Ibadah i’tikaf merupakan amaliah agung untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Kesempatan meraih keutamaan ini tidak hanya terbatas bagi kaum laki-laki, melainkan juga terbuka lebar bagi para muslimah. Kendati demikian, syariat Islam memberikan beberapa dhawabith (batasan) dan aturan khusus bagi kaum hawa demi menjaga kehormatan serta kelancaran pelaksanaan hak-hak rumah tangga.
Tulisan ini akan menguraikan secara rinci syarat i’tikaf bagi wanita, bersandar penuh pada literatur fiqih mu’tamad, yakni kitab Asna al-Matalib Syarh Rawdh ath-Thalib karya Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari. Kajian ini merupakan bagian integral dari Panduan Lengkap Fiqih I’tikaf Menurut Madzhab Syafi’i.
Syarat Sah I’tikaf Bagi Wanita
Pada dasarnya, kaum wanita memiliki keabsahan yang sama dengan laki-laki dalam menunaikan ibadah i’tikaf, selama memenuhi kriteria umum seperti beragama Islam, berakal sehat, dan suci dari hadats besar. Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari menegaskan:
ูููู: (ููุตุญ ู ู ุงูู ู ูุฒ ูุงูุนุจุฏ ูุงูู ุฑุฃุฉ) ูุตูุงู ูู
Artinya: “Maka sah i’tikaf dari seorang anak mumayyiz, budak, dan wanita, sebagaimana sahnya ibadah puasa mereka.”
Ketentuan umum tentang rukun ibadah ini dapat Anda pelajari lebih lanjut pada tautan Syarat Sah dan Rukun I’tikaf Secara Rinci. Namun, bagi seorang wanita yang telah bersuami, terdapat hukum tambahan yang bersifat mutlak, yakni kewajiban mendapatkan izin.
Kewajiban Meminta Izin Suami

Seorang istri tidak diperkenankan melangkah ke masjid untuk beri’tikaf tanpa mengantongi ridha dan izin dari suaminya. Tindakan tersebut dinilai melanggar syariat dan dihukumi haram.
ูููู: (ููุญุฑู ) ุงุนุชูุงู ุงูุนุจุฏ ูุงูู ุฑุฃุฉ (ุจุบูุฑ ุฅุฐู ุงูุณูุฏ ูุงูุฒูุฌ) ูุฃู ู ููุนุฉ ุงูุนุจุฏ ู ุณุชุญูุฉ ูุณูุฏู ูุงูุชู ุชุน ู ุณุชุญู ููุฒูุฌ ููุฃู ุญููู ุง ุนูู ุงูููุฑ ุจุฎูุงู ุงูุงุนุชูุงู
Artinya: “Dan diharamkan i’tikaf seorang budak dan wanita (istri) tanpa izin dari sayyid dan suaminya. Hal ini karena manfaat budak adalah hak milik sayyidnya, dan hak bersenang-senang (istimta’) adalah hak suami, dan karena hak keduanya bersifat faur (segera/harus didahulukan), berbeda halnya dengan ibadah i’tikaf.”
Bahkan, andaikan seorang suami telah memberikan izin untuk melaksanakan i’tikaf sunnah, ia tetap memiliki hak penuh untuk meminta istrinya pulang dan membatalkan i’tikaf tersebut di pertengahan waktu.
ูููู: (ูููู ุง) ุงูุฃููู ูููู ุง (ุฅุฎุฑุงุฌูู ุง ู ู ุงูุชุทูุน) ูุฅู ุงุนุชููุง ุจุฅุฐููู ุง ูู ุง ู ุฑ ููุฃูู ูุง ููุฒู ุจุงูุดุฑูุน
Artinya: “Maka bagi keduanya (suami dan majikan)โyang lebih tepat adalah redaksi wa lahuma (dan bagi keduanya)โberhak mengeluarkan mereka berdua dari i’tikaf sunnah (tathawwu’), meskipun mereka beri’tikaf dengan izinnya. Hal ini berdasarkan alasan yang telah lalu, dan karena i’tikaf sunnah tidak menjadi wajib sekadar karena telah dimulai (syuru’).”
Menjawab Hukum I’tikaf Wanita di Rumah

Salah satu persoalan fiqih yang paling sering ditanyakan adalah perihal hukum i’tikaf wanita di rumah. Banyak muslimah yang berasumsi bahwa demi menjaga diri dari fitnah, mereka cukup menetap di mushalla (ruang khusus shalat) yang ada di dalam rumah pribadi.
