4 Adab Menuntut Ilmu dari Hadits Jibril: Analisis Kitab Al-Fath Al-Mubin

Dalam tradisi keilmuan Islam, adab (etika) menempati posisi yang mendahului ilmu itu sendiri. Imam Malik pernah berpesan, “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Manifestasi paling sempurna dari adab majelis ilmu terekam dalam sebuah peristiwa agung yang dikenal sebagai Hadits Jibril.

Peristiwa ini bukan sekadar transfer informasi teologis mengenai Rukun Islam, Iman, dan Ihsan. Lebih dari itu, ia adalah “madrasah” yang mengajarkan bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu (muta’allim) bersikap di hadapan gurunya.

Melalui kitab Al-Fath Al-Mubin bi Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyah halaman 139-143, Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami mengurai detail perilaku Malaikat Jibril—yang menyamar menjadi manusia—dan respons Umar bin Khattab. Dari cara duduk hingga pemilihan kata, tersimpan istinbath hukum fikih dan nilai tasawuf yang mendalam mengenai adab menuntut ilmu.

Artikel ini akan membedah empat pilar utama adab tersebut.

1. Pakaian Penuntut Ilmu: Simbol Kebersihan Hati dan Zahir

Fotografi flat lay yang diambil dari atas, menampilkan kemeja koko putih bersih terlipat rapi, peci hitam beledu, dan botol kaca minyak wangi di atas sajadah bermotif, melambangkan persiapan kebersihan fisik penuntut ilmu.
Meneladani Jibril yang datang dengan pakaian “sangat putih dan rapi”: Mengenakan pakaian terbaik yang bersih dan memakai wewangian adalah bentuk penghormatan (ta’zim) terhadap ilmu dan majelis dzikir.

Hal pertama yang ditangkap oleh mata para sahabat adalah penampilan fisik sang tamu. Umar bin Khattab mendeskripsikannya dengan kalimat: “Syadīdu bayāḍith-thiyāb, syadīdu sawādis-sya’r” (Sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya).

Mengapa Jibril harus tampil sedemikian bersih dan rapi padahal beliau bisa saja menyerupai musafir yang lusuh?

Sunnah Membersihkan Diri dan Memakai Putih

Dalam Al-Fath Al-Mubin (hal. 141), Syaikh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penampilan Jibril ini bukan kebetulan, melainkan tasyri’ (penetapan syariat) bagi umat Islam. Beliau menuliskan nash berikut:

ففيه ندب تنظيف الثياب، وتحسين الهيئة بإزالة ما يؤخذ للفطرة، وتطييب الرائحة عند الدخول للمسجد، وعلى نحو العلماء

(Maka di dalamnya terdapat anjuran [sunnah] membersihkan pakaian, membaguskan penampilan dengan menghilangkan kotoran fitrah [seperti memotong kuku/merapikan rambut], dan memakai wewangian saat masuk masjid dan saat menemui para ulama).

Pakaian putih (bayāḍ) dan kebersihan badan adalah bentuk ta’zim (penghormatan) terhadap ilmu dan malaikat yang turut hadir di majelis dzikir. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya sulit menetap di tempat yang kotor atau berbau tidak sedap.

Anjuran Khusus bagi Ahlul Ilmi

Lebih jauh, Syaikh Ibnu Hajar menukil bahwa Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sendiri sangat menyukai warna putih bagi para Qari’ (penghafal Al-Qur’an dan penuntut ilmu).

ومن ثم استحب عمر رضي الله عنه البياض للقارئ، واستحبه بعض أئمتنا لدخول المسجد

(Oleh karena itulah, Umar radhiyallahu ‘anhu menyukai warna putih bagi para Qari, dan sebagian imam kita menyukainya untuk memasuki masjid).

Ini menjadi teguran bagi penuntut ilmu zaman sekarang yang terkadang abai terhadap penampilan. Mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian, dan memastikan tubuh bersih sebelum berangkat ke majelis taklim adalah bagian dari adab menuntut ilmu yang dicontohkan langsung oleh Sayyidul Malaikat.

2. Etika Menghadap Guru: Analisis Posisi Duduk Jibril

Setelah masuk ke majelis, Jibril tidak duduk di sembarang tempat. Beliau langsung menuju ke hadapan Rasulullah ﷺ dan mengambil posisi duduk yang sangat spesifik.

Redaksi hadits menyebutkan:

حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه

(Hingga ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, menyandarkan kedua lututnya ke kedua lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi).

