Majelis ilmu adalah taman surga di bumi; tempat turunnya rahmat di mana para malaikat membentangkan sayap keridhaan bagi para pencarinya. Oleh karena itu, mendatangi majelis ilmu tidaklah sama dengan mendatangi tempat keramaian biasa. Ada etika (adab) dan tata krama yang harus dijaga, baik secara batiniah maupun lahiriah.
Dalam khazanah keilmuan Islam, rujukan utama mengenai etika pakaian penuntut ilmu (muta’allim) terekam indah dalam Hadits Jibril. Peristiwa ini bukan sekadar dialog teologis tentang Rukun Islam dan Iman. Jauh sebelum lisan sang malaikat bertanya, wujud visualnya telah memberikan pelajaran fikih yang sangat mendalam.
Melalui kitab Al-Fath Al-Mubin (halaman 141-142), Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami mengurai istinbath (penggalian) hukum syariat dari cara berpakaian Malaikat Jibril saat menemui Rasulullah ﷺ. Artikel ini akan membedah rahasia di balik pakaian putih, kebersihan, dan wewangian sebagai standar adab bagi setiap penuntut ilmu.
Potret Visual Sang Penanya Misterius
Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kedatangan sosok tersebut dengan deskripsi fisik yang sangat rinci, yang sangat kontras dengan keadaan lingkungan gurun pasir pada umumnya.
Dalam naskah Al-Fath Al-Mubin, tertulis redaksi:
طلع علينا رجل شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يرى عليه أثر السفر
“Muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, dan tidak terlihat padanya sedikit pun bekas perjalanan.”
Syaikh Ibnu Hajar memperkaya deskripsi ini dengan mengutip riwayat Imam An-Nasa’i dari jalur Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhuma, yang menambahkan elemen aroma dan aura kesucian:
أحسن الناس وجها، وأطيب الناس ريحا، كأن ثيابه لا يمسها دنس
“Ia adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling wangi aromanya, seolah-olah pakaiannya tidak pernah tersentuh kotoran.”
Kondisi fisik ini mengherankan para sahabat. Seseorang yang menempuh perjalanan jauh (safar) di tanah Arab lazimnya berdebu, berambut kusut, dan pakaiannya kotor. Namun, sosok ini tampil paripurna. Dari anomali visual inilah para ulama menarik kesimpulan hukum yang komprehensif terkait adab majelis ilmu secara keseluruhan, mulai dari tata cara berpakaian hingga interaksi dengan guru.
Kehadiran sosok misterius yang terbebas dari debu safar ini tentu memicu tanda tanya besar di benak para sahabat. Analisis teologis mengenai hakikat tasyakkul (perubahan wujud) malaikat ini dapat ditelaah secara mendalam pada pembahasan khusus mengenai siapa lelaki berbaju putih itu menurut kacamata akidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Istinbath Hukum: Syariat Kebersihan bagi Penuntut Ilmu

Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami tidak membiarkan deskripsi fisik Jibril berlalu sekadar sebagai cerita sejarah. Beliau menjadikannya dalil atas kesunnahan menjaga kebersihan saat mendatangi pusat-pusat kebaikan. Beliau menulis:
ففيه ندب تنظيف الثياب، وتحسين الهيئة بإزالة ما يؤخذ للفطرة، وتطييب الرائحة عند الدخول للمسجد، وعلى نحو العلماء
“Maka di dalamnya terdapat anjuran (sunnah) membersihkan pakaian, membaguskan penampilan dengan menghilangkan kotoran fitrah (seperti memotong kuku dan merapikan rambut), memakai wewangian saat masuk masjid, dan saat mendatangi para ulama.”
Mari kita bedah tiga pilar adab penampilan ini:
1. Membersihkan Pakaian dan Merapikan Fitrah
Seorang pencari ilmu wajib menjaga kesucian pakaiannya dari najis dan kotoran. Lebih dari itu, ia disunnahkan membaguskan penampilannya (tahsinul hai’ah). Ini mencakup pelaksanaan sunnah-sunnah fitrah, seperti merapikan kumis, memotong kuku, dan merapikan rambut (“sangat hitam rambutnya” merupakan kinayah dari kerapian dan vitalitas). Tubuh yang terawat menunjukkan rasa hormat kepada ilmu yang hendak diraih.
