Adab Orang Sakit dan Kewajiban Bertobat Sebelum Ajal Menjemput Menurut Kitab Asna al-Matalib

Sakit sering kali datang tanpa permisi. Bagi sebagian orang, sakit hanyalah gangguan fisik yang menghambat aktivitas. Namun, dalam pandangan Islam yang lebih dalam, sakit adalah “surat cinta” dari Allah sekaligus peringatan dini agar kita bersiap.

Ketika tubuh mulai lemah, hati seharusnya menjadi lebih kuat mengingat akhirat. Kitab fikih mazhab Syafi’i, Asna al-Matalib, memberikan panduan yang sangat rinci mengenai adab orang sakit dalam Islam. Sakit bukan waktunya untuk mengeluh, melainkan momen emas untuk membersihkan diri sebelum menghadap Sang Pencipta.

Artikel ini akan membahas apa saja yang harus dilakukan seorang Muslim saat sakit parah atau merasakan tanda-tanda kematian sudah dekat, merujuk langsung pada teks-teks ulama klasik.

Mengapa Sakit Adalah Pengingat Kematian Terbaik?

Dalam kitab Asna al-Matalib, Syaikh Zakariya al-Anshari membuka bab Jenazah bukan langsung dengan cara memandikan mayat, melainkan dengan anjuran untuk banyak mengingat kematian (dzikrul maut). Beliau menukil:

(يستحب الإكثار من ذكر الموت)

“Disunnahkan memperbanyak mengingat kematian.”

Mengapa? Karena mengingat mati adalah pemutus kelezatan dunia yang sering melalaikan. Bagi orang yang sehat, mengingat mati mencegah maksiat. Bagi orang yang sakit, ini jauh lebih ditekankan (aakad). Sakit adalah kondisi di mana jarak antara kita dan kematian terasa semakin tipis.

Oleh karena itu, persiapan menghadapi kematian tidak boleh ditunda sampai nafas berada di kerongkongan. Persiapan ini dimulai saat kita masih memiliki kesadaran penuh di ranjang sakit.

Kewajiban Mendesak: Taubat dan Mengembalikan Hak Orang Lain

Ilustrasi menulis wasiat dan mencatat hutang piutang sebagai bentuk taubat nasuha sebelum ajal menjemput.
Salah satu adab terpenting saat sakit keras adalah mencatat dan menyelesaikan tanggungan hutang atau hak orang lain (Raddul Madzalim).

Banyak orang berpikir persiapan mati hanya soal membeli kain kafan. Padahal, persiapan terpenting adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Dalam teks disebutkan:

(والاستعداد له بالتوبة ورد المظالم)

“Dan (disunnahkan) bersiap menghadapi kematian dengan taubat dan mengembalikan barang-barang zalim (hak orang lain).”

1. Taubat Nasuha

Jangan menunggu “nanti kalau sudah tua”. Sakit adalah alarm. Segeralah bertaubat dari segala dosa besar maupun kecil. Penyesalan yang mendalam saat sakit bisa menjadi jalan penghapus dosa yang sangat efektif.

Baca juga: Tata cara shalat taubat.

2. Menyelesaikan Sangkutan Sesama Manusia (Raddul Madzalim)

Ini poin yang sering terlupakan. Taubat kepada Allah itu mudah, cukup memohon ampun. Namun, dosa kepada sesama manusia tidak akan lunas hanya dengan istighfar.

Jika Anda memiliki hutang, barang pinjaman yang belum dikembalikan, atau pernah mengambil hak orang lain, sakit adalah waktu deadline untuk menyelesaikannya. Jika tidak sanggup membayar, mintalah kehalalan (ridha) dari orang tersebut. Jangan sampai kita wafat membawa beban hutang atau kezaliman, karena itu akan memberatkan perjalanan di alam barzah.

Adab Orang Sakit dalam Islam: Antara Sabar dan Berobat

Kombinasi obat medis dan herbal sunnah di meja pasien sebagai bentuk ikhtiar kesembuhan.
Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar berobat (Tadawi) dan kepasrahan hati (Tawakkal) kepada Allah. @gambar by Gemini

Bagaimana seharusnya sikap mental kita saat terbaring lemah? Berikut adalah poin-poin adab yang diajarkan dalam Asna al-Matalib:

Menahan Diri dari Keluhan (Tarku as-Syakwa)

Manusiawi jika kita merasa sakit. Namun, Islam mengajarkan adab yang tinggi:

(وترك الشكوى)

“Dan (disunnahkan) meninggalkan keluhan.”

Mengeluh yang dilarang adalah yang bernada tidak terima dengan takdir Allah, seperti berkata “Kenapa harus saya?”, “Ini tidak adil”, atau merintih berlebihan (al-anin) yang menunjukkan ketidaksabaran.

Namun, jika Anda memberitahu dokter atau keluarga tentang rasa sakit dengan tujuan pengobatan, bukan untuk mengeluh, maka itu boleh dan tidak makruh. Ulama membedakan antara mengeluh kepada makhluk (tercela) dan ikhtiar mencari kesembuhan (dianjurkan).

