Panduan Lengkap Fiqih I’tikaf Menurut Madzhab Syafi’i (Berdasarkan Kitab Asna al-Matalib)

Ibadah i’tikaf merupakan salah satu syiar Islam yang agung, wujud pengasingan diri seorang hamba untuk mendekat kepada Allah Ta’ala. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya tata cara i’tikaf menurut madzhab Syafi’i, ibadah ini memiliki pilar-pilar dan batasan fiqih yang sangat presisi.

Kajian ini disusun sebagai panduan i’tikaf yang utuh, merujuk langsung pada literatur mu’tamad, yakni kitab Asna al-Matalib Syarh Rawdh ath-Thalib karya Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari. Pembahasan di bawah ini memetakan hukum asal, landasan syar’i, hingga rincian teknis yang memandu kelancaran amaliah i’tikaf Anda.

Definisi dan Landasan Dalil I’tikaf

Kitab kuning kuno terbuka di atas rehal kayu yang menjadi rujukan utama panduan fiqih i'tikaf madzhab Syafi'i.
Kajian tata cara i’tikaf ini disarikan langsung dari literatur mu’tamad madzhab Syafi’i, yakni Kitab Asna al-Matalib.

Mengetahui hakikat sesuatu adalah langkah pertama sebelum mengamalkannya. Para ulama Syafi’iyyah merumuskan definisi i’tikaf dengan sangat saksama, baik dari tinjauan bahasa maupun istilah fiqih.

Pengertian Secara Bahasa dan Istilah

Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari menjelaskan pengertian i’tikaf:

ู‚ูˆู„ู‡: (ู‡ูˆ ู„ุบุฉ ุงู„ู„ุจุซ ูˆุงู„ุญุจุณ ูˆุงู„ู…ู„ุงุฒู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุดูŠุก ุฎูŠุฑุง ูƒุงู† ุฃูˆ ุดุฑุง) … ูˆุดุฑุนุง ุงู„ู„ุจุซ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ู…ู† ุดุฎุต ู…ุฎุตูˆุต ุจู†ูŠุชู‡

Secara bahasa, i’tikaf bermakna menetap (al-labts), menahan diri (al-habs), dan senantiasa melekat pada sesuatu (al-mulazamah), baik hal tersebut berupa kebaikan maupun keburukan. Lafadz ini bisa digunakan sebagai fi’il lazim (intransitif) maupun muta’addi (transitif).

Adapun secara syara’ (istilah fiqih i’tikaf Syafi’i), i’tikaf adalah: Berdiam diri di dalam masjid yang dilakukan oleh orang dengan kriteria khusus, disertai dengan niat.

Landasan Dalil Al-Qur’an dan Sunnah

Hukum fiqih i’tikaf Syafi’i berpijak pada landasan nash yang kokoh. Sebelum adanya ijma’ ulama, dasar ibadah ini bersumber dari Al-Qur’an:

ู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰ {ูˆู„ุง ุชุจุงุดุฑูˆู‡ู† ูˆุฃู†ุชู… ุนุงูƒููˆู† ููŠ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ} [ุงู„ุจู‚ุฑุฉ: ูกูจูง]

“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Teks kitab juga menyebutkan dalil dari kebiasaan baginda Nabi ๏ทบ, sebagaimana termaktub dalam Shahihain:

ุฃู†ู‡ ยซ- ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ุงุนุชูƒู ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุณุท ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ุซู… ุงุนุชูƒู ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ูˆู„ุงุฒู…ู‡ ุญุชู‰ ุชูˆูุงู‡ ุงู„ู„ู‡ ุซู… ุงุนุชูƒู ุฃุฒูˆุงุฌู‡ ู…ู† ุจุนุฏู‡ยป

“Bahwa Nabi ๏ทบ beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan dari bulan Ramadhan, kemudian beliau beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dan terus melaziminya hingga Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelahnya.”

Bahkan, sekelompok ulama menyatakan bahwa ibadah ini merupakan syariat umat-umat terdahulu (asy-syara’i’ al-qadimah), berdalil pada firman Allah Ta’ala mengenai Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam dalam surat Al-Baqarah ayat 125.

