Syarat Sah dan Rukun I’tikaf Secara Rinci Menurut Fiqih Syafi’i

Ibadah i’tikaf adalah amaliah mulia yang mendekatkan seorang hamba kepada penciptanya. Bagi seorang Muslim yang ingin meraih keutamaan beri’tikaf, mengetahui tata aturannya adalah sebuah keharusan. Keabsahan ibadah ini sangat bergantung pada pemenuhan syarat sah i’tikaf dan rukun-rukunnya yang telah digariskan oleh para ulama.

Dalam pandangan fiqih madzhab Syafi’i, kerangka ibadah i’tikaf berdiri di atas empat pilar utama. Tulisan ini menguraikan rukun i’tikaf secara mendalam merujuk pada teks otentik dari kitab Asna al-Matalib Syarh Rawdh ath-Thalib karya Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari. Anda juga dapat membaca gambaran umumnya pada Panduan Lengkap Fiqih I’tikaf Menurut Madzhab Syafi’i.

Penjelasan 4 Rukun I’tikaf dalam Madzhab Syafi’i

Infografis yang menjelaskan empat rukun utama i'tikaf menurut fiqih madzhab Syafi'i: 1. Al-Mukts (berdiam diri dengan batas minimal), 2. Niyat (aturan niat di awal), 3. Al-Mu'takif (syarat pelaku), dan 4. Al-Masjid (syarat tempat pelaksanaan).
Ringkasan visual empat rukun i’tikaf menurut madzhab Syafi’i yang wajib dipenuhi agar ibadah menjadi sah secara syariat. Perhatikan batas minimal waktu dan syarat tempatnya.

Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari merumuskan rukun i’tikaf menjadi empat bagian. Apabila salah satu dari keempat hal ini terabaikan, maka praktik i’tikaf seseorang bernilai tidak sah di hadapan syariat.

1. Berdiam Diri (Al-Mukts) dan Batas Minimal I’tikaf

Rukun yang pertama adalah al-mukts, yakni berdiam diri di dalam area masjid. Persoalan yang sering muncul di tengah umat adalah mengenai ukuran waktu atau batas minimal i’tikaf agar ibadah tersebut dianggap sah. Syaikhul Islam menegaskan:

ู‚ูˆู„ู‡: (ูˆุฃุฑูƒุงู†ู‡ ุฃุฑุจุนุฉ ุงู„ุฃูˆู„ ุงู„ู…ูƒุซ ูˆุฃู‚ู„ู‡ ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ุทู…ุฃู†ูŠู†ุฉ) ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ (ุจุณูƒูˆู† ุฃูˆ ุชุฑุฏุฏ) ู„ุฅุดุนุงุฑ ู„ูุธู‡ ุจู‡ ูู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุฃู‚ู„ ู…ุง ูŠุฌุฒุฆ ููŠ ุทู…ุฃู†ูŠู†ุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ (ูˆู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุงู„ุนุจูˆุฑ) ู„ุฃู† ูƒู„ุง ู…ู†ู‡ู…ุง ู„ุง ูŠุณู…ู‰ ุงุนุชูƒุงูุง

Artinya: “Rukun i’tikaf ada empat. Pertama, al-mukts (berdiam diri). Batas minimalnya adalah lebih lama dari kadar thuma’ninah di dalam shalat, baik dilakukan dalam keadaan diam maupun mondar-mandir… dan tidak sah sekadar lewat melintasi masjid (al-‘ubur), karena masing-masing (kurang dari thuma’ninah dan sekadar melintas) tidak dinamakan i’tikaf.”

Dari redaksi ini, fiqih Syafi’i memberikan standar yang sangat jelas. Batas minimal i’tikaf harus melebihi durasi thuma’ninah (ketenangan sejenak setelah bergerak) dalam gerakan shalat. Orang yang hanya berjalan menembus masjid dari satu pintu ke pintu lainnya tanpa berhenti sejenak, tidak sah mengklaim dirinya sedang beri’tikaf.

