Ragam ibadah nafilah dalam syariat Islam merupakan gerbang utama bagi seorang salik untuk menapaki Maqām kedekatan dengan Allah Ta’ala. Ibadah-ibadah ini berfungsi ganda: sebagai penambal kekurangan ibadah fardhu sekaligus sebagai perisai batin dari penyakit Riyā’ serta keengganan beribadah (Futur). Di antara sekian banyak shalat sunnah, Shalat Tasbih dan Shalat Awwabin menduduki tempat khusus karena tata caranya yang unik dan fadhilahnya yang sangat besar.
Artikel akademik ini membedah tata cara, dalil, serta perdebatan ulama madzhab Syafi’i mengenai Shalat Tasbih dan Shalat Awwabin, dengan merujuk langsung pada naskah otentik kitab Asna al-Matalib Juz 1 karya Syaikhul Islam Zakariyya al-Ansari. Sebagai fondasi literasi, Anda sangat dianjurkan untuk membaca panduan lengkap fikih shalat sunnah tathawwu’ guna memetakan posisi kedua shalat ini di antara ibadah-ibadah lainnya.
Shalat Tasbih: Tata Cara dan Dalil Utama

Shalat Tasbih adalah shalat sunnah empat rakaat yang didalamnya sarat dengan bacaan tasbih sebanyak 300 kali. Syaikhul Islam Zakariyya al-Ansari merincikan teknis pelaksanaannya sebagai berikut:
قوله: (وصلاة التسبيح، وهي أربع ركعات) يقول في كل ركعة بعد قراءة الفاتحة وسورة سبحان الله، والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر خمس عشرة مرة وفي كل من الركوع، والرفع منه وكل من السجدتين، والجلوس بينهما، والجلوس بعد رفعه من السجدة الثانية عشر مرات فذلك خمس وسبعون مرة في كل ركعة
Artinya: (Dan shalat Tasbih, yaitu empat rakaat). Seseorang membaca pada setiap rakaat setelah bacaan Al-Fatihah dan surat: “Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar” sebanyak lima belas kali. Kemudian pada setiap ruku’, saat bangkit dari ruku’ (i’tidal), pada kedua sujud, saat duduk di antara dua sujud, dan saat duduk istirahat setelah bangkit dari sujud kedua, masing-masing dibaca sepuluh kali. Maka totalnya adalah tujuh puluh lima kali dalam setiap rakaat.
Secara akumulatif, empat rakaat akan menghasilkan 300 bacaan tasbih. Dalil amaliah ini bersandar pada pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada paman beliau, Sayyidina Al-Abbas radhiyallahu ‘anhu, melalui jalur riwayat Ibnu Abbas.
علمها النبي – صلى الله عليه وسلم – للعباس كما رواه ابنه عبد الله – رضي الله عنهما -، وهو في سنن أبي داود وصحيح ابن خزيمة
Artinya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya kepada Al-Abbas sebagaimana yang diriwayatkan oleh putranya, Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dan hadits ini terdapat dalam Sunan Abi Dawud dan Shahih Ibnu Khuzaimah.
Keutamaan shalat ini sangat agung, yakni sebagai sarana penggugur dosa. Disebutkan dalam riwayat At-Thabrani, “Seandainya dosa-dosamu sebanyak buih di lautan atau sebanyak tumpukan pasir, niscaya Allah akan mengampunimu.” Nuansa pertaubatan dalam shalat Tasbih ini sangat selaras jika disempurnakan dengan laku sholat taubat nasuha dalil tata cara dan doa agar hamba benar-benar mencapai kondisi Tawbah Naṣūḥā.
Dinamika Pendapat Ulama: Al-Majmu’ vs At-Tahdzib
Meskipun tata caranya jelas, para ulama Syafi’iyyah memiliki pandangan yang dinamis mengenai status kesunnahannya. Ibnu Ash-Salah dan Imam An-Nawawi (dalam kitab Tahdzib al-Lughat) menetapkan bahwa shalat Tasbih adalah sunnah karena haditsnya bernilai hasan dan jalur-jalurnya saling menguatkan.
Namun, Imam An-Nawawi merevisi pandangannya ketika menulis mahakarya fikihnya, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Asna al-Matalib merekam perubahan ijtihad ini:
لكنه قال في المجموع بعد نقل استحبابها عن جمع وفي هذا الاستحباب نظر؛ لأن حديثها ضعيف وفيها تغيير لنظم الصلاة المعروف فينبغي أن لا تفعل، وكذا قال في التحقيق حديثها ضعيف
Artinya: Akan tetapi beliau (An-Nawawi) berkata dalam Al-Majmu’ setelah menukil anjuran sunnahnya dari segolongan ulama: “Terdapat tinjauan kritis (keberatan) mengenai anjuran sunnah ini; karena haditsnya dha’if (lemah), dan di dalam tata caranya terdapat perubahan terhadap susunan shalat yang telah dikenal (ada tambahan duduk istirahat murni untuk tasbih), maka seyogyanya shalat ini tidak dikerjakan.” Beliau juga menyatakan dalam At-Tahqiq bahwa haditsnya dha’if.
