Adab Buka Bersama: Doa untuk Tuan Rumah Buka Puasa (Kajian Al-Adzkar)

Tradisi berkumpul untuk membatalkan puasa (berbuka) bersama kerabat atau sahabat senantiasa mewarnai indahnya bulan suci Ramadhan. Praktik jamuan ini sejatinya melampaui batas rutinitas makan semata. Berbagi hidangan berbuka adalah sebuah sarana ibadah bernilai tinggi apabila pelakunya membingkai niat dengan ikhlash dan menjauhi sifat riya’.

Bagi seorang tamu yang diundang, menghadiri jamuan berbuka menuntut penerapan etika bersosialisasi yang luhur. Syariat Islam telah menata adab buka bersama secara rapi, mengatur bagaimana seorang hamba mensyukuri nikmat sekaligus memuliakan orang yang menjamunya. Merujuk pada panduan lengkap dzikir dan doa seputar puasa menurut Imam An-Nawawi di dalam Kitab Al-Adzkar, terdapat tuntunan lisan yang sangat agung bagi tamu terhadap tuan rumah.

Artikel ini menguraikan hukum fiqih, sejarah periwayatan, serta bacaan doa setelah makan di tempat orang lain ketika berbuka, demi menjaga maqam ketaatan kita kepada Allah ﷻ.

Menjaga Adab Setelah Lelah Berpuasa

Seorang mukmin yang menjalani ibadah puasa senantiasa berada dalam Ḥāl (kondisi spiritual) yang diawasi oleh Allah ﷻ. Setelah seharian berjuang mendidik jiwa dengan cara menahan amarah saat puasa dan adab lisan, momen berbuka di kediaman orang lain menjadi ujian berikutnya. Ujian ini berupa bagaimana sang tamu bersikap sopan, tidak mencela makanan, serta mendoakan kebaikan bagi si empunya rumah.

Ketika azan Maghrib berkumandang, kesunnahan utama adalah menyegerakan berbuka. Setelah membasahi kerongkongan dengan hidangan dan melafalkan bacaan doa buka puasa yang shahih, seorang tamu sangat disunnahkan untuk membaca doa khusus bagi tuan rumah sebagai bentuk rasa syukur.

Riwayat Shahih: Bertamu ke Kediaman Sa’ad bin Ubadah

Kitab kuning klasik Al-Adzkar terbuka di atas meja kayu bersanding dengan kurma, rujukan utama adab buka bersama.
Seluruh tuntunan doa dan adab dalam tulisan ini merujuk pada penjelasan Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar.

Landasan hukum mengenai doa untuk tuan rumah buka puasa tertuang jelas dalam Kitab Al-Adzkar pada Hadits No. 549. Imam An-Nawawi menukil riwayat dari Sunan Abu Dawud beserta kitab hadits lainnya dengan sanad yang shahih.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan sebuah peristiwa mulia ketika Nabi Muhammad ﷺ berkenan hadir ke rumah salah seorang pemuka sahabat, yakni Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu.

Dalam perjamuan tersebut, Sa’ad bin Ubadah menghidangkan makanan kesukaan masyarakat Arab pada masa itu. Setelah Rasulullah ﷺ memakan hidangan tersebut, beliau mengangkat wajahnya dan mendoakan Sa’ad dengan kalimat yang indah.

Koreksi Akademik (Tashif) dari Imam An-Nawawi

Terdapat sebuah catatan keilmuan yang amat berharga dari Imam An-Nawawi terkait teks hadits ini. Beliau meluruskan kesalahan salinan yang jamak terjadi pada naskah-naskah penyalin kitab di masa lalu.

Beliau menuliskan:

فجاء بخبز وزيت، وهو كذلك في نسخ الأذكار، ولكنه تصحيف، والصحيح أنه جاء بخبز وزبيب

“Maka ia (Sa’ad) membawakan roti dan minyak (zait). Demikian tertulis dalam naskah-naskah Al-Adzkar, namun ini adalah kesalahan penulisan (tashif), yang benar adalah ia membawa roti dan kismis/anggur kering (zabib).”

Koreksi linguistik ini memperlihatkan betapa ketatnya tradisi keilmuan Islam dalam menjaga keaslian sejarah. Hidangan yang disajikan Sa’ad bin Ubadah adalah roti dan kismis, sebuah sajian manis yang memang sangat disunnahkan untuk mengawali berbuka puasa guna memulihkan tenaga.

Lafaz Doa untuk Tuan Rumah Buka Puasa

Kaligrafi Arab doa untuk tuan rumah buka puasa: Afthara 'indakumush shaimuna wa akala tha'amakumul abrar...
Lafaz doa agung yang diajarkan Nabi ﷺ: “Telah berbuka di sisi kalian orang-orang yang berpuasa…” sebagai hadiah terbaik bagi tuan rumah.

