Pernahkah Anda merasa seolah semua pintu jalan keluar tertutup rapat? Masalah ekonomi yang menghimpit, urusan keluarga yang rumit, atau hajat besar yang tak kunjung terwujud meski ikhtiar sudah maksimal. Rasanya lelah dan menyesakkan dada. Sebagai manusia biasa, wajar jika kita merasa tidak sanggup menanggung beban itu sendirian.
Namun, jangan biarkan keputusasaan menguasai hati. Dalam khazanah Islam, para ulama salaf telah mewariskan banyak “kunci” untuk membuka pintu pertolongan Allah. Salah satu kunci emas yang tercatat dalam kitab legendaris Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali adalah tata cara shalat hajat 12 rakaat.
Berbeda dengan shalat hajat biasa yang umumnya dikenal hanya 2 rakaat, amalan ini memiliki jumlah rakaat lebih banyak dengan bacaan surat dan doa sujud yang sangat spesifik. Banyak kalangan santri dan pengamal tarekat menjadikan ini sebagai amalan “pamungkas” saat menghadapi kesulitan besar. Mari kita pelajari bersama tata cara yang benar sesuai kaidah para ulama.
Mengenal Shalat Hajat Versi Ihya’ Ulumiddin
Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin jilid 1 halaman 206-207, Imam Al-Ghazali menukil sebuah riwayat dari Wuhaib bin al-Ward. Beliau adalah seorang ahli ibadah yang zuhud dan wara’. Wuhaib mengatakan bahwa shalat ini adalah salah satu doa yang tidak akan tertolak (la yuraddu).
Shalat ini ditujukan bagi siapa saja yang mengalami kesempitan (dhaqa alaihil amru) dalam urusan agama maupun dunia. Jadi, shalat ini bisa diamalkan untuk berbagai keperluan, mulai dari melunasi hutang, memohon petunjuk jodoh, hingga meminta keselamatan dari kezaliman.
Tata Cara Shalat Hajat 12 Rakaat
Pelaksanaan shalat ini berjumlah 12 rakaat. Agar tidak memberatkan dan sesuai dengan kebiasaan shalat sunnah malam, pelaksanaannya dilakukan dengan 6 kali salam. Artinya, Anda mengerjakan shalat 2 rakaat, lalu salam. Kemudian berdiri lagi untuk 2 rakaat berikutnya, dan seterusnya hingga genap 12 rakaat.
Poin penting yang perlu diperhatikan adalah pembacaan suratnya. Sebagaimana lazimnya penjelasan dalam kitab-kitab turats mengenai pembacaan surat dalam shalat sunnah (seperti pada shalat Dhuha yang membagi bacaan surat), berikut adalah teknis bacaannya:
1. Niat dan Persiapan
Ambillah air wudhu dengan sempurna. Kenakan pakaian yang bersih dan suci. Waktu pengerjaan terbaik adalah di malam hari saat suasana tenang.
Niatkan dalam hati: “Saya niat shalat sunnah hajat dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
2. Bacaan Surat
Ini bagian pentingnya. Imam Al-Ghazali menyebutkan bacaan khusus di setiap rakaat setelah membaca Surat Al-Fatihah:
- Ayat Kursi: Bacaan ini adalah simbol kekuasaan mutlak Allah.
- Surat Al-Ikhlas (Qul Huwallahu Ahad): Simbol kemurnian tauhid.
Lakukan pola ini terus menerus pada setiap shalat dua rakaat tersebut hingga Anda menyelesaikan total 12 rakaat.
3. Mengapa Pola Ini Penting?
Pola ini menyeimbangkan antara permohonan perlindungan dan pengakuan kekuasaan Allah (melalui Ayat Kursi di rakaat awal) dengan pemurnian tauhid yang tulus (melalui Al-Ikhlas di rakaat kedua). Ini adalah kombinasi ruhiyah yang sangat kuat untuk mengetuk pintu langit.
