Ilustrasi pemandangan alam pegunungan saat matahari terbit, menampilkan sebuah pohon yang diselimuti oleh kubah energi cahaya transparan sebagai visualisasi perlindungan Ilahi. Teks besar di bagian atas gambar bertuliskan "HAKIKAT IMAN KEPADA RASUL ALLAH" dan di bagian bawah bertuliskan "KONSEP 'ISMAH: TERJAGA DALAM LINDUNGAN ILAHI".
Layaknya pohon kokoh yang diselimuti perisai cahaya di tengah luasnya alam, demikianlah gambaran para Rasul yang senantiasa berada dalam lindungan Ilahi. Gambar di atas memvisualisasikan konsep 'Ismah—keterjagaan para Nabi dari dosa—yang menjadi fondasi penting dalam memahami hakikat iman kepada utusan-Nya. Made by Gemini

Pengertian Iman Kepada Rasul Allah dan Konsep ‘Ismah (Terjaga dari Dosa)

Berbicara tentang akidah, seringkali kita berhenti pada hafalan semata di bangku sekolah. Jika ditanya, iman kepada rasul rukun iman ke berapa? Kita semua pasti serentak menjawab: keempat. Namun, apakah pemahaman kita sudah selesai sampai di situ? Apakah cukup hanya dengan menghafal 25 nama nabi tanpa memahami esensi di baliknya?

Tentu tidak. Ada pondasi mendasar yang sering terlewat, terutama ketika kita dihadapkan pada pertanyaan kritis: “Apakah seorang Nabi bisa berbuat dosa?” atau “Bagaimana kita menyikapi ayat Al-Qur’an yang seolah-olah menegur Nabi?”

Melalui artikel ini, kita akan membedah pengertian iman kepada rasul Allah dengan merujuk pada dua kitab mu’tabar, yaitu Al-Kawkab Al-Wahhaj Syarah Shahih Muslim dan Al-Fath Al-Mubin Syarah Al-Arba’in. Penjelasan ini akan meluruskan pandangan kita agar sesuai dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Apa Sebenarnya Iman kepada Rasul Itu?

Banyak yang bertanya, secara definisi iman kepada rasul adalah apa? Apakah sekadar percaya bahwa mereka pernah hidup di masa lalu sebagai tokoh sejarah?

Dalam kitab Al-Kawakib Al-Wahhaj, Syaikh Muhammad Al-Amin Al-Harari memberikan definisi yang sangat padat. Beliau menjelaskan bahwa iman kepada rasul artinya engkau membenarkan (tashdiq) dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT benar-benar memiliki utusan yang jujur (shadiq).

Jadi, iman kepada rasul memiliki arti yang jauh lebih dalam daripada sekadar pengetahuan sejarah. Iman ini menuntut keyakinan bahwa apa pun yang mereka sampaikan—baik itu kabar tentang surga neraka, hukum halal haram, hingga kisah umat terdahulu—adalah kebenaran mutlak yang bersumber dari wahyu. Tidak ada satu pun yang mereka karang sendiri.

Pahami juga: Apa Arti Iman Kepada Allah? | Rukun Iman ada Berapa dan Artinya?

Bukti Kebenaran Lewat Mukjizat

Bagaimana kita tahu mereka tidak berbohong? Allah membekali iman kepada rasul Allah ini dengan disertai bukti nyata berupa mukjizat. Ini adalah kejadian luar biasa yang menyalahi hukum alam, berfungsi sebagai “stempel” legitimasi dari Pencipta Langit. Ketika seorang Rasul menunjukkan mukjizat, seolah-olah Allah berkata: “Hamba-Ku ini benar dalam apa yang ia sampaikan dari-Ku.”

Mukjizat bukan untuk pamer kesaktian, melainkan bukti otentik agar manusia tidak ragu mengikuti ajaran mereka.

Konsep ‘Ismah: Benarkah Nabi Tidak Pernah Berdosa?

