Bulan suci Ramadhan dan ibadah puasa secara umum memiliki kedudukan agung dalam syariat Islam. Agar ibadah ini mencapai derajat kesempurnaan, seorang hamba perlu menghiasi lisannya dengan dzikir dan doa yang bersumber dari sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Artikel ini menyajikan panduan lengkap dzikir dan doa puasa berdasarkan rujukan utama Mazhab Syafi’i, yakni Kitab Al-Adzkar karya Al-Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah, secara spesifik pada halaman 188 hingga 191. Penjelasan di bawah ini memuat redaksi asli, terjemahan, serta pandangan fiqih dari Imam An-Nawawi terkait adab-adab puasa, mulai dari tata cara menyambut hilal hingga doa malam Lailatul Qadar.
Doa dan Dzikir Menyambut Awal Bulan (Melihat Hilal)

Perjalanan ibadah puasa bermula dari ketetapan waktu yang ditandai dengan munculnya hilal (bulan sabit awal bulan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk melangitkan doa ketika melihat tanda kebesaran Allah tersebut.
Imam An-Nawawi mencantumkan beberapa riwayat terkait doa melihat hilal:
1. Doa Melihat Hilal Riwayat Thalhah bin Ubaidillah
Dalam Musnad Ad-Darimi dan Kitab At-Tirmidzi (Hadits No. 536), dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat hilal, beliau mengucapkan:
اللهم أهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله
“Allahumma ahillahu ‘alayna bil-yumni wal-iman, was-salamati wal-islam, Rabbi wa Rabbukallah.”
Artinya: Ya Allah, terbitkanlah bulan ini kepada kami dengan keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. (Imam At-Tirmidzi berkata: Hadits Hasan).
2. Doa Melihat Hilal Riwayat Ibnu Umar
Riwayat lain dalam Musnad Ad-Darimi dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma (Hadits No. 537), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan lafaz yang sedikit berbeda:
الله أكبر، اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام، والتوفيق لما تحب وترضى، ربنا وربك الله
“Allahu Akbar, Allahumma ahillahu ‘alayna bil-amni wal-iman, was-salamati wal-islam, wat-taufiqi lima tuhibbu wa tardha, Rabbuna wa Rabbukallah.”
Artinya: Allah Maha Besar. Ya Allah, terbitkanlah bulan ini kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman, dan taufik pada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah.
3. Doa Melihat Hilal Riwayat Qatadah
Dalam Sunan Abu Dawud pada Kitab Al-Adab (Hadits No. 538), terdapat riwayat dari Qatadah secara mursal (sanadnya terputus di tingkat Tabi’in/Sahabat), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa berikut sebanyak tiga kali saat melihat hilal:
هلال خير ورشد، هلال خير ورشد، هلال خير ورشد، آمنت بالله الذي خلقك
“Hilalu khairin wa rusydin, hilalu khairin wa rusydin, hilalu khairin wa rusydin, aamantu billahilladzi khalaqaka.”
Artinya: Bulan sabit kebaikan dan petunjuk, bulan sabit kebaikan dan petunjuk, bulan sabit kebaikan dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah yang menciptakanmu.
Setelah mengucapkan hal tersebut, beliau melanjutkan:
(الحمد لله الذي ذهب بشهر كذا وجاء بشهر كذا).
Al-ḥamdu lillāhil-ladzī dhahaba bi-shahri [kadhā] wa-jāʾa bi-shahri [kadhā].
“Segala puji bagi Allah yang telah melalukan bulan ini dan mendatangkan bulan itu”
Contoh penerapan doa ini adalah: Jika saat ini adalah pergantian dari bulan Rajab menuju bulan Syaban, maka lafal praktis yang dibaca adalah: Al-ḥamdu lillāhil-ladzī dzahaba bi-syahri Rajab, wa-jāʾa bi-syahri Syaʿbān. (Segala puji bagi Allah yang telah melalukan bulan Rajab dan mendatangkan bulan Syaban).
