Doa Melihat Ka’bah Lengkap: Arab, Latin, dan Adab Fiqih Syafi’iyah

Memasuki Tanah Haram dan menatap Baitullah adalah momen transendental bagi setiap jiwa mukmin. Detik-detik tatkala mata lahiriah memandang Ka’bah bukan sekadar pengalaman visual, melainkan sebuah mi’raj (kenaikan) spiritual yang menuntut adab batiniah.

Dalam khazanah Fiqih Syafi’iyah, sebagaimana diuraikan secara tahqiq (mendalam) oleh Imam An-Nawawi dalam kitab monumentalnya, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadhab (Juz 8, hal 7-9), terdapat beberapa riwayat doa melihat Ka’bah yang dianjurkan (mustahabb) untuk dibaca.

Artikel ini menyajikan seluruh riwayat doa tersebut secara lengkap, disertai analisis sanad dan koreksi redaksional yang krusial bagi para penuntut ilmu.

Adab dan Kondisi Hati Saat Melihat Ka’bah

Sebelum melafalkan doa, Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi menegaskan pentingnya menata kondisi batin (ahwal) seorang hamba saat menjejakkan kaki di kota suci.

“Berkata Al-Mawardi dan selainnya: Disunnahkan memasuki Mekkah dengan kekhusyu’an hati, ketundukan anggota tubuh, seraya berdoa dan memohon dengan sangat (tadharru’).”

Kumpulan Doa Melihat Ka’bah yang Ma’tsur

Imam An-Nawawi menukil beberapa variasi doa yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, para Sahabat, dan Salafus Shalih. Berikut adalah rincian lengkapnya:

1. Doa Iftiqar (Rasa Butuh) & Penyerahan Diri

Doa ini diriwayatkan oleh Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, dari kakeknya. Doa ini dibaca saat memasuki Mekkah atau melihat Ka’bah, mengandung makna tauhid dan kepasrahan total.

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุงู„ู’ุจูŽู„ูŽุฏู ุจูŽู„ูŽุฏููƒูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ุจูŽูŠู’ุชููƒูŽุŒ ุฌูุฆู’ุชู ุฃูŽุทู’ู„ูุจู ุฑูŽุญู’ู…ูŽุชูŽูƒูŽุŒ ูˆูŽุฃูŽุคูู…ูู‘ ุทูŽุงุนูŽุชูŽูƒูŽุŒ ู…ูุชูŽู‘ุจูุนู‹ุง ู„ุฃูŽู…ู’ุฑููƒูŽุŒ ุฑูŽุงุถููŠู‹ุง ุจูู‚ูŽุฏูŽุฑููƒูŽุŒ ู…ูุจูŽู„ูู‘ุบู‹ุง ู„ุฃูŽู…ู’ุฑููƒูŽุŒ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ู…ูŽุณู’ุฃูŽู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูุถู’ุทูŽุฑูู‘ ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽุŒ ุงู„ู’ู…ูุดู’ููู‚ู ู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจููƒูŽุŒ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูŽู†ููŠุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุชูŽุฌูŽุงูˆูŽุฒูŽ ุนูŽู†ูู‘ูŠ ุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูุฏู’ุฎูู„ูŽู†ููŠ ุฌูŽู†ูŽู‘ุชูŽูƒูŽ

Transliterasi Latin: Allahumma al-baladu baladuk, wal baytu baytuk, ji’tu athlubu rahmatak, wa a-ummu tha’atak, muttabi’an li-amrik, radhiyan bi-qadarik, muballighan li-amrik. As-aluka mas-alatal mudhtharri ilayk, al-musyfiqi min ‘adzabik, an tastaqbilani, wa an tatajawaza ‘anni bi-rahmatik, wa an tudkhilani jannatak.

Terjemahan: “Ya Allah, negeri ini adalah negeri-Mu, dan rumah ini adalah rumah-Mu. Aku datang memohon rahmat-Mu, dan aku bermaksud menaati-Mu, mengikuti perintah-Mu, ridha dengan takdir-Mu, dan menyampaikan perintah-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang terdesak (sangat butuh) kepada-Mu, yang takut akan siksa-Mu, agar Engkau menyambutku, memaafkan (kesalahan)ku dengan rahmat-Mu, dan memasukkanku ke dalam surga-Mu.”

2. Doa Pemuliaan Ka’bah (Riwayat Paling Masyhur)

Teks arab dan terjemahan doa ketika melihat Ka'bah sesuai sunnah Nabi.
Simpan gambar ini di ponsel Anda untuk memudahkan hafalan doa melihat Ka’bah saat pertama kali memasuki Masjidil Haram.

Ini adalah doa melihat Ka’bah yang paling populer dan dianjurkan oleh Imam Syafi’i. Diriwayatkan dari Ibnu Juraij, bahwa Nabi SAW apabila melihat Ka’bah mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan lafaz ini.