4. Sujud Khusus Setelah Salam Terakhir
Setelah Anda menyelesaikan rakaat ke-12 dan mengucapkan salam penutup, jangan buru-buru beranjak. Lakukanlah sujud (sujud di luar shalat) dengan penuh kerendahan hati. Di dalam sujud inilah kita membaca doa rahasia yang diajarkan dalam kitab tersebut.
Bacaan Doa Sujud Shalat Hajat (Arab, Latin, dan Arti)
Saat kening menempel di sajadah, bacalah puji-pujian dan doa tawasul berikut ini. Anda boleh membacanya perlahan. Sangat dianjurkan untuk memahami maknanya agar hati ikut “berbicara”.
Bagian 1: Puji-Pujian (Tasbih)
Bacaan ini berisi pengakuan atas keagungan Allah yang menyentuh hati:
Arab:
ุณูุจูุญูุงูู ุงูููุฐูู ููุจูุณู ุงููุนูุฒูู ููููุงูู ุจูููุ ุณูุจูุญูุงูู ุงูููุฐูู ุชูุนูุทูููู ุจูุงููู ูุฌูุฏู ููุชูููุฑููู ู ุจูููุ ุณูุจูุญูุงูู ุงูููุฐูู ุฃูุญูุตูู ููููู ุดูููุกู ุจูุนูููู ูููุ ุณูุจูุญูุงูู ุงูููุฐูู ููุง ููููุจูุบูู ุงูุชููุณูุจููุญู ุฅููููุง ููููุ ุณูุจูุญูุงูู ุฐูู ุงููู ูููู ููุงููููุถูููุ ุณูุจูุญูุงูู ุฐูู ุงููุนูุฒูู ููุงููููุฑูู ูุ ุณูุจูุญูุงูู ุฐูู ุงูุทูููููู
Latin:
Subhaanalladzii labisal ‘izza wa qaala bihi, subhaanalladzii ta’ath-thafa bil majdi wa takarrama bihi, subhaanalladzii ahshaa kulla syai-in bi ‘ilmihi, subhaanalladzii laa yanbaghit tasbiihu illaa lahu, subhaana dzil manni wal fadhli, subhaana dzil ‘izzi wal karami, subhaana dzith thaul.
Artinya:
“Maha Suci Dzat yang mengenakan keagungan dan berfirman dengannya. Maha Suci Dzat yang menyandang kemuliaan dan bersikap dermawan dengannya. Maha Suci Dzat yang menghitung segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Maha Suci Dzat yang tidak layak tasbih ditujukan kecuali kepada-Nya. Maha Suci Dzat pemilik anugerah dan karunia. Maha Suci Dzat pemilik keagungan dan kedermawanan. Maha Suci Dzat pemilik kekuasaan.”
Bagian 2: Doa Inti (Tawasul)
Setelah memuji, lanjutkan dengan doa permohonan dengan perantara (tawasul) nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang agung:
Arab:
ุฃูุณูุฃููููู ุจูู ูุนูุงููุฏู ุงููุนูุฒูู ู ููู ุนูุฑูุดูููุ ููู ูููุชูููู ุงูุฑููุญูู ูุฉู ู ููู ููุชูุงุจูููุ ููุจูุงุณูู ููู ุงููุฃูุนูุธูู ูุ ููุฌูุฏูููู ุงููุฃูุนููููุ ููููููู ูุงุชููู ุงูุชููุงู ููุงุชู ุงููุนูุงู ููุงุชู ุงูููุชูู ููุง ููุฌูุงููุฒูููููู ุจูุฑูู ููููุง ููุงุฌูุฑูุ ุฃููู ุชูุตูููููู ุนูููู ู ูุญูู ููุฏู ููุนูููู ุขูู ู ูุญูู ููุฏู
Latin:
As-aluka bima’aaqidil ‘izzi min ‘arsyika, wa muntahar rahmati min kitaabika, wa bismikal a’zhami, wa jaddikal a’laa, wa kalimaatikat taammaatil ‘aammaatil latii laa yujaawizuhunna barrun wa laa faajirun, an tushalliya ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammad.