Meskipun durasi sesaat (lahzhah) sudah mencukupi untuk menggugurkan kewajiban nadzar mutlak, namun Syaikhul Islam memberikan anjuran utama:

ู‚ูˆู„ู‡: (ู„ูƒู† ุงู„ู…ุณุชุญุจ ูŠูˆู…) ู„ู„ุฎุฑูˆุฌ ู…ู† ุฎู„ุงู ู…ู† ุฃูˆุฌุจู‡ ูˆู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠู†ุชู‚ู„ ุนู†ู‡ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ุงุนุชูƒุงู ุฏูˆู† ูŠูˆู…

“Akan tetapi, yang disunnahkan adalah beri’tikaf sehari penuh. Hal ini demi keluar dari ikhtilaf ulama yang mewajibkannya satu hari, dan karena tidak pernah diriwayatkan dari Nabi ๏ทบ maupun para sahabatnya bahwa mereka beri’tikaf kurang dari satu hari.”

2. Niat I’tikaf dan Aturan Pembaruannya (Tajdidun Niat)

Rukun yang kedua adalah niat. Niat menjadi pembeda antara kebiasaan berdiam diri biasa dengan ibadah. Syaikhul Islam menyatakan:

ู‚ูˆู„ู‡: (ุงู„ุฑูƒู† ุงู„ุซุงู†ูŠ ุงู„ู†ูŠุฉ ูุชุฌุจ) ู„ู„ุงุนุชูƒุงู ููŠ ุงุจุชุฏุงุฆู‡ ูƒู…ุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ุง ุณูˆุงุก ุงู„ู…ู†ุฐูˆุฑ ูˆุบูŠุฑู‡ ุชุนูŠู† ุฒู…ุงู†ู‡ ุฃูˆ ู„ุง (ูˆูŠุฌุจ ุงู„ุชุนุฑุถ ู„ู„ูุฑุถ ููŠ ุงู„ู…ู†ุฐูˆุฑ) ู„ูŠุชู…ูŠุฒ ุนู† ุงู„ู†ู‚ู„

“Rukun kedua adalah niat. Niat wajib dihadirkan pada permulaan i’tikaf sebagaimana dalam ibadah shalat dan lainnya… Wajib pula menyertakan niat fardhu pada i’tikaf nadzar agar terbedakan dari i’tikaf sunnah.”

Satu hukum teknis yang krusial adalah perihal memperbarui niat (tajdidun niat). Kapan seseorang wajib mengulang niatnya?

Apabila seseorang berniat i’tikaf tanpa menentukan batas waktu (mutlak), lalu ia keluar dari masjidโ€”meskipun untuk buang hajatโ€”tanpa diiringi tekad di dalam hatinya untuk kembali ke masjid, maka saat ia masuk kembali, ia wajib memperbarui niatnya.

ู‚ูˆู„ู‡: (ูˆุฅู† ู†ูˆู‰ ุงู„ุงุนุชูƒุงู ูˆุฃุทู„ู‚ ูุฎุฑุฌ) ู…ู† ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆู„ูˆ ู„ู‚ุถุงุก ุญุงุฌุฉ (ู„ุง ุจุนุฏ ุงู„ุนุฒู… ุนู„ู‰ ุงู„ุนูˆุฏ) ุฅู„ูŠู‡ (ุซู… ุนุงุฏ ุฌุฏุฏ) ุงู„ู†ูŠุฉ ูˆุฌูˆุจุง ุฅู† ุฃุฑุงุฏ ุงู„ุงุนุชูƒุงู ุฅุฐ ุงู„ุซุงู†ูŠ ุงุนุชูƒุงู ุฌุฏูŠุฏ

Sebaliknya, jika ia berniat i’tikaf untuk durasi tertentu (seperti niat i’tikaf sebulan), lalu ia keluar murni untuk menunaikan hajat buang air, maka ketika kembali ia tidak perlu memperbarui niatnya. Namun, jika ia keluar bukan untuk qadha hajat (tanpa udzur), maka ia diwajibkan melakukan tajdidun niat saat kembali.

3. Kriteria Orang yang Beri’tikaf (Al-Mu’takif)

Rukun ketiga berkaitan dengan pelakunya. Syarat sah i’tikaf menuntut kriteria khusus bagi seorang mu’takif.