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฒูุฏู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชูŽ ุชูŽุดู’ุฑููŠูู‹ุง ูˆูŽุชูŽูƒู’ุฑููŠู…ู‹ุง ูˆูŽุชูŽุนู’ุธููŠู…ู‹ุง ูˆูŽู…ูŽู‡ูŽุงุจูŽุฉู‹ุŒ ูˆูŽุฒูุฏู’ ู…ูŽู†ู’ ุดูŽุฑูŽู‘ููŽู‡ู ูˆูŽูƒูŽุฑูŽู‘ู…ูŽู‡ู ู…ูู…ูŽู‘ู†ู’ ุญูŽุฌูŽู‘ู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุงุนู’ุชูŽู…ูŽุฑูŽู‡ู ุชูŽุดู’ุฑููŠูู‹ุง ูˆูŽุชูŽูƒู’ุฑููŠู…ู‹ุง ูˆูŽุชูŽุนู’ุธููŠู…ู‹ุง ูˆูŽุจูุฑู‹ู‘ุง

Transliterasi Latin: Allahumma zid hadzal bayta tasyriifan wa takriiman wa ta’zhiman wa mahaabah. Wa zid man syarrafahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasyriifan wa takriiman wa ta’zhiman wa birran.

Terjemahan: “Ya Allah, tambahkanlah pada rumah ini kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan kewibawaan. Dan tambahkanlah kepada orang yang memuliakan dan menghormatinyaโ€”dari mereka yang berhaji atau berumrahโ€”kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan kebaikan.”

Koreksi Penting (Tahqiq Ilmiah)

Imam An-Nawawi memberikan catatan kritis terhadap riwayat Al-Muzani dalam Al-Mukhtashar yang menambahkan kata mahabatan (kewibawaan) pada bagian kedua doa (doa untuk orang-orang yang umrah atau haji).

“Berkata para ashab kami (ulama Syafi’iyah) dalam dua jalan periwayatan: Ini adalah kesalahan dari Al-Muzani. Sesungguhnya yang diucapkan pada bagian kedua adalah ‘Wa Birran’ (dan kebaikan).”

Alasannya secara balaghah: Mahabah (kewibawaan/kegagahan) adalah sifat yang layak bagi Baitullah, sedangkan Birr (kebaikan/kesalehan) adalah sifat yang layak bagi manusia (jamaah haji/umrah).

3. Doa Keselamatan (Atsar Umar bin Khattab)

Dianjurkan pula menambahkan doa yang bersumber dari atsar Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau jika melihat Ka’bah mengucapkan:

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽุงู…ู ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽุงู…ู ููŽุญูŽูŠูู‘ู†ูŽุง ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ุจูุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽุงู…ู

Transliterasi Latin: Allahumma antas-salaam wa minkas-salaam fa hayyina rabbana bis-salaam.

Terjemahan: “Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan/Kedamaian), dan dari-Mu lah keselamatan, maka hidupkanlah kami wahai Tuhan kami dengan keselamatan.”

Penjelasan Makna oleh Qadi Abu Ath-Thayyib:

ู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ุฃุจูˆ ุงู„ุทูŠุจ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ุงู„ู…ุฌุฑุฏ ู‚ูˆู„ู‡ (ุงู„ู„ู‡ู… ุฃู†ุช ุงู„ุณู„ุงู…) ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจู‡ ุฃู† ุงู„ุณู„ุงู… ู…ู† ุฃุณู…ุงุก ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู‚ุงู„ ูˆู‚ูˆู„ู‡ (ูˆู…ู†ูƒ ุงู„ุณู„ุงู…) ุฃูŠ ุงู„ุณู„ุงู…ุฉ ู…ู† ุงู„ุขูุงุช. ูˆู‚ูˆู„ู‡ (ุญูŠู†ุง ุฑุจู†ุง ุจุงู„ุณู„ุงู…) ุฃูŠ ุงุฌุนู„ ุชุญูŠุชู†ุง ููŠ ูˆููˆุฏู†ุง ุนู„ูŠูƒ ุงู„ุณู„ุงู…ุฉ ู…ู† ุงู„ุขูุงุช

Sabda Nabi “Allahumma Anta as-Salam” (Ya Allah, Engkau adalah As-Salam), maksudnya adalah bahwa As-Salam merupakan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala.

Beliau melanjutkan: Dan sabda Nabi “Wa minka as-Salam” (Dan dari-Mu lah keselamatan), maknanya adalah keselamatan (terbebas) dari segala petaka (keburukan).

Dan sabda Nabi “Hayyina Rabbana bis-Salam” (Sambutlah kami wahai Tuhan kami dengan keselamatan), maknanya adalah: Jadikanlah sambutan/penghormatan bagi kami saat kami datang menghadap-Mu (bertamu) sebagai keselamatan dari segala petaka.

Analisis Hukum: Mengangkat Tangan Saat Melihat Ka’bah

Ilustrasi jamaah haji mengangkat tangan berdoa di depan Ka'bah sesuai madzhab Syafi'i.
Menurut mayoritas ulama Syafi’iyah, disunnahkan mengangkat tangan saat membaca doa ketika melihat Ka’bah.