2. Memakai Wewangian (Tathayyub)
Aroma tubuh yang wangi (“paling wangi aromanya”) memberikan kenyamanan bagi guru dan sesama murid di majelis. Masjid dan majelis taklim adalah tempat berkumpulnya kaum muslimin dan malaikat rahmat. Aroma tidak sedap akan mengganggu kekhusyukan talaqqi (proses menerima ilmu). Oleh karena itu, memakai minyak wangi (tathayyub) menjadi sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) sebelum melangkah ke masjid.
3. Keutamaan Baju Putih bagi Penuntut Ilmu
Warna putih melambangkan kesucian, kebersihan hati, dan kejelasan niat (bebas dari sifat Riya’). Syaikh Ibnu Hajar menegaskan bahwa anjuran ini berlaku untuk dua belah pihak: guru dan murid.
وندب ذلك للعلماء والمتعلمين؛ لأنه معلم؛ بدليل: “يعلمكم دينكم”، ومتعلم بمقاله وحاله. ومن ثم استحب عمر رضي الله عنه البياض للقارئ، واستحبه بعض أئمتنا لدخول المسجد
“Dan hal tersebut disunnahkan bagi para ulama dan pelajar; karena dia [Jibril] adalah seorang guru, berdasarkan dalil sabda Nabi: ‘Ia mengajarkan agama kalian’, dan ia juga berposisi sebagai pelajar melalui ucapan dan keadaannya. Oleh karena itulah, Umar radhiyallahu ‘anhu menyukai warna putih bagi seorang Qari (pembaca Al-Qur’an/penuntut ilmu), dan sebagian imam kita menyukainya untuk memasuki masjid.”
Memakai baju koko, gamis, atau kemeja putih yang bersih saat mengaji adalah bentuk ittiba’ (mengikuti) jejak Sayyidul Malaikat dan para Salafus Shalih.
Pengecualian Syariat: Berhias di Hari Raya
Ada satu catatan fikih yang sangat berharga dari Syaikh Ibnu Hajar terkait penggunaan baju putih. Meskipun warna putih sangat disunnahkan untuk majelis ilmu dan rutinitas harian, ada kondisi di mana seorang Muslim dianjurkan memakai pakaian lain yang lebih indah.
Beliau memberikan ta’liq (komentar pribadi):
أقول: ينبغي ندبه لكل اجتماع ما عدا العيد إذا كان عنده أرفع منه؛ لأنه يوم زينة وإظهار للنعمة
“Aku berkata: Seyogianya kesunnahan (pakaian putih) ini berlaku untuk setiap perkumpulan kecuali hari raya, jika ia memiliki pakaian yang lebih tinggi nilainya dari itu; karena hari raya adalah hari perhiasan (zīnah) dan hari untuk menampakkan nikmat Allah.”
Jika Anda memiliki baju dengan kain sutra (khusus bagi wanita) atau kain mahal berwarna lain yang lebih bagus dari baju putih biasa, maka memakainya di hari raya Idul Fitri atau Idul Adha lebih utama. Hal ini sebagai wujud syukur (idzharun ni’mah) atas anugerah Allah. Namun, untuk majelis ilmu harian, putih tetap menjadi mahkota kesederhanaan dan kewibawaan.
Kebersihan Zahir sebagai Cerminan Batin

Dalam kacamata tasawuf, adab lahiriah tidak pernah terlepas dari kondisi batin. Pakaian yang bersih dan putih menyimbolkan hati yang harus dibersihkan dari dosa melalui Taubat Nasuha. Wewangian yang semerbak menyimbolkan akhlak terpuji dan keikhlasan (Ikhlash) yang harus menguar dari lisan seorang muta’allim.
Jika zahirnya saja tidak siap menerima cahaya ilmu dengan menjaga kebersihan, bagaimana mungkin batinnya siap menerima Sirr (rahasia ilahi) dari sang guru?
