Banyak dari kita sering merasa doa-doa yang dipanjatkan seperti tertahan di langit. Atau mungkin, beban hidup terasa begitu menumpuk hingga bingung harus mulai meminta dari mana kepada Allah. Tahukah Anda, ada satu amalan ringan yang sering kita remehkan, padahal efeknya luar biasa untuk membuka pintu langit? Amalan itu adalah shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Dalam khazanah kitab kuning, Imam Ibnu Hajar Al-Haytami dalam kitabnya yang fenomenal, Al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir, menutup tulisannya dengan bab khusus yang membahas kumpulan hadis shahih dan hasan tentang dahsyatnya bershalawat.
Kita tidak sedang bicara soal teori kosong. Ini adalah janji Nabi yang dicatat oleh para ulama terpercaya. Mari kita bedah apa saja keuntungan besar yang menanti orang-orang yang rajin membasahi lisannya dengan shalawat.
Matematika Langit: Satu Berbalas Sepuluh
Konsep dasar yang perlu kita pegang erat adalah “matematika langit” dalam bershalawat. Jika Anda memberi satu, Allah membalas sepuluh. Ini bukan sekadar metafora, tapi teks hadis yang jelas.
Imam Ibnu Hajar mengutip sabda Nabi ﷺ:
من صلى علي واحدة صلى الله عليه عشرا
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali.”
Bayangkan, ketika Allah bershalawat kepada hamba-Nya, itu berarti Allah menurunkan rahmat, kasih sayang, dan ampunan. Satu kali kita ingat Nabi, sepuluh kali Allah “menyapa” kita dengan kasih sayang-Nya.
Lebih jauh lagi, dalam riwayat lain disebutkan paket lengkap yang akan didapat:
- Mendapat sepuluh rahmat.
- Dihapus sepuluh dosa/keburukan.
- Diangkat sepuluh derajat.
Jadi, bagi Anda yang merasa dosa menumpuk atau karier dan hidup terasa jalan di tempat, rutin membaca shalawat bisa menjadi tangga spiritual untuk naik kelas.
Rahasia Doa Ubay bin Ka’ab: Solusi Kegalauan Hidup
Pernahkah Anda bingung membagi waktu doa? Berapa persen untuk minta rezeki, berapa persen untuk minta jodoh, dan berapa persen untuk memuji Allah? Sahabat Ubay bin Ka’ab pernah menanyakan hal ini kepada Rasulullah. Percakapan ini adalah kunci bagi siapa saja yang ingin masalah hidupnya beres tanpa perlu merinci satu per satu dalam doa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرَ لَكَ ذَنْبُكَ
“Jika demikian (kau jadikan seluruh waktu doamu untuk bershalawat), maka akan dicukupkan apa yang menjadi kegelisahanmu (urusan dunia) dan akan diampuni dosamu (urusan akhirat).”
Konteks hadis ini sangat menarik. Ubay bertanya, “Bolehkan saya jadikan semua jatah doa saya hanya untuk bershalawat kepadamu?” Nabi menjawab bahwa itu adalah pilihan terbaik.
Logikanya sederhana: Shalawat adalah doa yang pasti diterima. Ketika kita sibuk mendoakan Kekasih Allah (Nabi Muhammad), Allah yang akan mengurus keperluan kita. Kita tidak perlu lagi pusing memikirkan “bagaimana cara membayar hutang” atau “bagaimana mendapat pekerjaan”, karena Allah akan mencukupkan apa yang menjadi beban pikiran kita.
Jasad Nabi Utuh dan Menjawab Salam Kita
Ada anggapan keliru bahwa hubungan kita dengan Nabi terputus setelah beliau wafat. Padahal, dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah, para Nabi itu hidup di alam kubur mereka.
Imam Ibnu Hajar menukil hadis yang menjelaskan bahwa shalawat kita itu “sampai” dan “didengar”.
إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”
Setiap kali kita mengucapkan salam, misalnya “Assalamu’alaika ya Rasulullah”, Allah mengembalikan kemampuan ruh Nabi untuk menjawab salam tersebut. Bahkan, ada malaikat khusus yang bertugas seperti kurir cepat. Malaikat ini berkeliling mencari orang yang bershalawat, lalu menyampaikannya kepada Nabi lengkap dengan nama kita dan nama ayah kita: “Wahai Muhammad, ini Fulan bin Fulan baru saja bershalawat kepadamu.”
Bayangkan nama Anda disebut di hadapan manusia paling mulia. Tidakkah itu membuat hati bergetar?
Keistimewaan Hari Jumat
Meski shalawat bisa dibaca kapan saja, hari Jumat punya frekuensi khusus. Nabi meminta kita memperbanyak shalawat di hari ini.
Mengapa Jumat? Karena hari itu adalah “Hari Raya” pekanan malaikat dan manusia. Amal kita disodorkan secara langsung kepada Nabi di hari Jumat. Semakin banyak setoran shalawat kita, semakin Nabi mengenal kita.
Dalam riwayat At-Tabrani disebutkan:
“Barang siapa bershalawat kepadaku 100 kali, Allah menetapkan baginya kebebasan dari kemunafikan dan kebebasan dari neraka.”