Ini adalah pembahasan yang paling sering memicu perdebatan saat membahas iman kepada rasul Allah. Namun, kitab Al-Fath Al-Mubin karya Ibnu Hajar Al-Haytami memberikan jawaban tegas dan melegakan.

Para Nabi memiliki sifat Ma’shum atau terjaga. Artinya, Allah menjaga fisik dan batin mereka dari noda dosa. Penjagaan ini mencakup:

  1. Terjaga dari Dosa Besar dan Kecil: Mereka bersih dari segala bentuk kemaksiatan yang bisa menjatuhkan martabat.
  2. Terjaga Sepanjang Hayat: Sifat ma’shum ini berlaku bukan hanya saat mereka diangkat menjadi Nabi, tapi juga sebelum kenabian. Ini adalah pendapat yang terpilih dan dianggap paling benar (ash-shawab) oleh para ulama.

Logikanya sederhana. Jika seorang calon Nabi pernah memiliki rekam jejak buruk atau dikenal sebagai pendosa sebelum diangkat, tentu umatnya akan sulit percaya. Allah menutup celah ini dengan menjaga mereka tetap suci sejak lahir.

Logika Keutamaan di Atas Malaikat

Ada argumen menarik yang disampaikan dalam Al-Fath Al-Mubin. Kita sepakat bahwa Malaikat itu makhluk yang suci, tidak punya nafsu, dan tidak pernah bermaksiat. Namun, akidah kita mengajarkan bahwa derajat para Nabi itu lebih mulia daripada Malaikat.

Jika Malaikat yang levelnya di bawah Nabi saja ma’shum (terjaga dari dosa), maka sudah pasti para Nabi—yang derajatnya lebih tinggi—jauh lebih layak untuk bersifat ma’shum. Mustahil makhluk yang paling dicintai Allah justru kalah suci dibandingkan Malaikat.

Menyikapi Kisah “Dosa” Nabi dan Israiliyat

Mungkin Anda pernah membaca buku sejarah yang menyebutkan Nabi Daud menyukai istri orang, atau Nabi Yusuf tergoda wanita. Hati-hati, jika kita sudah paham bahwa iman kepada rasul adalah meyakini kesucian mereka, maka kita harus waspada terhadap kisah Israiliyat (kisah-kisah Bani Israil yang menyusup ke tafsir).

Ibnu Hajar Al-Haytami memberikan peringatan keras. Kisah-kisah yang menggambarkan Nabi berbuat nista atau dosa, meskipun tercantum dalam beberapa kitab tafsir atau sejarah (bahkan jika dikutip oleh ulama besar seperti Al-Baghawi atau Al-Wahidi sekalipun), tidak boleh dijadikan pegangan. Kita tidak boleh menoleh pada riwayat yang merusak citra kesucian Nabi.

Bagaimana dengan Teguran Allah dalam Al-Qur’an?

Lalu, bagaimana dengan ayat Al-Qur’an yang menceritakan Nabi Adam memakan buah khuldi? Bukankah itu dosa?

Dalam kacamata tasawuf dan akidah tingkat tinggi, tindakan para Nabi tersebut bukanlah maksiat atau kriminal seperti yang dilakukan manusia biasa. Itu disebut Khilaf al-Awla, yang berarti “meninggalkan yang lebih utama.”

Mereka memilih opsi yang “baik”, padahal ada opsi yang “terbaik”. Karena kedudukan mereka sangat dekat dengan Allah, kesalahan kecil (yang bagi kita mungkin wajar) dianggap sebagai hal besar di mata Allah. Teguran Allah kepada mereka adalah bentuk kasih sayang, bukan hukuman atas kejahatan.

Tugas Utama Rasul: Dunia dan Akhirat

Para Rasul diutus untuk membimbing kita dalam dua aspek sekaligus: Ma’asy (urusan kehidupan dunia) dan Ma’ad (urusan kehidupan akhirat). Akal manusia terbatas. Kita mungkin pintar mengatur ekonomi (dunia), tapi tanpa bimbingan Rasul, kita buta tentang apa yang terjadi setelah mati (akhirat).

