Rahasia Bidadari Surga Marah Saat Istri Menyakiti Suami: Penjelasan Syarah Shahih Al-Bukhari

Pernahkah Anda merenung sejenak tentang hubungan antara kehidupan rumah tangga di dunia dengan kehidupan di akhirat? Seringkali kita menganggap pertengkaran suami istri hanya masalah emosi sesaat atau urusan duniawi semata. Padahal, ada dimensi lain yang tak kasat mata namun begitu nyata, yaitu respon dari penduduk langit, khususnya para bidadari surga atau Hoor al-Ayn.

Dalam ajaran Islam, ikatan pernikahan sangatlah sakral. Namun, ada riwayat menarik yang dinukil dari kitab Syarah Shahih Al-Bukhari karya As-Safiri. Riwayat ini membuka mata kita bahwa setiap perlakuan buruk seorang istri kepada suaminya di dunia ternyata “terdengar” sampai ke langit.

Artikel ini akan mengupas tuntas riwayat tersebut, makna di baliknya, serta pelajaran berharga bagi suami istri untuk membangun keluarga yang harmonis dan diridhai Allah.

Apa Kata Bidadari Saat Suami Disakiti Istrinya?

Dalam pembahasan kesepuluh dari kitab tersebut, dijelaskan sebuah kondisi yang mungkin membuat bulu kuduk merinding bagi para istri yang sering melalaikan hak suaminya. Bidadari surga ternyata mengetahui siapa calon pasangan mereka di dunia. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat, bahkan sebelum pertemuan fisik terjadi di surga nanti.

Berikut adalah redaksi asli dari referensi kitab tersebut:

العاشرة: قالوا: إن الحور العين يعلمن بأزواجهن في الدنيا. فلا تؤذي امرأة زوجها في الدنيا إلا قالت زوجته من الحور العين : لا تؤذيه قاتلك الله. فإنما هو عندك دخيل يوشك أن يفارقك إلينا.

Artinya:

“Kesepuluh: Mereka (para ulama) berkata: Sesungguhnya bidadari (Hoor al-‘Ayn) mengetahui keadaan suami-suami mereka di dunia. Maka tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari berkata: ‘Janganlah engkau menyakitinya, semoga Allah membinasakanmu! Sesungguhnya dia di sisimu hanyalah seorang tamu yang sebentar lagi akan berpisah denganmu untuk menuju kepada kami.'”

Membedah Makna “Dakhil” (Tamu)

Ada satu kata kunci yang sangat dalam maknanya dalam teks di atas, yaitu “Dakhil”. Secara bahasa, ini bisa berarti tamu, orang asing, atau seseorang yang singgah sebentar.

Bidadari mengingatkan istri di dunia bahwa kepemilikan mereka terhadap suaminya sifatnya sementara. Suami di dunia hanyalah “tamu”. Jika istri dunia tidak melayaninya dengan baik, sang tamu akan pergi. Perpisahan itu pasti terjadi, entah karena perceraian atau kematian, dan sang suami akan kembali ke “rumah aslinya” bersama bidadari, istri yang lebih menghormatinya.

Ini adalah peringatan keras agar para istri tidak merasa jumawa atau berkuasa penuh atas pasangannya. Ada yang jauh lebih mencintai dan menanti sang suami di alam sana.

Doa Bidadari untuk Kesalehan Suami

Tidak hanya marah ketika pasangannya disakiti, bidadari surga juga aktif memanjatkan doa kebaikan. Kasih sayang mereka tulus dan berorientasi pada keselamatan akhirat.

Masih dari sumber yang sama, disebutkan redaksi doa mereka:

وورد أنهن يدعون لأزواجهن يقلن: اللهم أعنه على دينك. وأقبل بقلبه على طاعتك. وبلغه بعزتك يا أرحم الراحمين1

اه‍ شرح صحيح البخاري للسفيري

Artinya:

“Dan diriwayatkan pula bahwa mereka (para bidadari) mendoakan suami-suami mereka dengan berkata: ‘Ya Allah, tolonglah dia untuk memegang teguh agama-Mu, hadapkanlah hatinya pada ketaatan kepada-Mu, dan sampaikanlah dia (kepada kami) dengan kemuliaan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.'”

Perhatikan isi doa tersebut. Bidadari tidak meminta harta atau kekayaan duniawi untuk suaminya. Mereka meminta tiga hal pokok:

  1. Kekuatan memegang agama.
  2. Hati yang taat.
  3. Keselamatan sampai ke surga dengan kemuliaan.

Ini menunjukkan bahwa support system terbaik bagi seorang pria saleh sebenarnya bukan hanya dari manusia di sekelilingnya, tetapi juga dari doa makhluk-makhluk suci yang merindukannya di akhirat.

Pelajaran bagi Istri: Menjaga Lisan dan Perbuatan

Pesan dari riwayat ini bukanlah untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai bahan introspeksi diri (muhasabah). Seorang istri shalihah tentu tidak ingin mendapatkan laknat atau doa buruk dari makhluk Allah yang lain.

Menyakiti suami bisa dalam berbagai bentuk:

  • Kata-kata kasar atau bentakan.
  • Merendahkan martabat suami di depan orang lain.
  • Menolak ajakan kebaikan suami.
  • Tidak bersyukur atas nafkah yang diberikan.

