Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT sekaligus bapak dari seluruh umat manusia. Sebagai seorang nabi, beliau memiliki kedekatan spiritual yang luar biasa dengan Allah, yang terwujud melalui munajat dan doa-doa yang dipanjatkannya.
Salah satu munajat yang paling masyhur adalah doa Nabi Adam memohon ampunan yang diabadikan langsung di dalam Al-Qurโan. Selain itu, terdapat pula sebuah doa rahasia yang diriwayatkan dalam kitab Iโฤnat aแนญ-แนฌฤlibฤซn yang diawali dengan kalimat “Allahumma innaka taโlamu sirri wa โalฤniyati”.
Doa-doa ini bukan sekadar cerminan kerendahan hati Sang Manusia Pertama, tetapi juga warisan spiritual berharga di dalam khazanah kumpulan doa para nabi yang bisa diamalkan umat Islam untuk memohon ampunan, keberkahan, hingga kelapangan finansial. Artikel ini akan membedah doa Nabi Adam dan artinya secara lengkap (Arab dan Latin), menelusuri khasiatnya sebagai pembuka rezeki, hingga menjawab mitos seputar doa Nabi Adam untuk memikat Siti Hawa.
Bacaan Doa Nabi Adam Lengkap (Arab, Latin, dan Terjemahan)
Terdapat dua doa utama yang sangat lekat dengan kisah perjalanan spiritual Nabi Adam AS:
1. Doa Nabi Adam Memohon Ampunan (QS. Al-Aโraf: 23)
Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka menyadari kesalahan karena melanggar larangan Allah memakan buah khuldi di surga. Ini adalah wujud taubat nasuha yang dipenuhi kerendahan hati:
ุฑูุจููููุง ุธูููู ูููุง ุฃูููููุณูููุง ููุฅููู ููู ู ุชูุบูููุฑู ููููุง ููุชูุฑูุญูู ูููุง ูููููููููููู ู ููู ุงููุฎูุงุณูุฑูููู
Latin: “Rabbanฤ แบalamnฤ anfusanฤ wa il lam taghfir lanฤ wa tarแธฅamnฤ lanakลซnanna minal khฤsirฤซn.”
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
2. Doa Nabi Adam: Allahumma Innaka Taโlamu Sirri
Doa kedua ini memiliki fadhilah yang sangat dahsyat untuk ketenangan hati dan kelapangan rezeki. Riwayatnya dicatat secara detail oleh Syaikh al-Bakri ad-Dimyathi dalam kitab Iโฤnat aแนญ-แนฌฤlibฤซn:
ุงููููููู ูู ุฅูููููู ุชูุนูููู ู ุณูุฑููู ููุนูููุงููููุชููุ ููุงููุจููู ู ูุนูุฐูุฑูุชูู. ููุชูุนูููู ู ู ูุง ููู ููููุณูู ููุงุบูููุฑู ููู ุฐููููุจูู. ููุชูุนูููู ู ุญูุงุฌูุชูู ููุฃูุนูุทูููู ุณูุคูููู. ุงููููููู ูู ุฅููููู ุฃูุณูุฃููููู ุฅููู ูุงููุง ููุจูุงุดูุฑู ููููุจููุ ูููููููููุง ุตูุงุฏูููุง ุญูุชููู ุฃูุนูููู ู ุฃูููููู ููุง ููุตููุจูููู ุฅููููุง ู ูุง ููุชูุจูุชู ูููุ ููุงูุฑููุถูุง ุจูู ูุง ููุถูููุชู ุนูููููู
Latin: “Allahumma innaka taโlamu sirrฤซ wa โalฤniyatฤซ, faqbal maโdziratฤซ. Wa taโlamu mฤ fฤซ nafsฤซ faghfir lฤซ dhunลซbฤซ. Wa taโlamu แธฅฤjatฤซ fa aโแนญinฤซ suโlฤซ. Allahumma innฤซ asโaluk ฤซmฤnan yubฤshiru qalbฤซ, wa yaqฤซnan แนฃฤdiqan แธฅattฤ aโlama annahu lฤ yuแนฃฤซbunฤซ illฤ mฤ katabta lฤซ, war riแธฤ bimฤ qadayta โalayya.”
Artinya: “Ya Allah, Engkau mengetahui rahasiaku dan hal-hal yang tampak dariku, maka terimalah uzurku. Engkau mengetahui apa yang ada dalam jiwaku, maka ampunilah dosa-dosaku. Engkau mengetahui kebutuhanku, maka kabulkanlah permintaanku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keimanan yang menyentuh hatiku, keyakinan yang benar sehingga aku mengetahui bahwa tidak ada musibah yang menimpaku kecuali apa yang telah Engkau tetapkan untukku, dan karuniakanlah keridhaan terhadap apa yang telah Engkau putuskan atas diriku.”
Kisah Turunnya Doa Nabi Adam di Multazam

Secara spesifik, bacaan doa Nabi Adam Allahumma innaka ta’lamu sirri memiliki kedalaman makna tauhid yang luar biasa. Kalimat pembukanya adalah bentuk kepasrahan total seorang hamba di hadapan Penciptanya.
Dalam kitab Iโฤnat aแนญ-แนฌฤlibฤซn โalฤ แธคalli Alfฤแบ Fath al-Muโฤซn, dikisahkan dari Abdullah bin Sulaiman mengenai asbabun nuzul (sebab turunnya) doa ini. Setelah Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, beliau menuju Makkah. Beliau melakukan thawaf mengelilingi Kaโbah sebanyak tujuh putaran, kemudian menunaikan shalat sunnah dua rakaat.