Riwayat lain menyebutkan beliau memalingkan wajahnya dari hilal setelah melihatnya. Abu Dawud memberi catatan bahwa dalam bab ini tidak ada riwayat musnad (bersambung sanadnya) yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Doa Khusus Memasuki Bulan Rajab
Sebagai persiapan menyambut bulan puasa, umat Islam dianjurkan berdoa sejak bulan Rajab. Imam An-Nawawi (Hadits No. 541) mengutip riwayat dari Hilyatul Auliya dan kitab Ibnu Sinni dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
“Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana.”
Artinya: Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.
Doa Ketika Melihat Rembulan (Qamar)
Apabila bulan sudah tampak membesar (qamar), Nabi ﷺ menyuruh untuk memanjatkan doa perlindungan berdasarkan (Hadits No. 540) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
تعوذي بالله من شر هذا الغاسق إذا وقب
“Ta’awwadzi billahi min syarri hadzal ghasiq idza waqab.”
Artinya: Berlindunglah engkau (‘Aisyah) kepada Allah dari kejahatan malam yang gelap gulita ini apabila telah masuk.
Cara praktis mengamalkan hadits ini saat melihat bulan adalah dengan mengubah kata perintahnya menjadi doa untuk diri sendiri, yaitu membaca lafal di atas, atau cukup dengan melantunkan Surah Al-Falaq.
Adab dan Dzikir Mustahab Ketika Sedang Berpuasa

Imam An-Nawawi merincikan beberapa hukum fiqih dan amalan sunnah (mustahab) bagi orang yang sedang menjalankan puasa.
1. Hukum Menggabungkan Niat Puasa dalam Hati dan Lisan
Dalam tradisi keilmuan fiqih, masalah niat menempati posisi sentral. Imam An-Nawawi menegaskan:
“Disukai (mustahab) untuk menggabungkan dalam niat puasa antara hati dan lisan, sebagaimana telah kami jelaskan pada ibadah lainnya. Jika seseorang mencukupkan dengan hati saja, itu sudah cukup. Namun jika ia mencukupkan dengan lisan saja (tanpa berniat di dalam hati), maka hal itu tidak sah tanpa ada perbedaan pendapat (khilaf).”
2. Etika Sosial Saat Berpuasa: Mengucapkan “Inni Shaim”
Puasa berfungsi sebagai perisai dari perbuatan buruk. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim (No. 542) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menerangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الصيام جنة، فإذا صام أحدكم فلا يرفث ولا يجهل، وإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل: إني صائم، إني صائم، مرتين
Artinya: Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor (rafats) dan jangan bertindak bodoh (yajhal). Dan jika ada seseorang yang mengajaknya berkelahi atau mencelanya, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa’, dua kali.
Pandangan Fiqih Imam An-Nawawi:
Muncul pertanyaan di kalangan ulama, apakah lafaz “Inni shaim” diucapkan dengan lisan atau cukup di dalam batin? Imam An-Nawawi menjelaskan dua pendapat:
- Diucapkan dengan lisannya agar terdengar oleh orang yang mencela, sehingga orang tersebut berhenti.
- Diucapkan dengan hatinya semata untuk menahan diri dari tindakan bodoh dan menjaga kesucian puasanya.
Menurut Imam An-Nawawi, pendapat pertama adalah yang lebih kuat (azhhar). Beliau juga menambahkan penjelasan makna “syaatamahu” (mencelanya), yaitu orang tersebut mencela dengan maksud memancing agar terjadi aksi saling mencela.
3. Keutamaan Doa Orang yang Berpuasa
Berpuasa adalah masa-masa di mana seorang hamba dekat dengan Tuhannya. Mengutip Hadits No. 534 (diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa doa orang berpuasa tidak akan tertolak:
ثلاثة لا ترد دعوتهم: الصائم حتى يفطر، والإمام العادل، ودعوة المظلوم
Artinya: Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: Orang yang berpuasa hingga ia berbuka, Imam yang adil, dan doa orang yang dizalimi. (At-Tirmidzi berkata: Hadits Hasan).