Setelah menyelesaikan santapannya, Nabi ﷺ membalas kemuliaan hati Sa’ad bin Ubadah dengan tiga bentuk doa kebaikan. Hadits yang sama (No. 549) mencatat lafaz doa tersebut:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلَائِكَةُ

“Afthara ‘indakumush shaa-imuuna, wa akala tha’aamakumul abraar, wa shallat ‘alaikumul malaa-ikah.”

Artinya: Telah berbuka di sisi kalian orang-orang yang berpuasa, telah memakan makanan kalian orang-orang yang baik (abrar), dan para malaikat telah bershalawat (mendoakan ampunan) untuk kalian.

Praktik membaca doa ini juga diperkuat oleh riwayat Hadits No. 550 dari kitab Ibnu Sinni. Sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu menegaskan bahwa rutinitas ini selalu dijaga oleh Nabi ﷺ: “Adalah Nabi ﷺ apabila berbuka di tempat suatu kaum, beliau mendoakan mereka dengan mengucapkan: Afthara ‘indakumush shaa-imuun…”

Makna Spiritual Doa Buka Bersama

Doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ di atas menyimpan dimensi tasawuf yang amat sejuk. Terdapat tiga keutamaan besar yang dimintakan oleh sang tamu untuk tuan rumah:

  1. Afthara ‘indakumush shaa-imuun: Doa agar rumah tersebut senantiasa diberkahi karena sering dikunjungi oleh orang-orang saleh yang gemar berpuasa. Tuan rumah akan mendapatkan pahala puasa dari para tamunya tanpa mengurangi pahala sang tamu sedikit pun.
  2. Akala tha’aamakumul abrar: Kesaksian bahwa makanan yang dihidangkan halal dan thayyib, sehingga makanan tersebut menjadi sumber tenaga bagi kaum Abrar (orang-orang yang banyak berbuat kebajikan) untuk terus taat kepada Allah ﷻ.
  3. Wa shallat ‘alaikumul malaa-ikah: Permohonan agar para malaikat memintakan Tawbah Naṣūḥā (ampunan dosa) serta mencurahkan rahmat bagi tuan rumah yang telah mengorbankan hartanya demi menjamu saudaranya.

Tabel Ringkasan Adab Buka Bersama

Bagi seorang Muslim, menyelaraskan niat dan tindakan saat berbuka bersama sangatlah dianjurkan. Tabel berikut menyajikan tata krama dasar bagi tamu dan tuan rumah berdasarkan tuntunan syariat.

StatusAdab Hati & TindakanAdab Lisan (Doa)
Tuan RumahMenghidangkan makanan halal dengan ikhlash, menjauhi sikap berlebih-lebihan yang mendatangkan kelalaian.Mempersilakan tamu berbuka dengan ramah, menjawab doa tamu dengan “Amin”.
TamuTidak menuntut hidangan mewah, segera berbuka saat azan, menyantap hidangan terdekat.Membaca “Dzahabadz zhama-u…” saat berbuka, lalu membaca “Afthara ‘indakum…” setelah selesai makan.

FAQ: Adab dan Doa Setelah Makan di Tempat Orang

Kapan tepatnya doa “Afthara ‘indakumush shaa-imuun” ini diucapkan?

Doa ini disunnahkan untuk dibaca sesaat setelah tamu selesai menyantap hidangan berbuka yang disajikan oleh tuan rumah, baik sebelum maupun sesudah melaksanakan shalat Maghrib.

Bolehkah doa ini dibaca dengan suara keras?

Sangat dianjurkan untuk membacanya dengan suara yang terdengar oleh tuan rumah (jahr), dengan niat memberikan kebahagiaan (idkhal as-surur) dan mendoakan mereka secara langsung.

Apakah doa ini hanya berlaku di bulan Ramadhan?

Tuntunan lafaz “orang-orang yang berpuasa” menjadikan doa ini sangat spesifik untuk momen berbuka. Namun, jika Anda dijamu puasa sunnah (seperti Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh), lafaz ini tetap menjadi sunnah yang utama untuk diamalkan.

Penutup

Menghadiri jamuan buka puasa bersama haruslah menjadi ajang penguatan persaudaraan yang berpahala. Dengan mengamalkan adab bertamu serta melafalkan doa bagi tuan rumah sesuai sunnah Nabi ﷺ, kita tidak hanya mengisi perut yang kosong, tetapi juga mengisi lembaran amal kebaikan. Semoga Allah ﷻ mengaruniakan kemampuan kepada kita untuk menghidupkan sunnah-sunnah lisan ini di tengah masyarakat. Wallahu a’lam bish-shawab.

Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī, al-Adhkār, ed. ʿAbd al-Qādir al-Arnaʾūṭ (Beirut: Dār al-Fikr, 1994), 191.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.