Pernahkah kita menghitung berapa kali kita berganti pakaian dalam sehari? Mulai dari baju tidur, seragam kerja, hingga pakaian santai di rumah. Aktivitas ini sering kali lewat begitu saja sebagai rutinitas biasa. Padahal, dalam Islam, momen sederhana ini bisa berubah menjadi ladang pahala yang luar biasa jika kita tahu kuncinya.
Imam An-Nawawi dalam kitabnya yang masyhur, Al-Adhkar, menjelaskan secara rinci bagaimana Rasulullah ﷺ menjadikan aktivitas berpakaian sebagai sarana mengingat Allah. Mari kita bahas satu per satu tata caranya, mulai dari doa memakai pakaian hingga cara melepasnya agar terlindung dari gangguan jin.
1. Awali dengan Basmalah
Langkah paling dasar dan sering terlupakan adalah membaca “Bismillah”. Imam An-Nawawi menegaskan dalam bab awal tentang pakaian:
يستحب أن يقول: بسم الله، وكذلك تستحب التسمية في جميع الأعمال.
“Disunnahkan mengucapkan: Bismillah. Demikian pula disunnahkan membaca bismillah pada setiap amal perbuatan.”
Ini adalah kunci pembuka keberkahan sebelum kita masuk ke doa-doa yang lebih spesifik.
2. Bacaan Doa Memakai Pakaian
Ada beberapa variasi doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Kita bisa mengamalkannya bergantian.
Doa Memohon Kebaikan Pakaian

Berdasarkan riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu (Hadits No. 43), Rasulullah ﷺ ketika mengenakan pakaian—baik itu gamis, selendang, atau sorban—beliau akan menyebut nama pakaian tersebut lalu berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا هُوَ لَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا هُوَ لَهُ
(Allahumma inni as’aluka min khairihi wa khairi ma huwa lahu, wa a’udzu bika min syarrihi wa syarri ma huwa lahu)
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan pakaian ini dan kebaikan sesuatu yang ia (pakaian) dibuat untuknya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pakaian ini dan keburukan sesuatu yang ia dibuat untuknya.”
Doa Agar Dosa Diampuni
Jika Anda ingin doa yang memiliki keutamaan pengampunan dosa, perhatikan riwayat dari Mu’adz bin Anas (Hadits No. 44). Rasulullah ﷺ bersabda barangsiapa memakai pakaian baru lalu membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا، وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ
(Alhamdulillahilladhi kasani hadha wa razaqanihi min ghairi hawlin minni wala quwwah)
Maka, “Diampuni dosanya yang telah lalu.”
3. Adab Memakai Pakaian Baru
Ada perasaan senang tersendiri saat kita memiliki baju baru. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk menyalurkan rasa senang itu menjadi rasa syukur.
Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri (Hadits No. 45), disebutkan bahwa jika Nabi ﷺ mendapatkan pakaian baru, beliau menamainya (misalnya: “Ini sorban Madinah”, “Ini baju Pekalongan”), kemudian beliau mengucapkan:
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ
(Allahumma lakal hamdu anta kasautanihi, as’aluka khairahu wa khaira ma shuni’a lahu, wa a’udzu bika min syarrihi wa syarri ma shuni’a lahu)
Imam Tirmidzi menilai hadits ini sebagai hadits hasan. Doa ini mengandung makna penyerahan diri, bahwa baju yang kita pakai bukan semata karena uang kita, tapi karena Allah yang memberinya ( Anta kasautanihi).
Jangan Lupakan Sedekah Pakaian Lama

Punya baju baru seringkali membuat lemari penuh. Jangan biarkan baju lama menumpuk tanpa guna. Ada sebuah riwayat menarik dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu (Hadits No. 46).
Beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa saja yang memakai baju baru, memuji Allah, kemudian mengambil baju lamanya yang sudah usang dan menyedekahkannya, maka orang tersebut akan berada:
في حفظ الله وفي كنف الله عز وجل، وفي سبيل الله حيا وميتا
“Dalam pemeliharaan Allah, dalam perlindungan Allah Azza wa Jalla, dan di jalan Allah, baik saat hidup maupun mati.”
4. Mendahulukan Kanan (At-Tayamun)