Berobat (Tadawi) vs Tawakkal

Apakah berobat itu wajib? Mayoritas ulama Syafi’iyah, sebagaimana tertulis dalam kitab ini, berpendapat bahwa berobat hukumnya Sunnah, bukan Wajib.

قوله: (ويستحب) له (التداوي)

“Dan disunnahkan baginya (orang sakit) untuk berobat.”

Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya. Namun, ada satu tingkatan yang lebih tinggi bagi mereka yang imannya kuat. Kitab ini menyebutkan:

فإن ترك التداوي توكلا ففضيلة

“Jika ia meninggalkan berobat karena tawakkal (berserah penuh pada Allah), maka itu adalah sebuah keutamaan (fadilah).”

Ini pilihan personal. Jika tidak berobat membuat Anda semakin mengeluh dan ibadah terganggu, maka berobatlah. Itu lebih baik bagi agama Anda.

Berbaik Sangka kepada Allah (Husnuzhan)

Saat sakit makin parah dan bayangan kematian hadir, setan sering membisikkan ketakutan dan keputusasaan. Di sinilah adab orang sakit dalam Islam menekankan pentingnya Husnuzhan.

Yakinlah bahwa sakit ini adalah penggugur dosa. Yakinlah bahwa Allah Maha Pengampun. Jangan biarkan rasa takut akan dosa membuat Anda putus asa dari rahmat-Nya. Nabi SAW bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.”

Peran Keluarga: Jangan Memaksa Makan

Bagi keluarga yang merawat, ada etika khusus yang perlu diperhatikan. Seringkali karena sayang, kita memaksa pasien makan banyak. Padahal dalam Asna al-Matalib disebutkan:

قوله: (ويكره أن يكره) المريض (عليه) أي على التداوي

“Dan dimakruhkan memaksa orang sakit untuk meminum obat atau makan.”

Tubuh orang sakit sedang sibuk bertarung melawan penyakit. Memaksa makan justru bisa memberatkan kerja tubuh. Berikan makanan yang ia sukai dan ringan, serta ingatkan ia untuk shalat dan berdzikir semampunya.

Ringkasan: Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan?

Untuk mempermudah pemahaman, berikut tabel ringkasan adab bagi orang sakit:

KategoriTindakan yang Dianjurkan (Sunnah)Tindakan yang Harus Dihindari (Makruh/Haram)
Sikap HatiSabar, Ridha, Husnuzhan kepada Allah.Berkeluh kesah, berburuk sangka, putus asa.
IbadahTaubat nasuha, mengembalikan hak orang (hutang), banyak dzikir.Menunda taubat, lalai shalat karena alasan sakit ringan.
FisikBerobat (Tadawi), menjaga kebersihan diri (potong kuku/kumis).Merintih/mengaduh berlebihan (Anin), menolak takdir.
InteraksiMeminta maaf kepada sesama, berwasiat.Bertengkar masalah duniawi saat kritis.

FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Orang Sakit

Apakah orang sakit tetap wajib shalat?

Ya, kewajiban shalat tidak gugur selama akal masih berfungsi. Jika tidak mampu berdiri, boleh duduk. Jika tidak mampu duduk, boleh berbaring. Adab orang sakit dalam Islam sangat memudahkan (rukhsah), namun tidak meniadakan kewajiban.

Bolehkah kita mengharapkan kematian karena sakit yang tak kunjung sembuh?

Hukum asalnya adalah Makruh. Nabi SAW melarang kita mengharapkan kematian karena musibah duniawi. Namun, jika seseorang takut agamanya rusak (misal: takut murtad karena tidak kuat menahan sakit), maka boleh berdoa: “Ya Allah, hidupkan aku jika hidup itu baik bagiku, dan wafatkan aku jika wafat itu baik bagiku.”

Bagaimana jika orang sakit sulit berbicara saat sakaratul maut?

Keluarga disunnahkan menuntun (talqin) kalimat Laa ilaha illallah dengan lembut. Jangan mendesak atau membentak. Jika ia sudah mengucapkannya sekali, biarkan ia tenang. Jangan diajak bicara urusan dunia lagi agar kalimat terakhirnya tetap kalimat tauhid.

Jika takdir Allah berkata waktunya telah tiba, maka keluarga wajib segera melakukan pengurusan jenazah. Untuk panduan lengkap langkah-langkahnya, Anda bisa membaca artikel kami: Panduan Lengkap Tata Cara Merawat Jenazah (Tajhizul Jenazah) Sesuai Sunnah.

Sakit adalah ujian sekaligus peringatan. Namun jika kondisi memburuk dan ajal semakin dekat, keluarga harus siap mendampingi. Pelajari apa yang harus dilakukan selanjutnya dalam panduan Tanda-Tanda Sakaratul Maut dan Cara Mentalqinnya.

Perlu diketahui sakit adalah cara Allah membersihkan kita sebelum bertemu dengan-Nya. Mari jadikan momen sakit sebagai sarana mendekat, bukan menjauh. Semoga kita semua dianugerahi akhir yang baik (Husnul Khotimah).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi

al-Anṣārī, Zakariyā. Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib. Dengan ḥāsyiyah Aḥmad al-Ramlī. Disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī. Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H. Dicetak ulang oleh Dār al-Kitāb al-Islāmī.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.