Batas Akhir Waktu Maghrib: Penjelasan Kitab Asna al-Matalib tentang Syafaq Ahmar

Pernahkah Anda merasa was-was saat mengerjakan shalat Maghrib karena takut kehabisan waktu? Ada anggapan yang beredar di masyarakat bahwa waktu Maghrib itu sangat sempit—hanya cukup untuk azan, wudhu, shalat lima rakaat, dan makan sedikit. Begitu selesai, waktu dianggap habis.

Apakah benar demikian?

Dalam khazanah Fiqh Syafi’i, diskusi mengenai akhir waktu Maghrib memang cukup panjang dan menarik. Ada dua pendapat besar yang sering menjadi pembahasan para santri dan pengkaji kitab kuning. Untuk menjawab keraguan ini, mari kita buka salah satu referensi otoritatif dalam Mazhab Syafi’i, yaitu kitab Asna al-Matalib Syarh Raudhatut Thalibin karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari.

Artikel ini akan mengupas tuntas kapan sebenarnya waktu Maghrib berakhir, apa itu Syafaq Ahmar, serta bagaimana ilmu falak modern menghitungnya.

Awal Waktu Maghrib: Tenggelamnya Piringan Matahari

Sebelum bicara soal “akhir”, kita harus sepakat dulu soal “awal”. Syaikh Zakaria al-Anshari menjelaskan bahwa waktu Maghrib dimulai tepat saat piringan matahari tenggelam sempurna.

Dalam Asna al-Matalib, beliau menyebutkan:

قوله: (والمغرب) أي وقته (بسقوط قرص الشمس وإن بقي الشعاع)

Artinya, meskipun cahaya atau sinarnya masih terlihat memancar di langit, selama piringan bundar matahari sudah hilang di ufuk barat, waktu Maghrib sudah masuk. Di daerah pegunungan atau kota dengan gedung tinggi, tandanya adalah hilangnya cahaya matahari dari puncak-puncak tertinggi bangunan atau bukit.

Dua Pendapat Ulama Syafi’iyah: Waktu Sempit vs Waktu Luas

Disinilah letak pembahasan intinya. Dalam Mazhab Syafi’i, terdapat dua narasi tentang durasi waktu Maghrib.

1. Pendapat Waktu Sempit (Qaul Jadid)

Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa waktu Maghrib itu “sempit”. Pendapat ini didasarkan pada Hadits Jibril yang mengimami Nabi Muhammad SAW. Dalam hadits tersebut, Jibril melakukan shalat Maghrib di waktu yang sama persis selama dua hari berturut-turut.

Syaikh Zakaria al-Anshari menuliskan rincian pendapat ini:

قوله: (ويبقى) وقت المغرب (قدر) زمن (أذانين) أي أذان وإقامة (وخمس ركعات وسطا)

Menurut pandangan ini, waktu Maghrib hanya seukuran durasi:

  • Azan dan Iqamah.
  • Bersuci (wudhu/mandi) dan menutup aurat.
  • Shalat 5 rakaat (3 rakaat fardhu + 2 rakaat sunnah ba’diyah).
  • Makan sedikit sekadar memecah rasa lapar.

Jika durasi untuk melakukan hal-hal di atas sudah lewat, maka waktu Maghrib dianggap habis. Ini adalah pendapat yang dikenal sebagai Qaul Jadid (Pendapat Baru) Imam Syafi’i. Namun, apakah ini pendapat yang kita pakai sekarang? Ternyata tidak.

2. Pendapat Waktu Luas hingga Mega Merah Hilang (Qaul Qadim/Mu’tamad)

Pendapat kedua—dan inilah yang menjadi pegangan utama (Mu’tamad) mayoritas ulama Syafi’iyah—menyatakan bahwa waktu Maghrib memanjang hingga hilangnya Mega Merah.

Dalam teks kitab disebutkan:

قوله: (والقديم وهو المختار)… (امتداده) أي وقت المغرب (إلى مغيب الشفق الأحمر)

Meskipun disebut Qaul Qadim (Pendapat Lama), para ulama peneliti (muhaqqiq) seperti Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ dan Al-Minhaj justru memilih pendapat ini sebagai pendapat yang paling kuat (sahih).

Alasannya sangat kuat:

  1. Hadits yang lebih kuat: Ada hadits riwayat Muslim yang berbunyi, “Waktu Maghrib adalah selama belum hilang mega (syafaq).”
  2. Periode Hadits: Hadits tentang waktu yang panjang (mega merah) turun di Madinah (lebih akhir), sedangkan Hadits Jibril turun di Makkah (lebih awal).
  3. Praktik Nabi: Nabi SAW pernah membaca surat Al-A’raf dalam shalat Maghrib. Surat ini sangat panjang dan mustahil selesai dibaca jika waktu Maghrib hanya sependek durasi wudhu dan shalat 5 rakaat.

Mengenal Syafaq Ahmar (Mega Merah)

Pemandangan langit senja di padang pasir dengan warna merah menyala dan oranye yang dominan di atas siluet masjid, mengilustrasikan fenomena Syafaq Ahmar atau mega merah.
Visualisasi Syafaq Ahmar (mega merah). Selama semburat cahaya kemerahan seperti ini masih terlihat di ufuk barat setelah matahari terbenam, kita masih berada di dalam waktu Maghrib.

Jadi, patokan kita adalah Syafaq Ahmar. Apa itu?

Syafaq Ahmar adalah semburat cahaya kemerahan yang muncul di kaki langit sebelah barat setelah matahari terbenam. Ini adalah sisa pantulan sinar matahari atmosfer bumi.

