Bulan suci segera tiba. Bagi umat Islam, memastikan ibadah berjalan sah adalah prioritas utama. Salah satu rukun puasa Ramadhan yang paling fundamental adalah niat. Tanpa niat yang benar, puasa seseorang bisa dianggap tidak sah dan hanya menahan lapar dahaga semata.
Banyak pertanyaan muncul setiap tahun: Bagaimana lafadz niat puasa Ramadhan arab dan artinya yang tepat? Kapan waktu terbaik membacanya? Apakah boleh berniat sekali untuk satu bulan?
Artikel ini akan mengupas tuntas tata cara niat berdasarkan referensi kitab fikih Mazhab Syafi’i, yaitu Asna al-Mathalib karya Syekh Zakariyya al-Anshari, agar ibadah Anda lebih mantap dan sesuai tuntunan.
Pentingnya Niat dalam Ibadah Puasa
Dalam fikih Syafi’i, posisi niat sangatlah sentral. Hal ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW, “Innama al-a’malu bin-niyyat” (Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat).
Berdasarkan kitab Asni al-Mathalib, niat puasa wajib memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan puasa sunah. Syarat dan rukun puasa Ramadhan mewajibkan niat dilakukan dengan jazm (mantap) dan ta’yin (ditentukan). Artinya, hati Anda harus yakin dan spesifik menyebutkan bahwa puasa yang akan dilakukan adalah puasa Ramadhan, bukan sekadar puasa biasa.
Berikut redaksi asli dari kitab tersebut mengenai kewajiban ini:
فصل: (ويجب) في الصوم (نية جازمة معينة) كالصلاة ولخبر إنما الأعمال بالنيات
(Fasal: Dan Wajib) dalam puasa (niat yang mantap lagi ditentukan), sebagaimana dalam salat. Berdasarkan hadis: “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat.”
Waktu dan Tata Cara Niat Puasa Ramadhan

Kapan sebenarnya niat puasa Ramadhan dilakukan pada waktu yang tepat? Ada dua poin utama yang harus Anda perhatikan agar niat dianggap sah: Tabyit dan Ta’yin.
1. Tabyit (Berniat di Malam Hari)
Untuk puasa wajib (seperti Ramadhan, Qada, atau Nazar), niat harus dilakukan di malam hari. Rentang waktunya mulai dari terbenamnya matahari (Magrib) hingga sebelum terbit fajar (Subuh).
Jika Anda lupa dan baru berniat setelah azan Subuh, maka puasa hari tersebut tidak sah menurut Mazhab Syafi’i. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Ad-Daruquthni: “Barangsiapa yang tidak bermalam niat puasanya sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”
2. Ta’yin (Menentukan Jenis Puasa)
Anda tidak cukup hanya berniat “saya besok puasa”. Anda harus menentukan jenis puasanya, yaitu “Puasa Ramadhan”. Dalam hati harus terlintas bahwa esok adalah hari untuk menunaikan fardu Ramadhan. Ini hampir mirip dengan artikel tentang tingkatan niat dalam shalat.
Bacaan dan Lafadz Niat Puasa Ramadhan
Berikut adalah panduan doa niat puasa Ramadhan dan artinya yang biasa diamalkan, mulai dari versi harian hingga versi satu bulan penuh untuk antisipasi jika lupa.
Niat Puasa Ramadhan Harian (Wajib)
Ini adalah niat puasa ramadhan arab yang standar dan wajib diucapkan (minimal dalam hati) setiap malam.
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”
Dalam redaksi kitab Asni al-Mathalib disebutkan bahwa lafadz yang paling sempurna mencakup penyebutan “fardu”, “tahun ini”, dan “karena Allah”. Namun, jika seseorang hanya berniat “Aku niat puasa Ramadhan esok hari”, itu pun sudah dihukumi sah.
Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh (Antisipasi)
Banyak masyarakat mencari cara niat puasa ramadhan sebulan penuh dan sehari sekaligus. Dalam Mazhab Syafi’i, niat harus diperbaharui setiap malam karena setiap hari dianggap ibadah yang terpisah.
Namun, ulama Syafi’iyah menganjurkan untuk tetap membaca niat puasa ramadhan satu bulan penuh (mengikuti pendapat Mazhab Maliki) pada malam pertama Ramadhan. Tujuannya sebagai langkah antisipasi (cadangan) jika suatu hari kita lupa niat puasa Ramadhan.
Lafadz Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh Bahasa Arab:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيعِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيدًا لِلإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma jamī‘i syahri Ramadhāni hādzihis sanati taqlīdan lil imāmi Mālikin fardhan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku niat puasa seluruh bulan Ramadhan tahun ini dengan bertaqlid kepada Imam Malik, fardu karena Allah Ta’ala.”
Apakah Sahur Bisa Menggantikan Niat?

Ini adalah pembahasan menarik yang jarang diketahui. Banyak orang bertanya, bagaimana cara niat puasa Ramadhan jika kita terlalu mengantuk dan hanya bangun sahur? Apakah makan sahur sudah dianggap niat?
