Di tengah hangatnya diskusi keagamaan saat ini, salah satu topik yang sering memicu perdebatan sengit adalah masalah tawassul, terutama yang dilakukan di dekat makam para Nabi atau Wali Allah.
Sebagian kalangan dengan cepat melontarkan tuduhan serius: “Itu syirik!”, “Itu menyembah kuburan!”, atau “Kalian meminta kepada mayat!”. Tuduhan-tuduhan ini tentu membuat resah banyak umat Islam yang selama ini mengamalkan tawassul sebagai bentuk kecintaan kepada orang-orang saleh.
Padahal, praktik tawassul (mengambil perantara dalam berdoa) adalah bagian dari tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang memiliki landasan dalil kuat. Namun, kali ini kita tidak akan hanya berdebat dengan dalil naqli (teks), melainkan menggunakan pendekatan akal sehat yang segar dan sulit dibantah.
Pendekatan ini dikenal dengan “Logika Gajah dan Emas”. Argumen cerdas ini dipopulerkan oleh seorang ulama besar, Syaikh Sayyid Zaky Ibrahim, dalam kitabnya yang luar biasa, Al-Ifham wal Ifham.
Mari kita bedah logika ini untuk meluruskan kesalahpahaman bahwa bertawassul sama dengan menyembah fisik kuburan.
Memahami Inti Tuduhan: “Menyembah Fisik”
Akar dari tuduhan syirik kepada pelaku tawassul di kuburan adalah anggapan bahwa mereka meminta dan memuja objek fisik di depan mereka. Penuduh mengira bahwa doa ditujukan kepada tanah, batu nisan, atau jasad yang telah terkubur.
Mereka beranggapan bahwa si pendoa meyakini jasad mati itulah yang akan mengabulkan permintaan mereka. Jika anggapan ini benar, tentu itu adalah kesyirikan yang nyata.
Namun, apakah benar demikian keyakinan orang yang bertawassul? Di sinilah “Logika Gajah dan Emas” masuk untuk mematahkan asumsi tersebut.
Membedah “Logika Gajah dan Emas” (Argumen Aqli)

Syaikh Sayyid Zaky Ibrahim mengajak kita berpikir jernih. Jika benar bahwa penghormatan dan doa di makam itu didasarkan pada pemujaan terhadap fisik, materi, atau jasad, maka manusia seharusnya memilih objek lain yang secara fisik jauh lebih unggul daripada jasad manusia yang telah wafat.
Berikut rincian logikanya:
Jika Menyembah Fisik, Gajah Lebih Pantas
Mari bicara soal ukuran dan kekuatan fisik. Jasad manusia, apalagi yang sudah wafat, adalah benda yang lemah, kecil, dan akan hancur dimakan tanah.
Jika tujuan kita adalah menyembah kekuatan fisik, kenapa kita tidak menyembah Gajah saja?
Secara fisik, gajah jauh lebih besar, lebih kuat, dan lebih gagah daripada tubuh manusia manapun. Namun faktanya, tidak ada umat Islam yang pergi ke kebun binatang untuk bertawassul atau berdoa di depan kandang gajah. Ini membuktikan bahwa ukuran atau kekuatan fisik bukanlah alasan kita menghormati para Wali.
Jika Menyembah Materi, Emas Lebih Pantas
Mari bicara soal nilai materi atau kebendaan. Jasad manusia terdiri dari daging dan tulang yang tidak memiliki nilai jual tinggi, bahkan akan membusuk.
Jika tujuan tawassul adalah memuja materi yang berharga, kenapa kita tidak menyembah bongkahan Emas atau berlian?
Secara materi, emas jauh lebih mahal, berkilau, dan awet daripada tulang belulang manusia. Namun, kita tidak pernah melihat orang saleh menaruh bongkahan emas di depan mereka lalu berdoa meminta syafaat kepada emas tersebut.
Poin Kuncinya: Fakta bahwa kita tidak menyembah gajah (yang fisiknya kuat) dan tidak memuja emas (yang materinya mahal), membuktikan secara logis bahwa penghormatan kita di makam Nabi atau Wali sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemujaan terhadap fisik atau materi jasad mereka.
Tuduhan “menyembah kuburan” runtuh seketika dengan logika sederhana ini.
Apa yang Sebenarnya Kita Cari Saat Bertawassul?
Jika bukan fisik gajah dan bukan materi emas yang kita cari, lantas apa? Kenapa kita justru mendatangi makam orang saleh yang jasadnya mungkin sudah lebur dengan tanah?
Jawabannya adalah karena kita mencari “Ma’na al-Khalid” (Nilai yang Abadi). Kita mencari keberkahan dari orang yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah. Dalam ilmu tasawuf, kedekatan inilah yang disebut sebagai maqam Hamba Rabbani, yang membuat doa mereka tidak tertolak.
Kita tidak menghormati tumpukan tanahnya. Kita menghormati “isi” atau ruh yang pernah bersemayam di sana. Kita menghormati nilai-nilai yang melekat pada diri sang Wali semasa hidupnya, yaitu:
- Iman dan Takwa yang kuat.
