Hukum Menyingkat SAW: Penjelasan Kitab Syarah Shahih Al-Bukhari tentang Adab Menulis Shalawat

Pernahkah Anda merasa terburu-buru saat mencatat kajian atau membalas pesan WhatsApp, sehingga menyingkat shalawat kepada Nabi Muhammad menjadi SAW, SAS, atau sekadar S.A.W? Kebiasaan ini terlihat sepele dan sudah lumrah di kalangan masyarakat kita. Alasannya sederhana: agar cepat dan hemat karakter.

Namun, tahukah Anda bahwa para ulama terdahulu memberikan perhatian sangat serius soal ini? Bahkan, ada teguran keras bagi mereka yang malas menuliskan Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh.

Salah satu referensi menarik yang membahas hal ini adalah kitab Syarah Shahih Al-Bukhari karya Imam As-Safiri. Beliau menukil nasihat dari Ibnu Ash-Shalah, seorang pakar hadits kenamaan, mengenai bahaya dan kerugian menyingkat lafaz shalawat. Mari kita bedah bersama apa kata para ulama tentang fenomena singkatan ini dan bagaimana seharusnya kita bersikap.

Nasihat Tegas dari Imam As-Safiri

Dalam kitabnya, Imam As-Safiri memberikan peringatan yang cukup menohok bagi para penuntut ilmu dan penulis yang gemar menyingkat shalawat. Istilah yang beliau gunakan untuk singkatan di masa itu adalah “Shal’am” (gabungan huruf awal), yang jika ditarik ke zaman sekarang setara dengan penggunaan “SAW”.

Berikut adalah redaksi asli dari kitab tersebut:

وكما قال ابن الصلاح ينبغي أن يحافظ على كتابة الصلاة والسلام على رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عند ذكره، ولا يسأم من تكرير ذلك عند تكرره، فإن ذلك من أكبر الفوائد التي يتعجلها طلبة الحديث وكتبته، ومن أغفل ذلك مرة حرم حظا عظيما. ويتجنب أن يكتب «صلعم» مكان – صلى الله عليه وسلم – كما يفعله الكسالى والجهلة وعوام الطلبة، يأخذون من كل كلمة حرفا الصاد من صلي، واللام من الله، والعين من عليه، والميم من وسلم، ويجمعونها «صلعم» .

Terjemahan dan Inti Pesan:

“Dan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ash-Shalah: Hendaknya seseorang menjaga (konsisten) dalam penulisan shalawat dan salam atas Rasulullah ﷺ ketika menyebut nama beliau. Dan janganlah merasa bosan untuk mengulang-ulang (tulisan) itu ketika nama beliau disebut berulang kali.

Karena sesungguhnya hal itu termasuk faedah terbesar yang segera didapatkan oleh para penuntut ilmu hadits dan para penulisnya. Barangsiapa yang melalaikan hal itu sekali saja, maka ia terhalang dari keberuntungan yang agung.

Dan hendaknya ia menjauhi penulisan singkatan “Shal’am” (صلعم) sebagai pengganti kalimat Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang malas, orang-orang bodoh, dan pelajar-pelajar awam. Mereka mengambil satu huruf dari setiap kata: Huruf Shad dari kata Shalla, Lam dari Allah, ‘Ain dari ‘Alaihi, dan Mim dari Wa Sallam, lalu mereka menggabungkannya menjadi ‘Shal’am’.” (Syarah Shahih Al-Bukhari li As-Safiri, Juz 1, Hal 80)

Fenomena “Shal’am” dan Singkatan SAW

Mungkin istilah “Shal’am” terdengar asing di telinga kita. Dulu, para penyalin naskah Arab sering menyingkat (ص ل ع م) untuk mempercepat pekerjaan mereka. Di Indonesia, kita mengenalnya dengan SAW. Meskipun bentuknya beda, esensinya sama: menyingkat doa.

Kenapa Disebut Perilaku Orang Malas?

Imam As-Safiri menggunakan kata-kata yang cukup keras, yaitu Al-Kasala (orang-orang malas) dan Al-Jahalah (orang-orang bodoh). Kenapa sampai disebut demikian?

Sebab, menulis shalawat adalah bentuk doa. Bayangkan kita sedang mendoakan orang tua atau orang terkasih, apakah sopan jika kita menyingkat doanya menjadi kode-kode huruf saja? Tentu rasanya kurang pantas. Begitu juga adab kita kepada Rasulullah. Rasa malas menggerakkan jari untuk mengetik beberapa huruf tambahan membuat kita kehilangan makna doa tersebut.

Kehilangan “Keberuntungan yang Agung”

Poin yang sering luput dari perhatian kita adalah efek spiritualnya. Ibnu Ash-Shalah menyebutkan bahwa menulis shalawat lengkap adalah “faedah terbesar yang disegerakan”.

Para ulama meyakini, selama tulisan shalawat itu masih ada di kertas, buku, atau bahkan postingan blog dan media sosial, malaikat akan terus memohonkan ampun bagi penulisnya. Jika kita menyingkatnya jadi SAW, lafaz itu bukan lagi kalimat doa yang utuh. Kita jadi kehilangan mesin pahala otomatis yang seharusnya terus mengalir. Sayang sekali, bukan?