Salah satu ciri khas sunnah Nabi ﷺ adalah mendahulukan bagian kanan untuk hal-hal yang mulia. Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Bab Kayfiyat Libas (Cara Memakai Pakaian):
يستحب أن يبتدأ في لبس الثوب والنعل والسراويل وشبهها باليمين
“Disunnahkan memulai memakai baju, sandal, celana, dan semisalnya dengan bagian kanan.”
Aturannya sederhana:
- Memakai: Mulai dari kanan (lengan kanan, kaki celana kanan).
- Melepas: Mulai dari kiri.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan (Hadits No. 49) bahwa Rasulullah ﷺ sangat menyukai mendahulukan kanan (at-tayamun) dalam segala urusannya, termasuk bersuci, menyisir rambut, dan memakai sandal.
5. Doa Melepas Pakaian: Benteng dari Pandangan Jin
Pernahkah Anda merasa diawasi saat sendirian di kamar ganti? Kita tidak sendirian. Ada makhluk gaib yang hidup berdampingan dengan kita. Namun, Rasulullah ﷺ memberikan “perisai” agar aurat kita tidak terlihat oleh bangsa Jin.
Dalam Hadits No. 53 riwayat Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
سِتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَطْرَحَ ثِيَابَهُ: بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ
“Penghalang antara mata jin dan aurat anak Adam adalah apabila seorang muslim hendak melepaskan pakaiannya, ia mengucapkan: Bismillahilladzi laa ilaha illa huwa.”
Kalimat ini pendek, tapi dampaknya luar biasa sebagai hijab (penghalang) gaib.
6. Adab Mendoakan Orang Lain
Etika berpakaian dalam Islam bukan hanya untuk diri sendiri. Saat kita melihat teman, pasangan, atau anak memakai baju baru, ada doa khusus yang diajarkan Nabi.
Untuk Anak-Anak:
Saat Nabi memakaikan baju baru pada Ummu Khalid (anak kecil), beliau bersabda:
“Abli, wa Akhliqi”
(Hadits No. 47). Maknanya kurang lebih: “Pakailah sampai usang/rusak.” Ini adalah doa agar pakaian awet.
Untuk Dewasa:
Ketika Nabi melihat Umar mengenakan baju, beliau bertanya apakah itu baru atau cucian. Saat tahu itu cucian, Nabi tetap mendoakan (Hadits No. 48):
البس جديدا، وعش حميدا، ومت شهيدا
(Ilbas jadidan, wa ‘ish hamidan, wa mut syahidan)
Artinya: “Berpakaianlah yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan syahid.”
Ringkasan Praktis Adab Berpakaian
Agar lebih mudah diamalkan, berikut tabel ringkasan doa dan adab sesuai urutan aktivitas:
| Aktivitas | Sunnah / Adab | Bacaan Doa (Latin) |
| Akan Memakai | Mulai dengan bagian tubuh kanan | Bismillah |
| Saat Memakai | Memuji Allah & Meminta kebaikan | Allahumma inni as’aluka min khairihi… atau Alhamdulillahilladhi kasani hadha… |
| Pakaian Baru | Sedekahkan pakaian lama | Allahumma laka al-hamdu anta kasautanihi… |
| Melihat Orang Lain | Mendoakan kebaikan/panjang umur | Ilbas jadidan, wa ‘ish hamidan, wa mut syahidan |
| Melepas Pakaian | Mulai dari bagian tubuh kiri | Bismillahilladhi laa ilaha illa huwa |
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Apakah doa memakai baju baru harus dibaca dalam bahasa Arab?
Sebaiknya dibaca dalam bahasa Arab sesuai teks hadits. Namun, jika belum hafal, intinya adalah memuji Allah dan bersyukur. Doa “Alhamdulillahilladhi kasani hadha…” (Hadits No. 44) cukup pendek dan mudah dihafal.
Bagaimana jika lupa membaca doa saat memakai baju?
Jika teringat di tengah-tengah memakai baju atau setelahnya, Anda bisa segera membacanya. Tidak ada larangan, dan dzikir kepada Allah baik dilakukan kapan saja.
Mengapa melepas baju harus mendahulukan yang kiri?
Ini adalah bentuk penghormatan terhadap bagian kanan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Hafsah (Hadits No. 51), Nabi menjadikan tangan kanan untuk makan, minum, dan pakaian, sedangkan tangan kiri untuk hal selain itu (seperti membersihkan kotoran atau melepas sesuatu).
Apakah doa perlindungan dari Jin hanya dibaca di kamar mandi?
Hadits No. 53 menyebutkan “apabila hendak melepaskan pakaiannya”. Jadi, baik itu di kamar mandi, di kamar tidur, atau saat hendak ganti baju olahraga, bacalah doa tersebut agar aurat terlindung dari pandangan jin.
Meskipun doa memakai pakaian terdengar umum, ternyata ada perbedaan redaksi antara pakaian harian dan pakaian baru. Untuk pembahasan mendalam mengenai hal ini, Anda bisa membaca artikel kami tentang perbedaan doa memakai pakaian biasa dan pakaian baru.
Semoga panduan ini membantu kita menghidupkan sunnah Nabi ﷺ dalam keseharian. Pakaian bukan sekadar penutup tubuh, tapi juga wujud syukur kita kepada Sang Pemberi Rezeki.
Referensi
Al-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Al-Adhkār. Edited by ʿAbd al-Qādir al-Arnaʾūṭ. New revised edition. Beirut: Dār al-Fikr, 1994.




