Bulan suci Ramadhan membawa syiar ibadah malam yang sangat agung, salah satunya adalah Qiyamul Lail yang secara khusus dikenal sebagai shalat Tarawih. Dalam literatur fikih madzhab Syafi’i, tata aturan ibadah ini dibahas secara mendalam untuk menjaga kualitas amal seorang hamba dari penyakit Riyฤโ dan membimbingnya menuju Ikhlฤแนฃ yang sejati.
Artikel ini mengkaji secara akademis hukum, sejarah, jumlah rakaat, serta perdebatan fikih terkait keutamaan shalat Tarawih berdasarkan teks asli dari kitab Asna al-Matalib karya Syaikhul Islam Zakariyya al-Ansari. Bagi Anda yang ingin mendalami kerangka dasar ibadah tathawwu’ secara utuh sebelum membahas Tarawih, silakan pelajari panduan lengkap fikih shalat sunnah tathawwu’ yang telah kami susun sebelumnya.
Sejarah dan Dalil Shalat Tarawih 20 Rakaat
Menurut pandangan mayoritas ulama madzhab Syafi’i, shalat Tarawih dilaksanakan sebanyak dua puluh rakaat. Teks Asna al-Matalib menyebutkan dengan tegas mengenai ketentuan ini:
ูููู: (ููู ุนุดุฑูู ุฑูุนุฉ) ุจุนุดุฑ ุชุณููู ุงุช ูู ูู ูููุฉ ู ู ุฑู ุถุงูุ ูุงูุฃุตู ูููุง ุฎุจุฑ ุงูุตุญูุญูู ุนู ุนุงุฆุดุฉ ุฃูู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ยซุตูุงูุง ููุงูู ูุตูููุง ู ุนูุ ุซู ุชุฃุฎุฑ ูุตูู ูู ุจูุชู ุจุงูู ุงูุดูุฑ ููุงู ุฎุดูุช ุฃู ุชูุฑุถ ุนูููู ูุชุนุฌุฒูุง ุนููุงยป
Artinya: (Ia berjumlah dua puluh rakaat) dengan sepuluh kali salam pada setiap malam di bulan Ramadhan. Dalil asalnya adalah riwayat Shahihain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat tersebut (di masjid) pada beberapa malam, lalu para sahabat ikut shalat bersamanya. Kemudian beliau menunda (tidak ke masjid) dan shalat di rumahnya pada sisa bulan tersebut. Beliau bersabda: “Aku khawatir shalat ini akan diwajibkan atas kalian, lalu kalian tidak mampu mengerjakannya.”
Sejarah pelaksanaannya secara berjamaah penuh selama satu bulan berawal dari inisiatif Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Syaikhul Islam Zakariyya al-Ansari melanjutkan penjelasannya:
ููุฃู ุนู ุฑ ุฌู ุน ุงููุงุณ ุนูู ููุงู ุดูุฑ ุฑู ุถุงู ุงูุฑุฌุงู ุนูู ุฃุจู ุจู ูุนุจุ ูุงููุณุงุก ุนูู ุณููู ุงู ุจู ุฃุจู ุญุซู ุฉ ุฑูุงู ุงูุจูููู ูุฑูู ุฃูุถุง ูู ูุบูุฑู ุจุฅุณูุงุฏ ุตุญูุญ ุฃููู ูุงููุง ูููู ูู ุนูู ุนูุฏ ุนู ุฑ ุจู ุงูุฎุทุงุจ – ุฑุถู ุงููู ุนูู – ูู ุดูุฑ ุฑู ุถุงู ุจุนุดุฑูู ุฑูุนุฉ
Artinya: Dan karena Umar mengumpulkan manusia untuk melakukan qiyam Ramadhan; kaum laki-laki bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab, dan kaum perempuan bermakmum kepada Sulaiman bin Abi Hatsmah. (Riwayat Al-Baihaqi). Beliau dan ulama lainnya juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa para sahabat melakukan qiyam pada masa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu di bulan Ramadhan sebanyak dua puluh rakaat.
