Nitip Doa Ketika Umroh: Hukum, Dalil, dan Etika Agar Hajat Terkabul

Seringkali kita melihat pemandangan haru saat ada teman, tetangga, atau keluarga yang berpamitan hendak berangkat ke Tanah Suci. Biasanya, selain mengucapkan selamat jalan, ada satu kalimat yang hampir pasti terucap: “Jangan lupa doakan saya di sana, ya!”

Kebiasaan nitip doa ketika umroh ini sudah mendarah daging di masyarakat kita. Tapi, pernahkah Anda bertanya-tanya, apakah hal ini ada dasar hukumnya dalam Islam? Apakah boleh kita membebani orang yang sedang fokus beribadah dengan titipan doa-doa kita?

Kabar baiknya, ternyata hal ini bukan cuma tradisi basa-basi. Ada landasan kuat dari praktik para sahabat dan Rasulullah ﷺ sendiri mengenai anjuran meminta doa kepada orang yang hendak bepergian (safar), terutama untuk tujuan ibadah.

Mari kita bahas tuntas mulai dari dalil, keutamaan, hingga cara menitip doa yang sopan agar tidak merepotkan.

Dalil Bolehnya Menitip Doa kepada Orang yang Umroh

Kitab kuning terbuka dan tasbih di atas meja kayu sebagai referensi hukum Islam tentang menitip doa.
Imam An-Nawawi mencatat dalam kitab Al-Adzkar bahwa Rasulullah SAW pun pernah meminta doa kepada Umar bin Khattab saat hendak umroh.

Dasar utama dari kebiasaan ini bukanlah rekaan semata. Imam An-Nawawi, seorang ulama besar dalam mazhab Syafi’i, mencantumkan pembahasan khusus mengenai hal ini dalam kitab beliau yang sangat terkenal, Al-Adzkar.

Beliau membuat bab khusus dengan judul: (Bab Anjuran bagi Orang yang Mukim untuk Menitip Pesan kepada Musafir agar Mendoakannya di Tempat-Tempat yang Mulia, Meskipun Orang yang Mukim Tersebut Lebih Utama daripada Si Musafir).

Berikut adalah redaksi asli hadis yang menjadi sandaran hukum nitip doa kepada jamaah umroh:

Teks Arab dan Terjemahan

Diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita:

اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُمْرَةِ، فَأَذِنَ وَقَالَ: ” لا تَنْسَنَا يَا أَخِي مِنْ دُعَائِكَ “

“Aku meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan umrah, maka beliau mengizinkanku dan bersabda: ‘Jangan lupakan kami dalam doamu, wahai saudaraku.’

Dalam riwayat lain disebutkan redaksi:

” أشركنا يا أخي في دعائك “

“Sertakanlah kami, wahai saudaraku, dalam doamu.”

Umar bin Khattab kemudian berkomentar tentang permintaan Nabi tersebut: “Beliau mengucapkan satu kalimat yang tidak akan membuatku senang jika menukarnya dengan dunia (yakni kalimat itu lebih berharga bagiku daripada dunia).”

(Sumber: Al-Adzkar An-Nawawi, hlm. 219. Hadis ini dinilai Hasan Shahih oleh At-Tirmidzi).

Pelajaran dari Hadis

Dari riwayat di atas, kita bisa mengambil poin penting. Bayangkan, Rasulullah ﷺ —manusia paling mulia yang doanya pasti mustajab—justru meminta didoakan oleh Umar bin Khattab yang hendak pergi umroh.

Ini mengajarkan kita dua hal:

  1. Kerendahan hati: Tidak perlu malu meminta doa kepada orang lain, meskipun kita merasa ilmu atau derajat kita lebih tinggi.
  2. Keutamaan Musafir: Orang yang sedang dalam perjalanan (safar), apalagi safar ibadah seperti umroh, memiliki posisi istimewa di sisi Allah.

Kenapa Harus Nitip Doa di Tanah Suci?

Mungkin ada yang berpikir, “Kan bisa doa sendiri di rumah, Allah Maha Mendengar.” Betul, Allah Maha Mendengar. Namun, ada kondisi, waktu, dan tempat tertentu yang membuat doa lebih cepat menembus langit.

Inilah alasan kenapa titip doa umroh menjadi momen yang dikejar banyak orang:

1. Keutamaan Doa Musafir

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada tiga doa yang tidak tertolak, salah satunya adalah da’watul musafir (doanya orang yang bepergian). Ketika seseorang berangkat umroh, status mereka adalah musafir sekaligus tamu Allah (Dhuyufurrahman).

2. Tempat-Tempat Mustajab

Di Makkah dan Madinah, bertebaran lokasi yang dikenal sebagai tempat dikabulkannya doa (multazam). Saat teman kita berada di sana, kita berharap nama kita disebut di tempat-tempat seperti:

  • Multazam: Dinding antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
  • Hijr Ismail: Area setengah lingkaran di samping Ka’bah.
  • Raudhah: Tempat di antara rumah Nabi (makam) dan mimbar beliau di Masjid Nabawi.
  • Saat Sa’i dan Tawaf.

Mendapat “bocoran” doa di tempat-tempat ini adalah kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan.