ู‚ูˆู„ู‡: (ุงู„ุฑูƒู† ุงู„ุซุงู„ุซ ุงู„ู…ุนุชูƒู ูˆุดุฑุทู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุงู„ุนู‚ู„ ูˆุญู„ ุงู„ู„ุจุซ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ)… (ููŠุตุญ ู…ู† ุงู„ู…ู…ูŠุฒ ูˆุงู„ุนุจุฏ ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ) ูƒุตูŠุงู…ู‡ู… (ู„ูƒู† ูŠูƒุฑู‡ ู„ุฐูˆุงุช ุงู„ู‡ูŠุฆุฉ)

Syarat mu’takif adalah: (1) Beragama Islam, (2) Berakal sehat, dan (3) Halal baginya untuk berdiam di dalam masjid. Oleh karena itu, i’tikaf tidak sah dilakukan oleh orang yang kehilangan akal budinya (seperti gila, pingsan, dan mabuk). Ibadah ini juga tidak sahโ€”bahkan haramโ€”dilakukan oleh orang yang sedang junub, wanita yang sedang haid, dan wanita nifas.

Bagi wanita yang telah bersuami, fiqih memberikan aturan ketat. I’tikaf seorang istri diharamkan jika dilakukan tanpa izin suaminya (ูˆูŠุญุฑู… ุจุบูŠุฑ ุฅุฐู† ุงู„ุณูŠุฏ ูˆุงู„ุฒูˆุฌ). Suami memiliki hak penuh atas manfaat dari istrinya, sehingga ia berhak menyuruh istrinya keluar membatalkan i’tikaf sunnah meskipun awalnya suami telah memberi izin.

4. Tempat I’tikaf (Syarat Masjid)

Gambar perbandingan layar terbagi (split-screen) yang menunjukkan tempat i'tikaf yang sah (interior masjid jami' dengan tanda centang hijau) dan tempat yang tidak sah (mushalla pribadi di dalam rumah dengan tanda silang merah).
Penting untuk diingat: I’tikaf hanya sah dilakukan di bangunan yang secara hukum berstatus masjid (wakaf). Mushalla pribadi di dalam rumah tidak memenuhi syarat sebagai tempat i’tikaf.

Rukun i’tikaf keempat adalah tempat pelaksanaannya, yakni masjid (Al-Mu’takaf fih).

ู‚ูˆู„ู‡: (ุงู„ุฑูƒู† ุงู„ุฑุงุจุน ุงู„ู…ุนุชูƒู) ููŠู‡ (ูู„ุง ูŠุตุญ) ุงู„ุงุนุชูƒุงู (ุฅู„ุง ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ) ู„ู„ุงุชุจุงุน ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุดูŠุฎุงู† ูˆู„ู„ุฅุฌู…ุงุน

“Rukun keempat adalah tempat beri’tikaf. I’tikaf tidak sah kecuali di dalam masjid, karena mengikuti praktik Nabi riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dan berdasarkan Ijma’.”

Hukum ini berlaku umum, termasuk bagi para muslimah. Sering terjadi kesalahpahaman bahwa wanita cukup beri’tikaf di tempat shalat dalam rumahnya. Teks kitab membantah hal tersebut:

ู‚ูˆู„ู‡: (ูˆู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ) ุงุนุชูƒุงูู‡ุง (ููŠ ู…ุตู„ู‰ ุจูŠุชู‡ุง) ู„ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ุจู…ุณุฌุฏ ูู‡ูŠ ูƒุบูŠุฑู‡ุง

“Tidak sah i’tikaf seorang wanita di mushalla (tempat shalat) rumahnya, karena tempat tersebut statusnya bukanlah masjid. Maka ia dihukumi sama seperti orang lain (harus di masjid).”

