Dalam khazanah studi Hadits, terdapat sebuah riwayat masyhur yang dikenal sebagai Ummus Sunnah (Induk Sunnah). Riwayat ini bermula dari kedatangan sosok misterius yang mengejutkan para sahabat di majelis Rasulullah ﷺ. Sosok tersebut bukan sekadar tamu biasa, melainkan kunci pembuka pintu pemahaman tentang Islam, Iman, dan Ihsan.
Banyak penuntut ilmu bertanya, siapa lelaki berbaju putih itu? Mengapa penampilannya begitu kontras dengan kondisi geografis Arab yang berdebu? Artikel ini akan mengurai identitas, ciri fisik, dan makna teologis di balik kehadiran sosok tersebut dengan merujuk langsung pada teks kitab Al-Fath Al-Mubin bi Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyah halaman 139-143.
Narasi Kedatangan Sang Tamu Misterius

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan peristiwa ini dengan deskripsi visual yang sangat tajam. Saat para sahabat duduk tenang, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang tidak dikenal, namun memiliki penampilan yang sangat bersih.
Dalam naskah asli kitab Al-Fath Al-Mubin, tertulis redaksi hadits sebagai berikut:
إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يري عليه أثر السفر، ولا يعرفه منا أحد
(Tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya).
Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami memberikan ta’liq (komentar) kebahasaan yang menarik. Kata (لا يرى) dibaca dengan dhommah pada huruf ya’ (yu-raa), yang bermakna pasif dan lebih baligh (sangat kuat/mendalam) maknanya dibandingkan bacaan na-raa (kami melihat). Hal ini menegaskan bahwa secara objektif, memang tidak ada sedikit pun tanda-tanda safar pada dirinya.
Paradoks Identitas
Kehadiran lelaki ini menciptakan paradoks di benak para sahabat. Syaikh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa situasi ini menambah ketidakjelasan atau kesamaran (al-‘amāyah) bagi mereka.
- Jika ia penduduk Madinah, seharusnya para sahabat mengenalnya.
- Jika ia musafir (pendatang), seharusnya tampak atsar as-safar (bekas perjalanan) seperti baju berdebu atau rambut kusut.
Namun, lelaki berbaju putih ini justru tampil sangat rapi, seolah-olah baru keluar dari kamar mandi di rumah sebelahnya, padahal tidak ada yang tahu siapa dia.
Analisis Ciri Fisik dan Makna Simbolisnya
Penampilan fisik Jibril ‘alaihis salam dalam wujud manusia ini mengandung ‘ilal (alasan-alasan) syar‘i dan pelajaran adab yang tinggi.
1. Putihnya Pakaian dan Hitamnya Rambut
Deskripsi شديد بياض الثياب (sangat putih pakaiannya) dan شديد سواد الشعر (sangat hitam rambutnya) bukan sekadar detail naratif. Dalam syarah halaman 141 disebutkan:
ففيه ندب تنظيف الثياب، وتحسين الهيئة بإزالة ما يؤخذ للفطرة، وتطييب الرائحة عند الدخول للمسجد
(Maka di dalamnya terdapat anjuran disunnahkan membersihkan pakaian, membaguskan penampilan dengan menghilangkan kotoran fitrah, dan memakai wewangian saat masuk masjid).
Warna putih disukai oleh Umar bin Khattab bagi para Qari (pembaca Al-Qur’an/penuntut ilmu), dan para imam menganjurkannya saat memasuki masjid. Ini mengajarkan kita bahwa kesucian batin harus selaras dengan kebersihan lahiriah.
2. Aroma yang Semerbak
Selain visual, Syaikh Ibnu Hajar juga menukil riwayat Imam An-Nasa’i dari Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhuma yang menambahkan detail penciuman:
أحسن الناس وجها، وأطيب الناس ريحا، كأن ثيابه لا يمسها دنس
(Dia adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling wangi aromanya, seolah-olah pakaiannya tidak pernah tersentuh kotoran).
Keharuman ini menjadi isyarat bahwa sosok tersebut bukanlah manusia biasa yang berasal dari tanah, melainkan makhluk suci yang membawa kabar gembira.
Etika (Adab) Jibril di Hadapan Rasulullah ﷺ
Pertanyaan “siapa lelaki berbaju putih itu” tidak hanya terjawab dari fisiknya, tapi juga dari ahwal (tingkah laku) beliau saat berhadapan dengan Nabi Muhammad ﷺ.
Posisi Duduk: Jalsah Al-Muta’allim
Lelaki itu tidak duduk sembarangan. Ia mengambil posisi yang sangat dekat:
فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه
(Dia menyandarkan kedua lututnya ke kedua lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi).
Dalam Al-Fath Al-Mubin dijelaskan bahwa posisi ini adalah جلسة المتعلم (posisi duduk seorang pelajar). Namun, Jibril melakukan mubalaghah (totalitas/kesungguhan) dalam mendekat hingga lututnya menempel. Ini adalah simbol Muraqabah dan keseriusan dalam menuntut ilmu.
Ulama berbeda pendapat mengenai كفيه على فخذيه (telapak tangan di atas paha). Apakah paha Nabi atau paha Jibril sendiri? Syaikh Ibnu Hajar menguatkan pendapat bahwa tangan tersebut diletakkan di atas paha Nabi ﷺ (أي: فخذي النبي صلى الله عليه وسلم) sebagai bentuk ta’zim (penghormatan) atau keakraban spiritual saat wahyu diturunkan.
