Kisah Mukmin dan Kafir Memancing Ikan: Memahami Hakikat Ujian Dunia dan Istidraj

Seringkali manusia mengukur kemuliaan seseorang di sisi Allah melalui kelapangan rezeki duniawi. Padahal, tolak ukur kedudukan seorang hamba tidak terletak pada seberapa banyak harta yang ia kumpulkan, melainkan pada maqām (kedudukan spiritual) dan keikhlasannya dalam menerima ketetapan (qada dan qadar) Allah Azza wa Jalla.

Pemahaman keliru tentang konsep rezeki sering memicu rasa kecewa, bahkan futur (lemah semangat) dalam beribadah. Untuk meluruskan pandangan ini, para ulama tasawuf sering merujuk pada riwayat-riwayat sahih tentang hakikat dunia. Salah satu riwayat yang sangat menggugah hati tercatat dalam kitab Hayatul Hayawan Al-Kubra, mengutip dari Imam Ahmad dalam kitab Az-Zuhd. Kisah ini menceritakan perbedaan nasib seorang hamba yang beriman dan hamba yang kafir saat mencari rezeki.

Teks Asli dan Riwayat Imam Ahmad

Kisah ini diriwayatkan dari jalur Nauf Al-Bikali, yang menggambarkan secara gamblang bagaimana Allah menetapkan rezeki bagi hamba-Nya di dunia sekaligus menyimpan balasan sejati di akhirat. Berikut adalah redaksi aslinya:

روى الإمام أحمد، في الزهد، عن نوف البكالي، قال: انطلق رجل مؤمن ورجل كافر يصيدان السمك، فجعل الكافر يلقي شبكته ويذكر آلهته فتمتلىء سمكا، ويلقي المؤمن شبكته ويذكر اسم الله تعالى فلا يصطاد شيئا. قال: ففعلا ذلك إلى مغيب الشمس، ثم إن المؤمن، اصطاد سمكة فأخذها بيده فاضطربت فوقعت في الماء، فرجع المؤمن وليس معه شيء ورجع الكافر وقد امتلأت سفينته، فأسف ملك المؤمن وقال: رب عبدك المؤمن الذي يدعوك رجع وليس معه شيء، وعبدك الكافر رجع وقد امتلأت سفينته. فقال الله عز وجل لملك المؤمن: تعال، فأراه مسكن المؤمن في الجنة. فقال: ما يضر عبدي هذا المؤمن ما أصابه بعد أن يصير إلى هذا. وأراه مسكن الكافر في النار، فقال: هل يغني عنه من شيء أصابه في الدنيا؟ قال: لا والله يا رب. اه‍ حياة الحيوان الكبرى

Terjemahan:

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd, dari Nauf Al-Bikali, ia berkata: “Seorang pria mukmin dan seorang pria kafir pergi memancing ikan bersama. Orang kafir itu menebarkan jalanya seraya menyebut nama tuhan-tuhannya, dan jalanya pun ditarik dalam keadaan penuh dengan ikan. Sementara itu, orang mukmin menebarkan jalanya seraya menyebut nama Allah Ta’ala, namun ia tidak berhasil menangkap apa pun.

Keduanya terus melakukan hal tersebut hingga matahari terbenam. Kemudian, orang mukmin itu (akhirnya) berhasil memancing seekor ikan. Ia mengambilnya dengan tangan, namun ikan itu meronta hingga jatuh kembali ke dalam air. Sang mukmin pun pulang tanpa membawa hasil apa-apa, sedangkan sang kafir pulang dengan perahu yang penuh tangkapan.

Malaikat (pendamping) orang mukmin merasa iba dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang mukmin yang senantiasa berdoa kepada-Mu pulang tanpa membawa hasil, sedangkan hamba-Mu yang kafir pulang dengan perahu yang penuh.’

Allah Azza wa Jalla kemudian berfirman kepada malaikat orang mukmin tersebut, ‘Kemarilah.’ Lalu Allah memperlihatkan kepadanya tempat tinggal sang mukmin di surga. Allah berfirman: ‘Apakah musibah (kesusahan) yang menimpanya ini membahayakan hamba-Ku yang mukmin, setelah ia kelak sampai ke tempat ini?’

Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya tempat tinggal orang kafir di neraka, dan berfirman: ‘Apakah segala kenikmatan yang ia peroleh di dunia dapat menolongnya?’

Malaikat itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Tuhanku.'”

Hakikat Rezeki Berdasarkan Pandangan Tasawuf

Melalui riwayat di atas, kita diajak untuk melihat realitas kehidupan dengan kacamata baṣīrah (mata batin). Ada beberapa pelajaran fundamental terkait akidah dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dari peristiwa ini.

1. Ujian Kesabaran bagi Orang Beriman

Tangan nelayan basah kehilangan tangkapan ikan besar yang melompat kembali ke laut sebagai simbol ujian kesabaran duniawi.
Momen saat hamba yang beriman diuji dengan lepasnya rezeki dari genggaman, mengajarkan hakikat rida terhadap qada dan qadar Allah.

