Pernahkah Anda merasa waktu begitu sempit, sementara keinginan untuk memperbanyak ibadah shalat sangat besar? Dalam kesibukan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada pilihan. Misalnya saat bulan Ramadan, mana yang harus kita kejar: Shalat Tarawih atau menyempurnakan Rawatib Ba’diyah Isya? Atau saat pagi hari, mana yang lebih “sakti”: Shalat Dhuha atau Qabliyah Subuh?
Para ulama Fiqh, khususnya dalam Mazhab Syafi’i, telah menyusun tingkatan shalat sunnah (tatawwu’) secara rapi. Tujuannya sederhana: agar kita tahu mana yang harus diprioritaskan ketika waktu berbenturan.
Kali ini, kita akan membedah referensi klasik, yaitu kitab Asna al-Matalib Syarh Raudh at-Thalib karya Syaikhul Islam Zakariya al-Ansari, untuk memahami hierarki ibadah ini dengan jelas.
Pembagian Shalat Sunnah: Berjamaah vs Sendirian
Syaikh Zakariya al-Ansari membuka penjelasannya dengan membagi shalat sunnah menjadi dua kelompok besar. Pembagian ini menjadi fondasi untuk menentukan mana yang lebih utama.
قوله: (وَهُوَ) أَيْ التَّطَوُّعُ (قِسْمَانِ قِسْمٌ تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ، وَهُوَ أَفْضَلُ) مِمَّا لَا تُسَنُّ لَهُ جَمَاعَةٌ لِتَأَكُّدِهِ بِسَنِّهَا لَهُ
Artinya: “Dan dia (shalat sunnah) terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah yang disunnahkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan ini lebih utama (daripada yang tidak disunnahkan berjamaah)…”
Mengapa shalat yang disunnahkan berjamaah menempati posisi puncak? Alasannya adalah syiar. Ibadah yang melibatkan orang banyak dan menampakkan syiar Islam dianggap memiliki bobot lebih berat dibandingkan ibadah individual.
Peringkat Tertinggi: Shalat yang Disunnahkan Berjamaah
Dalam kategori shalat sunnah “kelas berat” ini, ada urutan prioritas yang cukup menarik dan mungkin berbeda dengan anggapan umum sebagian orang.
1. Shalat Dua Hari Raya (Idul Adha & Idul Fitri)
Posisi puncak diduduki oleh Shalat Idain. Keduanya sangat mirip dengan shalat fardhu: punya waktu khusus, berjamaah, dan bahkan sebagian ulama menganggapnya Fardhu Kifayah.
Namun, mana yang lebih unggul antara Idul Adha dan Idul Fitri?
قَالَ الزَّرْكَشِيُّ، لَكِنَّ الْأَرْجَحَ فِي النَّظَرِ تَرْجِيحُ عِيدِ الْأَضْحَى؛ لِأَنَّهُ فِي شَهْرٍ حَرَامٍ وَفِيهِ نُسُكَانِ الْحَجُّ، وَالْأُضْحِيَّةُ
Menurut Imam Az-Zarkasyi sebagaimana dikutip dalam kitab ini, Idul Adha lebih utama. Alasannya logis: Idul Adha berada di Bulan Haram (Dzulhijjah) dan di dalamnya terdapat dua ibadah besar sekaligus, yaitu Haji dan Kurban. Meskipun ada pendapat lain yang mengunggulkan Idul Fitri karena kemuliaan bulan Ramadan, pendapat yang menguatkan Idul Adha dinilai lebih kuat secara dalil.
2. Shalat Gerhana (Kusuf & Khusuf)
Setelah shalat Id, prioritas berikutnya adalah shalat gerhana.
قوله: (ثُمَّ الْكُسُوفُ) لِلشَّمْسِ (ثُمَّ الْخُسُوفُ) لِلْقَمَرِ لِخَوْفِ فَوْتِهِمَا بِالِانْجِلَاءِ
Urutan kedua adalah Gerhana Matahari (Kusuf), baru kemudian Gerhana Bulan (Khusuf). Mengapa? Karena Nabi Muhammad SAW tidak pernah meninggalkan shalat ini saat terjadi gerhana. Selain itu, ada faktor “waktu yang mendesak”. Jika gerhana selesai, waktu shalat pun habis. Kita tidak bisa menundanya.
