Pernahkah kamu berada di situasi serba salah seperti ini? Kamu sedang duduk santai bersama teman-teman atau rekan kerja. Awalnya obrolan berjalan asyik, membahas hobi atau pekerjaan. Namun, tiba-tiba arah pembicaraan berbelok. Satu orang mulai menyebut nama si Fulan, lalu perlahan-lahan “menguliti” aib dan keburukannya.
Suasana menjadi canggung bagi hatimu, tapi seru bagi yang lain. Kamu diam saja karena merasa “tidak enak hati” (ewuh pakewuh) untuk memotong pembicaraan. Kamu berpikir, “Ah, yang penting aku nggak ikut ngomong, cuma dengerin aja.”
Tunggu dulu. Tahukah kamu bahwa dalam Islam, posisi pendengar ghibah ternyata sama bahayanya dengan pelakunya?
Banyak dari kita tidak tahu cara menghadapi orang ghibah dengan benar sesuai syariat. Kita sering terjebak antara menjaga perasaan teman atau menjaga aturan Tuhan.
Artikel ini akan membahas tuntas sikap saat ada teman ghibah berdasarkan panduan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, agar kita tidak terseret dalam dosa kolektif ini.
Bahaya Menjadi Pendengar Setia Ghibah

Sebelum masuk ke tips praktis, kita perlu mengubah pola pikir kita dulu. Kebanyakan orang merasa aman selama lisannya tidak bergerak. Padahal, telinga yang menikmati aib orang lain adalah saluran dosa yang sama derasnya.
Imam Al-Ghazali memberikan peringatan keras: Diam saat mendengar ghibah adalah persetujuan.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْتَمِعُ أَحَدُ الْمُغْتَابَيْنِ
“Pendengar adalah salah satu dari dua penggunjing.”
Artinya, dalam sebuah majelis ghibah, tidak ada istilah “penonton netral”. Jika kamu duduk di sana, menyimak, mengangguk-angguk, atau bahkan menunjukkan ekspresi kaget (“Wah masa sih?”) yang memancing pelaku makin semangat bercerita, maka kamu adalah mitra dalam dosa tersebut.
Kisah Abu Bakar dan Umar RA
Al-Ghazali menukil sebuah kisah yang sangat menampar kita. Suatu hari, Abu Bakar dan Umar RA sedang bersama. Salah satu dari mereka berkomentar tentang seseorang, “Fulan itu tukang tidur.”
Hanya satu orang yang bicara, yang satunya mendengar. Kemudian keduanya meminta lauk kepada Rasulullah ﷺ. Namun, jawaban Nabi ﷺ sangat mengejutkan:
قَدِ ائْتَدَمْتُمَا .. بَلَى إِنَّكُمَا أَكَلْتُمَا مِنْ لَحْمِ أَخِيكُمَا
“Kalian berdua sudah makan lauk… Benar, sesungguhnya kalian berdua telah memakan daging saudara kalian.”
Perhatikan kalimat Nabi ﷺ: “Kalian berdua”. Beliau tidak membedakan antara yang bicara dan yang mendengar. Ini adalah dalil kuat bahwa hukum mendengar ghibah sama haramnya dengan melakukannya.
3 Langkah Tegas Menghadapi Teman yang Suka Ghibah

Lantas, apa yang harus kita lakukan jika terjebak dalam situasi toxic ini? Imam Al-Ghazali memberikan panduan bertingkat, mulai dari yang paling ideal hingga yang paling minimal (darurat).
1. Menegur Secara Terang-terangan (Level Tertinggi)
Langkah paling utama dan paling disukai Allah adalah membela kehormatan saudaramu. Jangan biarkan nama baik temanmu dicabik-cabik saat dia tidak ada.
Kamu bisa berkata dengan tegas namun santun:
- “Maaf, sepertinya kita tidak perlu membahas keburukan dia.”
- “Belum tentu beritanya benar, kita doakan saja yang baik.”
- “Ayo ganti topik, takut jadi ghibah.”
Rasulullah ﷺ menjanjikan ganjaran luar biasa bagi orang yang berani melakukan ini:
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَرُدَّ عَنْ عِرْضِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang menolak (ghibah) dari kehormatan saudaranya saat ia tidak ada, maka menjadi hak Allah untuk menghindarkan kehormatannya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad & Tirmidzi)
2. Mengalihkan Topik Pembicaraan (Taktik Diplomatis)
Jika kamu merasa canggung atau takut suasana menjadi panas jika menegur langsung, gunakan cara kedua: Potong pembicaraan dengan topik lain.
Imam Al-Ghazali menyarankan agar pendengar memutus omongan ghibah dengan ucapan lain yang tidak berhubungan.
Contohnya:
- “Eh, ngomong-ngomong soal pekerjaan, proyek yang kemarin gimana kabarnya?”
- “Wah, jam segini macet nggak ya jalanan?”
Tujuannya adalah memecah fokus pelaku ghibah sehingga ia lupa atau berhenti dari ceritanya. Ini adalah cara cerdas menghindari ghibah tanpa harus berkonfrontasi frontal.
3. Bangkit dan Pergi (Mufaraqah)
Jika teguran lisan tidak mempan, dan pengalihan topik juga gagal, maka opsi terakhir adalah meninggalkan tempat tersebut.
Jangan duduk di sana. Bangkitlah. Kamu bisa beralasan mau ke toilet, mau mengangkat telepon, atau alasan lainnya. Yang penting, fisikmu tidak lagi berada di majelis dosa itu.
Al-Ghazali menegaskan:
“Jika ia mampu bangkit pergi atau memotong pembicaraan tapi tidak melakukannya, maka dosanya tetap menempel padanya.”
Hati-Hati dengan “Teguran Munafik”