Artinya:
“Aku memohon kepada-Mu dengan perantara tempat-tempat kemuliaan di ‘Arsy-Mu, dan puncak rahmat dari Kitab-Mu, dengan Nama-Mu yang Paling Agung, keluhuran-Mu yang paling tinggi, serta kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dan menyeluruh, yang tidak dapat dilampaui oleh orang baik maupun orang jahat; agar Engkau melimpahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”
Bagian 3: Menyebutkan Hajat
Setelah membaca shalawat di ujung doa tadi, sebutkanlah hajat Anda dalam hati dengan penuh keyakinan dan harapan (roja’). Mintalah solusi atas masalah yang sedang menghimpit Anda.
Tabel Ringkasan Tata Cara Praktis
Agar lebih mudah dipraktikkan, berikut tabel ringkasan pelaksanaannya:
| Tahapan | Detail Pelaksanaan | Bacaan Surat / Doa |
| Total Rakaat | 12 Rakaat (Dilakukan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam, dst) | Niat Shalat Hajat |
| Rakaat Pertama & Kedua | Setiap rakaat | Ayat Kursi & Al Ikhlas (setelah Al-Fatihah) |
| Sujud Akhir | Dilakukan setelah salam pada rakaat ke-12 selesai | Baca Tasbih & Doa Tawasul (Teks di atas) |
| Penutup | Masih dalam posisi sujud | Sebutkan keinginan/hajat secara spesifik |
Referensi Asli dari Kitab Ihya’ Ulumiddin
Berikut adalah redaksi asli (teks Arab) yang tertulis dalam kitab tersebut sebagai rujukan validitas amalan:
ุงูุซุงู ูุฉ ุตูุงุฉ ุงูุญุงุฌุฉ (ูง) ูู ู ุถุงู ุนููู ุงูุฃู ุฑ ูู ุณุชู ุญุงุฌุฉ ูู ุตูุงุญ ุฏููู ูุฏููุงู ุฅูู ุฃู ุฑ ุชุนุฐุฑ ุนููู ูููุตู ูุฐู ุงูุตูุงุฉ ููุฏ ุฑูู ุนู ูููุจ ุจู ุงููุฑุฏ ุฃูู ูุงู ุฅู ู ู ุงูุฏุนุงุก ุงูุฐู ูุง ูุฑุฏ ุฃู ูุตูู ุงูุนุจุฏ ุซูุชู ุนุดุฑุฉ ุฑูุนุฉ ููุฑุฃ ูู ูู ุฑูุนุฉ ุจุฃู ุงููุชุงุจ ูุขูุฉ ุงููุฑุณู ููู ูู ุงููู ุฃุญุฏ ูุฅุฐุง ูุฑุบ ุฎุฑ ุณุงุฌุฏุง ุซู ูุงู ุณุจุญุงู ุงูุฐู ูุจุณ ุงูุนุฒ ููุงู ุจู ุณุจุญุงู ุงูุฐู ุชุนุทู ุจุงูู ุฌุฏ ูุชูุฑู ุจู ุณุจุญุงู ุงูุฐู ุฃุญุตู ูู ุดูุก ุจุนูู ู ุณุจุญุงู ุงูุฐู ูุง ููุจุบู ุงูุชุณุจูุญ ุฅูุง ูู ุณุจุญุงู ุฐู ุงูู ู ูุงููุถู ุณุจุญุงู ุฐู ุงูุนุฒ ูุงููุฑู ุณุจุญุงู ุฐู ุงูุทูู ุฃุณุฃูู ุจู ุนุงูุฏ ุงูุนุฒ ู ู ุนุฑุดู ูู ูุชูู ุงูุฑุญู ุฉ ู ู ูุชุงุจู ูุจุงุณู ู ุงูุฃุนุธู ูุฌุฏู ุงูุฃุนูู ูููู ุงุชู ุงูุชุงู ุงุช ุงูุนุงู ุงุช ุงูุชู ูุง ูุฌุงูุฒูู ุจุฑ ููุง ูุงุฌุฑ ุฃู ุชุตูู ุนูู ู ุญู ุฏ ูุนูู ุขู ู ุญู ุฏ ุซู ูุณุงู ุญุงุฌุชู ุงูุชู ูุง ู ุนุตูุฉ ูููุง ููุฌุงุจ ุฅู ุดุงุก ุงููู ุนุฒ ูุฌู1
Peringatan Penting: Jangan Gunakan untuk Keburukan
Terdapat pesan keras dari Wuhaib bin al-Ward di akhir riwayat tersebut. Beliau berkata: “Jangan ajarkan doa ini kepada orang-orang bodoh (sufaha’), karena mereka akan saling tolong-menolong dalam maksiat kepada Allah.”