3. Shalat Istisqa (Minta Hujan)
Di posisi ketiga dalam kategori berjamaah adalah shalat minta hujan. Kebutuhan akan air menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga shalat ini memiliki penekanan jamaah yang sangat kuat.
4. Shalat Tarawih (Sebuah Catatan Menarik)
Ini bagian yang sering jadi pertanyaan. Di mana posisi Shalat Tarawih? Dalam kategori berjamaah, ia berada di urutan terakhir setelah Istisqa.
Namun, ada pembahasan seru di sini. Apakah Tarawih lebih utama daripada Shalat Rawatib (Ba’diyah/Qabliyah)?
Dalam kitab Asna al-Matalib, Penulis mengikuti pendapat Imam Ar-Rafi’i yang cukup mengejutkan:
قوله: (وَغَيْرُ الضُّحَى مِنْ الرَّوَاتِبِ) … (أَفْضَلُ مِنْ التَّرَاوِيحِ)
Artinya: “Dan selain Dhuha dari shalat-shalat Rawatib… itu lebih utama daripada Tarawih.”
Alasannya, Nabi SAW sangat tekun menjaga shalat Rawatib, sedangkan Tarawih kadang beliau kerjakan di rumah agar tidak dianggap wajib oleh umatnya. Meski begitu, mayoritas ulama Syafi’iyah (Jumhur) tetap berpendapat bahwa Tarawih lebih utama dari Rawatib karena faktor jamaahnya, kecuali untuk dua shalat rawatib spesial: Witir dan Qabliyah Subuh.
Raja Shalat Sunnah Munfarid (Sendirian)
Sekarang kita masuk ke kategori kedua: shalat yang lazimnya dikerjakan sendirian. Jangan salah, beberapa shalat di kategori ini punya nilai pahala yang luar biasa besar, bahkan bisa mengalahkan sebagian shalat berjamaah.
1. Shalat Witir: Sang Penutup Malam
Jika Anda hanya punya tenaga untuk satu shalat sunnah di malam hari, pilihlah Witir.
قوله: (وَأَفْضَلُهَا الْوِتْرُ) … وَلِوُجُوبِهِ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ
Shalat Witir adalah yang paling utama dari seluruh shalat sunnah munfarid1. Keutamaannya begitu tinggi hingga Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Witir itu Wajib.
Dalam kaidah Fiqh, ibadah yang statusnya diperselisihkan “apakah wajib atau sunnah” (seperti Witir) memiliki nilai lebih tinggi daripada ibadah yang disepakati “hanya sunnah” (seperti Dhuha). Kita dianjurkan keluar dari perbedaan pendapat (khuruj minal khilaf) dengan cara mengerjakannya.
2. Dua Rakaat Fajar (Qabliyah Subuh)
Di posisi kedua adalah dua rakaat sebelum Subuh.
«رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا»
Haditsnya sudah sangat populer: “Dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Bahkan, kitab ini menyebutkan bahwa Qabliyah Subuh lebih utama daripada shalat sunnah di tengah malam (tahajud) bagi sebagian pendapat, karena statusnya sebagai Rawatib yang sangat dijaga Nabi. Walaupun Imam Nawawi dalam Ar-Raudhah cenderung memilih Tahajud lebih utama karena dalil-dalil tentang keutamaan malam.
3. Shalat Rawatib Lainnya
Setelah Witir dan Qabliyah Subuh, prioritas berikutnya adalah shalat Rawatib yang mengiringi fardhu (Qabliyah Zuhur, Ba’diyah Maghrib, Ba’diyah Isya, dll). Rutinitas ini adalah “pagar” yang melindungi shalat fardhu kita.
4. Shalat Dhuha
Shalat Dhuha menempati posisi berikutnya karena ia terikat oleh waktu tertentu, bukan karena sebab kejadian. Ini menjadikannya lebih disiplin dibanding shalat sunnah mutlak.