Urutan perubahannya seperti ini:

  1. Matahari Terbenam: Masuk waktu Maghrib.
  2. Mega Merah (Syafaq Ahmar): Langit berwarna oranye kemerahan. Selama warna ini masih ada, kita masih berada di waktu Maghrib (Waktu Jawaz).
  3. Mega Putih (Syafaq Abyadh): Setelah merah hilang, biasanya ada sisa cahaya putih samar.
  4. Gelap Total: Masuk waktu Isya.

Syaikh Zakaria menegaskan:

قوله: (وذلك) أي مغيب الشفق الأحمر لا ما بعده من الأصفر ثم الأبيض

Yang menjadi batas adalah hilangnya warna merah, bukan warna kuning atau putih sesudahnya. Jadi, begitu warna merah lenyap, waktu Isya sudah masuk.

Tinjauan Ilmu Falak: Kriteria -18 Derajat

Diagram astronomi yang menunjukkan bola dunia, posisi matahari di sudut -18 derajat di bawah garis cakrawala, serta peralatan falak seperti teleskop, astrolab, dan buku perhitungan untuk menentukan awal waktu Isya.
Bagaimana ilmu falak modern menghitung hilangnya mega merah? Ilustrasi ini menunjukkan kriteria astronomis di mana posisi matahari berada -18 derajat di bawah ufuk, yang menjadi standar penetapan awal waktu Isya di Indonesia. Made by Gemini

Bagaimana kita menerapkan konsep kitab kuning ini di zaman sekarang tanpa harus melihat langit setiap hari?

Para ahli falak (astronomi Islam) telah mengonversi fenomena hilangnya mega merah ini ke dalam perhitungan posisi matahari. Saat matahari semakin turun di bawah ufuk, langit semakin gelap.

Di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) dan ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menyepakati kriteria astronomis berikut:

  • Awal Isya (akhir Maghrib) terjadi saat posisi matahari berada di ketinggian -18 derajat di bawah ufuk.
  • Durasi ini kira-kira 70 hingga 80 menit setelah azan Maghrib (tergantung lokasi lintang dan bujur).

Jadi, jadwal shalat digital yang ada di ponsel Anda saat ini sudah menggunakan hisab posisi -18 derajat tersebut, yang setara dengan hilangnya Syafaq Ahmar.

Redaksi Asli Kitab Asna al-Matalib

Bagi Anda yang ingin merujuk langsung atau mengkaji teks aslinya, berikut kutipan lengkap dari kitab Asna al-Matalib Juz 1, halaman 116-117:

[أول وقت المغرب]

قوله: (والمغرب) أي وقته (بسقوط قرص الشمس وإن بقي الشعاع)… (والقديم وهو المختار) في التحقيق وغيره والصواب في الروضة والأظهر في المنهاج والصحيح في المجموع وغيره (امتداده) أي وقت المغرب (إلى مغيب الشفق الأحمر) قال في المجموع بل هو الجديد أيضا… (وذلك) أي مغيب الشفق الأحمر لا ما بعده من الأصفر ثم الأبيض

Intisari dan Pembagian Waktu

Berdasarkan penjelasan di atas, kita bisa tenang bahwa waktu Maghrib tidaklah sesempit yang dikhawatirkan sebagian orang. Namun, bukan berarti kita bisa menunda-nunda.

Imam Nawawi membagi waktu Maghrib menjadi tiga kategori untuk memudahkan kita:

  1. Waktu Fadhilah (Utama): Di awal waktu, segera setelah azan. Ini yang terbaik.
  2. Waktu Jawaz (Boleh): Terus berlangsung selama mega merah masih ada di langit.
  3. Waktu Udzur: Waktu Isya bagi musafir yang menjamak shalatnya.

Tabel Ringkasan Tanda Waktu

Tanda AlamStatus WaktuKeterangan
Piringan Matahari HilangAwal MaghribMulai shalat, berbuka puasa.
Langit Merah (Syafaq)Masih MaghribWaktu leluasa (Jawaz).
Langit Merah HilangAkhir MaghribMasuk waktu Isya (Posisi matahari -18°).
Langit Putih HilangSudah IsyaLangit gelap sempurna.

Jangan ragu untuk melaksanakan shalat Maghrib dengan tenang dan tuma’ninah. Jika Anda baru pulang kerja dan masih melihat jadwal shalat Isya belum masuk, berarti Anda masih punya kesempatan shalat Maghrib yang sah sesuai pendapat kuat dalam Mazhab Syafi’i.


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Apakah waktu Maghrib hanya 15 menit?

Tidak. Meskipun ada pendapat “waktu sempit” (Qaul Jadid), pendapat yang dipegang mayoritas ulama (Mu’tamad) adalah waktu Maghrib memanjang sampai hilangnya mega merah, biasanya sekitar 60-75 menit.

Bolehkah makan malam dulu sebelum shalat Maghrib?

Sangat dianjurkan jika makanan sudah siap dan perut sangat lapar. Teks Asna al-Matalib menyebutkan hadits Nabi agar tidak tergesa-gesa meninggalkan makan malam hanya demi shalat, agar shalat bisa dilakukan dengan khusyuk (tidak memikirkan makanan).

Apa bedanya Syafaq Ahmar dan Syafaq Abyadh?

Syafaq Ahmar adalah mega berwarna merah (tanda Maghrib). Syafaq Abyadh adalah sisa cahaya putih samar setelah merah hilang. Mazhab Syafi’i berpatokan pada hilangnya warna merah sebagai tanda masuknya Isya.

Bagaimana jika saya shalat Maghrib 5 menit sebelum Isya?

Shalat Anda tetap sah (adaan), asalkan diselesaikan sebelum azan Isya berkumandang. Namun, menunda tanpa alasan syar’i hingga waktu yang sangat mepet hukumnya makruh atau bisa haram jika waktu tidak cukup untuk menyelesaikan rakaat.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.