Bagaimana pandangan fiqih madzhab Syafi’i terkait hal ini? Teks Asna al-Matalib memberikan jawaban yang sangat tegas:
ูููู: (ููุง ูุฌุฒุฆ ุงูู ุฑุฃุฉ) ุงุนุชูุงููุง (ูู ู ุตูู ุจูุชูุง) ูุฃูู ููุณ ุจู ุณุฌุฏ ููู ูุบูุฑูุง
Artinya: “Dan tidak sah bagi seorang wanita i’tikafnya di mushalla rumahnya, karena tempat tersebut bukanlah masjid. Maka ia dihukumi sama seperti yang lainnya (harus di masjid).”
Hukum ini menutup perdebatan terkait i’tikaf wanita di rumah. Ruang shalat di dalam rumah tidak memiliki status waqaf masjid, sehingga syarat rukun berdiam di dalam masjid tidak terpenuhi. Jika seorang wanita ingin beri’tikaf, ia harus datang ke masjid yang sah secara syar’i.
Aturan Bagi Wanita Dzawatul Hai’ah (Menarik Perhatian)
Meskipun diperbolehkan datang ke masjid, syariat memberikan catatan etika yang luhur bagi muslimah. Bagi wanita kategori dzawatul hai’ahโyakni wanita yang penampilannya dapat memicu perhatian laki-lakiโterdapat hukum kemakruhan jika ia memaksakan diri beri’tikaf di masjid yang dipadati jamaah laki-laki.
ูููู: (ููู ููุฑู ูุฐูุงุช ุงูููุฆุฉ) ูู ุง ูู ุฎุฑูุฌูู ููุฌู ุงุนุฉ
Artinya: “Akan tetapi, dimakruhkan (i’tikaf) bagi wanita dzawatul hai’ah, sebagaimana dimakruhkannya mereka keluar untuk menghadiri shalat berjamaah.”
Hal ini bermuara pada prinsip sad adz-dzari’ah (menutup jalan keburukan). Apabila kehadirannya berisiko mendatangkan madharat, maka beribadah di rumah (meski bukan berstatus i’tikaf) jauh lebih utama baginya. Kajian seputar etika di dalam masjid dapat dibaca pada artikel Adab I’tikaf: Makan, Tidur, dan Hal Makruh di Masjid.
Hukum I’tikaf Bagi Wanita Istihadhah dan Haid

Kondisi biologis wanita, seperti siklus haid dan penyakit istihadhah, turut menentukan sah atau batalnya ibadah ini.
1. Wanita Istihadhah (Darah Penyakit)
Istihadhah (darah yang keluar di luar siklus haid) berstatus hadats kecil, sehingga penderitanya tidak dilarang masuk ke masjid. Seorang wanita istihadhah diperbolehkan melaksanakan i’tikaf, dengan syarat ketat ia harus membalut dirinya secara rapat agar darah tidak menetes dan menodai kesucian lantai masjid.
Syaikhul Islam membawakan dalil hadits riwayat Imam Bukhari:
ููุฏู ูู ู ุง ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู ยซุฃู ุจุนุถ ูุณุงุก ุงููุจู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ุงุนุชููุช ู ุนู ููุงูุช ู ุณุชุญุงุถุฉยป ูุฑุจู ุง ูุถุนุช ุงูุทุณุช ุชุญุชูุง ููู ุชุตูู
Artinya: “Dan hal ini ditunjukkan oleh riwayat Al-Bukhari: ‘Bahwa sebagian istri Nabi ๏ทบ beri’tikaf bersama beliau dalam keadaan istihadhah.’ Maka terkadang ia meletakkan thast (wadah tembaga) di bawahnya saat ia sedang shalat.”
2. Datangnya Haid di Tengah I’tikaf
Berbeda dengan istihadhah, darah haid dan nifas merupakan hadats besar. Wanita yang sedang haid diharamkan berdiam di dalam masjid, yang secara otomatis menjadikan i’tikafnya batal.
ููุง ุงุนุชูุงู ุงูุฌูุจ ูุงูุญุงุฆุถ ูุงูููุณุงุก ูุญุฑู ุฉ ุงูู ูุซ ูู ุงูู ุณุฌุฏ ุนูููู
Artinya: “Dan tidak sah i’tikaf orang yang junub, wanita haid, dan nifas, karena haram bagi mereka berdiam diri (al-makts) di dalam masjid.”