Ada satu penyakit hati yang disorot tajam oleh Al-Ghazali. Yaitu orang yang lisannya melarang, tapi hatinya menikmati.
Contohnya seseorang berkata: “Sstt.. udah jangan ngomongin orang,” tapi matanya berbinar penasaran, atau wajahnya tersenyum geli mendengar cerita aib itu. Atau dia melarang dengan nada bercanda yang justru membuat si pelaku makin semangat.
Al-Ghazali menyebut ini sebagai Nifaq (Kemunafikan). Beliau menulis:
وَإِنْ قَالَ بِلِسَانِهِ اُسْكُتْ وَهُوَ مُشْتَهٍ لِذَلِكَ بِقَلْبِهِ فَذَلِكَ نِفَاقٌ
“Dan jika ia berkata dengan lisannya ‘Diamlah!’ padahal hatinya menginginkan (mendengar) itu, maka itu adalah kemunafikan.”
Tidak cukup hanya melarang dengan isyarat mata atau alis. Kamu harus membencinya di dalam hati. Jika hatimu senang mendengar aib orang lain terbongkar, maka kamu sudah berdosa meskipun mulutmu diam.
Tabel Ringkasan: Sikap Benar vs Salah Saat Mendengar Ghibah

Agar lebih mudah dipahami, berikut rangkuman sikap yang harus diambil:
| Situasi | Sikap yang SALAH (Ikut Berdosa) | Sikap yang BENAR (Selamat) |
| Teman mulai ghibah | Diam, menyimak, mengangguk-angguk. | Langsung memotong dan membela kehormatan korban. |
| Tidak berani menegur | Tetap duduk di situ sambil main HP tapi kuping mendengar. | Bangkit berdiri dan pergi dari ruangan (Mufaraqah). |
| Respon emosional | Ikut kaget/tertawa (“Masa sih?! Parah banget!”). | Menunjukkan wajah tidak suka/datar agar pelaku berhenti. |
| Hati nurani | Mulut bilang “Jangan gitu” tapi hati penasaran lanjutannya. | Hati membenci perbuatan itu dan berdoa agar berhenti. |
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Menghadapi Ghibah
Bagaimana jika yang melakukan ghibah adalah orang tua atau atasan?
Ini situasi sulit. Prinsipnya tetap sama: tidak boleh membenarkan ghibah. Namun, caranya harus lebih halus. Gunakan taktik mengalihkan pembicaraan atau diam dengan wajah yang tidak antusias. Jangan menimpali. Jika memungkinkan, izin pamit dengan sopan.
Apakah boleh mendengar ghibah jika tujuannya untuk investigasi/tabayyun?
Boleh dalam kondisi khusus yang sangat terbatas, misalnya dalam pengadilan, meminta fatwa kepada ulama, atau melaporkan kejahatan. Tapi jika obrolan warung kopi biasa, itu murni ghibah yang haram.
Saya sudah terlanjur sering mendengar ghibah teman, bagaimana cara tobatnya?
Bertaubatlah dengan memohon ampun kepada Allah, dan jika memungkinkan, mintalah maaf kepada orang yang pernah dibicarakan. Jika tidak mungkin bertemu, doakanlah kebaikan untuk orang tersebut di setiap kesempatan. Lebih detailnya bisa dibaca di artikel ghibah ini.
Penutup: Jadilah “Air Pemadam” Api Ghibah
Menghadapi seseorang yang berperilaku ghibah memang butuh keberanian mental. Kita sering takut dibilang “sok suci” atau “nggak asik”. Namun, ingatlah bahwa dampak negatif ghibah di akhirat sangat mengerikan.
Jadilah teman yang sejati. Teman sejati bukan yang menemani temannya berbuat dosa, tapi yang berani menarik temannya keluar dari api neraka.
Mulai hari ini, jika ada api ghibah yang menyala di tongkronganmu, jadilah air yang memadamkannya. Entah dengan menegur, mengalihkan topik, atau pergi menjauh. Pilihan ada di tanganmu: mau jadi penyelamat kehormatan saudara, atau jadi pemakan bangkai bersama-sama?
Referensi
Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad. Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, tanpa tahun.