Seorang mukmin menyebut nama Allah saat menebar jala, namun tidak mendapatkan apa-apa hingga matahari terbenam. Bahkan satu-satunya ikan yang ia tangkap pun lepas kembali ke air. Kejadian ini mengajarkan bahwa doa dan zikir tidak selalu berwujud imbalan materi secara instan. Allah menguji hamba-Nya untuk melihat kadar keikhlasan dan kesabaran mereka. Kepahitan duniawi sering kali menjadi jalan pembersihan dosa bagi seorang mukmin agar ia menghadap Allah dalam keadaan suci.

2. Konsep Istidraj bagi Orang Kafir

Seni konseptual jala emas penuh koin yang tenggelam ke dasar laut bersama kail pancing raksasa, merepresentasikan bahaya istidraj.
Metafora visual tentang bagaimana harta duniawi yang melimpah bagi para pendosa sejatinya adalah istidraj yang mengantarkan mereka pada kebinasaan.

Di sisi lain, orang kafir menyebut berhala-berhalanya dan seketika mendapatkan jala yang penuh. Ini adalah bentuk nyata dari istidraj. Allah menunda hukuman dan membiarkan mereka tenggelam dalam kesenangan duniawi yang semu, sehingga dosa-dosa mereka semakin bertumpuk. Kelancaran urusan dunia bagi orang yang durhaka bukanlah tanda kasih sayang Ilahi, melainkan sebuah ujian yang mengantarkan mereka pada kebinasaan yang lebih besar kelak.

3. Keagungan Balasan Akhirat

Keadilan Allah tidak diukur dari apa yang terjadi di dunia yang fana. Dialog antara Allah Azza wa Jalla dengan malaikat pendamping mempertegas hal ini. Tempat tinggal sang mukmin di surga menghapus segala rasa letih, lapar, dan kecewa yang ia alami di dunia. Sebaliknya, kobaran api neraka melenyapkan semua ingatan tentang kenikmatan memancing dan harta duniawi yang pernah dinikmati oleh orang kafir tersebut.

Tabel Perbandingan Realitas Mukmin dan Kafir

Siluet orang bersujud di bawah kaligrafi bercahaya Surat Az-Zumar ayat 10 tentang pahala tanpa batas bagi orang yang sabar menghadapi ujian.
Ilustrasi spiritual yang menggambarkan jaminan Allah atas balasan surga yang agung bagi orang-orang beriman yang istiqamah menghadapi kepahitan dunia.

Agar lebih mudah memahami perbedaan hakikat dari kisah Nauf Al-Bikali ini, berikut adalah tabel perbandingan kondisi keduanya:

Aspek PenilaianKondisi Orang MukminKondisi Orang Kafir
Landasan AmalMengawali pekerjaan dengan menyebut nama Allah Ta’ala.Menyebut nama tuhan-tuhan selain Allah.
Hasil DuniawiDiuji dengan kesulitan, pulang tanpa tangkapan ikan.Diberi kemudahan (istidraj), perahu penuh dengan ikan.
Status SpiritualMenjalani ibtila’ (ujian) untuk meninggikan derajatnya di surga.Dibiarkan terbuai kenikmatan hingga kelak menyesal di neraka.
Penyelesaian AkhiratMendapat balasan surga yang membuat seluruh penderitaan dunia terasa tidak berarti.Dimasukkan ke neraka; kenikmatan dunia gagal menyelamatkannya.

FAQ: Tanya Jawab Seputar Hakikat Ujian dan Rezeki

Mengapa Allah sering memberikan kesulitan ekonomi kepada orang yang rajin beribadah?

Ujian ekonomi atau kesulitan hidup bagi hamba yang taat merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk mengangkat maqām (derajat) mereka. Dunia adalah tempat ujian (darul ibtila’), bukan tempat balasan yang hakiki.

Apakah keberhasilan dunia selalu berarti istidraj?

Tidak. Jika harta dan keberhasilan itu didapatkan oleh orang mukmin yang bertakwa dan digunakan untuk bersyukur serta beribadah, maka itu adalah karunia. Istidraj terjadi ketika kenikmatan diberikan kepada seseorang yang terus-menerus bermaksiat dan melalaikan syariat Allah.

Bagaimana cara menghindari sifat iri terhadap harta orang fasik?

Tanamkan keyakinan kuat (yaqin) terhadap hari akhir. Sadari bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Perbanyak berzikir, merenungkan kitab suci Al-Qur’an, dan mempelajari kisah-kisah ulama salaf dalam kitab Az-Zuhd agar hati tidak mudah tertipu gemerlap dunia.

Pelajaran Akhir

Menjadi seorang mukmin berarti memiliki sudut pandang yang melampaui batas fisik kehidupan dunia. Kisah dua pemancing ini adalah pengingat yang kuat agar kita tidak mudah putus asa ketika doa tampak belum terjawab. Sebaliknya, kita tidak boleh merasa aman jika bermaksiat namun hidup terus diberi kemudahan. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Tetaplah istiqamah di jalan syariat agama, hiasi diri dengan adab dan akhlak mulia, sembari mengharapkan rida Ilahi semata.

al-Damīrī, Muḥammad bin Mūsā bin ʿĪsā bin ʿAlī, Abū al-Baqāʾ Kamāl al-Dīn al-Syāfiʿī. Ḥayāt al-Ḥayawān al-Kubrā. Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, cet. 2, 1424 H, juz 2, hlm. 41.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.