Pahala Memberi Buka Puasa: Pembebasan dari Neraka & Doa Khusus

Bulan suci Ramadhan merupakan madrasah rohani yang mendidik setiap Muslim untuk mengasah ketajaman batin dan kepekaan sosial. Salah satu manifestasi dari kepekaan tersebut adalah amalan muwāsāh (empati dan kepedulian) terhadap sesama hamba Allah yang sedang menjalankan ibadah puasa. Di dalam literatur Islam klasik, terkhusus pada kitab Kanzun Najah was Surur karya Syeikh Abdul Hamid Quds, pahala memberi buka puasa atau iftar dijelaskan memiliki kedudukan yang sangat agung.

Bagi para penuntut ilmu yang ingin melihat peta amaliah Ramadhan secara utuh berdasarkan kitab ini, silakan merujuk pada halaman induk Amaliah Ramadhan Kanzun Najah was Surur. Artikel ini akan menguraikan secara khusus fadhilah sedekah makanan berbuka dan adab bertamu di bulan suci, yang merupakan kelanjutan dari penjabaran hadits Salman Al-Farisi mengenai fase-fase rahmat dan ampunan.

Pahala Memberi Buka Puasa: Pembebasan Budak dan Ampunan

Berbagi hidangan berbuka puasa bukan sekadar urusan memindahkan makanan dari satu tangan ke tangan lain. Di balik amalan lahiriah tersebut, terdapat nilai Ikhlāṣ dan upaya pembersihan jiwa dari penyakit kikir (bukhl). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira yang sangat besar bagi mereka yang menyediakan iftar.

Syeikh Abdul Hamid Quds menukil riwayat pada halaman 58, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya:

« كان له عتق رقبةٍ ومغفرةً لذنوبه»

“Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa di bulan ini, maka baginya pahala memerdekakan budak (عتق رقبة) dan ampunan atas dosa-dosanya.”

Mendapatkan pahala memerdekakan budak merupakan pencapaian spiritual yang bernilai tinggi dalam timbangan syariat. Makna batin dari pembebasan budak ini adalah isyarat bahwa Allah Yang Maha Pengasih juga akan membebaskan leher orang yang bersedekah tersebut dari belenggu siksa api neraka.

Hadits Seteguk Susu dan Kurma

Tangan seseorang memberikan piring kecil berisi satu kurma dan segelas susu kepada orang lain saat waktu berbuka puasa.
Memberi iftar walau hanya dengan sebutir kurma atau seteguk susu tetap mendapatkan pahala pembebasan dari neraka.

Mendengar besarnya pahala memberi buka puasa tersebut, para sahabat yang hidup dalam kesederhanaan merasa khawatir. Mereka menyadari keterbatasan materi yang mereka miliki, sehingga muncul pertanyaan yang lahir dari kerinduan untuk mendapatkan rida Allah.

Para sahabat bertanya:

«يا رسول الله، ليس كلنا يجد ما يفطِّر به الصائم؟»

“Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki sesuatu untuk diberikan sebagai hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa?” (hlm. 58)

Mendengar keresahan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang menenangkan sanubari. Beliau menerangkan bahwa anugerah Allah tidak diukur dari kemewahan hidangan, melainkan dari ketulusan niat dan pengorbanan hamba-Nya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يعطي الله هذا الثواب من يفطر صائمًا على مَذْقِة لبن أو شربة ماء أو تمرة. ومن أشبع صائمًا كان له مغفرةً لذنوبه، وسقاه ربه حوضي شربةً لا يظمأ بعدها أبدًا. وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء

“Allah memberikan pahala ini kepada siapa saja yang memberi buka puasa walau hanya dengan seteguk susu yang dicampur air (مَذْقِة لبن), atau seteguk air, atau sebutir kurma. Dan barangsiapa yang mengenyangkan orang yang berpuasa, maka baginya ampunan atas dosa-dosanya, dan Tuhannya akan memberinya minum dari telagaku dengan satu tegukan yang membuatnya tidak akan merasa haus selamanya. Dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” (hlm. 58)

Kutipan di atas membedakan dua tingkatan amal. Tingkatan pertama adalah memberi buka ala kadarnya (seperti seteguk air atau sebutir kurma). Tingkatan kedua adalah mengenyangkan orang yang berpuasa (asyba’a shaiman). Keduanya mendatangkan ampunan, namun bagi yang mampu mengenyangkan saudaranya, Allah menjanjikan minuman kelak di akhirat dari telaga (ḥawḍ) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Doa Keselamatan untuk Tuan Rumah Pemberi Iftar

Seorang wanita Muslimah berhijab mengangkat tangan berdoa di meja makan setelah selesai berbuka puasa.
Dianjurkan membaca doa keberkahan bagi tuan rumah setelah menyantap hidangan iftar yang disajikan.

Syariat Islam menata hubungan vertikal kepada Sang Khaliq sekaligus hubungan horizontal antar sesama makhluk. Ketika seorang Muslim menerima kebaikan berupa hidangan iftar dari saudaranya, ia dianjurkan untuk membalas kebaikan tersebut dengan doa.