Hukum Asal I’tikaf

Berdasarkan kemutlakan dalil-dalil yang ada, kitab Asna al-Matalib menegaskan status hukum tata cara i’tikaf:

ู‚ูˆู„ู‡: (ูˆู‡ูˆ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ูˆูŠุณุชุญุจ ููŠ ูƒู„ ุงู„ุฃูˆู‚ุงุช) ู„ุฅุทู„ุงู‚ ุงู„ุฃุฏู„ุฉ

I’tikaf hukum asalnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan disunnahkan pelaksanaannya di setiap waktu. Hukum ini bisa berubah menjadi wajib apabila seseorang bernadzar untuk melaksanakannya.

Empat Rukun Utama I’tikaf (Madzhab Syafi’i)

Keabsahan ibadah ini bergantung pada empat rukun yang wajib terpenuhi. Apabila satu saja tertinggal, maka amaliah tersebut tidak sah di mata syariat.

1. Al-Mukts (Berdiam Diri di Masjid)

Rukun pertama dalam tata cara i’tikaf adalah keberadaan fisik di dalam masjid (al-mukts). Kitab Asna al-Matalib merinci batas minimal durasinya:

(ูˆุฃู‚ู„ู‡ ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ุทู…ุฃู†ูŠู†ุฉ) ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ (ุจุณูƒูˆู† ุฃูˆ ุชุฑุฏุฏ) ู„ุฅุดุนุงุฑ ู„ูุธู‡ ุจู‡ ูู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุฃู‚ู„ ู…ุง ูŠุฌุฒุฆ ููŠ ุทู…ุฃู†ูŠู†ุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ (ูˆู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุงู„ุนุจูˆุฑ)

Batas minimal berdiam diri haruslah lebih lama dari kadar thuma’ninah di dalam shalat, baik dilakukan dalam keadaan diam berdiri/duduk maupun mondar-mandir di dalam masjid. Oleh karena itu, sekadar lewat melintasi masjid (al-‘ubur) tidaklah sah dan tidak digolongkan sebagai i’tikaf.

Apabila seseorang menadzarkan i’tikaf secara mutlak, ia gugur dari kewajiban nadzarnya meski hanya dengan i’tikaf sejenak (lahzhah). Namun, sangat disunnahkan untuk menyempurnakannya selama satu hari penuh demi keluar dari perselisihan ulama yang mewajibkannya satu hari, serta mengikuti praktik Rasulullah ๏ทบ.

2. Niat I’tikaf

Pria Muslim mengangkat tangan berdoa dengan sungguh-sungguh saat memulai ibadah i'tikaf di dalam masjid.
Menghadirkan niat di awal pelaksanaan merupakan rukun mutlak agar i’tikaf bernilai sah di mata syariat.

Segala amal bergantung pada niatnya. Niat wajib dihadirkan pada awal pelaksanaan i’tikaf. Apabila i’tikaf tersebut adalah i’tikaf wajib (karena nadzar), maka wajib menyertakan kejelasan fardhu (at-ta’arrudh lil fardh) di dalam niatnya untuk membedakannya dari i’tikaf sunnah.

Disunnahkan pula bagi setiap Muslim, setiap kali melangkahkan kaki memasuki masjid, untuk senantiasa meniatkan i’tikaf agar meraih keutamaannya.

3. Al-Mu’takif (Syarat Orang yang Beri’tikaf)

Orang yang melaksanakan i’tikaf diwajibkan memenuhi kriteria syar’i. Syarat Mu’takif adalah: beragama Islam, berakal, dan halal berdiam di dalam masjid.

ูู„ุง ูŠุตุญ ุงุนุชูƒุงู ุงู„ูƒุงูุฑ ูˆุบูŠุฑ ุงู„ุนุงู‚ู„ ูƒุงู„ู…ุฌู†ูˆู† ูˆุงู„ู…ุบู…ู‰ ุนู„ูŠู‡ ูˆุงู„ุณูƒุฑุงู† ุฅุฐ ู„ุง ู†ูŠุฉ ู„ู‡ู… ูˆู„ุง ุงุนุชูƒุงู ุงู„ุฌู†ุจ ูˆุงู„ุญุงุฆุถ ูˆุงู„ู†ูุณุงุก ู„ุญุฑู…ุฉ ุงู„ู…ูƒุซ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุนู„ูŠู‡ู…

I’tikaf tidak sah dilakukan oleh orang kafir, orang yang tidak berakal seperti orang gila, pingsan, dan mabuk (karena mereka tidak memiliki keabsahan niat). Tidak sah pula i’tikaf orang yang sedang junub, haid, dan nifas, sebab mereka diharamkan berdiam di dalam masjid. I’tikaf sah dilakukan oleh mumayyiz, budak, serta wanita.