- Kedekatan (qurbah) mereka dengan Allah SWT.
- Jihad dan perjuangan mereka untuk Islam.
Nilai-nilai ruhani inilah yang tidak akan pernah mati, tidak seperti jasad yang hancur. Ketika kita bertawassul, kita menjadikan kedekatan mereka dengan Allah sebagai wasilah (perantara/sarana) agar doa kita—yang masih berlumur dosa ini—lebih cepat didengar oleh Allah SWT.
Kita memuliakan “wadah” (makam/jasad) karena pernah ditempati oleh “isi” (ruh yang suci) yang begitu agung.
Perbedaan Tegas Antara Tawassul dan Syirik

Agar semakin jelas dan tidak ada lagi keraguan, mari kita lihat perbedaan mendasar antara praktik tawassul yang Islami dengan praktik syirik para penyembah berhala.
Berikut adalah tabel perbandingannya:
| Aspek Pembeda | Tawassul (Ajaran Islam) | Syirik (Penyembahan Berhala) |
| Tujuan Akhir Doa | Hanya kepada Allah SWT semata. | Kepada berhala atau dewa yang disembah. |
| Posisi Objek | Sebagai Wasilah (perantara/jalur) yang dicintai Allah. | Sebagai Arbab (tuhan tandingan) yang punya kekuatan sendiri. |
| Keyakinan Hati | Yakin bahwa Nabi/Wali tidak punya kuasa mengabulkan doa secara mandiri. Hanya Allah yang mengabulkan. | Yakin bahwa berhala/dewa memiliki kekuatan otonom untuk memberi manfaat atau bahaya. |
| Contoh Ucapan | “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan berkah/kemuliaan Nabi-Mu…” | “Wahai Latta/Uzza, berikanlah aku rezeki…” |
Dari tabel di atas, jelas bahwa tawassul sangat bertolak belakang dengan syirik. Justru, orang yang bertawassul sedang mengakui Tauhid, karena dia sadar dirinya lemah dan butuh “koneksi” dari hamba yang lebih dekat dengan Allah Yang Maha Kuasa.
FAQ: Menjawab Keraguan Seputar Tawassul dan Kuburan
Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait topik ini:
Bukankah Allah Maha Mendengar? Kenapa harus pergi ke kuburan Wali untuk berdoa? Kenapa tidak berdoa di rumah saja?
Benar, Allah Maha Mendengar di mana saja. Namun, Allah juga menciptakan tempat-tempat yang memiliki keberkahan khusus (amakin mubarakah) di mana rahmat-Nya turun lebih deras. Contohnya adalah Masjidil Haram atau Raudhah di Madinah. Begitu juga di dekat makam para kekasih-Nya. Berdoa di sana bukan karena Allah hanya ada di sana, tapi untuk mencari suasana batin yang lebih khusyuk dan mengambil berkah (tabarruk) dari tempat yang sering dikunjungi rahmat Allah.
Apakah orang yang sudah meninggal bisa mendengar doa atau salam kita?
Ya, menurut keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah, ruh orang yang meninggal, terutama para Nabi dan Wali, tetap hidup di alam barzakh dan bisa mendengar. Rasulullah SAW sendiri bersabda saat berbicara dengan mayat kaum musyrikin di Perang Badr: “Kalian tidak lebih mendengar perkataanku daripada mereka (para mayat ini).” (HR. Bukhari & Muslim).
Apakah logika Gajah dan Emas ini ada dasarnya di kitab ulama?
Ya, logika ini dijelaskan secara gamblang oleh Syaikh Sayyid Zaky Ibrahim, seorang ulama Al-Azhar yang dihormati, dalam kitab beliau Al-Ifham wal Ifham. Ini bukan karangan bebas, melainkan ijtihad ulama untuk memahamkan umat dengan cara yang rasional.
Penutup
Tuduhan bahwa tawassul adalah menyembah kuburan seringkali lahir dari kesalahpahaman dalam melihat praktik luarnya saja, tanpa memahami niat dan keyakinan di dalam hati pelakunya.
Dengan bantuan Logika Gajah dan Emas, kita menjadi paham bahwa penghormatan kita kepada makam para Wali bukanlah bentuk pemujaan fisik yang primitif. Itu adalah ekspresi cinta dan hormat yang mendalam kepada nilai-nilai ketakwaan yang abadi.
Kita tidak menyembah gajah yang besar, tidak memuja emas yang mahal, dan tentu saja tidak menyembah kuburan. Kita hanya menyembah Allah SWT, dan kita mencintai siapa saja yang dicintai oleh-Nya.
Logika ini hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti kebenaran amalan ini. Untuk melihat dalil-dalil Naqli (Al-Qur’an dan Hadits) secara rinci, silakan baca kupas tuntas dalil shahih tentang tawassul.
Referensi
Ibrahim, Muhammad Zaki. Al-Ifhām wa al-Ifḥām: Qadhāyā al-Wasīlah wa al-Qubūr fī Dhau’ Samāḥat al-Islām.




