Dalam tradisi Talaqqi (pengambilan ilmu secara langsung) dalam Islam, bahasa tubuh memegang peranan yang sama pentingnya dengan lisan. Adab seorang murid di hadapan gurunya sering kali menjadi penentu seberapa besar futuḥ (keterbukaan pemahaman) yang akan Allah limpahkan ke dalam hatinya.
Salah satu potret paling agung mengenai adab majelis ilmu terekam abadi dalam Hadits Jibril. Ketika Malaikat Jibril ‘alaihis salam datang dalam wujud manusia untuk mengajarkan agama kepada para sahabat, beliau tidak sekadar melontarkan pertanyaan teologis, melainkan turut mendemonstrasikan postur tubuh yang sarat makna.
Banyak penuntut ilmu masa kini yang luput memperhatikan detail ini. Mengapa Jibril harus duduk begitu dekat hingga lututnya menyentuh lutut Rasulullah ﷺ? Apakah ini sekadar kebetulan, atau ada isyarat Rabbani di baliknya?
Merujuk pada kitab Al-Fath Al-Mubin halaman 142-143, kita akan mengurai makna filosofis dan hukum syariat di balik posisi duduk sang Sayyidul Malaikat.
Posisi Jalsatul Muta’allim (Duduk Berhadapan)

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan momen kedatangan Jibril dengan deskripsi yang sangat visual:
حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فأسند ركبتيه إلى ركبتيه
(Hingga ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu menyandarkan kedua lututnya ke kedua lutut Nabi).
Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami memberikan ta’liq (komentar) yang mendalam mengenai frasa ini. Beliau menjelaskan bahwa posisi duduk Jibril ini bukanlah posisi duduk sembarangan, melainkan posisi standar bagi seorang pencari ilmu sejati.
Dalam naskah Al-Fath Al-Mubin disebutkan:
صريح في أنه جلس بين يديه دون جانبه، وهي جلسة المتعلم
(Ini adalah dalil yang jelas bahwa dia [Jibril] duduk di hadapan beliau [di depan], bukan di sampingnya. Dan ini adalah posisi duduk seorang pelajar).
Pelajaran pertama dari etika menghadap guru adalah konfrontasi wajah (muwajahah). Seorang murid hendaknya duduk berhadapan langsung dengan gurunya, bukan menyamping, apalagi membelakangi, kecuali ada uzur syar’i atau kondisi majelis yang tidak memungkinkan. Duduk berhadapan memungkinkan murid menangkap tidak hanya suara, tetapi juga ekspresi wajah, gerak bibir, dan pancaran cahaya (nur) dari sang guru.
Rahasia Menempelkan Lutut: Simbol “Mubalaghah fil Qurb”
Poin yang paling menarik perhatian adalah tindakan Jibril menyandarkan (isnad) lututnya ke lutut Nabi Muhammad ﷺ. Dalam budaya Arab maupun budaya lainnya, ini adalah tindakan yang sangat intim dan berani.
Syaikh Ibnu Hajar menjelaskan hikmah di balik tindakan “ekstrem” ini:
لكنه بالغ في القرب حتى وضع كفيه على ما يأتي جريا على ما بينهما قبل من مزيد الود والأنس حين يلقي عليه الوحي
(Akan tetapi dia [Jibril] berlebihan [totalitas] dalam mendekat, hingga dia meletakkan kedua telapak tangannya… hal ini berjalan atas dasar rasa cinta dan keakraban yang mendalam di antara keduanya saat Jibril menyampaikan wahyu).
Tindakan menempelkan lutut ini menyiratkan dua hal mendasar dalam Thariqah menuntut ilmu:
1. Keseriusan Total (Jiddiyah)
Jibril ingin menunjukkan bahwa dalam menuntut ilmu, tidak boleh ada jarak yang memisahkan antara murid dan guru, baik jarak fisik maupun jarak hati. Menempelnya lutut adalah simbol hilangnya hijab kesombongan. Seorang murid harus meleburkan egonya dan mendekat sedekat mungkin kepada sumber ilmu.
2. Peringatan untuk Fokus (Tanbih)
Syaikh Ibnu Hajar menambahkan hikmah lain yang bersifat psikologis:
تنبيها على أنه ينبغي للسائل قوة النفس، وعدم فعل ما يمنع عنه كمال التلقي من نحو الالتهاء عما هو بصدده
(Sebagai peringatan bahwa seyogianya bagi seorang penanya memiliki kekuatan jiwa, dan tidak melakukan hal-hal yang mencegah kesempurnaan penerimaan ilmu, seperti teralihkan perhatiannya dari apa yang sedang ia tuju).
Posisi duduk yang begitu dekat dan terkunci (lutut ketemu lutut) meminimalisir gangguan (distraction). Murid tidak bisa menoleh ke kanan dan kiri; fokusnya terkunci hanya pada gurunya. Inilah syarat mendapatkan kamal at-talaqqi (kesempurnaan penerimaan ilmu).
Misteri Telapak Tangan di Atas Paha
Selain lutut, Jibril juga melakukan gerakan tangan yang spesifik:
ووضع كفيه على فخذيه
(Dan dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya).
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai dhamir (kata ganti) “pahanya”. Apakah paha Jibril sendiri atau paha Nabi?
Syaikh Ibnu Hajar dalam Al-Fath Al-Mubin (hal. 143) menguatkan pendapat bahwa tangan tersebut diletakkan di atas paha Nabi ﷺ, sebagaimana riwayat An-Nasa’i yang memperjelas hal ini.
