Cara Merespons Ayat Al-Qur’an dalam Shalat: Panduan Doa Rahmat dan Azab

Pernahkah Anda merasa sangat tersentuh saat mendengar imam membaca ayat tentang surga atau merasa takut saat mendengar ayat tentang siksa neraka? Dalam tradisi Islam, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan satu arah. Ada sebuah adab yang sangat indah di mana kita diajarkan untuk berinteraksi langsung dengan firman Allah yang sedang dibaca, baik itu dalam shalat maupun di luar shalat.

Interaksi ini bukan hanya membuat shalat terasa lebih hidup, tetapi juga menjadi bukti bahwa hati kita benar-benar hadir dan memahami apa yang sedang dibisikkan oleh lisan. Mari kita pelajari bagaimana cara merespons berbagai jenis ayat Al-Qur’an berdasarkan panduan dari kitab klasik yang menjadi rujukan banyak ulama.

Dasar Hukum dalam Kitab Asna al-Mathalib

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita melihat langsung sumber aslinya. Syekh Islam Zakariyya al-Ansari dalam kitab Asna al-Mathalib (Jilid 1, Hal. 156) menjelaskan aturan ini dengan sangat jelas. Berikut adalah kutipan teks aslinya:

فَرْعٌ: (فَإِنْ قَرَأَ) فِي الصَّلَاةِ (آيَةَ رَحْمَةٍ) كَقَوْلِهِ تَعَالَى {وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} (سَأَلَهَا) كَأَنْ يَقُولَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (أَوْ) آيَةَ (عَذَابٍ) كَقَوْلِهِ {وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ} (اسْتَعَاذَ) مِنْهُ كَأَنْ يَقُولَ رَبِّ إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ الْعَذَابِ (أَوْ) آيَةَ (تَسْبِيحٍ) كَقَوْلِهِ {فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ} (سَبِّحْ) كَأَنْ يَقُولَ سُبْحَانَ رَبِّي الْعَظِيمِ (، أَوْ) آيَةَ (مَثَلٍ) كَقَوْلِهِ {ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا عَبْدًا مَمْلُوكًا} (تَفَكَّرَ) فِيهَا (أَوْ) قَرَأَ (كَآخِرِ) أَيْ مِثْلَ آخِرِ {وَالتِّينِ} قَالَ بَلَى وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنْ الشَّاهِدِينَ، وَكَقَوْلِهِ) أَيْ أَوْ قَرَأَ مِثْلَ قَوْله تَعَالَى {فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ} قَالَ (آمَنَّا بِاَللَّهِ) وَكَآخِرِ، وَكَقَوْلِهِ مِنْ زِيَادَتِهِ. (وَكَذَا) يَفْعَلُ (الْمَأْمُومُ) ذَلِكَ لِقِرَاءَةِ إمَامِهِ كَمَا يَفْعَلُهُ لِقِرَاءَةِ نَفْسِهِ (وَ) كَذَا (غَيْرُ الْمُصَلِّي) يَفْعَلُهُ لِقِرَاءَةِ نَفْسِهِ وَقِرَاءَةِ غَيْرِهِ1.

Teks di atas menjadi fondasi bagi kita untuk memahami bahwa menjawab ayat bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari kesunahan yang punya sandaran kuat dalam ilmu fiqh.

Ragam Jenis Ayat dan Cara Menjawabnya

Dalam Al-Qur’an, tema ayat sangat beragam. Setiap tema menuntut respons batin dan lisan yang berbeda agar koneksi kita dengan Allah tetap terjaga. Berikut adalah rinciannya:

1. Ketika Mendengar Ayat Rahmat

Ayat rahmat adalah ayat-ayat yang berisi kabar gembira, janji surga, ampunan, atau kasih sayang Allah. Contohnya adalah QS. An-Anfal ayat 70 yang menyebutkan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Saat membaca atau mendengar ayat seperti ini, kita disunahkan untuk meminta rahmat tersebut. Anda bisa berucap pelan:

  • “Allahumma inni as-alukal jannah” (Ya Allah, aku memohon surga kepada-Mu).
  • “Rabbi igfirli warhamni” (Tuhanku, ampuni dan sayangilah aku).

2. Saat Melintasi Ayat Azab atau Siksa

Ayat azab biasanya berisi ancaman bagi orang kafir, gambaran neraka, atau hukuman atas perbuatan dosa. Saat ayat ini dibaca, perasaan takut seharusnya muncul di hati kita.

Respons yang dianjurkan adalah memohon perlindungan (isti’adzah). Anda bisa berucap:

  • “Allahumma inni a’udzubika minan naar” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari api neraka).
  • “Allahumma ajirni min ‘adzabik” (Ya Allah, selamatkan aku dari siksa-Mu).

3. Saat Menemukan Ayat Tasbih

Ada banyak ayat yang memerintahkan kita untuk menyucikan nama Allah, seperti dalam surat Al-Waqi’ah atau Al-A’la. Jika Anda membaca ayat perintah tasbih, jangan lewatkan begitu saja. Langsung sambut dengan ucapan tasbih seperti:

  • “Subhana Rabbiyal ‘Adzim” atau “Subhanallah”.

