Khutbah Nabi Jelang Ramadhan: Hadits Salman Al-Farisi & Keutamaan Puasa

Bulan suci Ramadhan memiliki kedudukan agung dalam syariat Islam. Para ulama salaf menaruh perhatian besar terhadap persiapan batin menyambut bulan ini. Salah satu rujukan utama yang memuat dalil-dalil sahih tentang amaliah bulan puasa adalah kitab Kanzun Najah was Surur. Di dalam lembaran kitab tersebut, terekam sebuah riwayat panjang yang menguraikan keutamaan puasa Ramadhan berdasarkan hadits Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu.

Riwayat ini bersumber dari khutbah Rasulullah ﷺ pada hari terakhir bulan Sya’ban. Teks ini menjadi fondasi bagi umat Islam untuk menata niat dan amal. Anda dapat merujuk pada pedoman Amaliah Ramadhan Kanzun Najah was Surur untuk melihat konteks kitab ini secara utuh.

Syeikh Abdul Hamid Quds, penulis kitab Kanzun Najah was Surur, menukil khutbah agung ini pada halaman 58. Rasulullah ﷺ bersabda di hadapan para sahabat:

أيها الناس، قد أظلكم شهر عظيم، شهر مبارك فيه ليلة القدر خير من ألف شهر، جعل الله تعالى صيامه فريضة، وقيام ليله تطوُّعًا

“Wahai manusia, telah menaungi kalian sebuah bulan yang agung, bulan yang diberkahi, di dalamnya terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Allah Ta’ala menjadikan puasa di siang harinya sebagai sebuah kewajiban (faridhah), dan qiyam (shalat) di malam harinya sebagai ibadah sunnah (tathawwu’).”

Hadits ini merinci dimensi teologis dari bulan suci, mulai dari pelipatgandaan pahala hingga anjuran amalan spesifik yang harus diperbanyak oleh seorang hamba demi mencapai maqām ketakwaan.

Pahala Amalan Sunnah Menyamai Fardhu

Keistimewaan pertama yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ adalah anugerah pelipatgandaan pahala yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lain. Allah Yang Maha Pemurah mengangkat derajat ibadah sunnah di bulan ini sejajar dengan ibadah wajib di luar Ramadhan.

Dalam teks aslinya, Rasulullah ﷺ menegaskan:

من تقرّب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدَّى فريضةً فيما سواه، ومن أدّى فريضةً فيه كان كمن أدّى سبعين فريضة فيما سواه

“Barangsiapa yang mendekatkan diri (taqarrub) di bulan ini dengan satu perkara kebaikan (sunnah), maka ia seperti orang yang menunaikan ibadah fardhu di bulan lainnya. Dan barangsiapa yang menunaikan ibadah fardhu di bulan ini, maka ia seperti orang yang menunaikan tujuh puluh ibadah fardhu di bulan lainnya.” (hlm. 58)

Konsep taqarrub di sini berlaku untuk segala bentuk ibadah nawafil (sunnah), baik berupa sedekah, tilawah Al-Quran, hingga melaksanakan iktikaf di sepuluh malam terakhir. Lebih lanjut, Rasulullah ﷺ menyebut Ramadhan sebagai syahru ash-shabr (bulan kesabaran). Kesabaran menahan hawa nafsu memiliki balasan yang tunggal, yaitu surga.

Dua pasang tangan berbagi piring kecil berisi kurma dan segelas susu di atas meja kayu saat waktu berbuka puasa.
Momen berbagi ifthar (buka puasa) sebagai wujud dari syahru al-muwasaah (bulan empati).

Ramadhan juga disebut sebagai syahru al-muwasaah (bulan empati/berbagi). Rasa lapar yang mendera hamba yang berpuasa semestinya melembutkan hati untuk memperhatikan fakir miskin. Wujud nyata dari muwasaah ini adalah anjuran kuat untuk memberikan hidangan berbuka puasa.

Rasulullah ﷺ menjanjikan bahwa orang yang memberi buka puasa akan mendapatkan pahala memerdekakan budak dan ampunan atas dosa-dosanya, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun. Bahkan, anugerah ini tetap diberikan oleh Allah walau seseorang hanya mampu memberi buka dengan seteguk susu bercampur air (madzqati labanin), seteguk air, atau sebutir kurma.

Pembagian 3 Fase Ramadhan

Salah satu inti sari paling masyhur dari hadits Salman Al-Farisi adalah pembagian bulan Ramadhan menjadi tiga fase spiritual. Setiap sepuluh hari memiliki karakteristik curahan rahmat Ilahi yang berbeda, yang menuntut seorang salik untuk terus meningkatkan kualitas ibadahnya.

Teks rujukan (hlm. 58) merekam sabda Nabi ﷺ:

«وهو شهر أوله رحمة، وأوسطه مغفرة، وآخره عتقٌ من النار»

“Ia adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.”

Untuk mempermudah pemahaman mengenai pembagian hāl spiritual ini, berikut adalah tabel rincian dari ketiga fase tersebut:

Fase Bulan RamadhanKarakteristik IlahiahKeterangan Berdasarkan Hadits
Sepertiga PertamaAwwaluhu Rahmatun (Rahmat)Kasih sayang Allah turun melimpah menyambut hamba-hamba-Nya yang bersedia menunaikan kewajiban puasa di awal bulan.
Sepertiga KeduaAwsathuhu Maghfiratun (Ampunan)Allah membersihkan noda-noda dosa hamba-Nya yang menjalankan puasa dengan penuh ikhlāṣ dan kesabaran.
Sepertiga KetigaAkhiruhu ‘Itqun minan Naar (Pembebasan Neraka)Puncak dari ibadah puasa, di mana Allah menetapkan kebebasan mutlak dari siksa neraka bagi hamba yang diterima amalannya.