Doa ini dianggap mustajab (cepat dikabulkan). Oleh karena itu, ulama sangat berhati-hati agar doa ini tidak jatuh ke tangan orang yang berniat jahat, misalnya untuk mendoakan kehancuran orang lain tanpa hak atau meminta hal yang haram. Pastikan niat Anda lurus dan hanya untuk kebaikan.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Apakah shalat ini harus dilakukan tengah malam?
Shalat sunnah mutlak atau hajat bisa dilakukan kapan saja selama bukan waktu terlarang (seperti pasca Subuh hingga terbit matahari, atau pasca Ashar). Namun, karena jumlahnya 12 rakaat dan butuh kekhusyukan tinggi, malam hari adalah waktu yang paling disarankan.
Saya belum hafal doa sujudnya, bagaimana solusinya?
Karena doa ini dibaca saat sujud setelah salam (di luar shalat), Anda diperbolehkan meletakkan catatan atau buku di depan sajadah dan membacanya.
Apakah boleh digabung dengan shalat Tahajud?
Boleh diniatkan pada waktu Tahajud, karena shalat Tahajud bisa tergabung dengan shalat wajib atau shalat sunnah lain seperti witir, asalkan dilakukan setelah bangun tidur. Walaupun tidak diniati khusus sebagai Tahajud, tetap dihukumi sah sebagai sholat Hajat dan Tahajud, sebagaimana shalat Tahiyatul Masjid yang sudah tercakup ketika seseorang langsung mengerjakan shalat wajib atau sunnah rawatib saat masuk masjid.
Berapa lama biasanya hajat akan terkabul?
Allah Maha Tahu waktu yang tepat. Ada yang dikabulkan seketika, ada yang ditunda karena Allah ingin melihat kesungguhan hambanya, atau diganti dengan yang lebih baik. Kuncinya adalah yakin dan tidak berputus asa.
Penutup
Shalat hajat 12 rakaat ala Imam Al-Ghazali ini adalah sarana spiritual yang indah untuk mendekatkan diri kepada Allah saat kita merasa lemah tak berdaya. Dengan mengikuti tata cara yang benarโmembaca Ayat Kursi di rakaat awal dan Al-Ikhlas di rakaat keduaโkita menjalankan adab berdoa yang diajarkan oleh para orang saleh terdahulu.
Semoga dengan wasilah shalat ini, Allah segera mengangkat kesulitan Anda, membukakan pintu rezeki, dan memberikan ketenangan hati yang Anda cari. Selamat mengamalkan.
Referensi
- Abลซ แธคฤmid Muแธฅammad bin Muแธฅammad al-Ghazฤlฤซ, Iแธฅyฤโ โUlลซm ad-Dฤซn (Beirut: Dฤr al-Maโrifah, t.t.), jil. 1, hlm. 206-207. โฉ๏ธ




