Jangan Andalkan Diri Sendiri: Bedah Doa ‘Rahmataka Arju’ Riwayat Abu Bakrah

Pernahkah Anda merasa sangat yakin bisa menyelesaikan masalah sendirian, tapi ujung-ujungnya justru makin ruwet? Kita sering berpikir bahwa dengan kecerdasan, uang, atau jaringan pertemanan, semua urusan bisa beres. Namun, ada momen di mana semua pintu tertutup, logika macet, dan hati terasa sempit.

Itulah momen “lampu kuning” dari Allah. Kita diingatkan bahwa manusia itu lemah.

Dalam Islam, perasaan “aku bisa sendiri” adalah jebakan halus yang berbahaya. Rasulullah shallallahu β€˜alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa indah melalui sahabat Abu Bakrah radhiyallahu β€˜anhu. Doa ini bukan sekadar meminta rezeki, tapi sebuah pengakuan jujur bahwa kita butuh Allah setiap detik.

Mari kita kupas tuntas doa yang sering disebut sebagai Da’watul Makrub (Doa orang yang kesulitan) ini. Sumber pembahasan kita merujuk pada kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi.

Teks Asli dan Terjemahan Doa Abu Bakrah

Teks kaligrafi Arab doa Allahumma rahmataka arju yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Bakrah.
Hafalkan redaksi doa pendek ini dan jadikan wirid harian saat hati mulai gelisah.

Imam An-Nawawi mencantumkan hadis ini pada nomor 349 dalam bab Doa Al-Karb. Berikut adalah redaksi lengkapnya:

Kami meriwayatkan dalam “Sunan Abu Daud” dari Abu Bakrah radhiyallahu β€˜anhu, bahwa Rasulullah shallallahu β€˜alaihi wa sallam bersabda: “Doa-doa orang yang dalam kesulitan adalah:

Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡ΩΩ…ΩŽΩ‘ Ψ±ΩŽΨ­Ω’Ω…ΩŽΨͺΩŽΩƒΩŽ Ψ£ΩŽΨ±Ω’Ψ¬ΩΩˆ ΩΩŽΩ„Ψ§ΩŽ ΨͺΩŽΩƒΩΩ„Ω’Ω†ΩΩŠ Ψ₯ΩΩ„ΩŽΩ‰ Ω†ΩŽΩΩ’Ψ³ΩΩŠ Ψ·ΩŽΨ±Ω’ΩΩŽΨ©ΩŽ ΨΉΩŽΩŠΩ’Ω†ΩΨŒ ΩˆΩŽΨ£ΩŽΨ΅Ω’Ω„ΩΨ­Ω’ Ω„ΩΩŠ Ψ΄ΩŽΨ£Ω’Ω†ΩΩŠ ΩƒΩΩ„ΩŽΩ‘Ω‡ΩΨŒ Ω„Ψ§ΩŽ Ψ₯ΩΩ„ΩŽΩ‡ΩŽ Ψ₯ΩΩ„Ψ§ΩŽΩ‘ Ψ£ΩŽΩ†Ω’Ψͺَ

Bacaan Latin: Allaahumma rahmataka arjuu falaa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ain, wa ashlih lii sya’nii kullah, laa ilaaha illaa ant.

Artinya: “Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri (biarkan aku) walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tiada Tuhan selain Engkau.”

Doa ini merupakan salah satu dari sekian banyak senjata spiritual yang diajarkan Nabi. Untuk melihat koleksi lengkapnya, Anda bisa membaca panduan “kumpulan doa penghilang kesedihan dan kesulitan hidup” yang telah kami rangkum.”

Bedah Makna: Mengapa Doa Ini Begitu Dahsyat?

Kalimat dalam doa ini singkat, namun maknanya sangat dalam jika kita renungkan kata per kata. Ada tiga poin utama yang menjadi pondasi kekuatan doa ini.

1. “Hanya Rahmat-Mu yang Aku Harapkan”

Kalimat pembuka Allaahumma rahmataka arjuu menempatkan posisi kita sebagai hamba yang “miskin” di hadapan Allah. Kita tidak datang membawa amal saleh kita. Kita tidak datang membawa status sosial kita. Kita datang hanya membawa harapan akan kasih sayang (rahmat) Allah.

Ini mengajarkan adab berdoa: rendahkan hati dulu, baru meminta. Saat kita mengakui bahwa hanya rahmat-Nya yang bisa menyelamatkan kita, ego di dalam hati perlahan luntur.

2. “Jangan Serahkan Aku pada Diriku Sendiri”

Ini adalah inti dari doa Abu Bakrah. Frasa falaa takilnii ilaa nafsii adalah pernyataan anti-sombong.

Banyak motivator modern menyuruh kita untuk “percaya pada diri sendiri” secara berlebihan. Islam mengajarkan sebaliknya: percaya pada Allah, bukan diri sendiri. Mengapa? Karena diri kita ini lemah, penuh nafsu, mudah lelah, dan pandangan kita terbatas.

Jika Allah membiarkan kita mengurus hidup kita sendiri tanpa campur tangan-Nya, kita pasti hancur. Kita akan salah mengambil keputusan, salah memilih pasangan, atau salah mengelola harta. Meminta agar tidak diserahkan pada diri sendiri adalah bentuk tawakkal tingkat tinggi.

3. “Walau Sekejap Mata”

Foto makro mata manusia yang sedang berkedip, visualisasi tharfata 'ain dalam doa Nabi agar tidak ditinggalkan Allah walau sekejap.
“Jangan serahkan aku pada diriku walau sekejap mata.” Sebuah pengakuan bahwa kita sangat lemah tanpa bimbingan-Nya setiap detik.