Imam An-Nawawi memberi penekanan pada lafaz “hingga” yang tertulis dengan huruf Ta’ mutsannah di atas (حتى), menunjukkan proses berkesinambungan sejak mulai puasa sampai tiba waktu berbuka.
Ragam Doa Berbuka Puasa Sesuai Riwayat Hadits

Terkait bacaan doa buka puasa, sering terjadi perdebatan di masyarakat. Kitab Al-Adzkar memberikan pedoman pertengahan dan ilmiah dengan mencantumkan berbagai redaksi doa beserta status periwayatannya.
Tabel Perbandingan Doa Buka Puasa
| Riwayat Hadits | Teks Arab | Status Hadits (Menurut Kitab Al-Adzkar) |
| Ibnu Umar (Sunan Abu Dawud & An-Nasa’i) | ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله تعالى | Shahih / Diterima |
| Mu’adz bin Zuhrah (Sunan Abu Dawud) | اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت | Mursal |
| Mu’adz bin Zuhrah (Ibnu Sinni) | الحمد لله الذي أعانني فصمت، ورزقني فأفطرت | Diterima sebagai variasi dzikir |
| Ibnu Abbas (Ibnu Sinni) | اللهم لك صمنا، وعلى رزقك أفطرنا، فتقبل منا إنك أنت السميع العليم | Diterima sebagai variasi dzikir |
1. Doa Berbuka Berdasarkan Sanad Shahih (Dzahabadz Zhama-u)
Hadits No. 544 dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca:
ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله تعالى
“Dzahabadz zhama-u, wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru insya Allahu Ta’ala.”
Artinya: Telah hilang rasa dahaga, dan telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala insya Allah Ta’ala.
Koreksi Linguistik dari Imam An-Nawawi:
Sebagai seorang ulama yang teliti, Imam An-Nawawi memberikan penjelasan tata bahasa Arab terkait kata Zhama-u. Kata Az-Zhama’ dibaca pendek (maqshur) dengan akhiran hamzah, yang bermakna rasa haus. Beliau menyitir ayat Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 120:
(ذلك بأنهم لا يصيبهم ظمأ).
Beliau berkata: “Saya menyebutkan hal ini meskipun sudah jelas, karena saya melihat orang yang rancu memahaminya lalu mengiranya dibaca panjang (mamdud).”
2. Doa Berbuka yang Masyhur (Allahumma Laka Shumtu)
Doa yang paling luas diamalkan oleh kaum muslimin terdapat pada riwayat Hadits No. 545 dari Mu’adz bin Zuhrah secara mursal:
اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت
“Allahumma laka shumtu, wa ‘ala rizqika afthartu.”
Artinya: Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan atas rezeki-Mu aku berbuka.
Fakta bahwa Imam An-Nawawi tetap memasukkan riwayat ini dalam Kitab Al-Adzkar menjadi pijakan fiqih bahwa mengamalkan doa ini saat berbuka sangat dibolehkan, karena mengandung makna pengakuan atas rezeki dan kepasrahan hamba kepada Tuhannya.
3. Doa Ampunan Saat Berbuka (Doa Abdullah bin Amr)
Berdasarkan Hadits No. 548, ada waktu khusus yang sangat mustajab tepat di detik-detik berbuka. Sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma mempraktikkan doa berikut:
اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شئ أن تغفر لي
“Allahumma inni as-aluka birahmatikallati wasi’at kulla syai-in an taghfira li.”
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.
Adab dan Doa Ketika Berbuka di Kediaman Orang Lain
Islam adalah agama yang mengedepankan adab dalam bersosialisasi. Ketika seseorang diundang untuk menghadiri perjamuan berbuka puasa, ia disunnahkan untuk mendoakan tuan rumah.
Dalam Hadits No. 549 diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang bertamu kepada Sa’ad bin Ubadah. Sa’ad menyuguhkan roti dan anggur kering (kismis). Beliau makan hidangan tersebut lalu berdoa:
أفطر عندكم الصائمون، وأكل طعامكم الأبرار وصلت عليكم الملائكة
“Afthara ‘indakumush shaa-imuuna, wa akala tha’aamakumul abraaru, wa shallat ‘alaikumul malaa-ikah.”