Setelah itu, beliau mendatangi Multazam (area di antara Hajar Aswad dan pintu Kaโbah) dan memanjatkan doa Allahumma innaka ta’lamu sirri tersebut. Multazam dikenal sebagai salah satu tempat paling mustajab di muka bumi untuk memanjatkan doa.
Khasiat Doa Nabi Adam: Sang Pembuka Rezeki dan Penarik Dunia
Mengapa doa ini begitu dianjurkan oleh para ulama? Setelah Nabi Adam selesai berdoa di Multazam, Allah Taโฤlฤ langsung mewahyukan sebuah janji agung kepadanya:
“Wahai Adam, kamu telah berdoa kepada-Ku dengan doa-doa ini, dan Aku telah mengabulkannya untukmu. Tidak ada seorang pun dari keturunanmu yang berdoa dengan doa ini melainkan Aku akan:
1. Menghilangkan kegundahan dan kesedihannya, 2. Menghapus kesempitannya, 3. Mencabut kefakiran dari hatinya, 4. Menjadikan kekayaan di depan matanya, 5. Memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka, dan 6. Dunia akan datang kepadanya dengan sendirinya, meskipun ia tidak menginginkannya.”
Riwayat di atas menegaskan bahwa munajat ini bukan sekadar sarana taubat, melainkan juga doa Nabi Adam pembuka rezeki yang sangat mustajab. Allah menjamin akan “mencabut kefakiran” dan “mendatangkan dunia kepadanya”. Ini menunjukkan dimensi jalbur rizqi (menarik rezeki) yang sangat kuat, menjadikannya amalan ideal bagi mereka yang sedang dihimpit kesulitan ekonomi.
(Terkait doa untuk mengatasi himpitan hidup secara spesifik, Anda juga bisa mengamalkan panduan pada tautan berikut: Kumpulan Doa Ketika Dalam Kesulitan yang Sangat Berat dan Penghilang Kesedihan)
Benarkah Ada Doa Nabi Adam untuk Memikat Siti Hawa?
Satu topik yang sering dicari masyarakat adalah kebenaran mengenai doa Nabi Adam untuk memikat Siti Hawa. Secara akademis dan fiqih, kami belum menemukan riwayat shahihโbaik dalam Al-Qurโan, hadis, maupun penjelasan kitab-kitab mu’tabarahโyang secara eksplisit menyebutkan lafadz doa khusus untuk “memikat” atau “memelet” pasangan.
Dalam berbagai tradisi lisan, memang disebutkan bahwa Nabi Adam memohon kepada Allah agar diberikan pendamping hidup saat merasa kesepian di surga. Namun, doa tersebut lebih berwujud permohonan pemenuhan kebutuhan fitrah manusia, bukan mantra romantis untuk memikat hati secara magis.
Meski demikian, doa Allahumma innaka taโlamu sirri wa โalฤniyati yang berbunyi “Engkau mengetahui kebutuhanku, maka kabulkanlah permintaanku” sangat bisa diniatkan untuk memohon kelancaran jodoh atau keharmonisan rumah tangga. Allah Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada hamba-Nya.
Tata Cara Mengamalkan Doa Nabi Adam

Karena inti dari doa ini adalah pengakuan kelemahan diri, ia sangat baik diamalkan kapan saja, terutama ketika kita sedang buntu dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Berikut adalah panduan mengamalkannya:
- Waktu yang Mustajab: Bacalah setelah selesai menunaikan shalat fardhu atau tata cara shalat hajat. Akan sangat luar biasa jika Anda berkesempatan membacanya langsung di Multazam saat melaksanakan rukun haji atau umrah. Waktu sepertiga malam terakhir juga merupakan momen emas untuk merapal doa ini.
- Adab Berdoa: Pastikan Anda telah menyempurnakan syarat thaharah (seperti berwudhu) sebelum menadahkan tangan.
- Kekhusyukan: Baca dengan pelan, resapi maknanya, dan hadirkan rasa hina (butuh) di hadapan Allah.
- Pembuka dan Penutup: Awali doa dengan tahmid (memuji Allah) dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, lalu tutup kembali dengan shalawat.
(Baca juga: Mengenal 5 Malam Mustajab dan Waktu Terbaik untuk Berdoa)
Penutup
Doa Nabi Adam AS adalah warisan spiritual dan teladan luar biasa bagi umat Islam. Baik doa memohon ampunan dalam Al-Qurโan maupun doa rahasia “Allahumma innaka taโlamu sirri”, keduanya mengajarkan kita esensi tawadhu (rendah hati), menumbuhkan iman kepada Allah, dan menanamkan ketergantungan mutlak kepada Pencipta semesta alam.
Dengan istiqamah mengamalkan doa ini, insya Allah kita tidak hanya akan meraih ampunan dan ketenangan jiwa, tetapi juga dianugerahi keberkahan rezeki yang datang dari arah yang tak disangka-sangka. Mari teladani keikhlasan bapak umat manusia ini, agar hidup kita senantiasa diliputi rahmat-Nya.
Referensi:
- Abลซ Bakr สฟUthmฤn bin Muแธฅammad Shattฤ ad-Dimyฤแนญฤซ (al-Bakrฤซ), Iสฟฤnat aแนญ-แนฌฤlibฤซn สฟalฤ แธคall Alfฤแบ Fatแธฅ al-Muสฟฤซn (Beirut: Dฤr al-Fikr, 1997), juz 2, hlm. 340.
- Al-Qur’anul Karim, Surah Al-A’raf ayat 23.