Makna “Jalsatul Muta’allim”

Syaikh Ibnu Hajar (hal. 141-142) memberikan analisis tajam mengenai posisi ini. Beliau menyatakan:

صريح في أنه جلس بين يديه دون جانبه، وهي جلسة المتعلم

(Ini jelas menunjukkan bahwa dia duduk di hadapan Nabi [depan], bukan di sampingnya. Dan ini adalah posisi duduk seorang pelajar).

Posisi duduk berhadapan (face-to-face) menunjukkan fokus total. Seorang murid tidak selayaknya duduk menyamping atau membelakangi guru tanpa udzur. Jibril menempelkan lututnya ke lutut Nabi sebagai bentuk mubalaghah fil qurb (totalitas dalam kedekatan).

Rahasia Meletakkan Tangan di Paha

Ada perdebatan kecil di kalangan ulama mengenai frasa “meletakkan tangan di atas paha”. Apakah paha Jibril sendiri atau paha Nabi? Syaikh Ibnu Hajar menguatkan pendapat bahwa tangan Jibril diletakkan di atas paha Nabi ﷺ (ala fakhidzi an-Nabi).

Tujuannya adalah:

  1. Menebar Kasih Sayang: Menunjukkan mazidul wuddi (tambahan rasa cinta) dan keakraban.
  2. Tanbih (Peringatan): Membangunkan kesadaran guru (Nabi) agar fokus mendengarkan pertanyaan.
  3. Kesiapan Batin: Isyarat bahwa si penanya siap menerima limpahan ilmu.

Pelajaran bagi kita adalah: kedekatan fisik (dalam batas adab) dan kedekatan hati dengan guru adalah kunci terbukanya futuh (pemahaman) dalam belajar.

3. Adab Bertanya: Polemik Panggilan “Ya Muhammad”

Salah satu bagian yang paling memicu diskusi dalam hadits ini adalah cara Jibril memanggil Rasulullah ﷺ. Jibril berkata: “Ya Muhammad, akhbirni ‘anil Islam” (Wahai Muhammad, kabarkan padaku tentang Islam).

Mengapa Jibril memanggil nama langsung (“Ya Muhammad”), padahal Allah telah melarang umat Islam memanggil Nabi dengan nama saja (QS. An-Nur: 63), dan mewajibkan panggilan penghormatan seperti “Ya Rasulullah”?

Analisis Syaikh Ibnu Hajar

Dalam Al-Fath Al-Mubin (hal. 143), Syaikh Ibnu Hajar mengangkat permasalahan ini (isykal) dan memberikan beberapa jawaban ilmiah:

  1. Status Jibril: Larangan memanggil nama langsung berlaku bagi manusia, sedangkan Jibril adalah malaikat yang memiliki kedudukan khusus.
  2. Sebelum Larangan Turun: Kemungkinan peristiwa ini terjadi sebelum turunnya ayat larangan tersebut.
  3. Strategi Penyamaran (Ta’miyah): Ini adalah alasan yang paling kuat menurut konteks hadits.

Syaikh Ibnu Hajar menulis:

أجاب بأنه قصد مزيد التعمية عليهم، فناداه بما كان يناديه به أجلاف الأعراب

(Dijawab bahwasanya Jibril bermaksud menambah kesamaran bagi mereka [para sahabat], maka ia memanggil Nabi dengan panggilan yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab Badui pedalaman yang kasar).

Jibril sedang menyamar. Jika beliau memanggil dengan “Ya Rasulullah” dengan adab yang sangat halus, para sahabat mungkin curiga. Dengan memanggil “Ya Muhammad”, beliau meniru gaya A’rab (Badui) agar penyamarannya sempurna.

Implikasi bagi Murid Zaman Sekarang

Meskipun Jibril melakukan itu, Syaikh Ibnu Hajar menegaskan bahwa ini bukan dalil bagi murid untuk memanggil gurunya dengan nama langsung.

وفيه أيضا: جواز نداء العالم والكبير باسمه ولو من المتعلم، ومحله: إن لم يعلم كراهته لذلك، ولا كان على سبيل الوضع من قدره

(Di dalamnya ada dalil bolehnya memanggil orang alim dengan namanya… namun tempat kebolehannya adalah: jika diketahui gurunya tidak membenci hal itu, dan tidak bermaksud merendahkan martabatnya).

Namun, adab yang lebih utama (al-aula) adalah menggunakan laqab (gelar) penghormatan seperti “Kiai”, “Ustadz”, “Syaikh”, atau “Tuan Guru” sebagai bentuk pemuliaan terhadap ilmu yang dimilikinya.

4. Tawadhu Ulama: Pelajaran dari “Allahu wa Rasuluhu A’lam”

Poin terakhir dari kluster adab ini datang dari Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Setelah Jibril pergi, Nabi bertanya kepada Umar: “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?”