Perhatikan detail kalimat tharfata ‘ain. Rasulullah shallallahu β€˜alaihi wa sallam tidak berkata “jangan biarkan aku sendiri selama satu hari” atau “satu jam”. Beliau menggunakan ukuran waktu tercepat: kedipan mata.

Artinya, kita butuh bimbingan Allah setiap milidetik. Jantung kita berdetak, napas kita berhembus, sel darah kita mengalir, semua itu butuh izin Allah. Jika satu detik saja Allah lepas tangan, habislah kita. Kesadaran ini akan membuat kita terus-menerus merasa butuh (iftiqar) kepada-Nya.

Bahaya Mengandalkan Logika Semata

Mengapa Rasulullah shallallahu β€˜alaihi wa sallam sangat khawatir jika kita bersandar pada diri sendiri?

Ketika seseorang merasa mampu mengatasi masalahnya sendiri, biasanya akan muncul sifat Ujub (kagum pada diri sendiri). Sifat ini membuat hati keras. Saat masalah tak kunjung selesai, orang yang mengandalkan diri sendiri akan mudah stres, depresi, dan menyalahkan keadaan.

Sebaliknya, orang yang membaca doa ini dengan penuh penghayatan akan memiliki mental baja. Ia tahu ia lemah, tapi ia punya sandaran yang Maha Kuat. Saat usahanya gagal, ia tidak hancur karena ia tahu Allah sedang mengatur skenario terbaik (rahmat) untuknya.

Tabel Perbandingan: Mentalitas Mandiri vs Mentalitas Hamba

Untuk memudahkan pemahaman, mari kita lihat perbedaan pola pikir orang yang mengandalkan diri sendiri dibanding mereka yang mengamalkan doa ini.

AspekMengandalkan Diri SendiriMengamalkan Doa “Rahmataka Arju”
Saat Masalah DatangPanik, sibuk mencari solusi logis.Tenang, berdoa dulu baru berusaha.
Sumber KekuatanOtak, uang, koneksi.Rahmat dan pertolongan Allah.
Respon KegagalanStres, kecewa berat, menyalahkan diri.Sabar, yakin ini bagian dari rencana-Nya.
Tujuan AkhirMemuaskan ego dan keinginan.Mendapat perbaikan urusan dari Allah.
Kondisi HatiGelisah, dikejar target.Tentram, pasrah (tawakkal).

Cara Mengamalkan Doa Ini dalam Keseharian

Seseorang sedang bersujud dengan khusyuk di atas sajadah, memohon pertolongan Allah.
Posisi terbaik untuk mengakui kelemahan diri dan mengamalkan doa ini adalah dalam sujud. @By Gemini

Doa riwayat Abu Bakrah ini bukan mantra yang hanya dibaca saat kepepet. Kita bisa menjadikannya wirid harian agar hati selalu terkoneksi dengan langit.

  1. Baca Saat Pagi dan Petang: Jadikan doa ini bagian dari dzikir pagi petang Anda. Ini adalah waktu-waktu pergantian hari di mana kita butuh perlindungan ekstra.
  2. Saat Mengambil Keputusan Penting: Sebelum tanda tangan kontrak, sebelum melamar pekerjaan, atau sebelum memutuskan perkara besar, baca doa ini. Kita meminta agar keputusan itu dibimbing Allah, bukan semata hasil pemikiran kita.
  3. Ketika Merasa “Buntu”: Saat Anda merasa sudah melakukan segalanya tapi hasil nihil, bacalah doa ini berulang-ulang. Rasakan maknanya: “Ya Allah, otakku sudah tidak sampai, aku serahkan urusan ini pada-Mu.”

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah doa ini hanya untuk orang yang sedang sedih?

Meskipun Imam An-Nawawi memasukkannya dalam bab kesulitan (karb), doa ini relevan dibaca kapan saja. Kita butuh rahmat Allah baik saat senang maupun susah. Justru membacanya saat lapang akan membuat Allah menaungkan rahmat-Nya disaat kita merasa sempit.

Bolehkah dibaca saat sujud?

Sangat boleh. Sujud adalah posisi terdekat hamba dengan Rabb-nya. Melafalkan pengakuan kelemahan diri saat kening menyentuh tanah adalah kombinasi penghambaan yang sempurna.

Apa bedanya doa ini dengan Doa Nabi Yunus?

Keduanya sama-sama doa untuk mengatasi kesulitan. Bedanya, Doa Nabi Yunus (Laa ilaaha illa anta subhaanaka…) fokus pada pengakuan dosa (tobat). Sedangkan doa Abu Bakrah ini fokus pada pengakuan kelemahan diri dan permohonan bimbingan (tawakkal). Menggabungkan keduanya sangat dianjurkan.

Akhir Kata

Hidup di dunia memang penuh kejutan yang seringkali tidak menyenangkan. Namun, sebagai seorang mukmin, kita punya privilege (hak istimewa) untuk “curhat” dan bersandar pada Pemilik Semesta.

Jangan biarkan ego menguasai diri dengan merasa “aku bisa”. Mulai hari ini, hafal dan amalkan doa riwayat Abu Bakrah radhiyallahu β€˜anhu ini. Ucapkan dengan lirih: “Ya Allah, jangan tinggalkan aku sendiri, walau hanya sekejap mata.”

Rasakan perbedaannya. Beban di pundak Anda akan terasa lebih ringan karena Anda tidak lagi memikulnya sendirian.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Al-NawawΔ«, YaαΈ₯yā ibn Sharaf. Al-Adhkār. Edited by ΚΏAbd al-Qādir al-ArnaΚΎΕ«αΉ­. New revised edition. Beirut: Dār al-Fikr, 1994.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.