Bacaan Doa Melihat Hilal & Awal Bulan Hijriyah (Kitab Al-Adzkar)

Perputaran waktu dalam syariat Islam sangat bertumpu pada pergerakan benda-benda langit, khususnya bulan. Momen pergantian bulan, terutama saat menantikan kehadiran bulan suci Ramadhan maupun Syawal, merupakan waktu yang sarat akan nilai spiritual. Seorang hamba yang menempuh jalan tazkiyatun nufus senantiasa menjaga kewaspadaan hati (murāqabah) saat waktu berganti, memperbarui iman, dan melangitkan pengharapan.

Tulisan ini menguraikan tuntunan bacaan doa melihat hilal dan doa menyambut awal bulan Hijriyah berdasarkan pemaparan Al-Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah dalam karya agungnya, Kitab Al-Adzkar (secara spesifik pada halaman 188). Pembahasan ini bersandar murni pada riwayat-riwayat yang telah ditahqiq oleh para ulama hadits.

Variasi Lafaz Doa Melihat Hilal (Awal Bulan)

Hilal adalah penampakan bulan sabit pertama yang terlihat setelah fase bulan mati (ijtimak). Kehadirannya menjadi penanda masuknya bulan baru. Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa variasi doa melihat hilal kepada umatnya.

1. Riwayat Thalhah bin Ubaidillah (Lafaz Keberkahan dan Keimanan)

Imam An-Nawawi menukil Hadits bernomor 536 dari Musnad Ad-Darimi dan Kitab At-Tirmidzi, dari sahabat Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ apabila melihat hilal, beliau mengucapkan:

اللهم أهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله

Allāhumma ahillahu ʿalaynā bil-yumni wal-īmān, was-salāmati wal-islām, Rabbī wa Rabbukallāh.

Terjemahan: “Ya Allah, terbitkanlah bulan ini kepada kami dengan keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”

Imam At-Tirmidzi memberikan penilaian terhadap riwayat ini dengan ungkapan: “Hadits Hasan.”

2. Riwayat Ibnu Umar (Lafaz Takbir dan Taufik)

Variasi lafaz doa awal bulan hijriyah lainnya tercantum pada Hadits bernomor 537 dari Musnad Ad-Darimi. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila melihat hilal, beliau mengawalinya dengan takbir:

الله أكبر، اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام، والتوفيق لما تحب وترضى، ربنا وربك الله

Allāhu Akbar, Allāhumma ahillahu ʿalaynā bil-amni wal-īmān, was-salāmati wal-islām, wat-taufīqi limā tuḥibbu wa tarḍā, Rabbunā wa Rabbukallāh.

Terjemahan: “Allah Maha Besar. Ya Allah, terbitkanlah bulan ini kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman, dan taufik pada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah.”

Lafaz doa melihat hilal ini sarat akan muatan tauhid. Pengucapan “Rabbuna wa Rabbukallah” (Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah) merupakan bentuk penegasan akidah bahwa bulan hanyalah makhluk ciptaan Allah yang tunduk pada sunnatullah, bukan entitas yang memiliki kekuatan pengatur alam semesta.

3. Riwayat Qatadah (Pengulangan Tiga Kali)

Terdapat pula riwayat dari Qatadah dalam Sunan Abu Dawud (Hadits No. 538), yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membaca doa berikut sebanyak tiga kali:

هلال خير ورشد، هلال خير ورشد، هلال خير ورشد، آمنت بالله الذي خلقك

Hilālu khairin wa rusydin, hilālu khairin wa rusydin, hilālu khairin wa rusydin, aamantu billāhilladzī khalaqaka.

Terjemahan: “Bulan sabit kebaikan dan petunjuk, bulan sabit kebaikan dan petunjuk, bulan sabit kebaikan dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah yang menciptakanmu.”

Setelahnya, beliau melanjutkannya dengan ucapan: “Alhamdulillāhilladzī dzahaba bisyahri kadzā wa jā’a bisyahri kadzā” (Segala puji bagi Allah yang telah melalukan bulan ini dan mendatangkan bulan itu). Terdapat juga tambahan riwayat bahwa Nabi ﷺ memalingkan wajahnya dari hilal setelah melihatnya.

Dalam penerapan doa ini adalah: Jika saat ini adalah pergantian dari bulan Syabban menuju bulan Ramadan, maka lafal praktis yang dibaca adalah: Al-ḥamdu lillāhil-ladzī dzahaba bi-syahri Sya’ban, wa-jāʾa bi-syahri Ramadan. (Segala puji bagi Allah yang telah melalukan bulan Sya’ban dan mendatangkan bulan Ramadan).

Meskipun lafaz ini indah maknanya, Imam An-Nawawi secara obyektif menukil pernyataan Abu Dawud mengenai status sanadnya: “Tidak ada dalam bab ini hadits musnad (bersambung sanadnya) yang shahih dari Nabi ﷺ.” Oleh karenanya, riwayat Qatadah ini dihukumi sebagai hadits mursal (terputus sanadnya di tingkat sahabat) dan boleh diamalkan.

Perbedaan Doa Saat Melihat Hilal dan Qamar (Rembulan)

Cahaya terang bulan purnama atau qamar di malam hari yang memiliki tuntunan doa perlindungan tersendiri dalam syariat Islam.
Berbeda dengan hilal di awal bulan, saat melihat qamar (bulan purnama) yang bersinar terang, umat Islam dianjurkan membaca doa memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan malam.