4. Al-Mu’takaf Fih (Tempat Pelaksanaan I’tikaf)

Interior masjid klasik yang hening, luas, dan bersih, melambangkan syarat tempat sahnya ibadah i'tikaf.
Ibadah i’tikaf wajib dilaksanakan di dalam area yang berstatus penuh sebagai masjid (al-mu’takaf fih), bukan di mushalla rumah.

Rukun tata cara i’tikaf yang keempat adalah masjid. Ibadah ini tidak sah dilakukan di luar batasan masjid:

ู‚ูˆู„ู‡: (ูู„ุง ูŠุตุญ) ุงู„ุงุนุชูƒุงู (ุฅู„ุง ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ)… ูˆู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุงุนุชูƒุงูู‡ุง ููŠ ู…ุตู„ู‰ ุจูŠุชู‡ุง ู„ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ุจู…ุณุฌุฏ ูู‡ูŠ ูƒุบูŠุฑู‡ุง

I’tikaf tidak sah kecuali di masjid. Bahkan bagi seorang wanita, tidak sah beri’tikaf di tempat shalat khusus yang ada di dalam rumahnya (mushalla baitiha), karena tempat tersebut secara fiqih tidak berstatus sebagai masjid.

I’tikaf di Masjid Jami’ (masjid yang digunakan untuk shalat Jum’at) lebih utama. Namun, tidak ada keharusan menentukan satu masjid tertentu saat bernadzar, kecuali tiga masjid mulia: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha. Masjidil Haram bisa menggantikan posisi keduanya, dan Masjid Nabawi bisa menggantikan Masjidil Aqsha dalam pemenuhan nadzar.

Hal-Hal yang Diperbolehkan dan Dimakruhkan (Ringkasan)

Fiqih i’tikaf Syafi’i tidak melarang total aktivitas manusiawi selama berada di masjid. Asna al-Matalib menyebutkan beberapa hal yang mubah (boleh) dilakukan:

  1. Pekerjaan Ringan: Diperbolehkan melakukan aktivitas menjahit atau menulis, asalkan tidak terlalu banyak. Menulis ilmu agama (kitabatal ‘ilm) sangat dianjurkan dan tidak dimakruhkan memperbanyaknya karena hal itu adalah bentuk ketaatan.
  2. Merawat Diri: Diperbolehkan menyisir rambut, memakai wewangian, dan memakai pakaian yang bagus.
  3. Akad: Boleh melangsungkan akad nikah atau menikahkan orang lain di dalam masjid.
  4. Makan dan Minum: Boleh makan, minum, dan mencuci tangan di masjid. Namun, diutamakan (al-awla) menggunakan alas (sufrah) atau wadah (thast) demi menjaga kebersihan masjid.

Sedangkan hal yang dimakruhkan adalah melakukan profesi atau pekerjaan bernilai mu’awadhah (transaksi komersial) seperti jual beli tanpa adanya hajat, serta berbekam jika dikhawatirkan mengotori tempat suci tersebut.

Pembatal I’tikaf dan Hukum Keluar Masjid (Ringkasan)

Hal mendasar yang wajib dijaga dalam kelancaran panduan i’tikaf adalah menghindari pembatal-pembatalnya.

ูˆูŠูุณุฏู‡ ุฃูŠ ุงู„ุงุนุชูƒุงู ู…ู† ุงู„ุฌู…ุงุน ู…ุง ูŠูุณุฏ ุงู„ุตูˆู… ู…ู†ู‡… ู…ุชู‰ ุงุฑุชุฏ ุงู„ู…ุนุชูƒู ุฃูˆ ุณูƒุฑ ุจู…ุญุฑู… ุจุทู„ ุงุนุชูƒุงูู‡

Jima’ (hubungan suami istri) merusak i’tikaf persis seperti jima’ merusak puasa. I’tikaf juga batal apabila seseorang murtad atau mabuk karena hal yang diharamkan. Sentuhan syahwat membatalkan jika disertai dengan keluarnya air mani (inzal).

