Dalam keseharian umat Islam, membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan rutinitas ibadah yang mulia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan umatnya untuk senantiasa berinteraksi dengan kitab suci ini. Praktik di tengah masyarakat kita menunjukkan banyaknya penggunaan buku yang menyertakan teks ayat bersanding dengan terjemahan bahasa Indonesia atau tulisan latin. Kondisi ini memunculkan satu cabang kajian fikih: bagaimana hukum menyentuh Al-Qur’an terjemahan saat hadats, baik hadats kecil karena batal wudhu maupun hadats besar seperti junub?
Ulama Mazhab Syafi’i telah meletakkan kaidah baku mengenai hukum menyentuh mushaf murni dan kitab tafsir. Jika sebuah buku berstatus mushaf, maka haram bagi orang yang berhadats untuk menyentuh dan membawanya.
Hal ini merupakan bentuk pemuliaan terhadap firman Allah. Untuk itu, seorang muslim wajib bersuci terlebih dahulu, baik dari hadats kecil maupun besar. Jika Anda sedang menanggung hadats besar, silakan pelajari panduan tata cara mandi wajib yang benar menurut Islam untuk mengembalikan kesucian. Namun, jika buku tersebut berstatus kitab tafsir, maka hukumnya halal atau boleh disentuh.
Tantangan muncul ketika kita menilai wujud Al-Qur’an terjemahan masa kini. Bentuk fisiknya meletakkan teks ayat utuh di bagian tengah, lalu terjemahan mengelilinginya di pinggir atau di sela-sela baris. Wujud ini menyerupai apa yang oleh ulama salaf disebut sebagai Mushaf Muhasysya (mushaf yang diberi catatan pinggir).
Kedudukan Mushaf Terjemahan dalam Pandangan Ulama Syafi’iyah
Untuk membedah persoalan ini, kita perlu merujuk pada literatur otoritatif (mu’tamad) dalam Mazhab Syafi’i. Terdapat perbedaan pandangan antara dua mahaguru fikih Syafi’iyah mutakhir, yakni Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Syamsuddin ar-Ramli. Keduanya menguraikan kriteria ketat untuk menentukan apakah sebuah cetakan dinilai sebagai mushaf murni atau kitab tafsir. Rujukan dasar perbedaan ini terekam dengan baik dalam kitab Tuhfatul Muhtaj juz 1 halaman 151.
Teks aslinya berbunyi:
ΩΩΩ Ψ§ΩΩΨ±Ψ―Ω Ω Ψ§ ΩΨ΅Ω ΩΨ§Ω Ψ§ΩΨ΄Ψ§Ψ±Ψ ΩΩ ΨΨ§Ψ΄ΩΨ© ΩΨͺΨ Ψ§ΩΨ¬ΩΨ§Ψ― ΩΩΨ³ Ω ΩΩ Ω Ψ΅ΨΩ ΨΨ΄Ω Ω Ω ΨͺΩΨ³ΩΨ± Ψ£Ω ΨͺΩΨ§Ψ³ΩΨ±Ψ ΩΨ₯Ω Ω ΩΨ¦Ψͺ ΨΩΨ§Ψ΄ΩΩ ΩΨ£Ψ¬ΩΨ§Ψ¨Ω ΩΩ Ψ§ Ψ¨ΩΩ Ψ³Ψ·ΩΨ±ΩΨ ΩΨ£ΩΩ ΩΨ§ ΩΨ³Ω Ω ΨͺΩΨ³ΩΨ±Ψ§ Ψ¨ΩΨ¬Ω Ψ¨Ω Ψ§Ψ³Ω Ψ§ΩΩ Ψ΅ΨΩ Ψ¨Ψ§Ω ΩΩ Ω ΨΉ Ψ°ΩΩ ΩΨΊΨ§ΩΨ© Ω Ψ§ ΩΩΨ§Ω ΩΩ Ω Ψ΅ΨΩ Ω ΨΨ΄Ω Ψ§ΩΩ. ΩΩΩ ΩΨͺΨ§ΩΩ Ψ§ΩΨ¬Ω Ψ§Ω Ψ§ΩΨ±Ω ΩΩ Ψ£ΩΩ ΩΨ§ΩΨͺΩΨ³ΩΨ± ΩΩΩ Ψ§ΩΨ₯ΩΨΉΨ§Ψ¨ Ψ§ΩΨΩΨ ΩΨ₯Ω ΩΩ ΩΨ³Ω ΩΨͺΨ§Ψ¨ ΨͺΩΨ³ΩΨ± Ψ£Ω ΩΨ΅Ψ― Ψ¨Ω Ψ§ΩΩΨ±Ψ’Ω ΩΨΨ―Ω Ψ£Ω ΨͺΩ ΩΨ² Ψ¨ΩΨΩ ΨΩ Ψ±Ψ© ΨΉΩΩ Ψ§ΩΨ£Ψ΅Ψ ΩΩΩ Ψ΄Ψ±Ψ Ψ§ΩΨ₯Ψ±Ψ΄Ψ§Ψ― ΩΩΨ΄Ψ§Ψ±Ψ Ψ§ΩΩ Ψ±Ψ§Ψ― ΩΩΩ Ψ§ ΩΨΈΩΨ± Ψ§ΩΨͺΩΨ³ΩΨ± ΩΩ Ψ§ ΩΨͺΨ¨ΨΉΩ Ω Ω Ψ§ ΩΨ°ΩΨ± Ω ΨΉΩ ΩΩΩ Ψ§Ψ³ΨͺΨ·Ψ±Ψ§Ψ―Ψ§Ψ ΩΨ₯Ω ΩΩ ΩΩΩ ΩΩ Ω ΩΨ§Ψ³Ψ¨Ψ© Ψ¨Ω ΩΨ§ΩΩΨ«Ψ±Ψ© Ω Ω ΨΩΨ« Ψ§ΩΨΨ±ΩΩ ΩΩΨΈΨ§ ΩΨ§ Ψ±Ψ³Ω Ψ§ ΩΩ Ω ΨΩΨ« Ψ§ΩΨ¬Ω ΩΨ© ΩΨͺΩ ΨΨΆ Ψ₯ΨΨ―Ω Ψ§ΩΩΨ±ΩΨ§Ψͺ Ω Ω Ψ£ΨΨ―ΩΩ Ψ§ ΩΨ§ ΨΉΨ¨Ψ±Ψ© Ψ¨Ω Ψ§ΩΩ ΩΩΨ°Ψ§ ΩΩ ΩΨͺΨ Ψ§ΩΨ¬ΩΨ§Ψ― ΩΨ§ΩΨ₯ΩΨΉΨ§Ψ¨ Ψ§ΩΨͺΩΩ ΩΩΨ§Ω Ψ§ΩΩΨ±Ψ―Ω. Ψ§Ωβ ΨͺΨΩΨ© Ψ§ΩΩ ΨΨͺΨ§Ψ¬ Ψ¬ 1 Ψ΅ Ω‘Ω₯Ω‘
Pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami: Tetap Berstatus Mushaf
Merujuk pada teks di atas, Asy-Syarih (Imam Ibnu Hajar) dalam Hasyiyah Fath al-Jawad berpendapat bahwa sebuah mushaf yang diisi catatan pinggir (mushaf muhasysya) berupa tafsir, tidak lantas berubah statusnya menjadi kitab tafsir. Walaupun seluruh pinggiran, sisi kertas, dan sela-sela barisnya penuh sesak dengan teks terjemahan atau tafsir, ia sama sekali tidak dinamakan sebagai kitab tafsir.
Beliau memandang benda tersebut dari sudut pandang penamaan formal dan esensi pembuatannya. Nama “Mushaf” tetap melekat kuat pada fisik buku tersebut. Sebutan paling maksimal untuk buku semacam itu hanyalah “mushaf yang diberi catatan pinggir”.
Bagi penganut pendapat ini, hukum menyentuh terjemahan Al-Qur’an tanpa bersuci adalah haram. Orang junub secara mutlak tidak boleh memegangnya, sebagaimana dijelaskan secara rinci dalam aturan larangan hukum orang junub dalam Fikih Syafi’i, karena secara substansi buku tersebut masih dihukumi sebagai mushaf murni. Aturan ini selaras dengan kewajiban menjaga keadaan suci secara ketat sebelum berinteraksi dengan kalam Ilahi.
Pendapat Imam Syamsuddin ar-Ramli: Disamakan dengan Kitab Tafsir

Sebaliknya, teks tersebut juga mengutip pandangan dari Fatawa al-Jamal ar-Ramli. Beliau mengutarakan bahwa buku dengan format seperti itu dinilai kedudukannya setara dengan kitab tafsir. Penjelasan ini diperkuat dalam kitab Al-I’ab yang menegaskan kehalalan (kebolehan) menyentuhnya.
Imam ar-Ramli menitikberatkan pada realitas kondisi fisik. Meskipun sejak awal benda tersebut tidak diniatkan sebagai kitab tafsir, atau sengaja dicetak dengan niat menjadikan Al-Qur’an sebagai teks utamanya, benda tersebut boleh disentuh orang yang berhadats asalkan volume tulisan terjemahannya lebih mendominasi. Bahkan, kebolehan ini tetap berlaku menurut pendapat yang lebih kuat (al-ashah), sekalipun teks lafaz Al-Qur’an sengaja dibedakan dengan tinta berwarna merah agar tampak mencolok.
Bagi pelajar, santri, atau mahasiswa yang sering berinteraksi dengan terjemahan saat memiliki halangan bersuci, pendapat ini memberikan kemudahan syar’i. Tentu saja, pemahaman yang baik tentang batas-batas kesucian tetap diperlukan, terutama untuk memahami secara mendalam mengenai pengertian wudhu menurut istilah dan bahasa agar kita mengetahui kapan suatu ibadah atau interaksi dengan mushaf dianggap sah.