Adab Menulis Nama Nabi di Media Sosial

Seseorang sedang mengetik postingan di smartphone, menambahkan simbol emas ﷺ dan teks latin 'Shallallahu 'alaihi wa sallam' setelah nama Nabi Muhammad. Latar belakang menunjukkan meja kayu dengan pena bulu, gelas teh, dan kitab terbuka, menggabungkan nuansa modern dan tradisional.
Menerapkan adab di era digital: Contoh penulisan status media sosial yang baik adalah dengan tetap menyertakan shalawat lengkap atau menggunakan fitur simbol ﷺ, alih-alih hanya menyingkatnya. Gambar by Gemini

Sekarang kita hidup di zaman serba cepat. Orang ingin mengetik pesan secepat kilat. Tapi, untuk urusan nama Nabi, sebaiknya kita “ngerem” sedikit.

Berikut beberapa tips agar tulisan kita lebih berkah dan sesuai adab:

  1. Tulis Lengkap Latinnya: Ketik Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang agak panjang, tapi hitung-hitung melatih jari kita bershalawat.
  2. Gunakan Fitur Autotext: Di HP Android atau iPhone, Anda bisa membuat shortcut. Misalnya, jika Anda ketik “saw”, sistem otomatis mengubahnya menjadi tulisan Arab atau latin lengkapnya. Ini solusi cerdas: cepat tapi tetap beradab.
  3. Jangan Bosan: Meskipun dalam satu artikel atau caption nama Nabi muncul 10 kali, tetaplah tulis lengkap atau gunakan simbol ﷺ. Jangan merasa repetitif, karena setiap pengulangan adalah doa baru.

Perbandingan: Tulisan yang Dianjurkan vs Dihindari

Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat tabel perbandingan berikut. Ini bisa jadi panduan Anda saat membuat konten atau menulis tugas.

Jenis TulisanContoh PenulisanStatus Hukum/AdabAlasan
Sangat Dianjurkanﷺ (Arab)UtamaLafaz asli, doa sempurna, ringkas secara visual tapi maknanya utuh.
DianjurkanShallallahu ‘alaihi wa sallamBaikDoa lengkap dalam transliterasi, mudah dibaca semua orang.
Dihindari (Makruh)SAW, SAS, S.A.WKurang BeradabMemotong doa, dianggap ciri orang malas (menurut As-Safiri).
Sangat Dihindari1000 SAW, Nabi SBurukMenghilangkan esensi penghormatan sama sekali.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Banyak pertanyaan muncul terkait teknis penulisan ini, terutama bagi penulis konten dan akademisi. Berikut rangkumannya:

Apakah dosa jika saya terlanjur menulis SAW?

Para ulama mayoritas menghukumi menyingkat shalawat sebagai Makruh (dibenci/sebaiknya ditinggalkan), bukan Haram yang berdosa besar. Namun, ini berkaitan dengan su’ul adab (adab yang buruk) kepada Nabi. Jika sudah terlanjur, niatkan untuk memperbaikinya di tulisan mendatang.

Bagaimana jika keterbatasan karakter di Twitter (X)?

Jika ruang sangat terbatas, penggunaan simbol Arab satu karakter (ﷺ) adalah solusi terbaik karena dihitung satu karakter tapi terbaca sebagai satu kalimat utuh. Jika tidak bisa, lebih baik kurangi kata-kata lain yang kurang perlu daripada memotong shalawat.

Apakah tulisan “Shal’am” masih ada sampai sekarang?

Istilah “Shal’am” sudah jarang dipakai di Indonesia, tapi kebiasaan menyingkatnya berubah wujud menjadi SAW. Jadi, peringatan Imam As-Safiri tetap sangat relevan untuk konteks kita hari ini.

Langkah Kecil, Pahala Besar

Mengubah kebiasaan memang butuh usaha. Mungkin awalnya jari kita terasa kaku atau merasa “ribet” harus mengetik panjang lebar. Tapi ingatlah kata-kata Imam As-Safiri tadi: jangan sampai kita terhalang dari keberuntungan besar hanya karena malas mengetik beberapa detik lebih lama.

Mulai hari ini, mari kita biasakan menulis Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menggunakan simbol di setiap tulisan kita. Selain bentuk cinta kepada Nabi, ini adalah investasi pahala jangka panjang yang akan kita nikmati hasilnya nanti.

Semoga penjelasan dari kitab Syarah Shahih Al-Bukhari ini bermanfaat dan bisa kita amalkan bersama. Jangan lupa bagikan tulisan ini agar teman-teman Anda juga tahu ilmunya!

Al-Saffīrī, Syams al-Dīn Muḥammad bin ‘Umar bin Aḥmad. Al-Majālis al-Wa‘ẓiyyah fī Syarḥ Aḥādīts Khayr al-Bariyyah Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam min Ṣaḥīḥ al-Imām al-Bukhārī. Ditahkik dan ditakhrīj oleh Aḥmad Fatḥī ‘Abd al-Raḥmān. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1425 H/2004 M.

Belum ada Catatan Santri

  • Ruang Muzakarah (Diskusi)

    Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.