Tanda Tanda Kematian dan Cara Mentalqin Orang Sakaratul Maut Menurut Fikih Syafi’i

Menyaksikan orang terkasih terbaring lemah di ambang kematian adalah momen yang berat. Hati terasa sesak, bingung, dan seringkali panik. Kita bertanya-tanya, “Apakah ini saatnya?” dan “Apa yang harus saya lakukan untuk membantunya?”

Dalam Islam, momen kritis ini disebut naza’ atau sakaratul maut. Ini adalah gerbang perpindahan dari dunia menuju akhirat. Sebagai keluarga, kita punya peran besar. Bukan sekadar menangis, tapi menjadi pemandu agar kalimat terakhir yang keluar dari lisan mereka adalah kalimat tauhid.

Artikel ini akan membahas tanda-tanda kematian secara fisik dan spiritual, serta panduan praktis cara menuntun orang sakaratul maut (talqin) berdasarkan rujukan kitab Asna al-Matalib karya Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari.

Mengenali Tanda Sakaratul Maut (Fisik dan Spiritual)

Seringkali kita sulit membedakan apakah seseorang sedang tidur nyenyak, pingsan, atau sedang menghadapi naza’. Para ulama fikih telah mengamati beberapa ciri-ciri orang akan meninggal menurut Islam yang bisa menjadi patokan bagi keluarga untuk mulai bersiap. Dalam kitab Asna al-Matalib disebutkan:

وأمارته أي منها استرخاء قدم وامتداد جلدة وجه وميل أنف وانخلاع كف وانخفاض صدغ وتقلص خصية مع تدلي جلدتها

Terjemahan: “Dan tanda-tandanya (kematian), di antaranya adalah: melemasnya telapak kaki, memanjangnya (menjadi kaku/tertarik) kulit wajah, miringnya hidung, terlepasnya (melemasnya persendian) telapak tangan, cekungnya pelipis, dan menyusutnya buah zakar disertai mengendurnya kulitnya.”

Dari penjelasan tersebut, keluarga dapat mengamati perubahan fisik seperti:

  1. Kaki Terasa Lemas: Telapak kaki menjadi sangat rileks hingga “jatuh” atau terkulai, tidak lagi tegak.
  2. Perubahan pada Wajah: Hidung tampak sedikit miring atau menekuk, dan pelipis (kiri dan kanan dahi) tampak cekung ke dalam.
  3. Kulit Mengendur: Kulit wajah yang tadinya kencang menjadi sangat kendur.

Selain tanda fisik, ada tanda spiritual. Seseorang yang mendekati ajal seringkali menatap ke satu titik tertentu dengan pandangan kosong namun tajam, seolah melihat sesuatu yang tidak kita lihat.

Catatan: Jika tanda-tanda ini muncul, keluarga dianjurkan untuk berkumpul, memperbanyak doa, dan memulai proses talqin, bukan malah meninggalkannya sendirian.

Tata Cara Menuntun Orang Sakaratul Maut (Talqin)

Kaligrafi Arab bertuliskan "Laa ilaha illallah" (Tiada Tuhan selain Allah) yang indah pada kayu bertekstur, kalimat utama yang harus dibisikkan saat mentalqin jenazah.
Cukup tuntun dengan kalimat “Laa ilaha illallah” tanpa tambahan lain, agar mudah diikuti oleh lisan yang sedang berat menahan sakaratul maut.

Inti dari pendampingan ini adalah talqin. Talqin artinya mengajarkan atau menuntun. Tujuannya satu: agar orang yang akan wafat bisa menutup hidupnya dengan Husnul Khotimah.

Rasulullah SAW bersabda: “Tuntunlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat Laa ilaha illallah.” (HR. Muslim).

Berikut adalah langkah-langkah cara mentalqin orang sakaratul maut sesuai adab dalam kitab Asna al-Matalib:

1. Atur Posisi Tubuh Menghadap Kiblat

Ilustrasi kompas penunjuk arah Kiblat di dalam kamar tidur pasien, memvisualisasikan adab menghadapkan orang yang sedang sakaratul maut ke arah Ka'bah.
Disunnahkan membaringkan orang yang sedang sakaratul maut dalam posisi miring ke kanan menghadap Kiblat, sebagaimana posisi jenazah di dalam liang lahat.