Ketika seorang istri mampu menahan egonya dan berlaku lembut, ia tidak hanya memenangkan hati suaminya di dunia, tetapi juga “memenangkan persaingan” dengan bidadari. Bahkan, dalam banyak riwayat lain disebutkan bahwa wanita dunia yang shalihah akan menjadi ratu bagi para bidadari di surga nanti karena amal ibadahnya—sesuatu yang tidak dimiliki bidadari karena mereka diciptakan langsung di surga tanpa melalui ujian dunia.

Hiburan bagi Suami yang Terzalimi

Seorang pria muslim berpeci dengan ekspresi tenang sedang duduk membaca kitab agama di dekat jendela yang terang, sementara tasbih tergantung di dinding latar belakang.
Bagi para suami yang tengah diuji kesabarannya, ketahuilah bahwa setiap lelah dan kesabaran Anda dalam membimbing keluarga ‘tercatat’ dan didoakan oleh penduduk langit. Gambar by Gemini

Bagi para suami yang mungkin sedang mengalami ujian rumah tangga, riwayat ini menjadi penyejuk hati. Bersabarlah atas perilaku pasangan yang mungkin kurang menyenangkan.

Ketahuilah bahwa kesabaran Anda tidak sia-sia. Ada “mata-mata” langit yang melihat perjuangan Anda menafkahi dan membimbing keluarga. Ketika lelah mendera dan apresiasi manusia tidak didapatkan, ingatlah doa bidadari yang selalu mengiringi langkah Anda agar tetap istiqomah di jalan Allah.

Perbandingan Istri Dunia yang Menyakiti vs Bidadari Surga

Untuk memudahkan pemahaman, mari kita lihat perbandingan karakter dalam tabel berikut:

AspekIstri Dunia (yang Durhaka)Bidadari Surga (Hoor al-Ayn)
Sikap pada SuamiMenyakiti, menyusahkan hatiMendoakan, merindukan, membela
PandanganMenganggap suami miliknya selamanyaMenganggap suami sebagai “tamu” di dunia
Respon saat KonflikMarah, egoisMendoakan agar suami sabar & taat
OrientasiTuntutan duniawiKeselamatan agama & akhirat
Status AkhirTerancam doa keburukanMenanti dengan kemuliaan

FAQ: Pertanyaan Seputar Bidadari dan Istri Shalihah

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait topik ini:

Apakah istri di dunia bisa menjadi bidadari untuk suaminya?

Ya, bahkan lebih mulia. Istri yang shalihah, taat pada Allah dan suaminya, akan masuk surga dan menjadi ratu bagi para bidadari (Sayyidatul Hur). Kecantikannya akan melebihi bidadari asli surga karena amal ibadah (shalat, puasa) yang ia lakukan di dunia.

Apa yang dimaksud dengan “menyakiti suami” dalam hadits ini?

Menyakiti di sini mencakup menyakiti fisik maupun perasaan tanpa alasan syar’i (alasan yang dibenarkan agama). Jika suami menyuruh maksiat dan istri menolak, itu bukan menyakiti, melainkan ketaatan pada Allah. Namun, jika istri mencela suami karena kekurangan harta atau fisik, itulah yang dilarang.

Bagaimana jika suami yang jahat pada istri?

Islam adalah agama keadilan. Jika suami yang zalim, ia pun akan mendapatkan balasan setimpal dari Allah. Ada malaikat dan hukum Allah yang berlaku bagi suami yang menelantarkan atau menyakiti istrinya. Artikel ini berfokus pada konteks riwayat As-Safiri tentang istri yang menyakiti suami.

Apakah bidadari cemburu pada istri dunia?

Dalam konteks riwayat ini, “kemarahan” bidadari lebih kepada pembelaan terhadap hamba Allah yang saleh, bukan cemburu buta seperti manusia. Mereka tidak rela kekasih Allah disakiti oleh orang yang seharusnya melayaninya.


Renungan Akhir

Kisah dari Syarah Shahih Al-Bukhari ini mengajarkan kita untuk memandang pernikahan dengan kacamata iman. Bagi para istri, jadikanlah rumah tangga sebagai ladang pahala dengan melayani suami sebaik mungkin, agar bidadari surga cemburu pada kesalehan Anda, bukan marah pada perilaku Anda.

Bagi para suami, jadikanlah ini motivasi untuk terus memperbaiki diri dan agama. Semakin tinggi kesalehan seorang pria, semakin besar kerinduan penduduk langit kepadanya.

Semoga Allah membimbing kita semua untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta mengumpulkan kita kembali bersama pasangan dan keluarga di surga-Nya kelak.

Referensi

  1. Syams al-Dīn Muḥammad bin ‘Umar bin Aḥmad al-Safīrī al-Syāfi‘ī, al-Majālis al-Wa‘ẓiyyah fī Syarḥ Aḥādīṡ Khair al-Bariyyah ﷺ min Ṣaḥīḥ al-Imām al-Bukhārī, ed. Aḥmad Fatḥī ‘Abd al-Raḥmān, Jilid 2 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), hlm. 34. ↩︎

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.