Umar tidak mencoba menebak-nebak. Beliau menjawab dengan kalimat yang penuh ketundukan: “Allahu wa Rasuluhu A’lam” (Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui).

Bahaya Sok Tahu dalam Agama

Syaikh Ibnu Hajar memuji sikap ini sebagai puncak adab para sahabat. Dalam kitab (hal. 184), beliau berkomentar:

قلت: الله ورسوله أعلم، قال: فيه حسن ما كان عليه الصحابة رضوان الله تعالى عليهم من مزيد الأدب معه صلى الله عليه وسلم، برد العلم إلى الله وإليه

(Umar berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Ibnu Hajar berkata: Di dalamnya terdapat kebagusan adab yang dimiliki para sahabat… berupa tambahan adab kepada Nabi ﷺ dengan mengembalikan ilmu kepada Allah dan Rasul-Nya).

Sikap ini disebut Tawadhu (rendah hati) Intelektual. Dalam majelis ilmu, jika seorang murid atau bahkan ulama ditanya tentang sesuatu yang ia tidak yakini jawabannya, adabnya adalah mengatakan “saya tidak tahu” atau mengembalikan ilmu kepada yang lebih ahli.

Baca juga: Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ

Syaikh Ibnu Hajar juga mengutip ucapan Ali bin Abi Thalib di halaman 178 terkait pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya:

وابردها على كبدي؛ إذا سئلت عما لا أعلم أن أقول: لا أعلم

(Alangkah sejuknya bagi hatiku; jika aku ditanya tentang apa yang tidak aku ketahui, aku berkata: Aku tidak tahu).

Mengatakan “tidak tahu” bukanlah aib, melainkan separuh dari ilmu dan bukti ketakwaan hati.

Kesimpulan

Hadits Jibril bukan hanya fondasi akidah dan fikih, tetapi juga Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam menghadiri majelis ilmu. Dari analisis kitab Al-Fath Al-Mubin, kita menyimpulkan bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada adab:

  1. Persiapan fisik dengan pakaian bersih, putih, dan wangi.
  2. Posisi duduk yang sopan, fokus, dan dekat dengan guru.
  3. Cara bicara yang santun dan menjaga kehormatan guru.
  4. Kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan ilmu.

Semoga kita semua bisa meneladani adab Jibril dan para sahabat dalam menuntut ilmu, sehingga ilmu yang kita dapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat (ilman nafi’an).

Wallahu a’lam bish-shawab.

FAQ: Pertanyaan Seputar Adab dalam Hadits Jibril

Apakah wajib memakai baju putih saat ke majelis taklim?

Tidak wajib, hukumnya adalah sunnah (mandub). Berdasarkan penjelasan Ibnu Hajar, warna putih disukai karena melambangkan kebersihan, namun memakai warna lain yang bersih dan menutup aurat tetap sah dan boleh.

Bolehkah kita meniru posisi duduk Jibril (lutut ketemu lutut) dengan guru kita sekarang?

Posisi ini menunjukkan kedekatan yang sangat intens. Boleh dilakukan jika situasinya memungkinkan dan guru merasa nyaman. Namun, esensinya adalah duduk dengan sopan (jalsah iftirasy atau bersila dengan tenang) dan fokus memperhatikan.

Mengapa Umar tidak menjawab pertanyaan Nabi tentang siapa tamu itu, padahal mungkin dia punya tebakan?

Ini adalah bentuk adab. Di hadapan Rasulullah ﷺ, para sahabat tidak berani mendahului ucapan beliau atau berspekulasi tentang hal ghaib tanpa dalil. Mereka memilih menyerahkan jawaban mutlak kepada pemilik ilmu.

Tabel Ringkasan: Adab Penuntut Ilmu Menurut Syarah Fathul Mubin

Aspek AdabPerilaku dalam HaditsPenjelasan / Hikmah
PakaianSangat putih (Shadidu bayadh)Sunnah kebersihan, menghormati ilmu & malaikat.
PenampilanRambut sangat hitam (Rapi)Menghilangkan kotoran fitrah, tampil prima.
DudukLutut menempel lututKeseriusan (Jalsatul Muta’allim), fokus total.
InteraksiTangan di atas paha NabiKasih sayang (Wudd), membangunkan perhatian.
Ucapan“Ya Muhammad”Ta’miyah (penyamaran) ala Badui, bukan untuk ditiru murid.
Sikap Hati“Allahu wa Rasuluhu A’lam”Tawadhu, tidak sok tahu, mengembalikan ilmu pada Allah.

Ibn Ḥajar al-Haytamī, Aḥmad ibn Muḥammad. al-Fatḥ al-Mubīn bi-Sharḥ al-Arbaʿīn. Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.