Seorang Muslim mem-posting status: “Alhamdulillah, baru selesai sholat tahajud. Semoga istiqomah.” Di kolom komentar, pujian mengalir. Di sudut lain, seorang Muslimah mengunggah foto meja makan sahur lengkap dengan caption doa pagi hari.
Apakah ini riya? Atau dakwah? Atau sesuatu di antaranya?
Pertanyaan ini bukan pertanyaan baru. Tapi di era media sosial, frekuensinya meningkat tajam. Artikel ini membahasnya secara langsung, berlandaskan kitab Dalīl al-Fāliḥīn Syarḥ Riyāḍ al-Ṣāliḥīn karya Muḥammad ʿAlī ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, dalam perspektif Madzhab Syafi’i.
Apa Itu Riya? Pengertian dari Ulama
Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu memahami riya dari akarnya. Dan cara terbaik memahami riya adalah memahami lawannya: ikhlas.
Definisi Ikhlas Menurut al-Qusyairi — Lawan dari Riya
Al-Ustadz Abū al-Qāsim al-Qusyairī mendefinisikan ikhlas dengan kalimat yang sangat tajam:
الإخلاص إفراد الحقّ سبحانه وتعالى في الطاعات بالقصد، وهو أن يريد بطاعته التقرّب إلى الله تعالى دون شيء آخر من تصنع لمخلوق واكتساب محمدة عند الناس أو محبة مدح من الخلق أو معنى من المعاني سوى التقرّب إلى الله تعالى.
“Ikhlas adalah menunggalkan Allah Subḥānahu wa Taʿālā dalam ketaatan dengan niat — yaitu bahwa seseorang menginginkan dengan ketaatannya itu kedekatan kepada Allah semata, tanpa sesuatu yang lain: tanpa berpura-pura di hadapan makhluk, tanpa mencari pujian di antara manusia, tanpa mencintai sanjungan dari sesama, dan tanpa maksud apa pun selain bertaqarrub kepada Allah.”[1]
Dari definisi ini, riya adalah kebalikannya: ketika amal masih tersangkut kepada makhluk — ingin dilihat, ingin dipuji, ingin dianggap baik oleh orang lain.
Definisi Ikhlas Menurut ar-Raghib al-Ashfahani
Imam ar-Rāghib al-Aṣfahānī dalam kitab Mufradāt-nya memberi definisi yang lebih ringkas namun dalam:
الإخلاص التعرّي عما دون الله تعالى
“Ikhlas adalah melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah Taʿālā.”[2]
Artinya, selama hati masih menoleh kepada selain Allah — termasuk pandangan manusia di media sosial — di situlah celah riya masuk.
Apakah Riya Termasuk Syirik Kecil?
Dalam kitab yang sama, Ibn ʿAllān menjelaskan hubungan langsung antara niat dan konsekuensinya:
ما قصده به من وجه الله سبحانه فيثاب أو الرياء للعباد فيمنع الثواب
“Apa yang ditujukan kepada Allah Subḥānahu, maka ia berpahala. Yang karena riya kepada hamba-hamba Allah, maka pahalanya tertahan.”[3]
Pertanyaan apakah riya termasuk syirik kecil memiliki landasan kuat dari hadits muttafaqun alaih tentang tiga golongan pertama yang dilempar ke neraka pada hari kiamat — termasuk orang yang berjihad agar disebut pemberani dan orang yang belajar agar disebut alim. Hadits ini dirujuk dalam pembahasan silo artikel apa itu riya dan jenis-jenisnya secara lebih mendalam.
Apa Itu Sum’ah? Bedanya dengan Riya
Banyak yang mengira riya dan sum’ah adalah hal yang sama. Keduanya memang berkerabat, tapi berbeda caranya.
Definisi Sum’ah dan Perbedaannya dengan Riya
Ibn ʿAllān dalam Dalīl al-Fāliḥīn menjelaskan dalam konteks hadits jihad:
يقاتل رياءً أي ليرى الناس قتاله، ومثله القتال سُمْعةً أي ليسمع الناس
“(Seseorang) berperang karena riya — yakni agar orang-orang melihat pertempurannya. Dan serupa dengannya adalah berperang karena sum’ah — yakni agar orang-orang mendengar (tentang perbuatannya).”[4]
Dari sini perbedaannya jelas:
| Aspek | Riya | Sum’ah |
|---|---|---|
| Media | Tampilan/perbuatan yang terlihat | Cerita/berita yang terdengar |
| Cara | Orang lain menyaksikan langsung | Orang lain mendengar kabarnya |
| Contoh modern | Sholat di tempat ramai agar dilihat | Posting di media sosial agar diketahui |
Posting ibadah di media sosial, secara mekanisme, lebih dekat ke kategori sum’ah — karena tujuan dasarnya adalah agar “didengar” dan “diketahui” oleh orang lain melalui tulisan, foto, atau video.