4. Menanggapi Perumpamaan (Matsal)

Al-Qur’an sering menggunakan perumpamaan (amtsal) untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak agar mudah dipahami manusia. Ketika sampai pada ayat perumpamaan, kita diminta untuk tidak sekadar lewat, melainkan berhenti sejenak untuk berpikir dan merenung (tadabbur). Tujuannya agar pelajaran di balik perumpamaan itu bisa meresap ke dalam jiwa.

Jawaban Khusus untuk Akhir Surat Tertentu

Selain kategori umum di atas, ada beberapa ayat atau akhir surat yang punya jawaban khusus yang diajarkan oleh para ulama berdasarkan riwayat hadis:

  • Akhir Surat At-Tin: Saat sampai pada ayat “Alaisallahu bi ahkamil hakimin” (Bukankah Allah hakim yang paling adil?), kita disunahkan menjawab: “Bala, wa ana ‘ala dhalika minasy syahidin” (Benar, dan aku termasuk orang yang bersaksi atas hal itu).
  • Akhir Surat Al-Mursalat atau Al-A’raf: Saat membaca ayat “Fabi-ayyi haditsin ba’dahu yu’minun” (Maka kepada perkataan manakah selain Al-Qur’an ini mereka akan beriman?), kita menjawab: “Amanna billah” (Kami beriman kepada Allah).
  • Akhir Surat Al-Qiyamah: Saat membaca “Alaisa dzalika biqadirin ‘ala ay yuhyiyal mauta” (Bukankah Allah yang berbuat demikian berkuasa pula menghidupkan orang mati?), dijawab dengan: “Bala” (Benar/Tentu).

Panduan bagi Makmum dan Orang di Luar Shalat

Mungkin muncul pertanyaan, “Bagaimana kalau saya sedang jadi makmum dan imam yang membaca ayat tersebut?”

Menurut kitab Asna al-Mathalib, makmum tetap disunahkan untuk merespons bacaan imamnya. Hal ini tidak membatalkan shalat selama ucapan yang dikeluarkan adalah doa, dzikir, atau tasbih yang memang ada kaitannya dengan ayat tersebut. Namun, pastikan suara Anda tidak keras sehingga mengganggu makmum lain di sebelah Anda. Cukup ucapkan secara pelan (sirr).

Hal yang sama berlaku bagi orang yang tidak sedang shalat. Jika Anda sedang duduk mendengarkan rekaman murottal atau mendengar orang lain mengaji, Anda pun sangat dianjurkan untuk ikut merespons. Ini adalah cara terbaik untuk melatih fokus dan kehadiran hati saat bersama Al-Qur’an.

Tabel Ringkasan Respons Ayat

Agar lebih mudah diingat, berikut adalah tabel panduan praktis untuk Anda:

Jenis AyatSituasi/ContohRespons/Doa yang Dianjurkan
Ayat RahmatJanji Surga, AmpunanMeminta rahmat dan ampunan Allah
Ayat AzabAncaman Neraka, SiksaMeminta perlindungan dari api neraka
Ayat TasbihPerintah Menyucikan AllahMengucapkan “Subhanallah”
Ayat PerumpamaanCerita tentang perumpamaanBerhenti sejenak dan merenungkan maknanya
Akhir Surat At-TinAlaisallahu bi ahkamil hakiminBala wa ana ‘ala dhalika minasy syahidin
Pertanyaan ImanFabi-ayyi haditsin ba’dahu…Amanna billah (Kami beriman kepada Allah)

FAQ Seputar Cara Merespons Ayat Al-Qur’an

1. Apakah merespons ayat dalam shalat bisa membatalkan shalat?

Tidak, selama yang diucapkan adalah bentuk doa, dzikir, atau pujian kepada Allah yang relevan dengan ayat yang dibaca. Hal ini justru bagian dari kesunahan shalat dalam mazhab Syafi’i.

2. Apakah makmum harus menjawab setiap ayat yang dibaca imam?

Disunahkan, namun bukan kewajiban. Makmum cukup menjawab secara pelan saat mendengar imam sampai pada ayat rahmat, azab, atau akhir surat tertentu yang sudah dijelaskan di atas.

3. Bagaimana jika saya tidak hafal doa khusus dalam bahasa Arab?

Anda bisa berdoa di dalam hati dengan bahasa yang Anda pahami. Namun, untuk ucapan seperti “Subhanallah” atau “Bala”, tentu sangat mudah untuk dihafalkan dan dilafalkan.

4. Apakah adab ini berlaku di shalat fardu atau hanya shalat sunnah?

Berlaku untuk keduanya. Baik dalam shalat fardu maupun shalat sunnah (seperti shalat Tahajud atau Tarawih), interaksi dengan ayat Al-Qur’an sangat dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Ibadah shalat yang berkualitas adalah shalat yang di dalamnya terjadi komunikasi batin antara hamba dan Penciptanya. Dengan mulai membiasakan diri merespons ayat-ayat Al-Qur’an, kita tidak lagi sekadar melakukan gerakan fisik, tetapi benar-benar sedang berdialog dengan Allah SWT. Semoga panduan ini bisa membantu Anda mencapai tingkat kekhusyukan yang lebih baik.

Referensi

  1. Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 156. ↩︎

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.