Berdasarkan kitab Kanzun Najah was Surur halaman 61, terdapat adab bertamu yang harus dijaga. Bagi Anda yang berbuka puasa di rumah orang lain, bacalah doa khusus berikut ini untuk tuan rumah:

«أفطرَ عندكم الصائمون، وأكل طعامكم الأبرار، وصلت عليكم الملائكة الأخيارُ»

Afthara ‘indakumush shaaimuun, wa akala tha’aamakumul abraar, wa shallat ‘alaikumul malaaikatul akhyaar.

“Telah berbuka puasa di tempat kalian orang-orang yang berpuasa, dan telah menyantap makanan kalian orang-orang yang berbakti, dan para malaikat yang terpilih telah mendoakan rahmat untuk kalian.”

Doa ini adalah bentuk balas budi paling mulia. Mengundang keridaan malaikat untuk memintakan rahmat bagi keluarga yang bersedekah. Selain itu, penulis kitab juga menyertakan riwayat Imam Muslim mengenai doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau makan di kediaman sahabat Abdullah bin Bisyr:

«اللهم بارك لهم فيما رزقتهم، واغفر لهم وارحمهم»

Allaahumma baarik lahum fiimaa razaqtahum, waghfir lahum warhamhum.

“Ya Allah, berkahilah mereka pada apa yang telah Engkau rezekikan kepada mereka, dan ampunilah mereka serta rahmatilah mereka.” (hlm. 61)

Bagi Anda yang ingin mengkaji lafaz doa-doa saat berbuka puasa bagi diri sendiri maupun adab lainnya, Anda dapat membaca kelanjutan materi pada tautan artikel Koleksi Lengkap Doa Berbuka Puasa Sesuai Tuntunan Salaf. Pembacaan doa dengan penuh Iftiqār (rasa butuh) kepada Allah akan membuka pintu-pintu pengabulan di waktu yang sangat mulia tersebut.

Tabel Ringkasan Fadhilah Iftar

Untuk memudahkan ingatan, berikut adalah ringkasan pembagian keutamaan sedekah makanan berbuka puasa berdasarkan hadits di atas:

Tingkatan Amal IftarBentuk PemberianAnugerah dan Pahala dari Allah
Tingkat DasarSeteguk susu/air, sebutir kurmaPahala sepadan memerdekakan budak dan ampunan atas segala dosa. Mendapat pahala puasa tanpa mengurangi pahala sang tamu.
Tingkat SempurnaMakanan yang mengenyangkan (Asyba’a)Mendapatkan seluruh keutamaan di atas, ditambah hak istimewa meminum air dari telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di akhirat sehingga tidak akan haus selamanya.

FAQ (Tanya Jawab Seputar Hukum Iftar)

Bagaimana jika saya tidak mampu memberikan makanan mewah untuk buka puasa?

Berdasarkan teks hadits halaman 58, Allah tetap memberikan pahala yang agung (pembebasan budak dan ampunan dosa) meskipun seseorang hanya bersedekah dengan seteguk susu bercampur air, seteguk air murni, atau sebutir kurma. Niat dan Ikhlāṣ adalah kunci utamanya.

Apakah pahala orang yang berpuasa akan berkurang jika ia menerima hidangan berbuka dari orang lain?

Tidak sama sekali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan secara qathi bahwa tuan rumah mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.

Apa doa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kita diundang berbuka puasa?

Doa yang diajarkan adalah “Afthara ‘indakumush shaaimuun, wa akala tha’aamakumul abraar, wa shallat ‘alaikumul malaaikatul akhyaar,” yang bermakna doa keselamatan, keberkahan dari orang-orang saleh, serta permohonan rahmat dari para malaikat (hlm. 61).

Bolehkah menambahkan doa lain untuk keluarga yang memberikan makanan?

Sangat dianjurkan. Selain doa di atas, kita dapat membaca doa keberkahan rezeki sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keluarga Abdullah bin Bisyr: “Allaahumma baarik lahum fiimaa razaqtahum, waghfir lahum warhamhum.”

Kesimpulan

Amalan memberi hidangan berbuka puasa (iftar) di bulan Ramadhan menempati derajat yang sangat mulia dalam syariat Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kanzun Najah was Surur, ibadah ini tidak menuntut kemewahan materi; sebutir kurma atau seteguk air yang diberikan dengan keikhlasan sudah cukup untuk mendatangkan pahala pembebasan dari api neraka dan ampunan dosa. Di sisi lain, syariat juga mendidik pihak yang menerima hidangan untuk senantiasa bersyukur dan membalas kebaikan tersebut melalui untaian doa keberkahan bagi sang tuan rumah. Sinergi antara kedermawanan dan doa ini pada akhirnya akan menciptakan harmoni sosial dan spiritualitas yang paripurna di bulan suci.

al-Khaṭīb, ʿAbd al-Ḥamīd b. Muḥammad ʿAlī Quds b. ʿAbd al-Qādir. Kanz al-Najāḥ wa al-Surūr fī al-Ad‘iyah allatī Tashraḥ al-Ṣudūr. al-Maktabah al-Shāmilah al-Dhahabiyyah.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.