Berdasarkan kitab Asni al-Mathalib, aktivitas sahur bisa dianggap sebagai niat secara otomatis dengan syarat tertentu.
Redaksi kitab menyebutkan:
قوله: (ولو تسحر ليصوم) … (فهو نية إن خطر بباله صوم فرض رمضان) … (لا إن تسحر ليقوى)
Artinya: “Jika ia makan sahur untuk puasa… maka itu sudah dianggap niat jika terbesit di hatinya keinginan puasa fardu Ramadan. Tetapi tidak cukup jika sahur hanya untuk tujuan menguatkan badan (tanpa ada maksud ibadah puasa wajib di hati).”
Jadi, jika saat menyantap makanan sahur terlintas di hati Anda, “Saya makan ini supaya kuat puasa Ramadhan besok,” maka itu sudah dihitung sebagai niat yang sah. Namun, jika Anda bangun makan hanya karena lapar tanpa ingat besok puasa wajib, maka itu belum cukup. Jadi dalam masalah ini saat ia sahur harus terbersit dibenaknya apa yang menjadi ketentuan niat puasa wajib seperti ta’yin, tidak sekedar “aku makan agar besok kuat puasa’.
Masalah Keraguan di Awal Ramadhan (Hari Syak)
Seringkali terjadi kebingungan di hari ke-30 Sya’ban, apakah besok sudah masuk Ramadhan atau belum. Bagaimana niatnya?
Kitab Asni al-Mathalib menjelaskan bahwa niat harus Jazam (yakin). Jika seseorang berniat dengan ragu-ragu: “Saya niat puasa besok, kalau besok Ramadhan ya saya puasa wajib, kalau tidak ya tidak,” maka niat seperti ini tidak sah.
Kecuali, jika keyakinan itu didasari oleh kabar dari orang terpercaya bahwa hilal telah terlihat (meskipun belum ada pengumuman resmi sidang isbat). Jika ia yakin berdasarkan kabar tersebut lalu berniat, dan ternyata benar besoknya Ramadhan, maka puasanya sah.
Tabel Ringkasan Hukum Niat Puasa
Untuk memudahkan Anda memahami tata cara puasa Ramadhan terkait niat, berikut tabel ringkasannya:
| Kondisi | Hukum | Penjelasan |
| Lupa Niat Malam Hari | Tidak Sah | Puasa wajib butuh Tabyit (niat di malam hari). Harus qada di hari lain. |
| Berniat di Siang Hari | Tidak Sah | Hanya berlaku untuk puasa sunah. |
| Niat Umum (“Saya Niat Puasa”) | Tidak Sah | Harus Ta’yin (menentukan jenis puasa: Ramadhan). |
| Makan Sahur | Bisa Sah | Asalkan saat makan terlintas di hati niat untuk puasa Ramadhan. |
| Niat Sebulan Penuh | Sunah/Anjuran | Sebagai cadangan (taqlid Mazhab Maliki), tapi tetap wajib niat harian menurut Syafi’i. |
FAQ: Pertanyaan Seputar Niat Puasa
Berikut adalah jawaban atas pertanyaan yang sering dicari terkait syarat dan rukun puasa Ramadhan:
1. Apa lafadz niat puasa ramadhan latin yang paling pendek tapi sah?
Cukup dalam hati lintaskan: “Aku berniat puasa Ramadhan esok hari.” Lafadz arabnya: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi Ramadhana.
2. Jika lupa niat puasa Ramadhan, apakah harus membatalkan puasa?
Jika Anda lupa niat malam hari, Anda tetap wajib menahan diri dari makan dan minum (imsak) seharian untuk menghormati bulan Ramadhan, namun puasa tersebut tidak sah secara hukum dan wajib diganti (qada) di luar Ramadhan. Solusi daruratnya adalah mengikuti pendapat Mazhab Maliki sebagaimana dijelaskan diatas.
3. Bolehkah niat puasa Ramadhan bahasa Arab diganti bahasa Indonesia?
Boleh dan sah. Niat tempatnya di hati. Melafalkan dengan lisan (bahasa Arab) hukumnya sunah untuk membantu hati agar lebih fokus. Jadi, lintasan hati dalam bahasa Indonesia sudah memenuhi syarat.
4. Kapan batas akhir waktu niat?
Batas akhirnya adalah saat terbit fajar shadiq (waktu Subuh).
Penutup
Memahami niat puasa Ramadhan secara mendalam akan membuat ibadah kita lebih berkualitas. Jangan sampai rutinitas tahunan ini kehilangan esensinya karena kelalaian dalam hal-hal mendasar seperti niat.
Pastikan setiap malam setelah salat Tarawih atau sebelum tidur, Anda melafalkan niat. Sebagai langkah aman, praktikkan juga niat puasa ramadhan sebulan penuh pada malam pertama untuk menjaga kemungkinan lupa. Semoga ibadah puasa kita tahun ini diterima oleh Allah SWT.
Referensi
al-Anṣārī, Zakariyā. Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib. Dengan ḥāsyiyah Aḥmad al-Ramlī. Disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī. Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H. Dicetak ulang oleh Dār al-Kitāb al-Islāmī.