Jika memungkinkan dan tidak menyakiti pasien, posisikan badannya miring ke kanan menghadap kiblat (seperti posisi mayat di liang lahat). Jika sulit, biarkan terlentang namun kakinya diarahkan ke kiblat dan kepalanya sedikit ditinggikan dengan bantal agar wajahnya menghadap kiblat.

 وبأن يوجه للقبلة إذا احتضر

“Dan dihadapkan orang yang sedang sakaratul maut… ke arah Kiblat.”

2. Bisikkan dengan Lembut, Jangan Memaksa

Ini adalah poin terpenting. Orang yang sedang sakaratul maut sedang merasakan sakit yang luar biasa dan dahaga yang sangat panas. Jangan menambah bebannya dengan bentakan atau paksaan.

Dekatkan mulut Anda ke telinganya, lalu ucapkan “Laa ilaha illallah” dengan suara pelan dan jelas.

Dalam Asna al-Matalib dijelaskan:

قوله: (و) أن (يلقنه) الشهادة (غير الوارث)… (برفق)

“Dan hendaklah yang mentalqin syahadat itu adalah bukan ahli waris… (dilakukan) dengan lemah lembut.”

Mengapa disebutkan “bukan ahli waris”? Para ulama berhati-hati, khawatir jika yang menuntun adalah ahli waris (calon penerima harta), orang yang sakit itu akan merasa curiga atau kesal (“Anak ini ingin saya cepat mati supaya dapat warisan”). Rasa kesal ini berbahaya di detik-detik terakhir.

Namun, jika hubungan pasien dan ahli waris sangat baik dan penuh kasih sayang, maka tidak masalah anak atau istri yang membimbingnya.

3. Cukup Kalimat Tauhid Singkat

Apakah harus lengkap dengan “Muhammad Rasulullah”? Kitab Asna al-Matalib memberikan panduan praktis:

قوله: (بلا زيادة) عليها فلا تسن زيادة محمد رسول الله لظاهر الأخبار

“Tanpa tambahan (atas kalimat Laa ilaha illallah).”

Tujuannya untuk memudahkan lisan yang sedang kaku. Kalimat yang pendek lebih mudah diulang. Namun jika ia mampu mengucapkan lengkap, itu tentu baik.

4. Jangan Diulang Jika Sudah Terucap

Jika Anda sudah membimbingnya, dan dia sudah berhasil mengucapkan “Laa ilaha illallah”, maka berhentilah. Diamlah. Jangan disuruh mengulang lagi.

Biarkan itu menjadi kalimat terakhirnya. Ajak bicara lagi atau talqin ulang HANYA JIKA dia berbicara urusan duniawi setelahnya (misal: minta minum atau memanggil nama orang).

قوله: (فإن قالها لم تعد عليه حتى يتكلم) بغيرها من كلام الدنيا قاله الصيمري لكنه مخالف لظاهر كلامهم ولقول المصنف من زيادته على الروضة (ليكون آخر كلامه لا إله إلا الله)

“Jika dia sudah mengucapkannya, maka diamlah (jangan dituntun lagi), agar kalimat tauhid itu menjadi akhir ucapannya.”