Artinya: Telah berbuka di sisi kalian orang-orang yang berpuasa, telah memakan makanan kalian orang-orang yang baik (abrar), dan para malaikat telah bershalawat (memintakan ampunan) untuk kalian.
Catatan Penting (Tashif/Koreksi Naskah):
Imam An-Nawawi memberikan catatan kritis terhadap salinan naskah lama kitab Al-Adzkar. Banyak naskah menuliskan bahwa Sa’ad menghidangkan roti dan minyak (زيت – zait). Namun Imam An-Nawawi menegaskan bahwa ini adalah tashif (kesalahan tulis salinan), dan teks yang benar secara sejarah adalah roti dan anggur kering/kismis (زبيب – zabib).
Doa Mustajab di Malam Lailatul Qadar
Puncak spiritual ibadah puasa terdapat pada pencarian Lailatul Qadar. Dalam riwayat At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah (Hadits No. 551), Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai doa apa yang paling pantas dibaca jika bertemu dengan malam mulia tersebut. Beliau mengajarkan:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku.
Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini Hasan Shahih.
Pandangan Fiqih Imam Asy-Syafi’i tentang Lailatul Qadar
Ulama dari kalangan Syafi’iyah bersepakat atas kesunnahan memperbanyak doa tersebut, sembari memperbanyak tilawah Al-Qur’an dan dzikir lainnya.
Secara khusus, Imam An-Nawawi menukil pandangan teologis Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:
“Saya menyukai agar kesungguhan seseorang pada hari/siangnya (di hari Lailatul Qadar) sama seperti kesungguhannya pada malam harinya.”
An-Nawawi menutup pembahasan ini dengan anjuran indah: “Disukai untuk memperbanyak doa pada malam itu untuk kepentingan-kepentingan umat Islam, karena ini adalah syiar orang-orang saleh dan hamba-hamba Allah yang arif. Wa billahit taufiq.”
FAQ: Pertanyaan Seputar Dzikir dan Doa Puasa
Apakah sah niat puasa jika hanya diucapkan di lisan tanpa diyakini di dalam hati?
Berdasarkan penjelasan Imam An-Nawawi, niat puasa wajib ada di dalam hati. Jika hanya melafalkan niat dengan lisan tanpa ada kesengajaan dalam hati, puasanya dianggap tidak sah tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Apa yang harus dilakukan jika ada orang yang memancing amarah saat berpuasa?
Ucapkan kalimat “Inni shaim” (Aku sedang berpuasa) sebanyak dua kali atau lebih. Menurut pendapat terkuat dalam madzhab, kalimat ini diucapkan menggunakan lisan agar pihak lawan mendengar dan menyadari kesalahannya.
Doa berbuka mana yang paling tepat untuk dibaca?
Seluruh ulama mengakui keshahihan doa “Dzahabadz zhama-u…”. Namun membaca “Allahumma laka shumtu…” juga merupakan amalan masyhur yang tercantum sah di dalam kitab Al-Adzkar. Menggabungkan keduanya adalah langkah yang baik.
Bolehkah membaca doa menggunakan bahasa selain Arab saat berbuka?
Doa ma’tsur (doa yang diajarkan langsung dengan lafaz dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) diucapkan dengan bahasa Arab. Namun, memohon ampunan atau hajat pribadi di saat berbuka (sebagaimana praktik Abdullah bin Amr) dapat menggunakan bahasa ibu masing-masing di dalam hati.
Dengan berpegang pada panduan dari Kitab Al-Adzkar ini, semoga ibadah puasa kita semakin tertata secara syar’i dan membawa bekas yang mendalam bagi kebersihan ruhani.
Referensi
Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī, al-Adhkār, ed. ʿAbd al-Qādir al-Arnaʾūṭ (Beirut: Dār al-Fikr, 1994), 188-191.