Pedoman Menghitung Volume Teks Tafsir dan Al-Qur’an
Jika kita mengamalkan pendapat Imam ar-Ramli yang membolehkan, terdapat syarat mutlak yang harus dipenuhi. Syarat tersebut adalah volume huruf tafsir atau terjemahan harus lebih banyak daripada huruf lafaz Al-Qur’an.
Bagaimana cara menghitungnya? Teks dari kitab Syarh al-Irsyad memberikan kaidah penghitungan yang amat presisi:
- Cakupan Teks: Penilaian volume mencakup seluruh teks penjelasan, termasuk jika penulis sengaja menyisipkan cerita, kaidah tata bahasa arab, atau pembahasan di luar topik utama (istithrad). Seluruh tambahan teks latin atau bahasa Indonesia pada mushaf terjemahan masuk ke dalam hitungan pendominasi ini.
- Penghitungan Berdasarkan Lafal (Ucapan): Patokan huruf yang dihitung merujuk pada lafal yang diucapkan lisan, bukan tulisan rasm (garis tulisan). Sebagai misal, huruf bertasydid dihitung sebagai dua huruf meskipun tertulis satu.
- Dihitung Secara Keseluruhan (Total): Dominasi teks dinilai dari volume satu buku penuh secara akumulatif. Andaikan terdapat satu atau dua halaman yang murni hanya berisi ayat tanpa seutas terjemahan pun, hal tersebut tidak menggugurkan statusnya sebagai kitab tafsir, asalkan secara keseluruhan buku tersebut tetap didominasi oleh teks terjemahan. Kelonggaran ini sangat membantu umat, mengingat adanya kriteria ketat dalam syariat mengenai ibadah apa saja yang diwajibkan wudhu sebelum pelaksanaannya.
Perbandingan Pandangan Ibnu Hajar dan ar-Ramli
Untuk memudahkan pemahaman atas perbedaan kedua mahaguru ini, berikut adalah tabel perbandingan status mushaf terjemahan:
| Aspek Penilaian | Pandangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami | Pandangan Imam ar-Ramli |
| Status Buku | Tetap berstatus Mushaf murni (Mushaf Muhasysya) | Berubah status menjadi Kitab Tafsir |
| Fokus Penilaian | Niat awal pencetakan dan nama asal | Realitas fisik dan dominasi jumlah huruf |
| Hukum Disentuh Saat Hadats | Haram disentuh dan dibawa | Boleh (Halal) disentuh dan dibawa |
| Syarat Kebolehan | Tidak ada (Tetap wajib bersuci) | Volume teks terjemahan harus lebih banyak |
Tanya Jawab Seputar Menyentuh Al-Qur’an Terjemahan (FAQ)
Apakah orang junub memegang Al-Qur’an terjemah diperbolehkan?
Bergantung pada pandangan mana yang diikuti. Menurut Ibnu Hajar tidak diperbolehkan. Menurut ar-Ramli diperbolehkan dengan syarat mutlak huruf terjemahannya (latin/bahasa Indonesia) melebihi jumlah huruf ayat Al-Qur’an dalam satu buku penuh.
Bagaimana cara paling aman menyikapi perbedaan pendapat ini?
Jalan paling adab dan bernilai kehati-hatian (ihtiyat) adalah selalu membiasakan diri berwudhu sebelum menyentuh mushaf terjemahan, sejalan dengan fatwa Ibnu Hajar. Namun, bagi pengajar agama, perempuan haid yang sedang murajaah, atau pelajar yang sedang berada dalam ruang kelas yang sulit menjaga wudhu, mengambil pandangan Imam ar-Ramli adalah bentuk kemudahan syariat.
Apakah hukum ini berlaku untuk buku Fikih?
Buku fikih secara ijma’ ulama Syafi’iyah boleh disentuh oleh orang berhadats karena lafaz Al-Qur’an di dalamnya sangat sedikit dan hanya digunakan sebagai dalil pendukung.
Penutup
Kekayaan literatur Mazhab Syafi’i membuka jalan kemudahan tanpa menghilangkan sikap pengagungan terhadap Al-Qur’an. Pemilihan pendapat fiqih Syafi’i menyentuh Al-Qur’an hendaknya disesuaikan dengan urgensi dan kondisi masing-masing individu dengan tetap menjaga adab paripurna di hadapan firman Allah.
Referensi
al-HaitamΔ«, AαΈ₯mad bin MuαΈ₯ammad bin ΚΏAlΔ« bin αΈ€ajar. TuαΈ₯fat al-MuαΈ₯tΔj fΔ« SyarαΈ₯ al-MinhΔj. Mesir: al-Maktabah al-TijΔrΔ«yah al-KubrΔ, 1357 H/1983 M; kemudian dicetak ulang Beirut: DΔr IαΈ₯yΔΚΎ al-TurΔαΉ‘ al-ΚΏArabΔ«, 10 juz. (Disertai αΈ€Δsyiyah ΚΏAbd al-αΈ€amΔ«d al-SyarwΔnΔ« dan αΈ€Δsyiyah AαΈ₯mad bin QΔsim al-ΚΏAbbΔdΔ«).
