثالث (تكبيرة الإحرام)… (و) الرابع (قراءة الفاتحة)… (و) الخامس (الركوع)… (و) السادس (الطمأنينة)… (و) السابع (الرفع)… (و) الثامن (الطمأنينة فيه)… (و) التاسع (السجود)… (و) العاشر (الطمأنينة فيه)… (و) الحادي عشر (الجلوس بين السجدتين)… (و) الثاني عشر (الطمأنينة فيه)… (و) الثالث عشر (الجلوس الأخير)… (و) الرابع عشر (التشهد فيه)… (و) الخامس عشر (الصلاة على النبي – صلى الله عليه وسلم – فيه)… (و) السادس عشر (التسليمة الأولى)… (و) السابع عشر (نية الخروج من الصلاة)… (و) الثامن عشر (ترتيب الأركان).
Muḥammad ibn Qāsim al-Ghazzī, Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb fī Sharḥ Alfāẓ al-Taqrīb = al-Qawl al-Mukhtār fī Sharḥ Ghāyat al-Ikhtiṣār, ed. Bassām ʿAbd al-Wahhāb al-Jābī, 1st ed., vol. 1 (Beirut: al-Jafān wa-al-Jābī, Dār Ibn Ḥazm, 2005), 75-79. ↩︎