Tabel Ringkasan Fadhilah Shalawat
Agar lebih mudah memahami “imbalan” dari setiap amalan shalawat yang disebutkan Ibnu Hajar Al-Haytami, berikut tabel ringkasannya:
| Jumlah / Kondisi Shalawat | Keutamaan & Balasan dari Allah |
| 1 Kali | 10 Rahmat, Hapus 10 Dosa, Naik 10 Derajat. |
| 100 Kali | Bebas dari sifat munafik, bebas dari api neraka, berkumpul bersama syuhada. |
| Mendengar Adzan & Minta Wasilah | Halal (pasti) mendapatkan Syafaat Nabi di hari kiamat. |
| Menjadikan Seluruh Doa untuk Shalawat | Dicukupkan urusan dunia (beban hidup hilang) dan diampuni dosa akhirat. |
| Sebagai Pengganti Sedekah | Bagi yang tidak punya harta, shalawat dinilai sebagai zakat/penuci harta. |
Shalawat Sebagai “Mata Uang” Bagi yang Tidak Punya Harta

Islam adalah agama yang adil. Orang kaya bisa bersedekah dengan uang, lalu bagaimana dengan yang kondisi ekonominya pas-pasan? Apakah mereka kalah start dalam beramal?
Ternyata tidak. Ibnu Hajar mencantumkan hadis bagi mereka yang tidak memiliki uang untuk sedekah:
أَيُّمَا رَجُلٍ مُسْلِمٍ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ صَدَقَةٌ فَلْيَقُلْ فِي دُعَائِهِ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ وَصَلِّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَإِنَّهَا زَكَاةٌ
“Siapa saja laki-laki muslim yang tidak memiliki (harta untuk) bersedekah, hendaklah ia mengucapkan dalam doanya:
‘Allahumma sholli ‘ala Muhammadin ‘abdika wa rasulika, wa sholli ‘alal mu’minina wal mu’minati wal muslimina wal muslimat.’
(Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad hamba-Mu dan utusan-Mu, dan limpahkanlah shalawat kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, serta orang-orang muslim laki-laki dan perempuan)
…karena sesungguhnya ucapan itu adalah zakat (penyuci jiwa/pengganti sedekah) baginya.”
Ini menjadi kabar gembira bahwa pintu kebaikan tidak melulu dibuka dengan kunci materi, tapi bisa dibuka dengan ketulusan cinta kepada Nabi.
Menjadi Orang Terdekat di Hari Kiamat
Pada hari Kiamat, semua orang akan ketakutan dan mencari perlindungan. Posisi paling aman adalah berada di dekat Rasulullah ﷺ. Siapa yang berhak duduk di dekat beliau? Bukan orang yang paling kaya, bukan pula pejabat.
“Manusia yang paling utama (dekat) bersamaku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”
Jadi, memperbanyak shalawat sama dengan “membooking” kursi VIP di hari pembalasan nanti.
FAQ: Pertanyaan Sering Diajukan tentang Shalawat
Apakah boleh bershalawat tanpa wudhu?
Boleh. Shalawat adalah dzikir, dan dzikir diperbolehkan dalam keadaan hadas kecil maupun besar (kecuali sedang di tempat kotor seperti toilet). Namun, tentu lebih utama jika dalam keadaan suci.
Apa bacaan shalawat yang paling ringkas?
Bacaan paling pendek dan sah adalah “Shallallahu ‘ala Muhammad” atau “Allahumma sholli ‘ala Muhammad”. Anda bisa membacanya sambil berjalan, bekerja, atau menyetir.
Apa maksud shalawat bisa mengabulkan hajat?
Sesuai hadis Ubay bin Ka’ab, ketika seseorang fokus bershalawat, Allah akan “mencukupkan apa yang menjadi kegelisahanmu”. Artinya, hajat dan kebutuhan hidupnya akan diurus oleh Allah sebagai balasan atas prioritasnya mendoakan Nabi.
Apakah ada shalawat khusus yang pahalanya besar?
Dalam kitab rujukan artikel di atas disebutkan redaksi dari riwayat At-Tabrani: “Jazallahu ‘anna Muhammadan ma huwa ahluh” (Semoga Allah membalas Muhammad untuk kami dengan balasan yang pantas baginya). Hadis menyebutkan ini membuat lelah 70 malaikat pencatat selama 1000 hari karena banyaknya pahala.
Penutup
Membaca penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Haytami di atas menyadarkan kita bahwa shalawat bukan sekadar bacaan ritual. Ia adalah solusi, obat hati, dan investasi masa depan yang paling menjanjikan.
Jangan tunggu waktu luang untuk bershalawat, tapi luangkanlah waktu. Mulailah dari yang ringan, 10 kali pagi dan 10 kali sore, lalu tingkatkan perlahan. Semoga kita semua termasuk umat yang namanya sering disebut di hadapan Rasulullah ﷺ dan mendapat syafaatnya kelak. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.
Referensi
al-Haitamī, Aḥmad bin Muḥammad bin ‘Alī bin Ḥajar. al-Zawājir ‘an Iqtirāf al-Kabā’ir. 2 jilid. Beirut: Dār al-Fikr, 1987.