5. Shalat yang Memiliki Sebab (Dzatul Asbab)
Di urutan terakhir dari hierarki ini adalah shalat yang dikerjakan karena ada pemicunya. Urutannya sebagai berikut:
- Shalat Thawaf: Karena ada ulama yang mewajibkannya.
- Shalat Tahiyatul Masjid: Karena sebabnya sudah terjadi (masuk masjid).
- Shalat Ihram: Karena sebabnya (ibadah haji/umrah) baru akan dimulai.
Tabel Ringkasan Tingkatan Shalat Sunnah
Agar lebih mudah dipahami, berikut adalah tabel ringkasan urutan keutamaan shalat sunnah berdasarkan pembahasan Asna al-Matalib:
| Peringkat | Jenis Shalat | Kategori | Alasan Utama |
| 1 | Idul Adha | Berjamaah | Bulan Haram + Haji & Kurban |
| 2 | Idul Fitri | Berjamaah | Terkait puasa Ramadan |
| 3 | Gerhana Matahari | Berjamaah | Waktu terbatas, Syiar |
| 4 | Gerhana Bulan | Berjamaah | Waktu terbatas |
| 5 | Istisqa (Minta Hujan) | Berjamaah | Hajat hidup orang banyak |
| 6 | Witir | Munfarid* | Diperselisihkan kewajibannya (Muakkad) |
| 7 | Qabliyah Subuh | Munfarid | “Lebih baik dari dunia & seisinya” |
| 8 | Tarawih | Berjamaah | Syiar Ramadan (Posisi diperdebatkan dengan Rawatib) |
| 9 | Rawatib Lainnya | Munfarid | Mengiringi Fardhu |
| 10 | Dhuha | Munfarid | Terikat waktu |
| 11 | Thawaf & Tahiyatul Masjid | Munfarid | Terikat sebab |
FAQ: Pertanyaan Seputar Prioritas Shalat Sunnah
Berikut adalah beberapa pertanyaan praktis yang sering muncul terkait topik ini:
Jika waktu Tarawih sudah mau habis, apakah saya harus mendahulukan Ba’diyah Isya atau langsung Tarawih?
Idealnya, kerjakan Ba’diyah Isya terlebih dahulu. Rawatib (Ba’diyah Isya) memiliki posisi yang sangat kuat karena menempel langsung dengan shalat Fardhu. Setelah itu, baru bergabung shalat Tarawih.
Mana yang lebih baik, Qabliyah Subuh di rumah atau Tahiyatul Masjid di masjid?
Anda bisa mendapatkan keduanya. Lakukan Qabliyah Subuh di masjid sebelum duduk, dan niatkan sekaligus untuk Tahiyatul Masjid (takhassus). Namun secara zatnya, Qabliyah Subuh lebih utama untuk dijaga.
Mengapa Idul Adha lebih utama dari Idul Fitri, padahal Idul Fitri rasanya lebih meriah?
Kemeriahan budaya berbeda dengan bobot syariat. Idul Adha memiliki keunggulan karena di dalamnya terkumpul kemuliaan waktu (Bulan Haram), ibadah fisik (Haji), dan ibadah harta (Kurban).
Mengetahui urutan ini bukan berarti kita meremehkan ibadah yang posisinya di bawah. Justru, pengetahuan ini membantu kita mengatur strategi ibadah harian. Jangan sampai kita sibuk mengejar yang sunnah biasa, tapi malah melalaikan sunnah yang sangat dianjurkan (muakkad) atau bahkan yang wajib.
Semoga penjelasan dari kitab Asna al-Matalib ini membantu kita menyusun prioritas ibadah yang lebih baik.
Referensi & Catatan Kaki
al-Anṣārī, Zakariyā. Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib. Dengan ḥāsyiyah Aḥmad al-Ramlī. Disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī. Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H. Dicetak ulang oleh Dār al-Kitāb al-Islāmī.
- Witir tidak ada anjuran untuk berjamaah meski saat Ramadan, namun jika dilakukan berjamaah hukumnya sah. ↩︎