Selain menjaga kesucian pakaian dan aroma tubuh, kesempurnaan talaqqi di majelis ilmu juga sangat bergantung pada postur fisik sang murid. Hal ini terefleksikan secara paripurna dalam etika menghadap guru, di mana Malaikat Jibril mempraktikkan langsung posisi duduk Jalsatul Muta’allim dengan menempelkan lututnya ke lutut Rasulullah ﷺ.
Tabel Ringkasan: Adab Penampilan Penuntut Ilmu
| Aspek Penampilan | Dalil dari Penampilan Jibril | Hukum & Penerapan Syariat |
| Pakaian | Sangat putih (Syadidu Bayadh) | Sunnah memakai baju putih untuk Qari, ulama, dan murid ke masjid. |
| Kondisi Kain | Tanpa bekas safar / daki | Menjaga kesucian dari najis dan kotoran. |
| Rambut & Fisik | Rambut hitam pekat & rapi | Melaksanakan sunnah fitrah (potong kuku, rapi rambut). |
| Aroma | Paling wangi aromanya | Sunnah memakai wewangian (tathayyub) ke majelis ilmu. |
| Pengecualian | – | Boleh memakai pakaian berwarna yang lebih mahal khusus pada Hari Raya (Zinah). |
FAQ: Seputar Pakaian dan Adab Majelis Ilmu
Apakah sah menuntut ilmu jika tidak memakai baju putih?
Tentu saja sah dan ilmu tetap bisa didapatkan. Memakai baju putih berstatus sunnah (dianjurkan) berdasar atsar sahabat dan adab Jibril, bukan syarat sah majelis. Yang terpenting adalah pakaian tersebut bersih, suci, dan menutup aurat dengan sempurna.
Bolehkan wanita memakai wewangian saat ke masjid atau majelis ilmu?
Berbeda dengan laki-laki, syariat melarang wanita memakai wewangian yang menyengat (tabarruj) saat keluar rumah, termasuk ke masjid, karena dapat mengundang fitnah. Bagi wanita, cukup memastikan tubuh bersih dan bebas dari bau badan yang mengganggu. Kesunnahan tathayyub dalam hadits ini lebih ditekankan bagi laki-laki.
Mengapa Jibril disebut guru sekaligus murid dalam penjelasan kitab di atas?
Jibril berposisi sebagai murid melalui Hal (keadaan) dan ucapannya yang bertanya dengan sopan. Namun, hakikatnya beliau adalah fasilitator yang mengajari para sahabat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ di akhir hadits: “Ia datang mengajarkan agama kalian.” Oleh karenanya, adab Jibril berlaku bagi pengajar maupun pelajar.
Syaikh Ibnu Hajar menegaskan bahwa Jibril berposisi sebagai guru sekaligus pelajar melalui ḥāl (keadaan) dan tutur katanya. Taktik pedagogis yang unik ini merupakan bagian integral dari metode pengajaran Rasulullah, di mana pertanyaan cerdas sengaja dirancang untuk memfasilitasi turunnya ilmu kepada audiens yang lebih awam.
Kesimpulan
Hadits Jibril mengajarkan bahwa persiapan fisik adalah gerbang menuju kesiapan spiritual. Memakai pakaian putih yang bersih, merapikan diri, dan menggunakan wewangian saat melangkah ke masjid atau menghadap guru bukanlah sekadar urusan fesyen. Ia adalah ibadah, wujud adab yang tinggi, dan pengamalan istinbath syariat yang dicontohkan langsung oleh malaikat pembawa wahyu.
Siapkan lahiriah Anda, niscaya Allah ﷻ akan menyiapkan batin Anda untuk menerima cahaya ilmu-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi
Aḥmad ibn Muḥammad Ibn Ḥajar al-Haytamī, al-Fatḥ al-Mubīn bi-Sharḥ al-Arbaʿīn, ed. Aḥmad Jāsim Muḥammad al-Muḥammad, Quṣayy Muḥammad Nūrūs al-Ḥallāq, and Anwar al-Shaykhī al-Dāghistānī, 1st ed. (Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008), 141-142.