Perbedaan penilaian ini menunjukkan luasnya samudra ilmu fikih. Sebagian ulama mengamalkannya demi mengejar fadhilah amal, sementara yang lain berhati-hati (ihtiyath) mempertahankan bentuk baku shalat. Untuk mendalami di mana posisi shalat Tasbih jika dikomparasikan dengan ibadah lainnya, Anda dapat menelaah kajian pada urutan keutamaan shalat sunnah.
Shalat Awwabin: Ibadah Menjaga Ḥāl di Waktu Lalai

Beranjak dari shalat Tasbih, literatur fikih Syafi’i juga menaruh perhatian besar pada waktu antara Maghrib dan Isya. Waktu transisi ini sering kali melenakan manusia dari mengingat Allah. Oleh sebab itu, disyariatkanlah Shalat Awwabin.
قوله: (وصلاة الأوابين) وتسمى صلاة الغفلة لغفلة الناس عنها واشتغالهم بغيرها من عشاء ونوم وغيرهما (وهي عشرون ركعة بين المغرب، والعشاء) قاله الماوردي والروياني
Artinya: (Dan shalat Awwabin). Dinamakan juga shalat Al-Ghaflah (shalat di waktu lalai) karena kelalaian manusia terhadapnya dan kesibukan mereka dengan hal lain seperti makan malam, tidur, dan sebagainya. (Dan shalat ini berjumlah dua puluh rakaat antara Maghrib dan Isya) sebagaimana diutarakan oleh Al-Mawardi dan Ar-Ruyani.
Ibadah di waktu ghaflah menuntut Ikhlāṣ tingkat tinggi. Seorang hamba berjuang menjaga Ḥāl spiritualnya ketika mayoritas manusia bersantai ria. Terdapat hadits riwayat At-Tirmidzi yang menyebutkan bahwa barangsiapa melaksanakan shalat enam rakaat di antara Maghrib dan Isya, niscaya dicatatkan baginya pahala ibadah selama dua belas tahun.
Sebagai catatan akademis, istilah “Awwabin” dalam terminologi syar’i bermakna ganda. Selain merujuk pada ibadah antara Maghrib dan Isya ini, istilah Awwabin juga digunakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menamai ibadah di pagi hari saat matahari mulai memanas, yang rinciannya telah kami bahas dalam panduan sholat dhuha.
Tabel Komparasi Shalat Tasbih dan Awwabin
| Parameter | Shalat Tasbih | Shalat Awwabin (Ghaflah) |
| Waktu Pelaksanaan | Bebas (siang atau malam) | Spesifik antara Maghrib dan Isya |
| Jumlah Rakaat | 4 Rakaat | 6 hingga 20 Rakaat |
| Karakteristik Utama | Membaca 300 tasbih secara terstruktur | Menghidupkan waktu lalai manusia |
| Status Hukum (Nawawi) | Ikhtilaf (Tahdzib: Sunnah, Majmu’: Dha’if/Sebaiknya dihindari) | Sunnah (Sangat dianjurkan) |
Sebagai pelengkap, jika waktu luang Anda antara Maghrib dan Isya bertepatan dengan momen kebingungan memilih jalan hidup, Anda bisa mengisi rakaat-rakaat tersebut dengan melangitkan doa sholat istikharah. Atau jika hati diliputi harapan atas suatu pencapaian hajat dunia maupun akhirat, melaksanakan aturan-aturan pada panduan lengkap sholat hajat pada waktu mustajab ini merupakan keputusan yang amat bijak.
FAQ (Tanya Jawab Seputar Shalat Tasbih dan Awwabin)
Jika mengerjakan Shalat Tasbih di malam hari, apakah 4 rakaat itu disatukan atau dipisah?
Menurut pandangan Abdullah bin Al-Mubarak yang dikutip dalam kitab Al-Adzkar, apabila shalat Tasbih dikerjakan pada malam hari, lebih utama dipisah (salam setiap dua rakaat). Jika siang hari, diperbolehkan langsung empat rakaat satu salam, maupun dua rakaat dua rakaat.
Apakah bacaan tasbih menempati posisi bacaan ruku’ dan sujud yang biasa?
Tidak. Bacaan tasbih (Subhanallah, walhamdulillah…) dibaca setelah Anda merampungkan bacaan standar ruku’ (Subhana rabbiyal adzim) atau sujud (Subhana rabbiyal a’la).
Berapa rakaat batas maksimal Shalat Awwabin?
Meskipun Al-Mawardi menyebutkan maksimal 20 rakaat, hadits riwayat At-Tirmidzi memberikan landasan untuk melaksanakannya maksimal 6 rakaat agar mendapatkan fadhilah ibadah dua belas tahun.
Khatimah
Khazanah fikih madzhab Syafi’i, khususnya karya Syaikhul Islam Zakariyya al-Ansari, membentangkan jalan yang luas bagi umat Islam untuk mereguk rahmat Allah. Menghidupkan Shalat Tasbih dan Shalat Awwabin tidak sekadar mengumpulkan pundi pahala, melainkan sebuah metode sistematis untuk menundukkan hawa nafsu dan memperkokoh fondasi keimanan. Tetaplah istiqamah dalam naungan sunnah, patuhi rambu-rambu fikih yang telah dirumuskan oleh para ulama otoritatif, dan jadikan setiap ruku’ serta sujud sebagai wasilah memandang keridhaan Sang Pencipta. Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi
Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 205-206.