Apakah Sum’ah Sama Berbahayanya dengan Riya?
Ya. Keduanya sama-sama menutup pintu pahala. Prinsip yang berlaku adalah kalimat dari hadits niat:
وإنما لكل امرىء ما نوى
“Setiap orang hanya mendapatkan (balasan sesuai) apa yang ia niatkan.”[5]
Jika yang diniatkan adalah pengakuan sosial, maka itulah yang didapat — bukan pahala di sisi Allah. Lihat juga pembahasan lengkap dalam artikel tentang perbedaan riya, sum’ah, dan ujub.
Posting Ibadah di Media Sosial — Termasuk Riya atau Tidak?

Ini inti pertanyaannya. Dan jawabannya tidak bisa hitam-putih tanpa melihat satu hal: niat.
Kunci Utamanya: Niat di Dalam Hati
Hadits yang menjadi fondasi seluruh bab ikhlas dalam Riyadhus Shalihin adalah:
إنما الأعمال بالنيات
“Sesungguhnya seluruh amal itu (dinilai) berdasarkan niat-niatnya.”[6]
Niat tempatnya di hati, bukan di caption yang ditulis, bukan di hashtag yang dipasang. Konten yang sama persis — foto sajadah, status usai sholat, live mengaji — bisa menjadi dakwah yang berpahala atau sum’ah yang membatalkan pahala, tergantung sepenuhnya pada niat pengunggahnya.
Pertanyaan kuncinya bukan “apa yang kamu posting?” melainkan: mengapa kamu mem-posting-nya?
Tiga Kemungkinan Niat Saat Posting Ibadah
Berdasarkan prinsip niat dari kitab Dalīl al-Fāliḥīn, ada tiga pola niat yang mungkin terjadi:
- Niat murni dakwah — konten dibuat untuk mengajak orang lain beribadah, menginspirasi, menyebarkan kebaikan; bukan untuk memamerkan diri sendiri. Niat ini bersih dan berpahala.
- Niat campuran — ada niat dakwah, tapi ada pula keinginan dipuji atau diakui. Ini yang paling umum dan paling perlu diwaspadai. Pahala ada, tapi berkurang sesuai kadar niat yang tercampur.
- Niat sum’ah/riya murni — tujuan utamanya adalah agar dianggap shaleh, mendapat followers, atau mendapatkan pengakuan sosial. Amal seperti ini, kata Ibn ʿAllān, pahalanya tertahan.
Kapan Posting Ibadah Bisa Menjadi Riya atau Sum’ah?
Ada beberapa sinyal yang perlu diperhatikan. Ini bukan untuk menghakimi orang lain, tapi untuk muhasabah diri sendiri:
- Merasa senang berlebihan saat postingan ibadah mendapat banyak likes atau komentar pujian
- Merasa kecewa atau gelisah ketika konten ibadah tidak direspons banyak orang
- Hanya memposting ibadah saat ada momen yang “layak pamer” — tapi ibadah harian yang biasa tidak pernah diposting
- Caption yang menonjolkan diri sendiri (“alhamdulillah aku bisa…”) bukan mengajak orang lain (“yuk kita…”)
Empat sinyal di atas bukan vonis, tapi cermin. Siapakah yang lebih tahu isi hati kita selain Allah dan diri kita sendiri?
Dalil Al-Qur’an tentang Allah Mengetahui Isi Hati
Tafsir QS. Ali Imran: 29 — Allah Tahu yang Disembunyikan dan Ditampakkan
Ibn ʿAllān mengutip ayat ini sebagai peringatan keras tentang riya:
قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللهُ
“Katakanlah: ‘Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada kalian atau menampakkannya, Allah mengetahuinya.'”[7]
Pelajaran dari ayat ini sangat relevan untuk konteks media sosial: Allah tidak menilai postingannya, tapi menilai apa yang ada di dada saat tombol “upload” ditekan.
Tafsir QS. al-Bayyinah: 5 — Perintah Beribadah dengan Ikhlas
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.”[8]
Hafidz al-Suyuthi dalam al-Iklīl mengambil istidlal dari ayat ini bahwa ikhlas adalah syarat sahnya ibadah, karena ikhlas tidak bisa terwujud tanpa niat yang benar.
