Metode Pengajaran Rasulullah dalam Hadits Jibril: Konsep Ta’lim & Adab

Dalam khazanah pedagogi Islam, metode penyampaian ilmu (uslub at-ta’lim) memegang peranan vital di samping materi ilmu itu sendiri. Salah satu peristiwa paling monumental yang merekam metode pengajaran Rasulullah tingkat tinggi adalah kedatangan Malaikat Jibril ke majelis Nabi ﷺ. Peristiwa ini, yang populer dengan sebutan Hadits Jibril, bukan sekadar narasi tamu misterius, melainkan sebuah demonstrasi kurikulum pendidikan Islam yang sempurna.

Banyak penuntut ilmu yang bertanya-tanya: Mengapa Jibril ‘alaihis salam, yang notabene adalah pemimpin para malaikat dan pembawa wahyu, justru datang untuk bertanya layaknya orang yang tidak tahu? Bukankah beliau yang menurunkan wahyu tersebut?

Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena tersebut dengan merujuk langsung pada nash kitab Al-Fath Al-Mubin bi Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Ibnu Hajar Al-Haitami (halaman 139-187).

Fenomena Jibril Bertanya: Sebuah Strategi Pendidikan

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu merekam keheranan para sahabat saat menyaksikan dialog antara laki-laki berbaju putih (Jibril) dengan Nabi Muhammad ﷺ. Keheranan tersebut memuncak ketika Jibril membenarkan jawaban Nabi.

Sebagaimana tertulis dalam naskah Al-Fath Al-Mubin (hal. 139):

قال: صدقت، قال: فعجبنا له؛ يسأله ويصدقه

(Dia [Jibril] berkata: “Engkau benar.” Umar berkata: “Maka kami heran kepadanya; dia yang bertanya, tapi dia pula yang membenarkannya!”).

Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan bahwa keheranan (ta’ajjub) para sahabat ini sangat beralasan. Pertanyaan biasanya muncul dari ketidaktahuan, sedangkan pembenaran (tashdiq) muncul dari pengetahuan. Perilaku Jibril ini adalah indikasi bahwa beliau adalah “Guru” yang tampil dalam rupa “Murid”.

Hikmah Teologis: Mengapa Jibril Mewakili Sahabat?

Inilah poin paling krusial dalam metode pengajaran Rasulullah pada peristiwa ini. Mengapa Jibril harus turun tangan bertanya? Mengapa tidak membiarkan sahabat saja yang bertanya?

Syaikh Ibnu Hajar memberikan penjelasan (ta’lil) yang sangat mendalam pada halaman 186 mengenai kondisi psikologis para sahabat saat itu. Berikut adalah teks asli penjelasannya:

قيل: وحكمة إرساله: ليعلمهم أنهم كانوا أكثروا على النبي صلى الله عليه وسلم المسائل، فنهاهم كراهية لما قد يقع من سؤال تعنت أو تجهيل، فألحوا فزجرهم، فخافوا وأحجموا واستسلموا امتثالا، فلما صدقوا في ذلك.. أرسل لهم من يكفيهم المهمات1

(Dikatakan: Hikmah pengutusannya [Jibril] adalah untuk mengajar mereka [sahabat]. Karena sebelumnya mereka terlalu banyak bertanya kepada Nabi ﷺ, lalu Nabi melarang mereka karena khawatir muncul pertanyaan yang memberatkan atau bersifat menguji/membodohkan. Namun mereka mendesak sehingga Nabi menegur mereka. Maka mereka pun takut, menahan diri, dan berserah diri sebagai bentuk kepatuhan. Maka tatkala mereka jujur dalam kepatuhan itu… Allah mengutus kepada mereka sosok yang mencukupkan mereka dalam urusan-urusan penting).

Karena para sahabat “macet” dalam bertanya akibat rasa takut dan patuh (imtitsal), Allah mengutus Jibril. Pertanyaan Jibril tentang Rukun Islam dan Rukun Iman menjadi solusi ilahi agar ilmu tetap tersampaikan tanpa sahabat harus melanggar adab atau rasa takut mereka.

Konsep Ta’lim: Guru yang Menyamar Sebagai Murid

Metode yang diperagakan Jibril dan Rasulullah ﷺ ini dikenal dalam dunia pendidikan modern sebagai Active Learning, namun dengan adab yang jauh lebih luhur.

Di akhir hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم

(Sesungguhnya dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian).

Syaikh Ibnu Hajar memberikan syarah (penjelasan) menarik pada kalimat yu’allimukum (dia mengajar kalian). Padahal yang menjawab pertanyaan adalah Nabi, mengapa Jibril yang disebut mengajar?

Beliau menjelaskan dalam Al-Fath Al-Mubin (hal. 186):

بسبب سؤاله، فنسبة التعليم إليه مجاز، وإلا.. فالمعلم لهم حقيقة هو النبي صلى الله عليه وسلم2

(Disebut mengajar disebabkan oleh pertanyaannya. Maka penyandaran “pengajaran” kepada Jibril adalah majaz [kiasan]. Karena pada hakikatnya, pengajar mereka yang sesungguhnya adalah Nabi ﷺ).

Ini mengajarkan kita bahwa “bertanya dengan cerdas” adalah metode pengajaran yang sah. Hal ini juga memperdalam pemahaman kita tentang arti iman kepada malaikat, bahwa tugas mereka sangat variatif, termasuk menjadi fasilitator ilmu.