Secara astronomis dan fiqih, terdapat pembedaan istilah antara Hilal dan Qamar. Hilal merujuk pada bulan di awal kemunculannya, sedangkan Qamar merujuk pada bulan ketika wujudnya sudah membesar atau mencapai fase purnama. Tuntunan doanya pun berbeda.

Untuk fase Qamar, Imam An-Nawawi mengutip Hadits No. 540 dari kitab Ibnu Sinni. Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan sebuah kejadian ketika Rasulullah ﷺ memegang tangannya saat rembulan sedang muncul terang, lalu beliau bersabda:

تعوذي بالله من شر هذا الغاسق إذا وقب

Terjemahan: “Berlindunglah kepada Allah dari kejahatan malam yang gelap gulita ini apabila telah masuk.”

Hadits ini merupakan perintah Nabi ﷺ kepada ‘Aisyah untuk meminta perlindungan kepada Allah saat melihat rembulan. Hal ini selaras dengan bimbingan Al-Qur’an pada Surat Al-Falaq. Karena itu untuk mengamalkan hadits ini Anda bisa membaca Surat Al-Falaq.

Persiapan Spiritual: Doa Menyambut Ramadhan (Bulan Rajab dan Sya’ban)

Lembaran terbuka Kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi yang menjadi rujukan utama keabsahan sanad doa menyambut bulan suci Ramadhan.
Penjelasan sanad dan matan doa-doa pergantian bulan ini bersumber langsung dari literatur otoritatif, yakni Kitab Al-Adzkar karya Al-Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi.

Menjelang datangnya ibadah puasa wajib, umat Islam terbiasa memanjatkan doa persiapan sejak masuknya bulan Rajab. Praktik ini memiliki akar periwayatan yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi pada Hadits No. 541 dari Hilyatul Auliya, melalui jalur Ziyad An-Numairi dari Anas radhiyallahu ‘anhu:

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

Allāhumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya’bāna wa ballighnā Ramaḍāna.

Terjemahan: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Sebagai ulama yang memegang teguh disiplin ilmu hadits, Imam An-Nawawi memberikan catatan kritis terhadap sanad doa menyambut Ramadhan ini. Beliau menuliskan bahwa riwayat ini dengan sanad yang padanya terdapat kelemahan (dha’if).

Penjelasan obyektif dari Imam An-Nawawi ini memperlihatkan integritas keilmuan Islam. Walaupun sanadnya dinilai dha’if, para ulama membolehkan pengamalannya dalam ruang lingkup fadhā’il al-a’māl (keutamaan amal perbuatan), sebagai wujud kerinduan dan persiapan rohani seorang mukmin.

Tabel Perbandingan Doa Hilal dan Qamar

Kondisi / Objek VisibilitasLafaz / Potongan Teks ArabStatus Hadits (Al-Adzkar)
Melihat Hilal (Awal Bulan)اللهم أهله علينا باليمن والإيمانHasan (Riwayat At-Tirmidzi)
Melihat Hilal (Awal Bulan)الله أكبر، اللهم أهله علينا بالأمنDiterima / Musnad Ad-Darimi
Melihat Hilal (Awal Bulan)هلال خير ورشدMursal (Riwayat Abu Dawud)
Melihat Qamar (Bulan Purnama)تعوذي بالله من شر هذا الغاسقDiterima / Kitab Ibnu Sinni
Memasuki Bulan Rajabاللهم بارك لنا في رجب وشعبانDha’if / Hilyatul Auliya

Tanya Jawab (FAQ) Seputar Doa Menyambut Awal Bulan

Kapan waktu yang tepat membaca doa melihat hilal?

Waktu pembacaan doa adalah sesaat setelah mata berhasil merukyat (melihat) bulan sabit pertama di ufuk barat, tepat setelah matahari terbenam pada hari ke-29 bulan berjalan.

Apakah doa ini hanya diucapkan saat menyambut Ramadhan?

Tidak. Tuntunan mengucapkannya berlaku umum untuk setiap awal bulan hijriyah (Muharram, Shafar, dst), meskipun nilainya terasa lebih syahdu saat menanti masuknya Ramadan dan Syawal.

Bolehkah tetap membaca doa bulan Rajab meski sanadnya ada kelemahan?

Tentu diperbolehkan. Imam An-Nawawi sendiri mencantumkannya dalam Kitab Al-Adzkar sebagai panduan dzikir harian. Ulama sepakat bahwa hadits dha’if boleh diamalkan untuk doa dan motivasi amal baik, selama bukan dalam ranah penetapan hukum halal-haram (Ahkam) maupun Akidah pokok.

Mengapa Nabi ﷺ memalingkan wajah setelah melihat hilal?

Sebagian ulama memaknainya sebagai sikap kerendahan hati dan agar pandangan tidak terlampau lama menatap ke atas, melainkan segera kembali memusatkan fokus pada kekuasaan Allah sang pencipta hilal tersebut.

Melazimkan doa melihat hilal di atas merupakan langkah nyata seorang hamba dalam menata Maqām ubudiyahnya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk menghidupkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ.

Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī, al-Adhkār, ed. ʿAbd al-Qādir al-Arnaʾūṭ (Beirut: Dār al-Fikr, 1994), 188–189.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.