Bidadari Surga vs Wanita Dunia: Siapa Lebih Cantik? Ngaji Syarah Hadits Bukhari

Banyak orang sering bertanya-tanya, apakah bidadari itu ada? Jika ada, seberapa cantik mereka hingga sering disebut dalam Al-Qur’an sebagai balasan bagi orang yang beriman? Topik mengenai bidadari surga menurut Islam memang selalu menarik untuk dibahas. Namun, ada satu rahasia besar yang jarang diketahui banyak orang: ternyata wanita dunia (kaum Hawa yang ada di bumi saat ini) memiliki potensi untuk menjadi lebih cantik dan lebih mulia daripada bidadari asli surga.

Artikel ini akan mengupas tuntas penjelasan dari kitab Syarah Sahih Al-Bukhari karya As-Safiri, mulai dari ancaman bagi mereka yang tidak pandai bersyukur, hingga detail fisik dan sifat bidadari surga.

Pentingnya Bersyukur: Jangan Jadi “Kacang Lupa Kulit”

Sebelum masuk ke pembahasan fisik bidadari, As-Safiri dalam syarahnya menekankan fondasi utama agar selamat dari api neraka, yaitu rasa syukur.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW memperingatkan tentang bahaya mengingkari kebaikan (kufur nikmat).

Redaksi Hadits:

قال النبي – صلى الله عليه وسلم – «أريت النار فإذا أكثر أهلها النساء يكفرن» . قيل: أيكفرن بالله قال: يكفرن العشير. ويكفرن الإحسان. لو أحسنت إلى إحداهن الدهر ثم رأت منك شيئا قالت ما رأيت منك خيرا قط

Artinya: “Aku diperlihatkan Neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka melakukan kekufuran.” Ditanyakan: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka kufur terhadap suami dan kufur terhadap kebaikan. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat sesuatu (sedikit kesalahan) darimu, ia akan berkata: ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu.'”

Ulama menjelaskan bahwa ini bukan hanya soal istri kepada suami. Ini berlaku umum. Murid yang melupakan jasa gurunya, anak yang melupakan orang tuanya, atau kita yang melupakan orang yang pernah menolong, semuanya masuk dalam kategori dosa besar ini.

Syaikhul Islam Tajuddin As-Subki mengingatkan bahwa manusia yang berbuat baik kepada kita itu sebenarnya “digerakkan” oleh Allah. Jadi, berterima kasihlah kepada orang tersebut sebagai perantara, dan bersyukurlah kepada Allah sebagai sumber utama nikmat.

Gambaran Bidadari Surga: Fisik dan Asal-Usul

Sekarang, mari kita bicara tentang gambaran bidadari surga. Dalam bahasa Arab bidadari surga disebut dengan istilah Al-Hur Al-‘Ain.

As-Safiri menjelaskan makna dari istilah ini:

  • Al-Hur (الحور): Bentuk jamak dari Haura, artinya wanita yang memiliki mata dengan bagian putih yang sangat putih dan bagian hitam yang sangat hitam pekat.
  • Al-‘Iin (العين): Bentuk jamak dari ‘Aina, artinya wanita yang memiliki mata lebar dan indah.

Terbuat dari Apakah Bidadari Surga?

Berbeda dengan manusia yang lahir dari rahim ibu, bidadari surga adalah makhluk yang diciptakan secara langsung (insya’) oleh Allah. Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa mereka diciptakan dari Za’faran (kuma-kuma).

«خلق الله الحور العين من أصابع رجليها إلى ركبتها من الزعفران. ومن ركبتها إلى ثديها من المسك الأذفر…»

Struktur tubuh mereka sangat wangi. Kakinya dari Za’faran, dadanya dari misk (kasturi), dan lehernya dari anbar.

Seberapa Cantik Mereka?

Keindahan wajah bidadari surga dan fisiknya digambarkan sangat luar biasa hingga sulit dinalar logika dunia. Ada sebuah riwayat yang dikutip dalam kitab tersebut:

«لو أن حوراء بصقت في سبعة أبحر لعذبت البحار من عذوبة فمها»

“Seandainya seorang bidadari meludah di tujuh lautan, niscaya air laut itu akan menjadi tawar karena manisnya air liur mereka.”

Bahkan, jika mereka menjulurkan satu tangan saja ke langit dunia, cahayanya akan menerangi bumi, mengalahkan sinar matahari. Jika tangannya saja begitu, bayangkan bagaimana cantiknya bidadari surga pada bagian wajahnya.

Wanita Dunia vs Bidadari: Siapa Pemenangnya?