Selanjutnya, Asna al-Matalib memberikan urutan keutamaan masjid. I’tikaf di Masjid Jami’ (yang digunakan shalat Jumat) lebih utama daripada masjid biasa. Ada pula kekhususan bagi tiga masjid suci:

ู‚ูˆู„ู‡: (ูˆู„ุง ูŠุชุนูŠู† ู…ุณุฌุฏ ู„ู„ุงุนุชูƒุงู ุจู†ุฐุฑ) ู„ู‡ (ููŠู‡)… (ุฅู„ุง ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ุญุฑุงู… ูˆูƒุฐุง ู…ุณุฌุฏ ุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ ูˆุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ุฃู‚ุตู‰)

Jika seseorang bernadzar i’tikaf di masjid biasa, ia boleh melaksanakannya di masjid mana saja. Namun, jika ia bernadzar i’tikaf di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, atau Masjidil Aqsha, maka tempatnya menjadi wajib di sana. Masjidil Haram dapat menggantikan fungsi Masjid Nabawi dan Aqsha dalam memenuhi nadzar. Masjid Nabawi dapat menggantikan fungsi Masjidil Aqsha, tetapi tidak berlaku sebaliknya, sesuai tingkatan fadhilah masing-masing.

Tabel Ringkasan Syarat Sah dan Rukun I’tikaf

Untuk memudahkan pemahaman, silakan cermati tabel rukun dan batas minimal i’tikaf di bawah ini:

Komponen RukunDetail Syarat Keabsahan Menurut Fiqih Syafi’i
1. Berdiam Diri (Al-Mukts)Batas minimal i’tikaf harus melebihi durasi thuma’ninah. Hanya berjalan melintas (ubur) dianggap tidak sah.
2. NiatWajib saat mulai masuk. Wajib sebut “fardhu” jika nadzar. Wajib diperbarui jika keluar tanpa tekad untuk kembali.
3. Pelaku (Mu’takif)Islam, berakal, suci dari hadats besar (haid, nifas, junub). Wanita wajib mendapat izin dari suami.
4. Tempat (Masjid)Harus bangunan berstatus wakaf masjid. Mushalla rumah wanita tidak dinilai sah untuk tempat i’tikaf.

FAQ Seputar Rukun dan Syarat I’tikaf

Apakah orang yang sekadar lewat di dalam masjid bisa berniat i’tikaf dan mendapatkan pahalanya?

Tidak. Syaikhul Islam menegaskan, (ูˆู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุงู„ุนุจูˆุฑ) yang berarti sekadar berjalan melintas menembus masjid tidak sah dinamakan i’tikaf. Syarat utamanya adalah berhenti sejenak lebih lama dari kadar thuma’ninah.

Jika saya keluar masjid sebentar untuk ke toilet, apakah saat masuk harus niat i’tikaf lagi?

Apabila sedari awal Anda meniatkan i’tikaf mutlak (tanpa batas durasi), dan Anda keluar ke toilet tanpa ada tekad di hati untuk kembali, maka saat masuk lagi Anda wajib memperbarui niat. Namun, bila sejak awal niatnya menetap untuk jangka waktu tertentu, dan keluarnya sekadar untuk buang hajat, maka tidak perlu tajdidun niat saat masuk kembali.

Bolehkah seorang wanita beri’tikaf di ruangan shalat khusus di dalam rumahnya?

Tidak sah. Redaksi kitab dengan tegas menyatakan: (ูˆู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุงุนุชูƒุงูู‡ุง ููŠ ู…ุตู„ู‰ ุจูŠุชู‡ุง). Mushalla di rumah tidak berstatus hukum wakaf masjid, sehingga rukun Al-Mu’takaf fih tidak terpenuhi.

Semoga penjelasan rukun i’tikaf ini memudahkan langkah kita untuk senantiasa menghidupkan sunnah di dalam masjid. Apabila Anda ingin mengetahui apa saja yang diperbolehkan dan dilarang selama berada di dalam masjid, silakan lanjutkan pembacaan pada artikel khusus kami berikutnya.

al-Anแนฃฤrฤซ, Zakariyฤ. Asnฤ al-Maแนญฤlib fฤซ Sharแธฅ Rawแธ al-แนฌฤlib. Dengan แธฅฤsyiyah Aแธฅmad al-Ramlฤซ. Disunting oleh Muแธฅammad az-Zuhrฤซ al-Ghamrฤwฤซ. Kairo: al-Maแนญbaสฟah al-Maymฤnฤซyah, 1313 H. Dicetak ulang oleh Dฤr al-Kitฤb al-Islฤmฤซ.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.