Adab Jibril: Posisi Duduk Sang Penuntut Ilmu

Ilustrasi adab duduk penuntut ilmu, lutut bertemu lutut seperti Malaikat Jibril di hadapan Rasulullah.
Posisi duduk “Mulaazamah” atau berhadapan dekat adalah simbol keseriusan dalam menuntut ilmu.

Selain metode verbal, Jibril juga mengajarkan metode non-verbal. Beliau duduk dengan posisi yang sangat spesifik sebagaimana tertulis dalam kitab (hal. 139):

فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه

(Dia menyandarkan kedua lututnya ke kedua lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi).

Kitab Al-Fath Al-Mubin (hal. 141-142) menyebut posisi ini sebagai:

صريح في أنه جلس بين يديه دون جانبه، وهي جلسة المتعلم3

(Ini jelas menunjukkan dia duduk di hadapan Nabi, bukan di sampingnya. Dan ini adalah posisi duduk seorang pelajar).

Urgensi Materi dalam Pertanyaan Jibril

Pertanyaan Jibril tidak sembarangan. Beliau menyusun pertanyaan secara sistematis, mencakup seluruh bangunan agama. Syaikh Ibnu Hajar menyebutkan dalam halaman 187 mengapa hadits ini disebut sebagai induk atau referensi utama:

لأن علوم الشريعة كلها راجعة إليه، ومتشعبة منه، فهو جامع لطاعات الجوارح والقلب أصولا وفروعا4

(Karena ilmu-ilmu syariat seluruhnya kembali kepada hadits ini dan bercabang darinya. Hadits ini adalah pengumpul ketaatan anggota tubuh dan hati, baik pokok [ushul] maupun cabang [furu’]).

Tabel Analisis: Perbandingan Peran dalam Hadits Jibril

Tabel perbandingan peran Jibril, Rasulullah, dan Sahabat dalam metode ta'lim hadits Jibril.
Ringkasan peran masing-masing pihak dalam peristiwa Hadits Jibril.
PeranTindakanTujuan Pendidikan (Hikmah)
Jibril (Penanya)Bertanya & MembenarkanMengatasi rasa takut sahabat (khauf) & mengajarkan adab.
Rasulullah (Menjawab)Menjelaskan DefinisiMemberikan materi otoritatif (Islam, Iman, Ihsan).
Sahabat (Audiens)Heran (‘ajibna lahu)Menerima ilmu melalui observasi dialog.

FAQ: Pertanyaan Seputar Metode Pengajaran Jibril

Apakah Rasulullah ﷺ tahu bahwa itu Jibril sejak awal?

Berdasarkan riwayat dalam Al-Fath Al-Mubin (hal. 186) yang mengutip Shahih Ibnu Hibban, Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah (Jibril) menyerupa atasku sejak dia mendatangiku sebelum kali ini, dan aku tidak mengenalinya sampai dia berpaling (pergi).”

Mengapa Jibril menggunakan panggilan “Ya Muhammad”?

Syaikh Ibnu Hajar menjelaskan (hal. 144) tujuannya adalah untuk penyamaran (Ta’miyah), meniru gaya bicara orang Arab Badui (A’rab) agar para sahabat tidak curiga bahwa tamu tersebut adalah malaikat.

Kesimpulan

Metode pengajaran Rasulullah ﷺ melalui perantara Malaikat Jibril mengajarkan kita bahwa pendidikan Islam memerlukan strategi. Jibril, sang Sayyidul Malaikat, mengajarkan bahwa pertanyaan yang tepat adalah kunci pembuka ilmu.

Peristiwa ini menjadi landasan bahwa agama Islam dibangun di atas pilar yang kokoh, sebagaimana dijelaskan dalam Rukun Islam dan Rukun Iman yang termaktub dalam hadits ini.

Wallahu a’lam bish-shawab.

  1. Aḥmad ibn Muḥammad Ibn Ḥajar al-Haytamī, al-Fatḥ al-Mubīn bi-Sharḥ al-Arbaʿīn, ed. Aḥmad Jāsim Muḥammad al-Muḥammad, Quṣayy Muḥammad Nūrūs al-Ḥallāq, and Anwar al-Shaykhī al-Dāghistānī, 1st ed. (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008), 186. ↩︎
  2. Aḥmad ibn Muḥammad Ibn Ḥajar al-Haytamī, al-Fatḥ al-Mubīn bi-Sharḥ al-Arbaʿīn, ed. Aḥmad Jāsim Muḥammad al-Muḥammad, Quṣayy Muḥammad Nūrūs al-Ḥallāq, and Anwar al-Shaykhī al-Dāghistānī, 1st ed. (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008), 186. ↩︎
  3. Aḥmad ibn Muḥammad Ibn Ḥajar al-Haytamī, al-Fatḥ al-Mubīn bi-Sharḥ al-Arbaʿīn, ed. Aḥmad Jāsim Muḥammad al-Muḥammad, Quṣayy Muḥammad Nūrūs al-Ḥallāq, and Anwar al-Shaykhī al-Dāghistānī, 1st ed. (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008), 142-143. ↩︎
  4. Aḥmad ibn Muḥammad Ibn Ḥajar al-Haytamī, al-Fatḥ al-Mubīn bi-Sharḥ al-Arbaʿīn, ed. Aḥmad Jāsim Muḥammad al-Muḥammad, Quṣayy Muḥammad Nūrūs al-Ḥallāq, and Anwar al-Shaykhī al-Dāghistānī, 1st ed. (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008), 187. ↩︎

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.