Setiap manusia pasti punya keinginan. Kadang, usaha fisik saja rasanya belum cukup jika tidak dibarengi dengan ketukan pintu langit. Di sinilah letak pentingnya sholat hajat. Bagi Anda yang sedang mencari jalan keluar dari masalah atau menginginkan sesuatu, ibadah ini menjadi sarana “curhat” paling intim antara hamba dengan Tuhannya.
Lantas, sebenarnya sholat hajat adalah sholat sunnah yang dikerjakan khusus untuk memohon agar Allah SWT mengabulkan hajat atau kebutuhan kita, baik kebutuhan duniawi maupun ukhrawi. Lalu, sholat hajat untuk apa saja? Jawabannya sangat luas, mulai dari masalah rezeki, jodoh, perlindungan dari musibah, hingga keinginan agar ibadah kita diterima.
Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas tata caranya berdasarkan referensi kitab fiqih Syafi’iyah dan tasawuf.
Table of Contents
Waktu Pelaksanaan Sholat Hajat
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah sholat hajat dilakukan kapan? Berbeda dengan sholat lima waktu yang jadwalnya ketat, waktu sholat hajat sangat fleksibel. Anda boleh mengerjakannya siang atau malam, selama bukan di waktu yang dilarang (seperti pasca Subuh hingga terbit matahari, atau pasca Ashar hingga terbenam).
1. Bolehkah Dilakukan Pagi atau Siang?
Tentu boleh. Misalnya, Anda bisa mengerjakan sholat hajat jam 9 pagi. Waktu ini bertepatan dengan waktu Dhuha. Bahkan, dalam kitab Nihayat al-Zain, dijelaskan bahwa niat sholat hajat bisa digabung dengan sholat fardhu atau sunnah lain sebagaimana sholat Tahiyatul Masjid1. Jadi, saat Anda sholat Dhuha atau Isya’, Anda bisa sekaligus berniat sholat hajat jika setelah salam, Anda menerapkan tata cara shalat hajat sebagaimana yang akan dijelaskan.
2. Sholat Hajat Sebaiknya Dilakukan Jam Berapa?
Meskipun boleh siang hari, banyak ulama menyarankan sholat hajat sebaiknya dilakukan kapan suasana sedang hening. Waktu yang paling utama adalah di sepertiga malam terakhir. Suasana tenang akan membuat sholat hajat dan doanya terasa lebih khusyuk dan ‘nyambung’ ke hati.
3. Apakah Harus Tidur Dulu?
Banyak orang bingung, sholat hajat apakah harus tidur dulu? Jawabannya: Tidak harus. Berbeda dengan Tahajud yang syarat sahnya harus didahului tidur, sholat hajat bisa Anda lakukan kapan saja tanpa syarat tidur. Jadi, sholat hajat waktu pelaksanaannya lebih longgar.
4. Urutan dengan Sholat Malam Lainnya
Jika Anda bangun malam, mana yang didahulukan: sholat hajat dulu atau tahajud dulu? Sebenarnya urutannya bebas. Bahkan dari penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani di atas keduanya bisa digabungkan dalam satu sholat.
Rangkaian ibadah malam, yakni sholat hajat dan tahajud, biasanya ditutup dengan Witir. Ingat, Witir adalah penutup salat malam. Jadi, urutan idealnya bisa: Tahajud & Hajat -> Witir. Kombinasi sholat hajat dan witir ini menjadi penutup rangkaian ibadah yang indah sebelum Subuh.
Dalil Sholat Hajat (Arab dan Terjemahan)
Secara akademis, kita perlu tahu landasan hukumnya. Dalil sholat hajat yang paling masyhur bersumber dari hadis riwayat Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah. Berikut adalah bunyi haditsnya:
مَنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلْيَتَوَضَّأْ، وَلْيُحْسِنِ الوُضُوءَ، ثُمَّ لِيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ لِيُثْنِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لِيَقُلْ…
Artinya: “Barangsiapa memiliki hajat (kebutuhan) kepada Allah Ta’ala atau kepada salah seorang dari anak Adam (manusia), maka hendaklah ia berwudhu dan membaguskan wudhunya, kemudian sholat dua rakaat, lalu memuji Allah ‘Azza wa Jalla, dan bershalawat kepada Nabi SAW, kemudian mengucapkan (doa)…
Meskipun hadis ini dinilai dhaif (lemah) oleh para ahli hadis, para ulama fiqih seperti Syaikhul Islam Zakaria al-Ansari dalam Asna al-Matalib menegaskan bahwa sholat ini tidak makruh dan boleh diamalkan sebagai Fada’il al-A’mal (keutamaan amal). Jadi, Anda tidak perlu ragu menjalankannya karena para ulama sudah memberikan lampu hijau.
Tata Cara dan Jumlah Rakaat
Mengenai sholat hajat berapa rakaat, terdapat dua pendapat utama dari referensi kitab kuning yang kita rujuk:
- Pendapat Populer (Fiqih): Mayoritas ulama fiqih berpegang pada sholat hajat 2 rakaat. Ini yang paling mudah dan sering diamalkan.
- Pendapat Imam Al-Ghazali (Tasawuf): Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, disebutkan sholat hajat bisa sampai 12 rakaat dengan bacaan surat tertentu.
Untuk memudahkan, kita akan fokus pada panduan sholat hajat 2 rakaat karena ini yang paling umum dan ringan dikerjakan.
Langkah-langkah Sholat Hajat 2 Rakaat:
- Berwudhu dengan sempurna.
- Berdiri menghadap kiblat.