أي: فخذي النبي صلى الله عليه وسلم كما صرحت به رواية النسائي
(Maksudnya: Di atas kedua paha Nabi ﷺ sebagaimana ditegaskan dalam riwayat An-Nasa’i).
Tindakan meletakkan tangan di paha guru ini mungkin terlihat kurang sopan bagi orang awam (su’ul adab). Namun, jika disandingkan dengan tata krama bertanya kepada pendidik, gestur Jibril ini adalah bentuk Mubalaghah fil Iyqadz (usaha maksimal untuk membangunkan perhatian). Beliau ingin memastikan bahwa Nabi ﷺ benar-benar siap menjawab rentetan pertanyaan berat yang akan diajukan.
Namun, Syaikh Ibnu Hajar memberikan catatan penting:
وللمسؤول ألا يعاتبه حينئذ وإن لم يسلك الأدب ظاهرا
(Dan bagi orang yang ditanya [guru], hendaknya tidak mencela si penanya pada kondisi tersebut, meskipun secara lahiriah dia tidak menempuh jalan adab).
Artinya, jika seorang murid melakukan sesuatu yang terlihat lancang karena antusiasme yang tinggi dalam bertanya, seorang guru hendaknya memaklumi dan tidak memarahinya. Sikap pemakluman ini merupakan penerapan sejati dari metode pengajaran Rasulullah dalam mewadahi semangat seorang muta’allim yang sedang dilanda dahaga akan ilmu.
Relevansi Adab Ini di Era Modern

Di zaman di mana ilmu sering kali diambil melalui layar kaca atau streaming, esensi “lutut ketemu lutut” ini mulai luntur. Kita kehilangan ittishal (keterhubungan) ruhani yang kuat.
Meskipun kita tidak mungkin menempelkan lutut kita ke lutut para ulama saat ini karena batasan norma sosial dan penghormatan, ruh dari adab ini harus tetap hidup:
- Hadir Sepenuh Hati: Saat belajar, matikan notifikasi, fokuskan pandangan dan hati kepada guru.
- Mendekat pada Majelis: Jangan duduk di belakang jika shaf depan masih kosong. Semakin dekat posisi fisik, semakin besar peluang fokus terjaga.
- Membangun Ikatan Batin: Tumbuhkan rasa wudd (cinta) kepada guru, sebagaimana Jibril menunjukkannya kepada Nabi.
Tabel Ringkasan: Makna Gestur Tubuh Jibril
| Gestur Tubuh | Makna Lahiriah | Makna Batiniah (Tasawuf) |
| Duduk Berhadapan (Baina Yadaihi) | Posisi pelajar (Jalsatul Muta’allim) | Muwajahah: Menghadapkan cermin hati ke sumber cahaya. |
| Menempelkan Lutut (Isnadur Rukbatain) | Kedekatan fisik ekstrem | Menghilangkan jarak ego, Kamal at-Talaqqi (penerimaan sempurna). |
| Tangan di Paha Nabi | Membangunkan perhatian | Mazidul Wudd (Kecintaan berlebih), menyatukan frekuensi rasa. |
FAQ: Pertanyaan Seputar Etika Menghadap Guru
Apakah boleh murid memegang paha gurunya saat ini?
Tidak dianjurkan meniru tindakan ini secara harfiah (tekstual), karena Jibril memiliki kedudukan khusus dan konteksnya adalah ta’miyah (penyamaran) sebagai orang Arab Badui yang lugu. Adab kita saat ini adalah menjaga jarak sopan namun tetap dekat secara perhatian. Syaikh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa tindakan Jibril itu mungkin terlihat “kurang beradab secara lahir” (in lam yasluk al-adaba zhahiran), namun dimaklumi karena tujuannya.
Apa yang dimaksud dengan “Kekuatan Jiwa” dalam menuntut ilmu?
Syaikh Ibnu Hajar menyebutkan Quwwatun Nafs (kekuatan jiwa). Artinya, seorang penuntut ilmu harus punya mental baja, tidak mudah teralihkan (distracted), dan berani bertanya untuk menghilangkan kejahilan. Posisi duduk Jibril mencerminkan keteguhan jiwa ini.
Bagaimana jika saya belajar secara online?
Anda tetap bisa mengamalkan prinsip ini dengan cara: duduk sopan (bukan tiduran) saat menyimak kajian online, mengamalkan adab pakaian penuntut ilmu (seperti mengenakan baju yang bersih dan rapi sebagaimana Jibril berbaju putih), serta memfokuskan pandangan pada layar tanpa membuka aplikasi lain. Ini adalah bentuk Ta’zim terhadap ilmu yang melampaui batasan ruang fisik.
Kesimpulan
Peristiwa Jibril menempelkan lututnya ke lutut Nabi Muhammad ﷺ bukanlah sekadar detail sejarah tanpa makna. Ia adalah simbol abadi tentang bagaimana seharusnya ilmu didekati: dengan kesungguhan, kedekatan, dan cinta.
Etika menghadap guru bukan hanya soal sopan santun normatif, melainkan strategi spiritual untuk membuka pintu hati. Tanpa kedekatan hati dan keseriusan jasad, ilmu hanya akan mampir di telinga tanpa pernah meresap ke dalam sanubari.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi
Aḥmad ibn Muḥammad Ibn Ḥajar al-Haytamī, al-Fatḥ al-Mubīn bi-Sharḥ al-Arbaʿīn, ed. Aḥmad Jāsim Muḥammad al-Muḥammad, Quṣayy Muḥammad Nūrūs al-Ḥallāq, and Anwar al-Shaykhī al-Dāghistānī, 1st ed. (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008), 142-143.