Panggilan “Ya Muhammad”
Satu hal yang janggal adalah panggilan lelaki itu: “Ya Muhammad!”, bukan “Ya Rasulullah”. Padahal, memanggil Nabi dengan nama saja dilarang dalam Al-Qur’an (An-Nur: 63).
Syaikh Ibnu Hajar memberikan tawjih (penjelasan) di halaman 143:
- Menyamarkan Identitas: Jibril sengaja meniru gaya bicara أجلاف الأعراب (orang Arab Badui pedalaman) yang kasar dan lugas agar para sahabat semakin tidak curiga bahwa dia adalah malaikat.
- Kejadian Sebelum Larangan: Kemungkinan peristiwa ini terjadi sebelum turunnya ayat larangan memanggil nama Nabi secara langsung.
Hakikat Teologis: Tasyakkul Malaikat
Di akhir hadits, setelah lelaki itu pergi, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Umar:
فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم
(Sesungguhnya dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian).
Bagaimana mungkin Malaikat yang merupakan makhluk cahaya berubah menjadi materi padat (manusia)?
Syaikh Ibnu Hajar membantah paham hululiyah (penitisan Tuhan/Roh) dan menjelaskan konsep Ahlussunnah wal Jamaah (halaman 184):
لأن جبريل جسم نوراني في غاية اللطافة، فقبلت ذاته التشكل والانخلاع من طور إلى طور
(Karena Jibril adalah jisim nurani [tubuh cahaya] yang sangat halus [lathif], maka dzatnya menerima untuk beralih bentuk [tasyakkul] dan melepaskan diri dari satu fase ke fase lainnya).
Jadi, lelaki berbaju putih itu adalah Jibril yang melakukan tasyakkul. Beliau sering datang dalam wujud sahabat Dihyah Al-Kalbi yang tampan, namun kali ini beliau datang dalam wujud orang asing yang tak dikenal (la ya’rifuhu minna ahad) untuk memastikan perhatian sahabat tertuju penuh pada materi ilmu, bukan pada sosok personalnya.
Mengetahui bahwa sosok tersebut adalah Jibril menyadarkan para sahabat akan keberadaan makhluk gaib di sekitar mereka, sebuah pelajaran penting dalam menghayati arti iman kepada malaikat secara benar.
Peristiwa ini menjadi dalil utama (ummus sunnah) yang merinci urutan rukun iman, mengajarkan kita bahwa keyakinan harus mencakup Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, dan Takdir.
Tabel Ringkasan: Karakteristik Lelaki Berbaju Putih
| Deskripsi dalam Hadits | Makna & Penjelasan (Al-Fath Al-Mubin) | |
|---|---|---|
| Pakaian | Sangat Putih (Shadidul Bayadh) | Simbol kebersihan hati dan sunnah memakai putih di majelis ilmu. |
| Rambut | Sangat Hitam (Shadidus Sawad) | Menunjukkan kemudaan dan vitalitas fisik. |
| Kondisi | Tidak ada bekas safar | Keanehan (Kharqul ‘Adah) yang memicu rasa ingin tahu sahabat. |
| Posisi | Lutut bertemu lutut | Adab murid terhadap guru; simbol kedekatan (Qurb). |
| Panggilan | “Ya Muhammad” | Penyamaran sebagai Arab Badui (A’rab) atau terjadi sebelum larangan. |
FAQ: Pertanyaan Seputar Sosok Jibril dalam Hadits Ini
Apakah para sahabat melihat Jibril dengan mata kepala atau mata hati?
Para sahabat melihat dengan mata kepala (Ru’yah Bashariyah). Ini ditegaskan dengan kalimat Umar: “Muncul di hadapan kami seorang laki-laki”. Mereka melihat fisik manusia, namun hakikatnya adalah malaikat.
Mengapa Jibril meletakkan tangan di paha Nabi?
Menurut pendapat yang rajih (kuat) dalam syarah ini, tindakan tersebut menunjukkan keakraban dan isyarat kesiapan menerima ilmu, serta sebagai bentuk pengajaran adab kepada para sahabat yang hadir bagaimana adab seorang murid terhadap syekh atau guru.
Apakah boleh kita berpakaian serba putih seperti Jibril?
Sangat dianjurkan (Mandub). Syaikh Ibnu Hajar menegaskan bahwa kisah ini menjadi dalil sunnahnya membersihkan pakaian dan memakai wewangian saat mendatangi masjid atau ulama.
Melalui pembahasan di atas, jelaslah bahwa lelaki berbaju putih itu adalah Jibril ‘alaihis salam yang diutus Allah dengan metode pengajaran yang unik. Penampilannya mengajarkan kita bahwa ilmu agama harus didekati dengan kesucian lahir batin, adab yang tinggi, dan kesungguhan jiwa.
Dalam khazanah Islam, kisah kedatangan sosok misterius ini merupakan mukadimah dari hadits jibril yang masyhur, yang oleh para ulama disebut sebagai Ummus Sunnah (Induknya Sunnah).
Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi
Ibn Ḥajar al-Haytamī, Aḥmad ibn Muḥammad. al-Fatḥ al-Mubīn bi-Sharḥ al-Arbaʿīn. Edited by Aḥmad Jāsim Muḥammad al-Muḥammad, Quṣayy Muḥammad Nūrūs al-Ḥallāq, and Abū Ḥamzah Anwar ibn Abī Bakr al-Shaykhī al-Dāghistānī. 1st ed. Jeddah: Dār al-Minhāj, 2008.