Dari dalil di atas, terlihat jelas bahwa dua puluh rakaat adalah ketetapan yang dijalankan oleh para sahabat dan telah menjadi pedoman utama dalam madzhab Syafi’i.

Dalam praktiknya, malam-malam Ramadhan juga menjadi momentum terbaik untuk membersihkan แธคฤl batin dari dosa dan mencapai Maqฤm spiritual yang luhur. Oleh karena itu, ibadah malam ini sangat tepat jika diiringi dengan praktik sholat taubat nasuha dan doanya agar jiwa kembali suci menatap ridha Allah Ta’ala.
Mengapa Penduduk Madinah Mengerjakan Tarawih 36 Rakaat?
Meskipun landasan utama adalah 20 rakaat, sejarah mencatat bahwa penduduk Madinah di masa lalu mengerjakan shalat Tarawih sebanyak 36 rakaat. Asna al-Matalib memaparkan alasan historis di balik perbedaan ini:
ููุฃูู ุงูู ุฏููุฉ ูุนููุง ุณุชุง ูุซูุงุซููุ ูุฃู ุงูุนุดุฑูู ุฎู ุณ ุชุฑููุญุงุช ููุงู ุฃูู ู ูุฉ ูุทูููู ุจูู ูู ุชุฑููุญุชูู ุณุจุนุฉ ุฃุดูุงุท ูุฌุนู ุฃูู ุงูู ุฏููุฉ ุจุฏู ูู ุฃุณุจูุน ุชุฑููุญุฉุ ููุณุงูููู . ูุงู ุงูุดูุฎุงู: ููุง ูุฌูุฒ ุฐูู ูุบูุฑูู ุ ูุฃู ูุฃูููุง ุดุฑูุง ุจูุฌุฑุชู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ูู ุฏููู
Artinya: Dan bagi penduduk Madinah, mereka mengerjakannya sebanyak tiga puluh enam rakaat. Sebabnya, dua puluh rakaat itu terdiri dari lima kali tarwiha (istirahat). Penduduk Makkah dahulu biasa melakukan thawaf tujuh putaran di antara setiap dua tarwiha. Maka, penduduk Madinah menjadikan satu tarwiha (empat rakaat) sebagai pengganti setiap satu usbu‘ (tujuh putaran thawaf) agar mereka bisa menyamai keutamaan penduduk Makkah. Dua Syaikh (Ar-Rafi’i dan An-Nawawi) berkata: Hal tersebut tidak diperbolehkan bagi selain penduduk Madinah, karena penduduk Madinah memiliki kemuliaan dengan hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan makam beliau.

Istilah Tarawih sendiri berasal dari kata Tarwiha yang bermakna istirahat. Penduduk Makkah mengisi waktu istirahat (jeda setiap empat rakaat) dengan thawaf mengelilingi Ka’bah. Karena penduduk Madinah tidak memiliki Ka’bah, mereka mengganti thawaf tersebut dengan tambahan shalat empat rakaat pada setiap jeda, sehingga totalnya menjadi 36 rakaat. Namun, penambahan rakaat ini bersifat eksklusif bagi penduduk Madinah pada masa itu dan tidak berlaku bagi umat Islam di wilayah lain.
Syarat Sah Pelaksanaan: Harus Salam Setiap Dua Rakaat
Satu kaidah fikih yang sangat ketat dalam madzhab Syafi’i terkait shalat Tarawih adalah keharusan untuk salam pada setiap dua rakaat.
ูููู ุจุฅุญุฑุงู ูู ุฑูุนุชูู ุงูุชุฑุงููุญุ ุฃู ููุงู ุฑู ุถุงู … ููู ุตูู ุฃุฑุจุนุง ุจุชุณููู ุฉ ูู ูุตุญ
Artinya: Ia berniat shalat Tarawih atau Qiyam Ramadhan pada setiap takbiratul ihram dua rakaat… Maka seandainya ia shalat empat rakaat dengan satu kali salam, shalatnya tidak sah.
Hal ini karena shalat Tarawih sangat menyerupai shalat fardhu dalam anjuran berjamaahnya, sehingga aturannya tidak boleh diubah dari ketetapan riwayat yang ada (salam setiap dua rakaat). Jika seseorang melanggar tata cara ini dan mengerjakannya empat rakaat sekaligus, ibadahnya tidak sah.