Dalam kajian perbandingan madzhab (Fiqh Muqaran), terdapat perbedaan pendapat mengenai disyariatkannya mengangkat tangan (raf’ul yadain) saat melihat Ka’bah.

1. Pendapat Madzhab Syafi’i (Jumhur)

Imam Syafi’i dan mayoritas ulama (seperti Ibn al-Mundzir, Ibn Umar, Ibn Abbas, Sufyan Ats-Tsauri, Ibn Mubarak, Ahmad, Ishaq) berpendapat hukumnya Mustahabb (Disunnahkan).

Dalilnya adalah riwayat Ibnu Umar:

“Tangan diangkat dalam doa untuk menghadap (melihat) Baitullah.”

Meskipun Imam An-Nawawi menyebut sanad hadits marfu’ tentang hal ini lemah, namun praktik ini dikuatkan oleh atsar para sahabat dan kaidah fadha’il amal. Imam Syafi’i berkata dalam Al-Imla’: “Jika ia mengangkat tangan, maka itu baik (hasan).”

2. Pendapat Madzhab Maliki

Imam Malik berpendapat tidak perlu mengangkat tangan. Beliau berhujah dengan riwayat Jabir bin Abdillah yang menyamakan perbuatan mengangkat tangan saat melihat Ka’bah dengan perbuatan Yahudi.

3. Bantahan Ilmiah (Tarjih)

Ulama Syafi’iyah membantah dalil Imam Malik dengan riwayat lain dari Jabir bin Abdillah sendiri (diriwayatkan At-Tirmidzi dengan sanad Hasan) yang justru menyatakan:

“Kami berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami melakukannya (mengangkat tangan).”

Kaidah Ushul yang dipakai adalah: “Riwayat yang menetapkan (adanya raf’ul yadain) lebih utama daripada yang meniadakan, karena padanya terdapat tambahan penjelasan.”

Waktu Mustajab: Terbukanya Pintu Langit

Momen ini bukan sekadar rutinitas. Berdasarkan hadits riwayat Abu Umamah (meski sanadnya gharib namun maknanya shahih secara ma’nawi):

“Pintu-pintu langit dibuka dan doa seorang muslim dikabulkan saat melihat Ka’bah.”

Oleh karena itu, setelah membaca doa melihat Ka’bah di atas, Imam Syafi’i menganjurkan agar seorang hamba memanjatkan doa apa saja yang ia butuhkan, baik urusan agama maupun dunia. Namun, yang paling urgen (ahamm) adalah memohon ampunan (maghfirah) dan Surga.

Ringkasan Hukum & Doa

KategoriKeterangan / Redaksi UtamaStatus Hukum (Syafi’i)
Doa UtamaAllahumma zid hadzal bayta…Sunnah Muakkadah
Doa TambahanAllahumma anta as-salam…Sunnah
Doa PanjangAllahumma al-baladu baladuk…Sunnah (Riwayat Ja’far)
GerakanMengangkat kedua tanganSunnah (Mustahabb)
Redaksi SalahMenambah “Mahabatan” untuk manusiaGhalat (Keliru), yang benar “Birran”

Pertanyaan Populer (FAQ)

Mana yang lebih utama, doa pendek atau doa panjang?

Sebaiknya menggabungkan semua riwayat jika mampu. Dimulai dengan memuji Allah (Allahumma anta as-salam), memuliakan Ka’bah (Allahumma zid hadza…), dan diakhiri dengan kepasrahan diri (Allahumma al-baladu baladuk…)

Apakah doa ini harus berbahasa Arab?

Membaca teks asli (ma’tsur) dalam bahasa Arab lebih utama (afdal) karena mengikuti lafaz Nabi dan Sahabat. Namun, jika tidak mampu, boleh membaca terjemahannya atau berdoa dengan bahasa sendiri, terutama untuk permohonan hajat pribadi.

Apakah hadits doa melihat Ka’bah ini shahih?

Secara jujur ilmiah, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa hadits marfu’ (dari Nabi) tentang lafaz ini berstatus dha’if atau mursal. Namun, sanadnya kuat sebagai atsar (perkataan) Sahabat seperti Umar bin Khattab. Dalam fiqih, doa yang diamalkan Sahabat dan tidak diingkari, memiliki kedudukan kuat dalam syariat (hujjah).

Semoga artikel ini menjadi panduan yang bermanfaat bagi para calon dhuyufurrahman (tamu Allah). Mari kita luruskan niat, bersihkan hati, dan hafalkan doa-doa indah ini sebagai bekal perjumpaan dengan Baitullah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Yaแธฅyฤ bin Sharaf an-Nawawฤซ, al-Majmลซสฟ Syarแธฅ al-Muhadhdhab, disunting oleh Lajnah min al-สฟUlamฤสพ (Kairo: Maแนญbaสฟat at-Taแธฤmun al-Ikhwฤซ, 1344โ€“1347 H; repr. Beirut: Dฤr al-Fikr, n.d.), juz 8, hlm. 7-9.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.