Selain itu, iman kepada rasul Allah mendorong kita menghormati semua Rasul tanpa terkecuali. Kita dilarang membeda-bedakan mereka—misalnya hanya percaya pada Nabi Isa tapi menolak Nabi Muhammad, atau sebaliknya. Menolak satu Nabi sama saja dengan menolak semuanya.

Referensi Teks Asli

Agar lebih valid, berikut adalah redaksi asli dari kitab yang menjadi rujukan tulisan ini.

1. Dari Kitab Al-Kawakib Al-Wahhaj Syarah Shahih Muslim:

(و) الرابع أن تؤمن بـ (ـرسله) أي أن تصدق بأن لله سبحانه رُسلًا صادقين فيما أخبروا به عن الله تعالى مؤيدين من الله تعالى بالمعجزات الدالة على صدقهم وأنهم بلّغوا عن الله رسالاته، وبينوا للمكلفين ما أمرهم الله ببيانه لهم، وأنه يجب احترامهم وأن لا يفرق بين أحد منهم1.

2. Dari Kitab Al-Fath Al-Mubin Syarah Al-Arba’in (hlm. 161):

قزله: (ورسله) أي: بأنه أرسلهم إلى الخلق؛ لهدايتهم وتكميل معاشهم ومعادهم، وأيدهم بالمعجزات الدالة على صدقهم… وأنه تعالى نزَّههم عن كل وصمةٍ ونقصٍ، فهم معصومون من الصغائر والكبائر قبل النبوة وبعدها على المختار، بل هو الصواب… وما جاء في القرآن من إثبات العصيان لآدم، ومن معاتبة جماعة منهم على أمورٍ فعلوها. . فإنما هو من باب أن للسيد أن يخاطب عبده بما شاء، وأن يعاتبه على خلاف الأولى معاتبةَ غيره على المعصية2.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Secara singkat, iman kepada rasul rukun iman ke berapa?

Iman kepada rasul adalah rukun iman ke-4 (keempat), setelah iman kepada Allah, Malaikat, dan Kitab-kitab-Nya.

Apa bedanya nabi dan rasul dalam pengertian iman kepada rasul Allah?

Nabi menerima wahyu untuk dirinya sendiri, sedangkan Rasul menerima wahyu dan diperintahkan menyampaikannya kepada umat. Namun dalam rukun iman, kita wajib meyakini keduanya.

Jika iman kepada rasul artinya mempercayai semua rasul, bolehkah kita mengikuti syariat rasul terdahulu?

Kita wajib mengimani keberadaan dan kebenaran rasul terdahulu, namun syariat (hukum) yang kita ikuti adalah syariat Nabi Muhammad SAW sebagai nabi penutup yang menyempurnakan ajaran sebelumnya.

Penutup

Memahami iman kepada rasul Allah ternyata menuntut kita untuk lebih jeli dan kritis. Bukan hanya soal percaya mereka ada, tapi juga menjaga kehormatan mereka dalam hati dan pikiran kita. Dengan meyakini kesucian para Nabi, hati kita akan lebih tenang dalam menjadikan mereka sebagai teladan mutlak dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan bekal akhirat.

Semoga penjelasan dari kitab Al-Kawkab Al-Wahhaj dan Al-Fath Al-Mubin ini menambah wawasan keislaman kita semua.

  1. Muḥammad al-Amīn al-Hararī, Al-Kawkab al-Wahhāj wa-al-Rawḍ al-Bahhāj fī Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim ibn al-Ḥajjāj, ed. Hāshim Muḥammad ʿAlī Mahdī, 1st ed. (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2009), 2:40. ↩︎
  2. Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haytami, Al-Fath al-Mubin bi Sharh al-Arba’in, ed. Ahmad Jasim Muhammad al-Muhammad, Qusay Muhammad Nawras al-Hallaq, dan Abu Hamza Anwar bin Abi Bakr al-Shaykhi al-Daghestani, cet. 1 (Jeddah: Dar al-Minhaj, 2008), 160–61. ↩︎