Peringatan: Jangan Terperdaya karena Riya Tersembunyi
Ibn ʿAllān secara langsung memperingatkan setelah mengutip QS. Ali Imran: 29:
ولا يغترّ بخفائه ظاهراً فإن الله تعالى عالم بخفيات الأمور، لا تخفى عليه وساوس الصدور
“Janganlah seseorang tertipu karena (riya itu) tersembunyi secara lahiriah, sebab Allah Taʿālā Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Tidak tersembunyi dari-Nya bisikan-bisikan hati.”[9]
Artinya: riya yang tidak terlihat oleh manusia pun tetap terlihat oleh Allah. Tidak ada yang lolos hanya karena postingannya terlihat “islami”.
Hukum Sedekah yang Dipamerkan — Apakah Tetap Sah?
Sedekah Terang-terangan dalam Al-Qur’an
QS. al-Ḥajj: 37 menegaskan prinsip yang sama dalam konteks kurban:
لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging kurban itu dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”[10]
Ibn ʿAbbās menjelaskan: ayat ini turun karena orang-orang Jahiliyah melumuri Ka’bah dengan darah hewan kurban, lalu sebagian kaum Muslim ingin mengikutinya. Allah menegaskan: yang sampai kepada-Nya bukan wujud lahiriah amal, tapi ketakwaan di baliknya.
Menampakkan sedekah pada dasarnya boleh — bahkan untuk zakat dianjurkan agar mendorong orang lain berzakat. Tapi jika tujuannya bergeser menjadi pamer, pahalanya gugur.
Kisah Ma’n bin Yazid: Niat Sedekah yang Tidak Sampai Sasaran
Hadits ke-8 dalam Bab Ikhlas (Riyadhus Shalihin) memuat kisah yang tepat untuk ini: Yazid bin Akhnas menitipkan sedekah ke masjid, lalu tanpa sengaja sedekah itu justru diterima oleh anaknya sendiri, Ma’n. Ketika Yazid tahu, ia berkata: “Bukan kepadamu aku meniatkan sedekah ini!” Kisah ini menunjukkan betapa niat yang spesifik dan tepat sangat menentukan dalam amal. Simak pembahasan lengkapnya dalam artikel hadits Ma’n bin Yazid tentang sedekah.
Bolehkah Posting Konten Dakwah Meski Ada Unsur Diketahui Orang?

Perbedaan Menampakkan Ibadah untuk Dakwah vs untuk Pujian
Kembali kepada prinsip dari Dalīl al-Fāliḥīn:
ما قصده به من وجه الله
“Apa yang ditujukan kepada wajah Allah (ridha-Nya).”
Tolok ukurnya bukan pada kontennya, melainkan pada niatnya. Seseorang yang mem-posting konten ibadah dengan niat mengajak orang lain ke kebaikan berbeda secara fundamental dengan orang yang tujuannya agar diakui sebagai orang shaleh.
Ibadah yang terlihat oleh orang tidak otomatis menjadi riya. Ibn ʿAllān bahkan menjelaskan dalam konteks lain bahwa amal zahir tetap berpahala meski disaksikan orang — selama niat batinnya tetap lurus kepada Allah.
Bagaimana Jika Niat Bercampur antara Dakwah dan Ingin Dikenal?

Bedanya tipis — tapi akibatnya berbeda jauh di sisi Allah.Niat campuran (mukhtalitah) diakui oleh para ulama sebagai realita yang umum terjadi. Prinsip dari pembahasan arbāb al-ishārāt dalam Dalīl al-Fāliḥīn memberikan panduan bertingkat:
ونية أهل النفاق التزين عند الله وعند الناس
“Niat ahli nifak adalah berhias diri di hadapan Allah sekaligus di hadapan manusia.”[11]
Kalimat ini adalah peringatan bahwa niat yang benar-benar murni itu tidak ingin tampil baik di dua hadapan sekaligus. Yang menentukan adalah niat mana yang lebih dominan. Jika niat dakwah lebih kuat, amal tidak gugur — tapi campuran niat sum’ah tetap mengurangi kualitas pahala.
Tips Menjaga Niat Sebelum dan Sesudah Posting
Berdasarkan prinsip ikhlas dari Dalīl al-Fāliḥīn, ada empat pertanyaan yang bisa dijadikan panduan praktis:
- Sebelum posting: “Apakah saya tetap melakukan ibadah ini jika tidak ada yang tahu saya mempostingnya?”