Keluarnya seseorang dari masjid tanpa udzur (bila ‘udzrin) akan membatalkan sifat tatabbu’ (berturut-turut) dalam i’tikaf. Diperbolehkan keluar dari masjid murni karena hajat mendesak yang tidak bisa dihindari, seperti:

  • Buang air kecil/besar.
  • Mandi wajib (karena ihtilam atau hal lain).
  • Makan atau minum jika tidak menemukan air di dalam masjid.
  • Karena sakit yang membutuhkan perawatan di luar, atau udzur syar’i lainnya seperti lupa atau dipaksa (ikrah).

Ringkasan Aturan Fiqih I’tikaf Syafi’i

Untuk mempermudah pemahaman tata cara i’tikaf, berikut adalah tabel klasifikasi hukum berdasarkan Asna al-Matalib:

Aspek FiqihKeterangan Hukum (Madzhab Syafi’i)
Durasi MinimalLebih lama dari batas thuma’ninah shalat. Sekadar numpang lewat tidak sah.
Hukum AsalSunnah Muakkadah (Kapan saja sepanjang waktu).
Pusat PelaksanaanWajib di ruang yang berstatus Masjid. Mushalla rumah tidak sah.
Orang yang Beri’tikafMuslim, berakal, suci dari janabah/haid/nifas. Wanita wajib izin suami.
Pembatal UtamaJima’, murtad, mabuk sengaja, gila, keluar masjid tanpa udzur.
Hal yang DiperbolehkanMakan, minum (pakai alas), menulis ilmu, menyisir, memakai wewangian.

Tanya Jawab Seputar Tata Cara I’tikaf (FAQ)

Apakah boleh berniat i’tikaf sebentar saja saat masuk masjid untuk shalat berjamaah?

Boleh dan sangat dianjurkan. Syaikhul Islam menyebutkan: (ูˆูŠุณุชุญุจ ูƒู„ู…ุง ุฏุฎู„ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุฃู† ูŠู†ูˆูŠ ุงู„ุงุนุชูƒุงู). Setiap kali melangkah masuk masjid, sunnah meniatkan i’tikaf walau hanya sebentar untuk mendapatkan keutamaan (fadhilah).

Bolehkah seorang istri melakukan tata cara i’tikaf di mushalla rumahnya?

Menurut madzhab Syafi’i, tidak sah. (ูˆู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุงุนุชูƒุงูู‡ุง ููŠ ู…ุตู„ู‰ ุจูŠุชู‡ุง). Mushalla di dalam rumah tidak memiliki status hukum masjid, sehingga syarat rukun al-mu’takaf fih tidak terpenuhi.

Jika seseorang sedang beri’tikaf, apakah boleh ia mencuci tangan sesudah makan di dalam masjid?

Diperbolehkan. (ูˆู„ู‡ ุฃู†… ูŠุฃูƒู„ ูˆูŠุดุฑุจ ูˆูŠุบุณู„ ูŠุฏู‡). Namun adab yang ditekankan adalah menggunakan thast (wadah cucian) agar percikannya tidak menodai kesucian dan kebersihan lantai masjid.

Apakah i’tikaf mengharuskan puasa?

Puasa tidak menjadi syarat sah i’tikaf secara mutlak. Namun sangat disunnahkan menggabungkan puasa dengan i’tikaf: (ูŠุณุชุญุจ ู„ู„ู…ุนุชูƒู ุงู„ุตูˆู… ู„ู„ุงุชุจุงุน… ูˆู„ู„ุฎุฑูˆุฌ ู…ู† ุฎู„ุงู ู…ู† ุฃูˆุฌุจ ุงู„ุตูˆู…). Pengecualian terjadi apabila ia sejak awal bernadzar menyatukan i’tikaf bersama puasa.

Zakariyฤ al-Anแนฃฤrฤซ, Asnฤ al-Maแนญฤlib fฤซ Sharแธฅ Rawแธ al-แนฌฤlib, dengan แธฅฤsyiyah oleh Aแธฅmad al-Ramlฤซ, disunting oleh Muแธฅammad az-Zuhrฤซ al-Ghamrฤwฤซ (Kairo: al-Maแนญbaสฟah al-Maymฤnฤซyah, 1313 H; repr. Dฤr al-Kitฤb al-Islฤmฤซ), juz 1, hlm. 433-443.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.