Jika darah haid keluar di tengah pelaksanaan i’tikaf yang mengharuskan tatabbu’ (berturut-turut), apakah ia wajib mengulangnya dari awal? Fiqih Syafi’i memberikan perincian yang adil:
ูุฑุน: (ุงูุงุนุชูุงู ุฅู ูู ูุณุนู ุงูุทูุฑ) ู ู ุงูุญูุถ ุจุฃู ุทุงูุช ู ุฏุฉ ุงูุงุนุชูุงู ุจุญูุซ ูุง ุชููู ุนู ุงูุญูุถ ุบุงูุจุง ูุงู ุงูุจุบูู ูุงููููู ูุฃู ุฒุงุฏุช ุนูู ุฎู ุณุฉ ุนุดุฑ ููู ุง (ูู ููุทุน ุงูุญูุถ ุชุชุงุจุนู)… (ูุฅูุง) ุฃู ูุฅู ูุณุนู ุงูุทูุฑ (ูุทุนู)
Artinya: “Cabang Masalah: Apabila masa i’tikaf tersebut tidak menampung masa suci dari haidโyakni durasi i’tikafnya sangat panjang sehingga secara galib tidak mungkin terlepas dari siklus haid (seperti bernadzar i’tikaf lebih dari lima belas hari)โmaka datangnya haid tidak memutus kelangsungan (tatabbu’) i’tikaf tersebut. Sebaliknya, jika masa i’tikaf itu mencukupi untuk masa suci, maka datangnya haid memutus kelangsungannya.”
Untuk mendalami aturan terkait perkara yang memutus ibadah, Anda dapat membaca uraian Yang Membatalkan I’tikaf dan Hukum Keluar Masjid.
Tabel Ringkasan Fiqih I’tikaf Wanita
| Aspek Pembahasan | Status Hukum Fiqih Syafi’i | Keterangan Khusus |
| I’tikaf di Rumah | Tidak Sah | Wajib dilaksanakan di dalam bangunan masjid resmi (wakaf). |
| Izin Suami | Wajib Mutlak | Suami berhak membatalkan i’tikaf sunnah istrinya kapan saja. |
| Wanita Dzawatul Hai’ah | Makruh | Makruh hadir di masjid yang berpotensi memicu fitnah pandangan. |
| Wanita Istihadhah | Mubah (Boleh) | Wajib menjaga agar darah sama sekali tidak menetes ke lantai. |
| Wanita Haid/Nifas | Haram & Batal | Diharamkan berdiam di masjid; memutus tatabbu’ i’tikaf normal. |
Tanya Jawab (FAQ) Fiqih I’tikaf Muslimah
Apa hukum i’tikaf wanita di rumah menurut madzhab Syafi’i?
Hukumnya tidak sah. Ibadah i’tikaf mensyaratkan status waqaf masjid pada bangunannya. Mushalla atau ruang shalat pribadi di dalam rumah, umumnya tidak memenuhi kriteria syar’i ini.
Bolehkah seorang istri pergi i’tikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan jika suami tidak mengizinkan?
Tidak diperbolehkan. Taat kepada suami dalam perkara mubah merupakan kewajiban yang berstatus faur (harus didahulukan). Meninggalkan kewajiban demi mengejar amalan sunnah adalah sebuah kekeliruan dalam prioritas fiqih.
Bagaimana jika seorang wanita bernadzar i’tikaf 3 hari berturut-turut, lalu di hari kedua ia kedatangan haid?
Haid tersebut membatalkan kelangsungan (tatabbu’) i’tikafnya. Karena durasi 3 hari masih memungkinkan untuk diselesaikan dalam masa suci, ia wajib keluar dari masjid saat haid, dan kelak setelah suci ia wajib mengulang i’tikafnya dari awal selama 3 hari berturut-turut untuk memenuhi nadzarnya.
Referensi:
al-Anแนฃฤrฤซ, Zakariyฤ. Asnฤ al-Maแนญฤlib fฤซ Sharแธฅ Rawแธ al-แนฌฤlib. Dengan แธฅฤsyiyah Aแธฅmad al-Ramlฤซ. Disunting oleh Muแธฅammad az-Zuhrฤซ al-Ghamrฤwฤซ. Kairo: al-Maแนญbaสฟah al-Maymฤnฤซyah, 1313 H. Dicetak ulang oleh Dฤr al-Kitฤb al-Islฤmฤซ.