Hal-Hal yang Dianjurkan dan Dilarang Saat Sakaratul Maut

Infografis tabel panduan adab mentalqin: Dianjurkan bersuara lembut dan membasahi bibir; Dilarang membentak, memaksa, atau menangis histeris di depan orang sakaratul maut.
Ringkasan adab mentalqin: Pastikan suasana tenang dan penuh kasih sayang, hindari kepanikan yang dapat mengganggu konsentrasi orang yang sedang menghadapi ajal. @by Gemini

Selain talqin, ada beberapa adab lain yang perlu diperhatikan keluarga sebagai bagian dari persiapan menghadapi kematian:

Yang Dianjurkan (Sunnah)

  • Membasahi Kerongkongan: Orang yang naza’ biasanya sangat haus. Teteskan air atau usapkan kain basah ke bibirnya.
  • Membaca Surat Yasin: Disunnahkan membaca Surat Yasin di dekatnya (bukan terlalu keras hingga mengganggu) untuk meringankan sakaratul maut.
  • Berbaik Sangka (Husnuzhan): Bisikkan kalimat-kalimat harapan. “Ayah, Allah Maha Pengampun,” atau “Ibu, sebentar lagi sakitnya hilang, Allah sayang Ibu.”

Yang Sebaiknya Dihindari

  • Menangis Histeris: Menangis wajar diperbolehkan, tapi meratap atau berteriak histeris di samping orang sakaratul maut bisa mengganggu ketenangannya.
  • Pembicaraan Duniawi: Hindari bertengkar soal harta atau biaya rumah sakit di depan orang yang sedang naza’.

Tabel Ringkasan: Do’s and Don’ts Mentalqin

Agar lebih mudah diingat, berikut tabel panduan singkat bagi pendamping:

TindakanPenjelasan
SuaraGunakan nada lembut, bisikan, penuh kasih sayang. Hindari nada memerintah.
FrekuensiUcapkan perlahan. Jika pasien sudah menirukan, STOP mentalqin.
PelakuDisarankan orang yang paling disayangi pasien atau orang saleh (ustadz).
KontenFokus pada kalimat Tauhid dan Husnuzhan (harapan baik pada Allah).
SuasanaCiptakan suasana tenang, jauhkan dari kebisingan atau tangisan keras.

FAQ: Pertanyaan Seputar Sakaratul Maut

Apakah orang yang sedang haid boleh mentalqin?

Boleh. Tidak ada larangan bagi wanita haid atau orang junub untuk berada di dekat orang sakaratul maut atau membimbingnya membaca syahadat meski ada yang memakruhkannya. Yang penting tetap menjaga adab dan kesopanan.

Bagaimana jika pasien koma atau tidak sadar?

Tetap lakukan talqin. Pendengaran adalah indra terakhir yang berfungsi. Bisikkan terus kalimat tauhid dan doa di telinganya. Kita tidak tahu apa yang didengar jiwanya meski raganya diam.

Apa tanda sakaratul maut sudah selesai (sudah meninggal)?

Biasanya ditandai dengan nafas berhenti total, tatapan mata menjadi pudar/kaca-kaca dan menatap ke atas, hidung sedikit miring, dan persendian mulai melemas. Jika ini terjadi, segera pejamkan matanya dan ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.


Memahami tanda sakaratul maut dan mempraktikkan cara menuntun orang sakaratul maut dengan benar adalah bakti terakhir kita yang paling berharga. Kita membantu mereka memenangkan pertempuran terakhir melawan setan di ujung usia.

Jika takdir Allah telah datang dan nafas terakhir sudah terhenti, jangan biarkan jenazah begitu saja. Ada langkah-langkah ‘pertolongan pertama’ yang wajib dilakukan agar tubuhnya tidak kaku dan sulit dimandikan. Simak langkahnya di: 4 Hal yang Wajib Dilakukan Sesaat Setelah Seseorang Meninggal Dunia.

Bagi Anda yang ingin mengetahui apa yang harus dilakukan segera setelah seseorang dinyatakan wafat (fase memandikan hingga menguburkan), silakan pelajari langkah-langkahnya di artikel kami: Panduan Lengkap Tata Cara Merawat Jenazah (Tajhizul Jenazah) Sesuai Sunnah.

Juga, pastikan Anda memahami etika saat sakit sebelum fase kritis ini datang, yang telah kami bahas di artikel: Adab Orang Sakit dan Kewajiban Bertobat Sebelum Ajal Menjemput.

Semoga Allah memudahkan lisan kita mengucap Laa ilaha illallah di akhir hayat nanti. Aamiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 296.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.