Kisah Kedatangan Jibril: Mengapa Malaikat Jibril Menyamar Menjadi Manusia “Dihyah Al-Kalbi”?

Pernahkah Anda membayangkan suasana majelis ilmu bersama Rasulullah ﷺ? Suatu hari, suasana tenang itu tiba-tiba berubah menjadi penuh tanda tanya. Sebuah peristiwa besar terjadi, yang di kemudian hari dikenal sebagai Hadits Jibril. Ini bukan sekadar kunjungan biasa; ini adalah momen ketika langit turun ke bumi untuk mengajarkan fondasi agama Islam secara langsung.

Kisah kedatangan Jibril ini diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bagaimana seorang laki-laki asing tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Pria itu bukan sembarang tamu. Di akhir pertemuan, Nabi Muhammad ﷺ mengungkapkan bahwa tamu tersebut adalah Malaikat Jibril.

Pertanyaan besar yang sering muncul adalah: Mengapa Malaikat Jibril harus menyamar menjadi manusia? Mengapa tidak datang dalam wujud aslinya yang agung? Mari kita telusuri jawabannya dengan merujuk pada kitab Al-Fath Al-Mubin bi Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syaikh Ibn Hajar Al-Haitami.

Detik-Detik Kedatangan Tamu Misterius

Halaman terbuka kitab kuning Al-Fath Al-Mubin bi Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyah yang menjadi rujukan kisah kedatangan Jibril.
Halaman kitab Al-Fath Al-Mubin karya Syaikh Ibn Hajar Al-Haitami yang menjadi rujukan utama pembahasan kisah ini, menunjukkan teks asli mengenai ciri fisik tamu misterius tersebut. Halaman kitab Al-Fath Al-Mubin karya Syaikh Ibn Hajar Al-Haitami yang menjadi rujukan utama pembahasan kisah ini, menunjukkan teks asli mengenai ciri fisik tamu misterius tersebut. @by Gemini

Umar bin Khattab menggambarkan kedatangan sosok itu dengan sangat detail. Saat para sahabat sedang duduk santai bersama Nabi, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang penampilannya sangat kontras.

Dalam redaksi hadits yang tercantum di Al-Fath Al-Mubin (hal. 139), disebutkan:

إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يري عليه أثر السفر، ولا يعرفه منا أحد

(Tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya).

Penampilan yang Membingungkan Para Sahabat

Penampilan fisik tamu ini menimbulkan kebingungan luar biasa di kalangan sahabat. Di satu sisi, dia adalah orang asing (“tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya”). Logikanya, orang asing pasti datang dari perjalanan jauh (safar).

Namun di sisi lain, penampilannya sangat rapi dan bersih (“sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan”). Di masa itu, perjalanan jauh di gurun pasir pasti meninggalkan jejak debu dan rambut kusut.

Syaikh Ibn Hajar menjelaskan dalam syarahnya (hal. 141) bahwa kontradiksi ini memang disengaja untuk menambah rasa penasaran dan “menambah kesamaran” bagi para sahabat tentang siapa sebenarnya orang ini. Mereka benar-benar melihatnya secara fisik (ru’yah basariyah), bukan sekadar penglihatan batin.

Alasan Teologis: Kemampuan Malaikat Berubah Wujud

Mengapa Jibril tidak datang dalam wujud aslinya? Kita tahu dari riwayat lain bahwa wujud asli Jibril sangatlah dahsyat, memiliki ratusan sayap yang menutupi ufuk. Jika beliau datang dalam wujud asli, tentu para sahabat tidak akan sanggup melihatnya, bahkan mungkin akan pingsan ketakutan.

Dalam Al-Fath Al-Mubin (hal. 184), dijelaskan mengenai hakikat malaikat. Ada kelompok sesat (hululiyah) yang menganggap ini adalah bukti bahwa Tuhan atau roh suci bisa menitis ke dalam tubuh manusia. Pendapat ini dibantah keras.

Penjelasan yang benar menurut Ahlussunnah wal Jamaah adalah bahwa malaikat adalah jisim nurani (tubuh yang tercipta dari cahaya) yang sangat halus. Karena kehalusannya itu, mereka memiliki kemampuan untuk tasyakkul atau membentuk diri dalam rupa yang berbeda-beda.

Syaikh Ibn Hajar menulis:

لأن جبريل جسم نوراني في غاية اللطافة، فقبلت ذاته التشكل والانخلاع من طور إلى طور

(Karena Jibril adalah jisim nurani yang sangat halus, maka dzatnya menerima untuk beralih bentuk dan melepaskan diri dari satu fase ke fase lainnya).

Terkadang Jibril datang menyerupai sahabat Nabi yang tampan bernama Dihyah Al-Kalbi. Namun dalam kisah Hadits Jibril ini, beliau datang dalam wujud orang asing yang tidak dikenal sama sekali agar fokus perhatian sahabat tertuju penuh pada apa yang akan disampaikannya, bukan pada sosok Dihyah yang sudah mereka kenal. Nabi ﷺ sendiri hanya melihat Jibril dalam wujud aslinya sebanyak dua kali.

Metode Pengajaran Interaktif yang Unik

Alasan utama lain mengapa Jibril menyamar adalah sebagai metode pengajaran langsung dari Allah. Jibril datang untuk bertanya, bukan untuk memberi ceramah.