Infografis dengan judul besar "Mengapa Wanita Dunia Lebih Unggul?". Sisi kiri menampilkan ilustrasi "Bidadari" berpakaian pengantin muslimah putih duduk pasif. Sisi kanan menampilkan "Wanita Dunia" berhijab sedang berdoa khusyuk dengan cahaya keluar dari tangannya dan Al-Qur'an di pangkuan. Terdapat ikon timbangan di kanan bawah yang menunjukkan sisi wanita dunia lebih berat dengan keterangan "(Lebih Unggul Karena Amal)".
Infografis ini merangkum inti dari pembahasan: meskipun bidadari diciptakan sempurna, wanita dunia memiliki potensi derajat yang jauh lebih tinggi di sisi Allah karena “keringat” perjuangan amal ibadah mereka selama hidup di dunia. Gambar by Gemini

Ini adalah bagian paling menarik bagi para wanita mukminah. Apakah bidadari surga islam yang begitu sempurna bisa dikalahkan?

Jawabannya: Ya.

Dalam sebuah riwayat dari Ummu Salamah yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai mana yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari surga, Nabi menjawab:

«بل نساء الدنيا أفضل من الحور العين كفضل الطهارة على البطانة»

“Justru wanita dunia lebih utama daripada Bidadari (Hur ‘Ain), sebagaimana keutamaan lapisan luar pakaian atas lapisan dalamnya.”

Mengapa Wanita Dunia Lebih Unggul?

Alasannya bukan karena fisik aslinya, tapi karena perjuangan mereka di dunia. Rasulullah SAW menjelaskan:

«بصلاتهن وصيامهن وبعبادتهن الله»

“Karena shalat mereka, puasa mereka, dan ibadah mereka kepada Allah.”

Bidadari surga diciptakan di tempat yang nikmat tanpa pernah merasakan lelahnya ibadah, sakitnya menahan sabar, dan beratnya menutup aurat. Sementara wanita dunia melalui semua ujian itu. Karena “keringat” ibadah inilah, Allah memberikan mereka kecantikan yang jauh melampaui bidadari asli surga.

Nanti di surga, wanita dunia akan disucikan. Tidak ada lagi haid, nifas, ludah, ingus, atau akhlak buruk. Mereka akan menjadi ratu bagi para bidadari.

Sifat dan Tugas Bidadari Surga

Selain fisik, sifat bidadari surga juga sangat halus. Mereka tidak cerewet, tidak suka melirik laki-laki lain (qashiratut tharf), dan selalu ridha.

Salah satu tugas bidadari surga atau peran mereka adalah menanti suami mereka yang masih di dunia. Uniknya, mereka memiliki koneksi batin. Jika seorang istri di dunia menyakiti suaminya yang sholeh, bidadari di langit akan “protes”.

«لا تؤذيه قاتلك الله. فإنما هو عندك دخيل يوشك أن يفارقك إلينا»

“Jangan sakiti dia, semoga Allah memerangimu! Dia hanyalah tamu bagimu yang sebentar lagi akan meninggalkanmu menuju kami.”

Ini menjadi peringatan keras bagi para istri agar senantiasa menjaga perasaan suami, sekaligus kabar gembira bagi suami yang sholeh bahwa ada yang menanti dan mendoakan mereka.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Berikut adalah beberapa pertanyaan seputar bahasa arabnya bidadari dan karakteristiknya:

Apa bahasa Arab bidadari surga?

Istilah yang digunakan dalam Al-Qur’an dan Hadits adalah Al-Hur Al-‘Iin (الحور العين). Hur berarti putih mata yang sangat jernih, dan ‘Ain berarti mata yang lebar memikat.

Apakah bidadari surga punya rasa cemburu?

Bidadari surga disucikan dari akhlak buruk (seperti dengki yang merusak), namun mereka memiliki rasa cinta dan pembelaan terhadap suami mereka, seperti saat mereka “memarahi” istri dunia yang menyakiti suaminya.

Siapa yang lebih cantik, istri atau bidadari?

Jika sang istri adalah wanita sholehah yang taat beribadah, maka ia akan jauh lebih cantik dan lebih mulia daripada bidadari surga. Ibadah merekalah yang menjadi “kosmetik” abadi di akhirat nanti.

Apakah bidadari itu ada menurut logika?

Sebagai umat Islam, kita mengimani hal yang gaib berdasarkan wahyu (Al-Qur’an dan Hadits). Meyakini keberadaan mereka adalah salah satu bentuk iman kepada hari akhir dan meyakini perkara ghaib, meskipun akal manusia belum pernah melihat wujud aslinya.

Semoga penjelasan dari kitab Syarah Sahih Al-Bukhari ini menambah semangat kita, khususnya para wanita, untuk terus berbuat baik. Jangan sampai kebaikan suami atau orang lain terhapus hanya karena satu kesalahan kecil. Ingatlah, menjadi ratu di surga butuh perjuangan menahan lisan dan menjaga hati.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi

Al-Saffīrī, Syams al-Dīn Muḥammad bin ‘Umar bin Aḥmad. Al-Majālis al-Wa‘ẓiyyah fī Syarḥ Aḥādīts Khayr al-Bariyyah Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam min Ṣaḥīḥ al-Imām al-Bukhārī. Ditahkik dan ditakhrīj oleh Aḥmad Fatḥī ‘Abd al-Raḥmān. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1425 H/2004 M.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.