- Membaca Niat.
Berikut lafal sholat hajat niat yang bisa Anda ucapkan dalam hati:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatal haajati rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku niat sholat sunnah hajat dua rakaat karena Allah Ta’ala.
- Takbiratul Ihram dan membaca Al-Fatihah.
- Membaca Surat Pendek. Tidak ada ketentuan surat khusus, tapi Anda bisa membaca Ayat Kursi atau Al-Kafirun di rakaat pertama, dan Al-Ikhlas di rakaat kedua.
- Rukuk, Iktidal, Sujud, dan seterusnya hingga salam.
Doa dan Dzikir Sholat Hajat Lengkap
Setelah salam, jangan buru-buru beranjak. Inti dari ibadah ini ada pada sholat hajat doa dan dzikir setelahnya. Berdasarkan kitab Asna al-Matalib2 dan Nihayat al-Zain, berikut urutan wiridnya:
- Memuji Allah dan Bershalawat. Mulailah dengan memuji kebesaran Allah (Tahmid/Tasbih) ِAnda juga bisa membuka doa hajat dengan membaca doa Nabi Yunus yang terbukti mujarab dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
- Membaca Doa Ma’tsur. Ini adalah doa khusus yang diajarkan dalam hadis riwayat Tirmidzi. Berikut teks Arab, Latin, dan terjemahannya:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الحَلِيمُ الكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيمِ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لاَ تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Latin: Laa ilaaha illallaahul Haliimul Kariim. Subhaanallaahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhiim. Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin. As’aluka muujibaati rahmatik, wa ‘azaaima maghfiratik, wal ghaniimata min kulli birr, was salaamata min kulli itsm. Laa tada’ lii dzanban illaa ghafartah, wa laa hamman illaa farrajtah, wa laa haajatan hiya laka ridhan illaa qadhaitahaa yaa Arhamar Raahimiin.
Terjemahan: “Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah Tuhan Arsy yang Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku memohon kepada-Mu hal-hal yang mendatangkan rahmat-Mu, dan ketetapan ampunan-Mu, dan keuntungan dari setiap kebaikan, serta keselamatan dari setiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa padaku kecuali Engkau mengampuninya, tidak pula kesusahan kecuali Engkau berikan jalan keluarnya, dan tidak pula suatu hajat yang Engkau ridhai kecuali Engkau tunaikan, Wahai Dzat Yang Paling Penyayang di antara para penyayang.”
- Sampaikan Hajat Pribadi. Setelah membaca doa bahasa Arab di atas, sampaikan keinginan spesifik Anda dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang Anda pahami.
Catatan Penting dari Imam Al-Ghazali
Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, terdapat versi sholat hajat 12 rakaat dengan doa yang sangat mustajab. Saking mustajabnya, ada peringatan keras: “Jangan ajarkan doa ini kepada orang-orang bodoh (sufaha’), nanti mereka menggunakannya untuk tolong-menolong dalam maksiat.”
Ini mengingatkan kita bahwa sholat hajat dan doanya hanya boleh digunakan untuk tujuan yang baik dan diridhai Allah. Jangan pernah berniat sholat hajat untuk hal buruk atau mencelakai orang lain.
Semoga panduan ini bermanfaat bagi Anda yang sedang memiliki hajat. Ingatlah, sholat hajat sebaiknya dilakukan kapan saja hati Anda merasa butuh pertolongan. Karena doa adalah senjata orang mukmin. Lakukan dengan ikhlas, pasrah, penuh harap dan menjalankan adab-adab dalam berdoa.
Referensi & Catatan Kaki
- وتحصل بركعتين ينوي بهما قضاء حاجته وتندرجان في الفرض والنفل كتحية المسجد ويصلي بعدهما على النبي صلى الله عليه وسلم ويقول لا إله إلا الله الحليم الكريم لا إله إلا الله العلي العظيم سبحان الله رب العرش العظيم والحمد لله رب العالمين
اللهم إني أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك والغنيمة من كل بر والسلامة من كل إثم لا تدع لي ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا حاجة هي لك رضاء إلا قضيتها
Muḥammad bin ‘Umar Nawawī al-Jāwī al-Bantanī, Nihāyat az-Zain fī Irsyād al-Mubtadi’īn (Beirut: Dār al-Fikr, cet. I, t.t.), hlm. 105. ↩︎ - “و” ركعتا “الحاجة” لخبر “من كانت له حاجة إلى الله، أو أحد من بني آدم فليتوضأ وليحسن الوضوء، ثم ليصل ركعتين، ثم ليثن على الله تعالى وليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم ليقل لا إله إلا الله الحليم الكريم سبحان الله رب العرش العظيم الحمد لله رب العالمين أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك، والغنيمة من كل بر، والسلامة من كل إثم لا تدع لي ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا حاجة هي لك رضا إلا قضيتها يا أرحم الراحمين (١) رواه الترمذي وضعفه واقتصر في المجموع على حديثها وتضعيفه ولم يصرح بحكمها وفي التحقيق لا تكره، وإن كان حديثها ضعيفا إذ لا تغيير فيها وما ذكر من أنها ركعتان هو المشهور ونقل في الإحياء أنها اثنتا عشرة وسكت عليه.
Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib: Syarḥ Rauḍ aṭ-Ṭālib, disertai Ḥāsyiyah Abū al-‘Abbās Aḥmad al-Ramlī, tahkik dan takhrīj Muḥammad Muḥammad Tāmīr (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1422 H/2001 M), jil. 1, hlm. 582–583. ↩︎