Etika dan Cara Menitip Doa (Supaya Tidak Merepotkan)

Close-up tangan memegang smartphone yang menampilkan pesan singkat titipan doa kepada kerabat yang akan umroh di bandara.
Gunakan bahasa yang ringkas dan sopan saat menitip doa via pesan singkat agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah mereka.

Meskipun hukum nitip doa itu boleh dan dianjurkan, kita tetap harus punya adab. Jangan sampai titipan kita malah membebani jamaah yang sedang fokus beribadah fisik dan mental. Ingat, ibadah umroh itu melelahkan.

Berikut adalah panduan etika saat Anda ingin menitipkan hajat:

Jangan Memberikan Daftar Belanjaan Doa

Hindari mengirim pesan WhatsApp yang panjangnya seperti koran, berisi rincian doa dari A sampai Z. Cukup sampaikan poin intinya. Orang yang sedang tawaf mungkin kesulitan membaca teks panjang di HP mereka.

Gunakan Bahasa yang Ringkas

Alih-alih menulis: “Ya Allah tolong berikan saya jodoh yang tinggi, putih, kaya, rumahnya di Jakarta Selatan, dan baik hati…”

Lebih baik ringkas menjadi: “Mohon doakan saya segera bertemu jodoh terbaik yang sholeh/sholehah.”

Tau Diri dan Situasi

Lihat kondisi kerabat yang berangkat. Jika mereka lansia atau membawa anak kecil, sebaiknya kurangi beban mereka. Cukup minta doa sapu jagat (kebaikan dunia akhirat).

Tabel: Do’s and Don’ts Saat Nitip Doa

Yang Boleh (Do’s)Yang Sebaiknya Dihindari (Don’ts)
Minta doa secara umum (kesehatan, rezeki, jodoh).Minta doa terlalu detail dan panjang lebar.
Mengirim doa lewat teks agar bisa dibaca saat senggang.Menelpon saat mereka sedang prosesi ibadah.
Mendoakan balik keselamatan mereka (timbal balik).Memaksa harus didoakan di titik tertentu (misal: “Wajib di depan Multazam ya!”).
Ikhlas jika mereka lupa mendoakan.Marah atau kecewa jika tidak ada bukti foto/video doa.

Contoh Ucapan Nitip Doa Umroh

Supaya lebih mudah, Anda bisa menggunakan template kalimat berikut ini saat mengirim pesan kepada teman yang akan berangkat:

Untuk Teman Dekat:

“Bro/Sis, selamat menunaikan ibadah umroh ya. Semoga lancar dan mabrur. Kalau sempat dan pas lagi longgar, nitip sebut namaku di depan Ka’bah ya, semoga dimudahkan urusan [sebutkan hajat singkat, misal: lunas hutang]. Makasih banyak, fii amanillah!”

Untuk Orang yang Lebih Tua/Dihormati:

“Bapak/Ibu, selamat jalan, semoga menjadi umroh yang mabrur dan sehat selalu. Mohon izin, jika berkenan, titip doa untuk keluarga kami agar selalu dalam lindungan Allah. Jazakumullah khairan.”

FAQ: Pertanyaan Populer Seputar Nitip Doa

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering muncul di mesin pencari terkait topik ini:

Apakah doa titipan pasti dikabulkan?

Tidak ada jaminan 100% karena hak prerogatif Allah. Namun, berdoa melalui perantara orang saleh atau di tempat mustajab adalah salah satu bentuk ikhtiar (usaha) langit yang sangat dianjurkan.

Bagaimana jika orang yang dititipi lupa menyampaikan doa kita?

Tidak masalah dan tidak berdosa. Niat Anda sudah dicatat oleh Allah. Orang yang umroh memiliki banyak fokus ibadah, jadi wajar jika ada yang terlupa. Yang penting adalah keikhlasan kita meminta dan mendoakan mereka balik.

Perlukah memberikan uang titipan (sedekah) saat nitip doa?

Tidak wajib, tapi jika Anda memberikan uang saku sebagai hadiah atau untuk dibelikan air zam-zam sebagai oleh-oleh, itu adalah bentuk kasih sayang yang mempererat silaturahmi. Hadiah bisa membuat hati senang, dan hati yang senang akan berdoa lebih tulus.

Penutup

Nitip doa ketika umroh adalah tradisi baik yang punya akar kuat dalam Islam. Kisah Umar bin Khattab dan Rasulullah ﷺ di atas menjadi bukti nyata bahwa saling mendoakan adalah inti dari persaudaraan sesama muslim.

Jadi, jangan ragu untuk meminta doa kepada mereka yang berangkat ke Tanah Suci. Namun ingat, lakukan dengan cara yang santun, tidak memaksa, dan tidak merepotkan. Dan yang paling penting: jangan lupa doakan juga keselamatan mereka selama perjalanan pergi dan pulang.

Semoga artikel ini bermanfaat dan bagi Anda yang sedang punya hajat, semoga segera Allah kabulkan, baik lewat doa sendiri maupun wasilah doa saudara kita di Tanah Suci. Aamiin.

Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī, al-Adhkār, ed. ʿAbd al-Qādir al-Arnaʾūṭ (Beirut: Dār al-Fikr, 1994), 219

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.