- Sesudah posting: “Apakah saya kecewa saat konten ini sepi likes?”
- Saat menulis caption: “Apakah caption ini mengajak orang lain, atau menonjolkan diri saya?”
- Secara keseluruhan: “Sudahkah saya perbanyak amal sirriyyah (tersembunyi) sebagai penyeimbang?”
Penjelasan Ulama Tasawuf tentang Niat dan Amal Lahir
Tingkatan Niat Menurut Ahli Tasawuf
Dalīl al-Fāliḥīn mengutip penjelasan para arbāb al-ishārāt (ahli isyarat dari kalangan sufi) tentang tingkatan niat:
فنية العوام في طلب الأعراض مع نسيان الفضل، ونية الجهال التحصن عن سوء القضاء ونزول البلاء، ونية أهل النفاق التزين عند الله وعند الناس، ونية العلماء إقامة الطاعات لحرمة ناصبها لا لحرمتها، ونية أهل التصوّف ترك الاعتماد على ما يظهر منهم من الطاعات
“Niat orang awam: mencari keuntungan duniawi sambil melupakan keutamaan (akhirat). Niat orang-orang bodoh: berlindung dari takdir buruk dan turunnya bencana. Niat ahli nifak: berhias di hadapan Allah sekaligus di hadapan manusia. Niat para ulama: menegakkan ketaatan karena hormat kepada yang mewajibkannya (Allah), bukan karena hormat kepada ketaatan itu sendiri. Niat ahli tasawuf: meninggalkan ketergantungan pada penampilan amal lahiriah yang tampak dari mereka.”[12]
Lima tingkatan ini adalah cermin. Di mana posisi niat kita saat mem-posting?
Ibadah yang Terlihat Tidak Otomatis Riya
Poin ini sering diabaikan: amal yang terlihat tidak langsung menjadi riya. Yang menentukan adalah apa yang ada di dalam hati.
Ibn ʿAllān menjelaskan dalam konteks hadits Allah melihat hati — bukan rupa — bahwa “Pemberian pahala dan kedekatan kepada Allah bukan berdasarkan amal lahiriah, melainkan berdasarkan apa yang ada di dalam hati.”[13]
Sholat di masjid, membaca Al-Qur’an di depan orang, atau bahkan live mengaji — semuanya tidak otomatis batal karena ada orang yang menyaksikan. Yang membatalkan pahalanya adalah jika hati berlomba mencari pujian dari penonton, bukan dari Allah.
Cara Membersihkan Niat dari Riya dan Sum’ah

Muhasabah Sebelum Posting — Pertanyaan untuk Diri Sendiri
Ibn ʿAllān menekankan pentingnya muhasabah hati:
تصحيح مقاصده وعزومه، وتطهيره عن كل وصف مذموم
“Memperbaiki tujuan-tujuannya dan tekad-tekadnya, serta membersihkannya dari setiap sifat yang tercela.”[14]
Praktisnya, sebelum posting apa pun yang berkaitan dengan ibadah, tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah konten ini akan ada jika tidak ada yang menonton?
- Siapa yang saya harap membaca ini — Allah, atau manusia?
- Apakah saya akan tetap puas meski tidak ada satu pun komentar pujian?
Amalan Sirriyyah sebagai Obat Riya
Salah satu antidot paling ampuh untuk riya adalah memperbanyak amalan sirriyyah — amal yang tersembunyi, yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah. Hadits tentang sedekah tangan kanan yang disembunyikan dari tangan kiri adalah gambaran terbaik tentang ini.
Amal sirriyyah bukan berarti tidak boleh beramal secara terbuka. Tapi keberadaan amal-amal tersembunyi di dalam kehidupan seseorang adalah tanda bahwa ia tidak semata-mata beribadah untuk penonton.
Doa agar Terhindar dari Riya
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa khusus untuk dijauhkan dari riya:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا أَعْلَمُهُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُهُ
Transliterasi: Allahumma innii a’udzu bika an usyrika bika syai-an a’lamuhu, wa astaghfiruka limaa laa a’lamuhu.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”
Doa ini juga mencakup riya dan sum’ah yang tersembunyi, yang kadang tidak kita sadari sendiri.
FAQ: Pertanyaan Seputar Posting Ibadah di Media Sosial dan Riya
Apakah Posting Foto Sedekah di Media Sosial Termasuk Riya?