Fase-fase ini bermakna bahwa rahmat Allah turun terlebih dahulu untuk melembutkan hati hamba. Setelah hati menjadi lembut dan penuh ketaatan, Allah menurunkan ampunan-Nya (maghfirah). Ketika hamba tersebut telah bersih dari dosa, ia pantas menerima anugerah terbesar, yaitu pembebasan dari api neraka.

4 Perkara yang Dianjurkan Diperbanyak di Bulan Ramadhan

Foto close-up tangan seseorang yang sedang memegang dan menghitung tasbih kayu saat berzikir.
Memperbanyak zikir dan istighfar adalah salah satu wasiat utama Nabi dalam menyambut Ramadhan.

Sebagai bentuk bimbingan amal, Rasulullah ﷺ menutup khutbah Sya’ban ini dengan sebuah wasiat praktis. Beliau memerintahkan umatnya untuk memperbanyak empat perkara atau sifat (khishal) selama menjalani ibadah puasa.

Teks asli dari wasiat ini berbunyi:

«فاستكثروا فيه من أربع خصال: خصلتين تُرضُون بهما ربكم، وخصلتين لا غِنَى لكم عنهما»

“Maka perbanyaklah oleh kalian di bulan ini empat perkara: dua perkara yang dengannya kalian membuat rida Tuhan kalian, dan dua perkara yang kalian tidak akan pernah bisa lepas dari membutuhkannya.” (hlm. 58)

Empat perkara tersebut terbagi menjadi dua kelompok:

Dua Perkara untuk Meraih Rida Allah:

  1. Membaca Syahadat (Syahadatu an Laa ilaha illallah): Memperbarui iman dan menetapkan ketauhidan murni di dalam hati. Kalimat ini adalah fondasi keselamatan.
  2. Memperbanyak Istighfar: Memohon ampunan secara terus-menerus, merealisasikan sikap Tawbah Naṣūḥā atas segala kekhilafan masa lalu.

Dua Perkara yang Mutlak Dibutuhkan Hamba:

  1. Memohon Surga: Meminta anugerah jannah sebagai tempat kembali yang abadi. Hal ini wujud dari sifat butuh dan fakir (iftiqar) seorang hamba di hadapan kebesaran Allah.
  2. Berlindung dari Api Neraka: Meminta penjagaan dari siksa neraka, mengamalkan sikap khawf (rasa takut) yang sejajar dengan sikap raja’ (harap) dalam kaidah tasawuf.

Kesimpulan

Seorang wanita Muslimah berhijab duduk di atas sajadah dengan tangan diangkat berdoa, disinari cahaya lembut dari atas.
Seorang hamba memanjatkan doa, memohon rahmat dan ampunan Allah di bulan Ramadhan.

Melalui khutbah yang diriwayatkan dalam hadits Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu ini, Rasulullah ﷺ telah meletakkan kerangka amaliah yang sangat utuh bagi umatnya. Seorang hamba dituntut untuk menjaga syariat puasanya, berempati kepada sesama melalui hidangan berbuka, dan menghidupkan malam-malamnya dengan zikir serta munajat (syahadat, istighfar, memohon surga, dan berlindung dari neraka). Dengan meniti ketiga fase spiritual tersebut—dari rahmat menuju ampunan—diharapkan seorang Muslim dapat keluar dari bulan suci Ramadhan dengan status agung sebagai hamba yang merdeka dari siksa api neraka.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Siapa sahabat yang meriwayatkan khutbah Nabi tentang keutamaan Ramadhan pada hari terakhir bulan Sya’ban?

Khutbah tersebut diriwayatkan oleh sahabat mulia Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana tercantum secara lengkap dengan sanadnya dalam kitab Kanzun Najah was Surur halaman 58.

Berapa perbandingan pahala ibadah sunnah dan fardhu di bulan Ramadhan berdasarkan riwayat tersebut?

Mengerjakan satu amalan kebaikan (sunnah) di bulan Ramadhan pahalanya disetarakan dengan menunaikan ibadah fardhu di luar Ramadhan. Sedangkan menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadhan pahalanya dilipatgandakan menjadi sama dengan menunaikan tujuh puluh ibadah fardhu di luar bulan suci tersebut.

Apa saja empat perkara yang diwasiatkan Nabi untuk diperbanyak selama bulan puasa?

Empat perkara yang wajib diperbanyak itu adalah:
(1) Bersyahadat Laa ilaha illallah, (2) Memperbanyak istighfar kepada Allah, (3) Memohon dimasukkan ke dalam surga, dan (4) Meminta perlindungan dari api neraka.

Mengapa Ramadhan disebut sebagai bulan Muwasah?

Ramadhan disebut bulan muwasah (empati/berbagi) karena di bulan ini seorang mukmin sangat dianjurkan untuk saling membantu dan berbagi rezeki, salah satunya dengan cara memberikan hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa (iftar), walau hanya dengan sebutir kurma atau seteguk air.

Al-Khaṭīb, ‘Abd al-Ḥamīd bin Muḥammad ‘Alī Quds bin ‘Abd al-Qādir. Kanz al-Najāḥ wa al-Surūr fī al-Ad‘iyah allatī Tashraḥ al-Ṣudūr.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.