Aturan ketat ini sedikit berbeda dengan beberapa shalat tathawwu’ di siang hari yang memiliki kelonggaran teknis, sebagaimana rincian yang bisa Anda temukan dalam panduan sholat dhuha terkait variasi pengerjaan rakaatnya.
Debat Fikih: Shalat Tarawih vs Shalat Rawatib, Mana yang Lebih Utama?
Dalam hierarki fikih madzhab Syafi’i, terdapat perbedaan pandangan ulama mengenai posisi keutamaan shalat Tarawih dibandingkan dengan shalat sunnah Rawatib yang mengiringi shalat fardhu.
Teks asal memaparkan perdebatan ini:
ูููู: (ุซู ุงูุชุฑุงููุญ ูุบูุฑ ุงูุถุญู ู ู ุงูุฑูุงุชุจ ุฃูุถู ู ู ุงูุชุฑุงููุญ) ุ ูุฅู ุณู ููุง ุงูุฌู ุงุนุฉุ ูุฃูู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ูุงุธุจ ุนูู ุงูุฑูุงุชุจ ุฏูู ุงูุชุฑุงููุญ ูุงู ุงูุฒุฑูุดูุ ููุฐุง ุชุจุน ููู ุงูุฑุงูุนู ุงูุฅู ุงู ุ ููู ุฎูุงู ู ุฐูุจ ุงูุดุงูุนู. ูุฌู ููุฑ ุงูุฃุตุญุงุจ ุฃู ุงูุชุฑุงููุญ ุฃูุถู ู ู ุงูุฑูุงุชุจ ู ุง ุนุฏุง ุฑูุนุชู ุงููุฌุฑุ ูุงููุชุฑ
Artinya: (Kemudian shalat Tarawih. Dan shalat Rawatibโselain rakaat sebelum Subuh dan Witirโlebih utama daripada Tarawih), meskipun Tarawih disunnahkan berjamaah. Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan shalat Rawatib dan tidak merutinkan Tarawih (di masjid secara penuh). Imam Zarkasyi berkata: Pendapat ini adalah di mana Ar-Rafi’i mengikuti Imam al-Haramain, dan ini menyelisihi landasan utama madzhab Syafi’i. Mayoritas ashab (ulama Syafi’iyyah) berpendapat bahwa shalat Tarawih lebih utama daripada shalat Rawatib, kecuali dua rakaat fajar (qabliyah Subuh) dan shalat Witir.
Jadi, meskipun Imam al-Haramain dan Ar-Rafi’i menilai Rawatib lebih agung karena selalu dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mayoritas (jumhur) ulama Syafi’iyyah menetapkan bahwa Tarawih lebih utama daripada shalat Rawatib biasa. Syariat berjamaah dalam Tarawih mengangkat derajatnya di atas ibadah sunnah yang dikerjakan sendiri. Penjelasan lebih detail mengenai tata urut keutamaan berbagai amal sunnah ini dapat dibaca pada artikel urutan keutamaan shalat sunnah.
Adab Membaca Al-Qur’an dalam Tarawih
Untuk menjaga kekhusyukan dan menjauhkan diri dari rasa Futur (malas beribadah), ulama Syafi’iyyah sangat menganjurkan untuk membaca Al-Qur’an secara berurutan hingga khatam selama satu bulan Tarawih.
ูููู: (ู) ูุนููุง (ุจุงููุฑุขู) ูู ุฌู ูุน ุงูุดูุฑ (ุฃูุถู ู ู ุชูุฑูุฑ ุณูุฑุฉ ุงูุฅุฎูุงุต) ูู ูู ุฑูุนุฉ ู ุซูุง ูุงู ุงุจู ุงูุตูุงุญุ ูุฃูู ุฃุดุจู ุจุงูุณูุฉ
Artinya: (Dan) melaksanakannya (dengan membaca seluruh Al-Qur’an) di sepanjang bulan (lebih utama daripada mengulang-ulang surat Al-Ikhlas) pada setiap rakaat misalnya. Ibnu Ash-Salah berkata: Karena hal tersebut lebih menyerupai sunnah.