Tidak otomatis. Menampakkan sedekah pada dasarnya diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk zakat. Tapi jika niat utama memposting foto sedekah adalah agar dipuji atau dianggap dermawan — itulah sum’ah yang menutup pintu pahala. Kuncinya tetap pada niat di dalam hati.
Bolehkah Posting Status “Baru Sholat Tahajud”?
Boleh, jika niatnya untuk menginspirasi orang lain atau sebagai pengingat diri. Tapi perlu dievaluasi: apakah status itu tetap ditulis meski tidak ada satu pun yang akan membacanya? Jika jawabannya tidak, maka niat perlu diperiksa ulang.
Apakah Live Saat Mengaji Termasuk Sum’ah?
Belum tentu. Live mengaji bisa menjadi dakwah yang berpahala besar jika niatnya adalah menyebarkan ilmu dan mengajak orang lain belajar. Sum’ah terjadi ketika tujuannya bergeser menjadi agar disebut sebagai “ustadz”, “orang alim”, atau mendapat pengikut. Tolok ukurnya: apakah konten dibuat karena orang lain tidak tahu ibadah ini, atau karena ingin orang lain tahu bahwa saya sedang beribadah?
Bagaimana Jika Awalnya Niat Ikhlas Lalu Merasa Bangga Karena Dipuji?
Para ulama membedakan antara rasa senang setelah dipuji dengan memposting karena ingin dipuji. Jika awalnya niat ikhlas, lalu setelah mendapat pujian muncul rasa senang — itu bukan otomatis riya. Selama rasa senang itu tidak mengubah motivasi beribadah ke depannya, hal itu termasuk kabar gembira yang dibolehkan. Yang berbahaya adalah ketika rasa ingin dipuji menjadi sebab beramal.
Apakah Riya Membatalkan Ibadah atau Hanya Mengurangi Pahalanya?
Dari prinsip yang dijelaskan dalam Dalīl al-Fāliḥīn, riya menahan pahala — bukan selalu membatalkan sahnya ibadah secara fikih. Sholat yang dilakukan dengan riya tetap menggugurkan kewajiban (dari sisi fikih), tapi pahalanya tidak sampai kepada Allah. Perbedaan ini penting: ibadah sah secara hukum, tapi tidak berpahala secara spiritual. Untuk pembahasan lebih jauh, lihat artikel cara menghindari riya dalam ibadah sehari-hari.
Islam tidak melarang menampakkan ibadah secara mutlak. Al-Qur’an sendiri menyebut bahwa menampakkan sedekah kadang lebih baik (QS. al-Baqarah: 271). Sholat berjamaah di masjid adalah ibadah yang terlihat. Kajian ilmu yang terbuka adalah ibadah yang terdengar.
Yang menjadi masalah bukan pada tampilan luarnya, tapi pada niat di baliknya. Dan niat itu hanya diketahui oleh dua pihak: Allah dan diri sendiri.
Sebelum membuka aplikasi media sosial untuk memposting sesuatu tentang ibadah, luangkan sejenak untuk bertanya ke dalam hati. Itulah muhasabah. Dan perbanyak amal-amal sirriyyah yang tidak seorang pun tahu — sebagai penjaga agar hati tidak terlalu bergantung pada mata manusia.
Untuk pemahaman lebih lengkap tentang niat dan ikhlas dalam Islam, kunjungi artikel utama kami. Dan untuk memahami lebih dalam 12 hadits ikhlas dalam Riyadhus Shalihin, tersedia ulasan lengkap yang berlandaskan syarah Dalīl al-Fāliḥīn.
⚠️ Disclaimer: Pembahasan ini mengacu pada perspektif Madzhab Syafi’i dan kitab Dalīl al-Fāliḥīn Syarḥ Riyāḍ al-Ṣāliḥīn karya Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī. Untuk fatwa pribadi, konsultasikan dengan ulama atau lembaga fatwa yang Anda percaya.
Catatan Kaki
Referensi
Muḥammad ʿAlī ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī al-Bakrī al-Shāfiʿī, Dalīl al-Fāliḥīn li-Ṭuruq Riyāḍ al-Ṣāliḥīn, ed. Khalīl Maʾmūn Shīḥā, cet. ke-4, 8 jilid (Beirut: Dār al-Maʿrifah li-l-Ṭibāʿah wa-l-Nashr wa-l-Tawzīʿ, 1425/2004), Juz 1, Hal. 49-75.