Sang tamu misterius itu duduk dengan sangat sopan di hadapan Nabi. Posisinya dijelaskan dalam kitab (hal. 139):

حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه

(Hingga ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, menyandarkan kedua lututnya ke kedua lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi).

Ini adalah posisi duduk seorang pelajar yang sangat serius (jalsatul muta’allim), menunjukkan kedekatan dan keseriusan dalam menuntut ilmu.

Ia kemudian bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda Kiamat. Setiap kali Nabi menjawab, tamu itu berkata, “Engkau benar” (Shadaqta). Hal ini semakin membuat sahabat heran; bagaimana mungkin seseorang bertanya layaknya orang bodoh, tapi kemudian membenarkan layaknya seorang guru yang sedang menguji?

Syaikh Ibn Hajar (hal. 185) menjelaskan hikmah di balik metode ini. Para sahabat sebenarnya memiliki banyak pertanyaan, namun mereka sering kali segan atau takut untuk bertanya terlalu banyak kepada Rasulullah ﷺ karena rasa hormat yang tinggi.

Maka, Allah mengutus Jibril dalam wujud manusia untuk “mewakili” para sahabat menanyakan hal-hal mendasar dalam agama. Dengan cara ini, Nabi ﷺ bisa menjelaskan fondasi agama secara terstruktur melalui sesi tanya-jawab.

Nabi ﷺ bersabda di akhir hadits:

فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم

(Sesungguhnya dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian).

Meskipun yang menjawab adalah Nabi, namun Jibril disebut “mengajarkan” karena dialah penyebab keluarnya ilmu tersebut melalui pertanyaan-pertanyaannya.

Pelajaran Adab dari Sang Malaikat

Selain mengajarkan materi agama (rukun Islam, Iman, Ihsan), kedatangan Jibril dalam wujud manusia yang rapi juga mengajarkan adab (etika) secara diam-diam.

Al-Fath Al-Mubin (hal. 141) menyoroti pakaian putih bersih Jibril:

ففيه ندب تنظيف الثياب، وتحسين الهيئة… وتطييب الرائحة عند الدخول للمسجد

(Maka di dalamnya terdapat anjuran membersihkan pakaian, membaguskan penampilan… dan memakai wewangian saat masuk masjid).

Jibril mengajarkan bahwa saat mendatangi majelis ilmu atau menghadap seorang guru, kita harus dalam keadaan bersih, rapi, dan wangi sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu dan pemilik ilmu.

Tabel Ringkasan: Wujud vs Hakikat Tamu Misterius

Berikut adalah tabel ringkasan untuk memudahkan memahami kontradiksi penampilan Jibril saat itu:

AspekPenampilan Lahiriah (Wujud Manusia)Hakikat Sebenarnya (Malaikat Jibril)
StatusOrang asing, musafir tak dikenal.Pemimpin para malaikat, penduduk langit.
FisikSangat bersih, rapi, tanpa debu perjalanan.Jisim nurani (tubuh cahaya) yang halus.
PerilakuBertanya layaknya seorang murid yang butuh ilmu.Utusan Allah yang sudah mengetahui jawabannya.
TujuanTampak ingin belajar dari Nabi ﷺ.Mengajarkan agama kepada para sahabat melalui metode tanya-jawab.

FAQ: Pertanyaan Seputar Kedatangan Jibril

Apakah Jibril sering datang dalam wujud manusia?

Ya, Jibril sering datang menemui Nabi ﷺ dalam wujud manusia, seringkali menyerupai sahabat yang tampan bernama Dihyah Al-Kalbi. Namun dalam peristiwa “Hadits Jibril” ini, beliau datang dalam wujud orang asing yang tidak dikenal.

Mengapa Jibril memanggil Nabi dengan sebutan “Ya Muhammad”, bukan “Ya Rasulullah”?

Dalam Al-Fath Al-Mubin (hal. 143) dijelaskan bahwa ini kemungkinan bagian dari penyamaran. Jibril meniru gaya bicara orang Arab Badui (ajlaf al-a’rab) yang biasa memanggil nama langsung, untuk semakin menyamarkan identitasnya di hadapan para sahabat.

Apakah para sahabat sadar saat itu bahwa tamu tersebut adalah malaikat?

Tidak. Mereka baru mengetahuinya setelah tamu itu pergi dan Nabi ﷺ memberitahu mereka. Umar bin Khattab sendiri mengatakan mereka terdiam cukup lama setelah tamu itu pergi sebelum Nabi bertanya kepada Umar.

Kisah kedatangan Jibril ini adalah bukti nyata betapa indahnya cara Allah mengajarkan agama ini kepada hamba-Nya. Melalui skenario yang dramatis namun penuh adab, fondasi Islam, Iman, dan Ihsan ditanamkan dengan kuat di hati para sahabat, dan kemudian sampai kepada kita hari ini.

Aḥmad ibn Muḥammad Ibn Ḥajar al-Haytamī, al-Fatḥ al-Mubīn bi-Sharḥ al-Arbaʿīn, ed. Aḥmad Jāsim Muḥammad al-Muḥammad, Quṣayy Muḥammad Nūrūs al-Ḥallāq, and Anwar al-Shaykhī al-Dāghistānī, 1st ed. (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008), 139-187.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.