Makruh hukumnya jika seseorang sengaja membebani diri atau jamaahnya dengan membaca surat panjang tertentu (seperti surat Al-An’am) sekaligus dalam satu rakaat akhir hanya karena keyakinan tertentu (misalnya keyakinan bahwa surat itu turun secara sekaligus), karena ulama seperti Ibnu Ash-Salah dan An-Nawawi memandangnya sebagai perkara yang menyelisihi adab kelembutan dalam beribadah.
Ramadhan juga adalah bulan pengkabulan doa. Apabila di sela-sela malam Ramadhan seorang hamba memiliki niat untuk memohon kelapangan rezeki atau jalan keluar dari masalah pelik, ia dapat melaksanakannya sesuai petunjuk pada panduan lengkap sholat hajat. Demikian pula jika ia dilanda kebimbangan dalam mengambil sebuah keputusan besar, melantunkan doa sholat istikharah di waktu sepertiga malam Ramadhan merupakan amalan yang sangat disunnahkan.
Tabel Komparasi Praktik Shalat Tarawih Salaf
Berikut adalah perbandingan praktik qiyam Ramadhan pada masa salaf berdasarkan naskah Asna al-Matalib:
| Aspek Praktik | Makkah / Mayoritas Wilayah | Madinah (Khusus Masa Lalu) |
| Jumlah Rakaat | 20 Rakaat | 36 Rakaat |
| Jumlah Salam | 10 kali salam | 18 kali salam |
| Kegiatan Jeda (Tarwiha) | Melakukan Thawaf 7 putaran | Melaksanakan tambahan 4 rakaat |
| Status Hukum Saat Ini | Berlaku untuk seluruh umat Islam | Kekhususan penduduk Madinah |
FAQ (Tanya Jawab Seputar Hukum Shalat Tarawih)
Apakah boleh melaksanakan shalat Tarawih 4 rakaat dengan 1 kali salam?
Berdasarkan kitab Asna al-Matalib, hukumnya tidak sah. Seseorang harus berniat shalat Tarawih pada setiap takbiratul ihram untuk dua rakaat, dan wajib salam pada setiap kelipatan dua rakaat tersebut.
Siapakah yang pertama kali mengumpulkan jamaah Tarawih sebulan penuh?
Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imam bagi jamaah laki-laki dan Sulaiman bin Abi Hatsmah sebagai imam bagi jamaah perempuan.
Manakah yang lebih utama, shalat Tarawih atau shalat sunnah Qabliyah Subuh?
Jumhur ulama Syafi’iyyah menetapkan bahwa dua rakaat fajar (Qabliyah Subuh) dan shalat Witir lebih utama kedudukannya daripada shalat Tarawih, meskipun Tarawih lebih utama dibandingkan mayoritas shalat Rawatib lainnya.
Khatimah
Penyelenggaraan shalat Tarawih di bulan Ramadhan merupakan wujud nyata kecintaan umat Islam dalam meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khulafaur rasyidin. Dengan berpegang pada pendapat kuat madzhab Syafi’iโsebagaimana terekam dalam Asna al-Matalibโdua puluh rakaat merupakan standar akademik dan syar’i yang terjaga sanad kesejarahannya.
Mengetahui hukum, tata cara, dan hierarki keutamaannya akan menghindarkan kita dari kebingungan dan memperkuat fondasi Ikhlฤแนฃ dalam setiap sujud di malam-malam mulia tersebut. Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi
Zakariyฤ al-Anแนฃฤrฤซ, Asnฤ al-Maแนญฤlib fฤซ Sharแธฅ Rawแธ al-แนฌฤlib, dengan แธฅฤsyiyah oleh Aแธฅmad al-Ramlฤซ, disunting oleh Muแธฅammad az-Zuhrฤซ al-Ghamrฤwฤซ (Kairo: al-Maแนญbaสฟah al-Maymฤnฤซyah, 1313 H; repr. Dฤr al-Kitฤb al-Islฤmฤซ), juz 1, hlm. 200-201.
